Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Menyesal


__ADS_3

Tubuh wanita yang selama ini menganggu keluarganya Zidan telah dibawa oleh dua orang perawat menuju ruangan gawat darurat. Bak memang telah tahu dengan apa yang Zidan lakukan , tak lama kemudian Nayla yang saat ini tengah menggendong Cleo untuk mencari udara segar. Segera berjalan menuju ke arah pria yang kini tengah berkacak pinggang di depan meja administrasi.


"Mas" panggil Nayla dengan lembut.


Pria bertubuh tegap itu pun lantas menceritakan apa yang sebenarnya telah ia lakukan di villa Hamdi.


"Jadi selama ini Hamdi menculik Clara hanya untuk membuktikan bahwa apa yang ia katakan pada Siska itu benar?" tanya Nayla mencoba meyakinkan.


Zidan menganggukan kepala dan mulai mencoba menelpon Hamdi, namun tak kunjung juga pria itu mengangkat panggilan darinya.


"Hamdi telah dibutakan oleh rasa benci Nay. Dia benar benar berbuat nekat hingga tega melakukan ini pada Clara"


Nayla terdiam. Kini ia tahu bahwa karma bisa datang kapan Saja. Dulu ia sering sekali disakiti oleh Clara dan ia harus diam seperti patung seolah semua keluarga dari mantan suaminya itu menganggap Clara bak seorang ratu.


Tapi kini, justru wanita yang keluarga Bian puji ternyata tak lain adalah seorang pengkhianat serta penipu ulung yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apapun yang ia inginkan.


"Lalu bagaimana sekarang mas?"


Zidan segara mengingat kembali ucapan Hamdi tentang Siska yang tak pernah sedikitpun melihat ketulusan serta perjuangan dari pria tersebut. Sampai akhirnya Zidan pun berniat untuk berbicara empat pada Siska yang saat ini bahkan tengah merenung di dalam kamar sang ibu.


"aku akan bicarakan ini pada Siska. Kau tolong coba telpon kembali Hamdi agar ia mau kesini dan membicarakan kembali denganku. Keadaan Clara benar benar sangat buruk dan pasti ia akan disalahkan atas tindakan yang telah ia perbuat" ucap Zidan seraya berjalan menuju tempat ibunya di rawat.


Nayla menganggukan kepala dan mulai mengambil gawai didalam saku roknya. Ia tampak begitu khawatir dengan keadaan sahabat suaminya tersebut, terlebih lagi Hamdi telah banyak membantunya serta kehidupan keluarga suaminya.


Tutttt!!!!


Tuttt!!!!


Tutt!!!!!

__ADS_1


Lama sekali panggilan yang Nayla tujukan pada Hamdi tak mendapatkan respon. Hingga tepat di kelima kalinya wanita berbaju hijau itu menelpon Hamdi, pria itu terdengar mengangkat telponnya dengan suara yang parau.


"Hallo, assalamualaikum Ham"


"Nay" Hanya itu saja yang mampu keluar dari mulut pria itu saat ini.


"Ham kau kenapa? kau baik baik saja kan?" tanya Nayla dengan panik.


Hening, itu yang Nayla rasakan saat ini. ia tak sedikitpun mendengar percakapan ataupun ucapan yang keluar dari mulut Hamdi hingga tak lama kemudian sebuah erangan mulai keluar dari mulut pria tersebut.


"**************


Disisi lain, saat ini Hamdi yang mulai frustasi, segera memukulkan kepalan tangannya sendiri ke arah cermin besar yang berada tepat dihadapannya hingga semua jari jarinya terluka dan mengeluarkan tetesan darah yang begitu banyak.


"aku sudah muak dengan semua ini Siska! sudah muak! Cintaku tak cukup membuatmu yakin akan semua yang telah kuberikan untukmu! aku, aku pria lah dan juga bodoh! Aku berjuang untukmu dan berusaha untuk menjadi pria baik hanya untukmu! Tapi, apa yang kau katakan sungguh membuatku sedih. Tatapan matamu yang penuh dengan kekecewaaan dan juga ketidak percayaan seketika mematikan hati nurani ku hingga ku pun berani berbuat hal semengerikan ini!"


Pikiran Hamdi mulai melayang layang. Ia teringat akan perbuatannya pada Clara yang dengan sengaja ia lukai secara fisik maupun mental.


Hamdi mulai tertawa menyeringai kala teringat akan tangannya yang sudah meyiram, menampar dan memukul wanita itu tanpa belas kasih dan juga tanpa rasa iba sedikitpun. Entah kenapa hati Hamdi begitu puas dan juga lega setelah mendengar rintihan dan juga tangisan yang keluar dari mulut wanita tersebut.


Sampai pada akhirnya Zidan lah yang sudah menyadarkan perbuatannya terhadap Clara. Dan membuat Hamdi menyesal hingga nekat menegak cairan pembersih didalam kamar mandi.


***********


"Ham! Hamdi! apa kau mendengarkanku saat ini?!" Nayla berulang kali bertanya pada Hamdi namun tak kunjung mendapatkan balasan.


"Ada yang tak beres pada Hamdi" gumam Nayla pelan yang saat ini berlari kecil menuju tempat semua keluarganya berkumpul.


"Mas!" Nayla sedikit berteriak kala melihat suaminya tengah berusaha menenangkan Siska yang sedang menangis dala pelukannya.

__ADS_1


Zidan dan Siska menatap sendu pada Nayla, mereka belum tahu kedaan Hamdi saat ini. terlebih lagi Nayla bingung menceritakan semuanya dari mana. Hingga ia putuskan untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi para pria itu.


"Saat ini kurasa Hamdi sedang tak baik baik saja mas. Telpon yang sempat terhubung dan kudengar suaranya begitu lirih seolah ada hal buruk yang terjadi padanya"


Siska bangkit dan meraih ponsel di tangan Nayla dengan kasar. Wanita itu mulai panik dan khawatir dengan apa yang sebenarnya Hamdi lakukan di villa tersebut. Terlebih lagi Siska baru sadar dengan apa yang Zidan katakan tentang Hamdi adalah benar adanya.


pria itu rela mengorbankan segalanya hanya untuk Siska, namun kenapa Siska bahkan tak pernah mempercayai Hamdi setelah semua yang ia lakukan untuknya.


"Hallo Mas! Hallo Mas Hamdi! ini aku Siska! katakan sesitau kumohon!"


Hanya nafas yang terdengar dari balik telpon ini.


Suara erangan pelan dan juga deru nafas yang terdengar snagat berat cukup membuat Siska kelimpungan dan berusaha melihat pria tersebut .


"antarkan aku ke Villa Hamdi, Mas. Kumohon!" Siska bersimpuh di hadapan Zidan.


"Kamu tunggu saja disini biar aku yang kesana sekarang. Kamu jaga ibu saja dan Nayla"


Zidan merogoh saku celananya dan membawa kunci mobil kesayangannya. Siska yang memang saat ini mulai menyesal, mulai mencekal tangan sang kakak dan memohon padanya untuk segera mengizinkannya.


"Kali ini saja mohon libatkan aku mas! ini semua salahku dan aku yang harus melakukan sesuatu. kumohon izinkan aku ikut denganmu"


Zidan menatap Nayla berusaha meminta saran darinya dengan cara tersebut. Hingga tak lama kemudian Nayla pun tersenyum dan menganggukan kepala.


"Kamu ajak saja Siska mas. Biar aku disini yang menjaga ibu dan juga Cleo"


Zidan berjalan mendekati sang istri dan mencium keningnya dengan lembut. Saat ini Nayla tengah hamil dan ia bahkan harus ekstra menjalankan tugasnya sebagai seorang ibu rumah tangga.


"Jika kamu lelah tidur saja dan titipkan Cleo pada Suster. Aku pergi dulu dengan Siska sebentar. Nanti aku kabari jika semuanya telah selesai. Assalamualaikum"

__ADS_1


"waalaikumsalam mas"


Zidan mulai melambaikan tangan pada Nayla, sebelum dirinya harus pergi kembali menuju villa Hamdi yang jaraknya lumayan cukup jauh dari rumah sakit.


__ADS_2