
Siang ini Siska kembali pergi ke kampus dengan banyak sekali buku di tangannya. Ya, gadis cantik itu baru saja keluar dari perpustakaan mengambil beberapa buku referensi untuk makalah yang sedang ia buat sendirian. Siang ini kebetulan Jonathan memiliki jadwal pekerjaan di cafe tempat ia bekerja sehingga ia tak bisa menamani wanita cantik itu di kampus.
Siska berjalan santai menuju taman belakang kampus dan duduk sendirian membaca beberapa buku yang berada di sampingnya.
Wanita dengan setelan kemeja panjang serta celana kain berwarna hitam itu tampak manis terlihat sehingga beberapa pria bahkan berbisik mengagumi kecantikan yang Siska miliki. Desas desus mengenai kasus pemerko**an yang Siska alami memang telah banyak orang ketahui, terlebih lagi oleh para gadis yang sama sama bersekolah di kampus tersebut. Hingga tak heran jika beberapa dari mereka sering mencaci Siska dengan sebutan sebagai wanita mura**n.
"Hai sis!" Ucap salah satu gadis di antara empat orang yang perlahan mulai mendekat ke arah Siska yang duduk sendirian.
Dengan malas Siska tersenyum ke arah perempuan di hadapannya dan kembali membaca buku yang sedang berada di tangannya.
"hei, aku ada di depanmu loh" lanjut perempuan dengan kuncir kuda di kepalanya.
"Ya, lalu?"
Siska yang memang tahu bahwa mereka adalah pembully di kampus tersebut, sangat malas untuk berbicara dengan mereka. Terlebih lagi Siska tahu bahwa semua gadis di kampus ini tahu masa lalu dirinya dari wanita di hadapannya, Diana.
Diana melangkahkan kaki dan duduk empat di samping Siska seraya merangkul tubuhnya dengan sangat erat.
"Aku punya kenalan yang bisa memberikanmu uang banyak. Apa kau mau bertemu dengannya malam ini?" Bisik Diana lembut di telinga Siska.
Dengan cepat Siska menaruh buku di tangannya ke samping kursinya dan menatap Diana dengan nyalang. Ia tahu arah tujuan pembicaraan wanita itu padanya, sehingga tak salah jika Siska marah ataupun memukul perempuan itu akibat ucapannya.
"Maaf aku tak semurah dirimu Din. Kamu bisa layani dia sepuasnya dan kamu bisa mendapatkan uang banyak dari hasil itu. Oh ya satu lagi, aku tak seperti apa yang ada di otakmu yang kotor itu! Kau bisa dapatkan uang bahkan puluhan juta dalam semalam jika melayaninya. Aku bahkan akan menambah dua juta lagi jika kau diam dan jangan banyak bicara di depanku paham!"
__ADS_1
Diana yang kerap mendapatkan jawaban ketus dari Siska, kemudian tertawa dengan keras dan bertepuk tangan menanggapinya. Ke empat wanita itu tampak mengejek Siska yang marah dengan ucapan yang Diana katakan.
"Wah! Wah! Wah! Ternyata si jal**mg ini sudah memiliki sugar dady ya. Pantes aja barangnya mahal mahal. Toh ini pemberian dari kekasih tua bangkanya"
Siska yang geram mulai bangkit, namun di cekal dengan cepat oleh Diana beserta teman temannya. Wanita itu benar benar harus menghadapi semua berandalan ini dengan seorang diri.
Para pria dan wanita yang berada di halaman belakang tersebut hanya bisa menonton saja tanpa mau sedikitpun berurusan dengan masalah itu. Terlebih lagi Diana adalah pacar dari seorang pria bernama Satria yang tak lain adalah putra pemilik kampus tersebut.
"Mau kemana kamu Siska? Tunggu dulu, aku belum selesai bicara. Kamu pasti punya sopan santun kan? Kamu pasti punya tatakrama yang orang tuamu ajarkan saat kamu masih kecil?"
Siska dengan cepat membalikan tubuhnya dan mengapit lengan Diana dengan sangat kencang ke belakang. Ia tak takut dengan lawan yang harus ia hadapi, sebab ia telah banyak belajar dari Nayla yang memang memiliki ilmu taekwondo yang selama ini di sembunyikan.
Teman teman Diana seketika terkejut melihat pemandangan di depannya dan berusaha menolong Diana. Namun dengan cepat Siska memberikan ancaman pada gadis gadis itu sehingga diam tak berkutik.
Tit!!
Tit!!!
Klakson mobil dari arah depan sontak saja membuat Siska terkejut ketika melihat siapa pemilik kendaraan tersebut. Wanita itu dengan cepat melepaskan tangan Diana dan bergegas pergi menuju mobil yang kini berhenti tepat tak jauh dari hadapannya.
Halaman belakang kampus memang sangat luas, sehingga bisa di lalui oleh mobil yang ingin parkir di area belakang. Dan itu cukup menguntungkan sebab banyak di antara siswa dan siswi kampus tersebut memang berasal dari keluarga kaya dan juga memiliki banyak harta.
Zidan yang melihat aksi yang Siska lakukan, perlahan turun dari mobil dan menatap ke arah adiknya dengan senyum mengembang. Pria dengan tubuh tinggi, serta berkulit putih itu cukup terlihat tampan dan gagah, sehingga membuat Diana beserta beberapa mahasiswi disana memandang takjub ke arahnya yang begitu mempesona dan juga maskulin.
__ADS_1
Siska mengapit tangan Zidan untuk segera masuk ke dalam mobil dan Zidan yang tahu apa yang sedang dihadapi adiknya pun, mulai sedikit tebar pesona pada Diana beserta kawannya dengan cara melambaikan tangan dan sedikit membuka kacamata yang sejak tadi ia gunakan.
Diana yang melihat hal itu pun melambaikan tangan ke arah Zidan dengan hati yang berdetak kencang dan juga senyum hangat yang sejak tadi ia perlihatkan.
Mobil melaju dengan cepat, membelah keramaian kota di siang ini yang begitu padat. Siska tampak mamasang wajah kesal dan marah saat ini di hadapan Zidan, sehingga pria itu tampak kebingungan melihatnya.
"Apa kau diganggu oleh mereka Sis?" Tanya Zidan dengan lembut.
Sejenak Siska terdiam, hingga hembusan nafas kasar terdengar dirinya yang membuat Zidan tersenyum kecil.
"Inilah yang membuatku gemas Sis. Sejak kecil jika kau merajuk ataupun marah pasti akan seperti ini" ucap Zidan seraya mulai mengacak rambut Siska dengan penuh kasih sayang.
"Mas Zidan pasti akan ikut marah jika mendengar apa yang mereka katakan padaku" ucap Siska seraya membenarkan rambutnya yang mulai kusut.
"Memang apa yang mereka katakan padamu?'
Siska menghela nafas dan menghembusnya dengan perlahan.
"Mereka mengatakan aku sebagai jal**Lang dan menawariku seorang pria hidung belang"
Sontak saja dada Zidan merasa bergemuruh mendengarkan apa yang Siska katakan. Ia tahu bahwa sekolah Siska merupakan sekolah yang cukup jauh dari kota dan banyak yang mengatakan bahwa sekolah itu cukup bagus dalam segi pendidikan dan fasilitas namun minus dalam akhlak mahasiswa mahasiswi yang notabene anak anak bakal yang cukup kaya raya.
"Berikan mereka pelajaran seperti apa yang pernah mas dan mbakmu ajarkan Sis. Mas akan dukung apapun yang kamu lakukan selama itu di jalan yang lurus. Ingat ini baik baik, lebih baik kamu di keluarkan dari sekolah itu karena menjaga harga dirimu agar tak di injak, daripada mentalmu hancur karena bocah bocah itu" perintah Zidan langsung mendapatkan anggukan kepala dari Siska yang saat ini bahkan mengepalkan tangannya.
__ADS_1