
Satu minggu telah berlalu, Hamdi yang saat ini tengah bersiap pergi menuju lapang tempat pabrik baru dibuka mencoba mengambil ponselnya yang tertinggal di dalam kamar hotel.
Tanpa ia sengaja, ia pun bertabrakan dengan seorang wanita yang tak jauh beda usia dengannya. Wanita itu jatuh tepat di depan Hamdi, hingga ia pun mencoba membantunya untuk berdiri.
"Ma..maafkan saya, saya sedang buru buru" ucap Hamdi dengan sopan.
Wanita itu pun bangkit dan menatap Hamdi dengan senyum manis yang terukir di wajahnya.
"Tak papa, aku baik baik saja. Lain kali hati hati ya" Wanita itu pun mengelus pelan tangan Hamdi dengan tatapannya yang lekat dan menggoda.
Hamdi hanya terdiam seraya mulai berjalan kembali menuju kamarnya untuk mengambil ponsel yang tertinggal. Entah kenapa Hamdi seperti pernah melihat wanita yang baru saja bertabrakan dengannya sebelumnya. Namun, dengan cepat ia pun menggelengkan kepala dan segera pergi meninggalkan kamar tersebut.
Mobil mewah yang Hamdi naiki, kini melaju bebas di jalan raya yang mulai lenggang dengan kendaraan. Ia bahkan tampak santai menyetir, hingga tiba tiba saja pandangan matanya tertuju pada sosok wanita yang baru saja ia temui di hotelnya, tengah diseret paksa oleh seorang pria bertubuh kekar.
"Tolong!' teriak wanita itu dengan kencang.
Hamdi pun sontak saja menepikan mobilnya tepat di samping wanita itu dan berjalan turun untuk menyelamatkannya. Tanpa aba aba Hamdi bahkan meninju wajah pria kekar di hadapannya dan segera menarik tangan wanita itu untuk masuk kedalam mobilnya.
__ADS_1
Dengan nafas yang terengah engah, Hamdi bahkan segera mengunci pintu mobil dan melajukan kendaraan tersebut dengan sangat kencang agar tak dapat dikejar. Wanita di samping Hamdi, terdiam dengan tetap memagangi pipinya yang tampak sangat merah dengan bekas tangan yang tercipta sempurna.
"Terimakasih" ucap wanita itu dengan pelan.
Hamdi dengan dinginnya hanya menganggukan kepala tanpa mau melihat ke arah wanita di sampingnya. Bagi Hamdi ia hanya melakukan tugasnya sebagai sesama manusia dan sebagai seorang pria.
"Terimakasih karena kau telah menyelamatkanku dari pria baji**n sepertinya"
Wanita di samping Hamdi terus saja menatap Hamdi dengan tatapan yang aneh, sehingga hal tersebut berhasil membuat Hamdi risih dan menghentikan laju mobilnya.
"Aku melakukannya karena merasa memang itu hal yang perlu aku lakukan. Cukup katakan terimakasih satu kali dan diam. Aku akan mengantarkanmu kembali ke hotel lagi"
Dengan tatapan yang tak lepas dari kemudi, Hamdi mulai menanyakan alasan kenapa wanita di sampingnya itu menangis secara tiba tiba.
"Hentikan tangisanmu, aku tak melakukan apapun padamu. Jangan lakukan ini, aku tak ingin orang berfikir bahwa aku melakukan hal yang tidak tidak padamu"
Wanita itu pun mulai menyeka air matanya dan menceritakan apa yang dia rasakan.
__ADS_1
"Maafkan aku karena telah membuatmu terganggu dan kesusahan. Aku tak punya siapapun untuk berlindung ataupun hanya untuk sekedar bercerita. Suamiku dipenjara dan semua orang dirumahnya sangat membenciku karena alasan tak jelas. Kini aku harus menghidupi putra semata wayangku dari hasil menjual di"*ri pada pria hidung belang diluar sana. Emh, ya sudah, kau bisa turunkan aku disini saja"
Hamdi tertegun tak mampu mengatakan apapun pada wanita di sampingnya. Ia sangat membenci wanita penghibur walaupun mereka melakukan itu karena alasan yang sangat menyedihkan. Namun, kali ini Hamdi merasa iba dan mencoba untuk memaklumi hal yang selama ini ia tak sukai.
"Apapun alasannya, kau tak bisa menjual kehormatanmu pada setiap pria asing yang kau temui. Penyakit akan datang padamu dan akan menular pada pasangan serta anakmu kelak jika terus seperti ini. Cintailah dirimu dengan luar biasa dan jangan tergoda dengan keadaan mewah yang kau harapkan. Ambilah ini dan berhentilah menjadi wanita penghibur" Hamdi memberikan kartu namanya dan juga beberapa lembar uang berwarna merah di atas dashboard mobil.
Hingga saat mereka telah sampai di depan hotel sebelumnya, wanita itu mengambil kartu nama yang Hamdi berikan padanya.
"Terimakasih banyak karena sudah membantuku"
"Kau sudah mengucapkannya dua kali. Datanglah ke kantorku jika kau memang tak ingin menjadi wanita penghibur lagi. Kau bisa bekerja disana walaupun hanya sebagai office girl saja. Aku akan melihat kinerjamu dan akan mempertimbangkan posisimu jika kau rajin dan telaten"
"Ya tuan, saya akan bekerja pada tuan. Aku akan berusaha lepas dari pria hidung belang diluaran sana"
"Bagus. Kau datanglah ke kantorku besok dan berikan kartu nama yang ku berikan. Oh ya siapa namamu? Aku akan katakan pada stafku agar langsung menerimamu sebagai pelayan disana"
Wanita itu tersenyum dengan manis pada Hamdi dengan perasaan senang.
__ADS_1
"Namaku Clara tuan"