
Tiga bulan telah berlalu. Amar dan Zidan sering sekali bersaing untuk mendapatkan hati Nayla. Hingga saatnya sudah tepat, Zidan akhirnya meminta bantuan dari Anyelir dan Rio untuk menyiapkan kejutan untuk Nayla di panti asuhan.
[ Assalamualaikum Rio. Maaf menganggu waktunya. Aku butuh bantuan, bisa kau datang kesini bersama Anye?]
[Waalaikumsalam. Iya siap, aku akaj datang kesana. Memangnya ada apa Dan? sepertinya ini sangat penting?]
[ Kau datang dulu saja ke panti asuhan dan ajak Anye membeli beberapa bunga dan beberapa manisan untuk anak anak. Uangnya akan aku transfer nanti. Jika nanti kau sudah sampai beritahu aku, aku sekarang lagi ada di toko perhiasan]
Rio yang paham akan rencana Zidan hanya bisa menuruti perkataannya. Kebetulan sekali seminggu yang lalu ia baru saja sampai lagi ke Indonesia bersama Anyelir untuk membuka usaha kuliner.
[ Nanti sore aku akan datang kesana. Untuk masalah makanan kau jangan khawatir, aku akan membayar semuanya]
[ Terimakasih banyak Ri, semoga kalian berdua tetap bahagia dan sehat selalu, selain itu semoga kalian cepat diberikan momongan. Amin. Wassalamualaikum]
[ Iya, amin. Waalaikumsalam]
Zidan kemudian fokus kembali memilih cincin untuk ia berikan pada Nayla hari ini. Niat Zidan sudah mantap untuk melamar Nayla sebab ia takut jika telat sedikit saja, maka Amar akan merebut Nayla darinya.
Disisi lain, disekolah Nayla yang selesai mengajar anak anak kemudian berjalan menuju arah kantor. Didepan pintu ruang guru yang setiap hari begitu ramai kini sepi bagai tak ada orang satu pun. Hingga saat ia membuka pintu seraya belum lengkap mengucapkan salam dikejutkan dengan Amar yang sudah lengkap dengan stelan jas dan peci di kepalanya sedang duduk bersimbuh dihadapannya seraya memegang cincin berlian bermata merah untuk Nayla.
"Nayla Saraswati, saya Amar Abdimana berniat untuk meminang anda sebagai pendamping yang akan menemani hidup saya selamanya"
"Ak...aku...aku."
"Cie sekarang Bu Nayla mau jadi pengantin baru lagi nih" ucap Asti pecicilan.
Nayla merasa bingung dengan lamaran Amar yang terkesan mendadak dan secara tiba tiba. Dibenak Nayla hanya terlintas pikiran kenapa bisa Amar menyatakan niat untuk meminangnya sedangkan dia hanya baru kenal tiga bulan ini, itu pun mengenal hanya karena ia bekerja ditempat yang sama.
"Maaf kan saya pak. Untuk niat baik bapak, saya tak bisa menjawabnya sekarang. Saya harus beristikharah terlebih dahulu. Saya hanya takut memilih pasangan yang salah lagi. Karena jika saya terburu buru mungkin jawaban yang menurut saya baik belum tentu baik juga menurut Allah. Saya harap bapak bisa mengerti akan hal itu"
"Alah bu, bu. Orang niat baik kok dipikir pikir dulu" ketus Asti.
Semua guru disini sudah tahu bahwa Nayla adalah seorang janda. Bahkan Amar pun juga tahu status apa yang sudah disandang Nayla saat ini. Itu karena saat pernikahannya dulu dengan Bian, Nayla pernah memberikan undangan pada sekolah ini dengan Ibu Aisyah sebagai pelantaranya.
"Saya paham dengan keputusan Bu Nayla. Dan saya menghormati keputusan apapun darinya. Mengingat kita saja baru kenal tiga bulan ini. Maaf kan saya bu karena terlalu cepat melamar ibu. Saya hanya tak ingin menyimpan perasaan saya terlalu lama. Selain itu saya juga takut bahwa nafsu saya akan membuat saya terjerumus dalam pikiran pikiran yang bisa membuat dosa pada saya"
"Sekali lagi maafkan saya pak. Terimakasih juga atas pengertiannya"
"Iya Bu Nay sama sama. Saya paham situasi ibu saat ini. Ibu hanya takut bahwa saya bukan jodoh yang dipersiapkan Allah untuk ibu. Maka lakukanlah dulu istikharah. Jika ibu sudah menemukan jawabannya, apapun itu, saya akan terima. Tolong beri tahu saya secepatnya"
Nayla menganggukan kepala yang disambut senyuman manis oleh Amar. Dia tahu bahwa mungkin jawaban Nayla menyakiti Amar karena memang ia tak memiliki perasaan apapun padanya. Namun Nayla akan tetap melakukan istikrah terlebih dahulu untuk meminta jawaban dan keputusan yang tepat.
Pria dihadapannya tahu mengenai kegagalan yang pernah Nayla alami dalam rumah tangganya. Walupun Amar dan juga seluruh guru disini tak tahu apa masalah yang Nayla hadapi dalam pernikahannya tersebut.
Para guru yang sedari tadi berdiri menyaksikan Amar melamar Nayla, mulai bubar dan duduk kembali kebangkunya masing masing. Walaupun jawaban dari Nayla membuat Amar sedih tapi ia yakin bahwa jodoh takan pernah kemana.
Bel pulang pun berbunyi. Amar yang melihat Nayla di parkiran, segera menghampirinya dan mulai memintanya untuk pulang bersama.
"Assalamualaikum Bu Nay"
"Waalaikumsalam Pak"
"Maaf soal tadi. Mungkin ibu malu karena lamaran yang saya lakukan secara dadakan"
"Tak papa pak. Justru saya yang minta maaf karena membuat bapak malu. Bapak juga paham kan kenapa saya tak memberikan jawaban secara langsung"
"iya saya tahu. Ya sudah mari kita pulang bu, saya juga akan ke panti untuk menyatakan niat baik saya pada Ibu Aisyah"
Nayla hanya bisa mengangguk mendengar niat Amar dan mulai mengendarai sepeda motornya.
__ADS_1
Dilain tempat, Zidan yang sudah selesai membeli cincin untuk Nayla segera bergegas pergi menuju panti setelah mendapatkan pesan dari Anyir dan Rio.
[Assalamualaikum Zidan. Kami audah ada dipanti bersama Ibu Aisyah dan anak anak. Makanan sudah kami bawa dan dekorasi yang kami buat pasti akan membuat Nayla senang]
[ Waalaikumsalam Nye. Makasih karena kamu dan Rio sudah banyak membantuku. Aku akan segera kesana]
Zidan bergegas pergi menuju parkiran dan mulai berjalan menuju mobil merah kesayangannya. Senyumnya terus saja mengembang memikirkan bagaimana reaksi Nayla saat tahu bahwa ia akan melamarnya.
Mobil melaju dengan cepat, hingga Zidan pun sampai dipanti asuhan yang sudah dihias indah oleh Anyelir dan Rio.
Zidan yang baru saja sampai segera menyatakan niatnya pada Ibu Aisyah dan disambut hangat. Semua perjuangan yang ia lakukan demi Nayla dan Arumi akhirnya bisa menunbuhkan benih benih cinta untuk Nayal.
Hingga semua anak anak serta Ibu Aisyah, Rio, Anyelir dan Zidan bersiap siap dengan diam diruang tamu untuk menyambut kedatangan Nayla.
Saat pintu terbuka, Nayla menatap tak percaya dengan pemandangan indah bunga mawar yang tertata rapih didepannya dengan anak anak serta Ibu Aisyah yang tersenyum kearahnya.
"Kejutan" ucap mereka serempak.
Zidan yang mulai berjalan menghampiri Nayla didepan pintu dengan Amar disampingnya, hanya bisa diam membisu seakan tak percaya.
Dua kali ia dilamar oleh pria yang sama sama baiknya membuat Nayla tak bisa mengucapkan apa apa.
Entah apa yang ia rasakan saat ini, yang jelas hatinya saat senang ketika melihat Zidan yang selama ini selalu ada menemani susah senangnya memberikan kejutan.
Zidan bersimpuh dihadapan Nayla dan mulai membuka kotak merah berisikan cincin bermata biru untuk Nayla.
" Nayla Saraswati, bersediakah anda untuk menikah dengan saya, Muhammad Zaidani Atmaja yang tampan rupawan tak ada tandingannya" ucap Zidan seraya melirik sekilas kerah Amar yang berdiri mematung.
"Ak..aku..ak"
"Maaf Pak Zidan, saya tadi sudah lebih dulu melamar Bu Nayla!" potong Amar yang sontak membuat semua orang kaget.
"Jadi dia sudah melamarmu Nay?" tanya Zidan tak percaya.
"Iya mas, Pak Amar tadi melamarku disekolah"
"Dan kau menerimanya?"
"Aku belum memberikan jawaban untuknya mas, aku akan shalat istikharah terlebih dahulu agar mendapat jawaban yang terbaik"
"Syukurlah kalau gitu. Sekarang kau terima ssja lamaranku Nay. Aku berjanji akan membuatmu bahagia hidup bersamaku dalam susah senang bersama"
Amar yang merasa tak terima dengan ucapan Zidan kini mulai berjalan mendekat kerahnya.
"Maaf pak. Jika Nayla harus beristikaharah untuk menemukan jawaban dari lamaran saya, maka dia harus juga melakukan istikharah dengan lamaran bapak. Ini akan adil bagi kita selaku calon imam untuk Nayla. Maaf jika ssya lancang, tapi saya hanya ingin dia juga memikirkan lamaran saya dan juga Pak Zidan"
Ibu Aisyah yang mengerti situasi ini hanya mengangguk mendengar percakapan kedua pria yang bersaing memperebutkan putrinya. Rio yang mencoba menenangkan Zidan kini menepuk pelan pundak sang sahabat.
"Baik kalau gitu. Nay sekarang kau lakukan istikharah mengenai lamarku dan Amar. Aku tunggu jawabanmu secepatnya. Aku akan terima apapun keputusanmu untukku. Karena bahagiamu adalah bahagiaku juga. Kau berhak memilih pasangan yang baik menurut Allah dan baik juga menurutmu"
"Maafkan aku mas jika membuatmu sedih dan kecewa" ucap Nayla seraya menunduk.
"Tak papa Nay. Aku hormati semua keputusannmu. Aku akan menunggu dan terus menunggu jawaban darimu. Jikapun kau buka ditakdirkan untukku, aku tetap ikhlas dan akan tetap selalu ada untukmu walaupun nanti akan ada jarak diantara kita"
Kata kata Zidan yang mendadak menjadi bijak, membuat Nayla merasa sedikit tak enak hati padanya. Sebab jika ia mengingat begitu besar perjuangan Zidan lakukan untuk pernikahannya dulu dengan Bian dan keadilan yang Zidan lakukan untuk Arumi. Namun disatu sisi Nayla memang harus melakukan shalat istikharah untuk mendapatkan jawaban yang terbaik.
"Aku akan melakukan istikharah dengan bantuan Ibu Aisyah agar tak keliru. Mas Zidan dan Pak Amar bisa menunggu jawaban saya setelah saya melakukannya. Maafkan saya karena telah membuat Mas Zidan dan Pak Amar menunggu" Nayla menundukan kepala.
"Tak papa Nay, santai saja. In Sya Allah kami akan setia menunggu jawaban darimu. Baik buruknya kami akan terima dengan lapang dada. Iya kan Pak Amar yang tampan" ucap Zidan seraya menatap pria dihadapannya dengan geram.
__ADS_1
"Iya Pak Zidan. Saya akan terus menunggu jawaban dari Bu Nayla"
Ibu Aisyah menatap takjub dengan kedewasaab yang Zidan dan Amar miliki. Diatu sisi ia merasa senang jika sekarang putrinya dapat merasakan cinta yang tulus dari pria pria yang baik dan mau memperjuangkannya.
"Ya sudah sekarang kita makan bersama saja. Kebetulan perutku sudah sakit belum makan" ucap Rio seraya tersenyum memperlihatkan gigi putihnya.
Zidan, Nayla, Amar, Ibu Aisyah dan Rio akhirnya berlalu menuju meja makan. Terlihat banyak nasi box yang sudah dibeli Rio dan Anyelir untuk anak anak panti serta mereka makan.
Doa makan pun dibacakan oleh Amar yang ikut menyantap makanan bersama mereka dipanti ini. Hingga saat doa selesai, mereka mulai menyantap makanan dengan lahap dan tenang.
Tak ada percakapan yang mereka lakukan disaat seperti ini. Mereka sadar bahwa tak baik berbicara ketika makan. Sampai saat makanan mereka sudah habis, Anyelir dan Nayla bergegas membereskan semua kotak bekas makan yang ada diatas meja dan segera membuangnya ketempat sampah.
Nayla dan Anyelir pergi berlalu menuju dapur dan mencuci gelas bekas minum semua orang. Anak anak yang mulai bermain dihalaman dan para pria sedang mengobrol dengan Ibu Aisyah di teras rumah.
"Nay apakah kamu punya pilihan sendiri sebelum melakukan istikharah?" tanya Anyelir tiba tiba.
"Emh, sebenarnya aku mulai menyimpan rasa sama Mas Zidan Nye. Tapi aku tak yakin rasa itu akan bertahan sampai kapan. Melihat perjuangan yang dia lakukan untukku dan Arumi, aku mulai mencintainya dan merasa nyaman saat berada didekatnya"
"Kalau gitu kamu terima saja lamaran Zidan Nay"
"Aku gak bisa gegabah Nye. Aku trauma dengan pernikahanku yang dulu. Cukup sekali rumah tanggaku hancur, aku tak ingin mendapatkan kegagalan yang kedua kalinya. Aku hanya ingin memiliki pasangan yang baik menurutku dan baik menurut Allah. Maka dari itu aku akan melakukan istikharah terlebih dahulu. Selain itu aku akan meminta Ibu Aisyah membantuku melakukan shalat istikarah, karena jika aku melakukannya sendiri aku takut jawaban yang aku terima itu keliru karena keinginanku untuk bisa bersanding dengan Mas Zidan lebih besar"
"Cie Nayla udah mulai bijak nih kaya Zidan. Ya sudah Nay. Apapun keputusan mu aku juga akan menunggu dan mendukungmu. Aku berharap kamu bisa mendapatkan pria baik yang mampu menemanimu disaat paling sulit sekalipun. Aku juga berharap jika nanti kau sampai menikah, pernikahanmu akan sakinah, mawadah warahmah. Amin"
"Amin" jawab Nayla seraya tersenyum.
Malam menjelang. Kini mereka berjalan menuju masjid untuk melaksanakan shalat magrib berjamaah dengan imamnya adalah Rio.
Shalat berjalan berjalan sangat khusu dan tak ada apapun yang membuat mereka terganggu.
Doa yang mereka panjatkan pada sang maha pencipta membuat mereka nyaman dan betah berlama lama dimasjid.
Nayla berdoa dengan sepenuh hati, meminta jalan yang terbaik untuknya dipermudah. Sedangkan Zidan dan Amar meminta agar memiliki hati yang lapang untuk jawaban yang nanti akan Nayla berikan pada mereka.
informasi : Dari ketentuan pasal (153) KHI , Mas idah seorang penjelasannya seperti berikut:
Apabila suami meninggal dan perempuan sedang hamil, maka masa iddahnya sampai bayi dilahirkan
Apabila suami meninggal perempuan tidak hamil, maka masa iddahnya selama 130 hari
Apabila bercerai dalam kondisi masih bisa rujuk dan masih haid, maka masa iddahnya tiga kali haid
Apabila bercerai dalam kondisi masih bisa rujuk dan tidak haid, maka masa iddahnya tiga bulan
Apabila bercerai dalam kondisi masih bisa rujuk dan sedang hamil, maka masa iddahnya sampai bayi dilahirkan
Apabila bercerai dalam kondisi tidak bisa rujuk, maka masa iddahnya satu kali haid
Jika istri yang menggugat cerai, maka masa iddahnya satu kali haid.
Keterangan
Qobla al dukhul adalah pasangan suami isteri yang belum pernah melakukan hubungan badan
Kondisi bisa rujuk adalah talak 1 dan 2
Kondisi tidak bisa rujuk adalah talak 3
Informasi diatas diambil dari salah satu artikel yang beredar. Jadi jika ada yang mau menambahkan silahkan tinggalkan dikolom komentar.
__ADS_1