Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Acara Lamaram


__ADS_3

Langit yang begitu cerah dan mentari yang begitu terik menyinari bumi, seakan mendukung acara lamaran Zidan dan Nayla hari ini. Tak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Zidan bahwa ia akan menemukan wanita pengganti Arumi yang jelas jelas merupakan Nayla si gadis aneh penganggunya dulu.


"Bismillah" gumam Zidan pelan.


Mobil yang dikendarai Hamdi melaju dengan cepat. Siska yang duduk disamping kakak serta ibunya tak henti henti menatap Hamdi yang ada didepannya. Pria yang selama ini selalu ada untuknya sangatlah berarti dihidupnya.


"Cie yang mau kawin" ejek Hamdi dengan keras.


"Ya iyalah mau, lah kamu kapan Ham? "


"Aku lagi nunggu Siska siap Dan. Lagian kan bayinya kan belum lahir. Iya kan Sis?"


Siska menunduk malu mendengarkan perkataan Hamdi. Baginya Hamdi adalah pria yang sangat baik, yang mampu menerima kondisinya saat ini. Dilubuk hatinya yang paling dalam, sebenarnya Siska merasa malu karena kehamilannya yang tak pernah diinginkan.


Ketika pria yang menjadi ayah biologis sang anak belum ketemu dan bertanggung jawab, Hamdi dengan segenap hatinya menerima Siska dengan segala kekurangan yang ada.


"Sekarang adalah hari yang bahagia bagimu nak. Ibu sangat senang untuk itu. Ibu berharap semua keinginanmu serta acaranya berjalan dengan lancar. Maafkan atas semua perlakuan ibu padamu selama ini " ucap Ibu Widya seraya mengusap tangan Zidan.


"Iya bu, Zidan sudah memaafkan ibu. Sekarang kita mulai lagi dari awal. Dan mulai detik ini jangan pernah membuat Zidan kecewa lagi dengan perlakuan ibu"


"Iya nak. Ibu janji, ibu sekarang sudah berubah"


Dekorasi indah sudah terpasang didepan panti asuhan Bunda Aisyah. Anak anak yang sedang bermain riang dihalaman panti segera menghentikan aktivitasnya kala melihat mobil Zidan kini terparkir dihalaman.


"Yey Om Zidan sudah datang" teriak anak anak senang.


Zidan dengan kemeja yang melekat di badannya langsung turun dan diapit oleh Siska serta ibunya yang tersenyum kearah Ibu Aisyah yang berdiri didepan pintu.


Sambutan hangat dari Ibu Aisyah dan anak anak pada Ibu Widya, Siska, Hamdi dan tentu Zidan sebagai calon suami Nayla dilakukan dengan prosesi yang sederhana.


Acara lamaran akan segera dimulai. Ustad yang mulai berdoa serta mengucap syukur atas acara yang hari ini In Sya Allah akan berjalan dengan lancar segera duduk dengan semua para tamu undangan yang merupakan keluarga Zidan serta anak anak panti asuhan saja.


Hingga saat detik kemudian, Nayla datang dengan gamis berwarna cream yang membuat dirinya tampak begitu anggun dan cantik. Mata semua orang kini mengarah pada Nayla yang tengah diapit oleh Ibu Aisyah.


"Masyaallah cantik sekali Nayla" ucap Ibu Widya kagum.


Zidan menatap Nayla tanpa berkedip sedetikpun. Hingga saat sentuhan dipundaknya membuat ia berpaling dan menunduk.


"Jangan diliatin mulu Dan, dosa. Nanti juga kalo udah sah, kamu bisa tatap terus tiap hari sampe bosan"

__ADS_1


"Aku gak akan pernah bosan mantengin wajah Nayla Ham. Dia terlalu berharga untuk kulewatkan sedetikpun"


Hamdi hanya tersenyum mendengar penuturan temannya itu. Cinta dapat membutakan hati seseorang sampai sampai waktu terasa milik berdua saja.


Lama prosesi doa bersama serta syukuran yang dilewati kedua keluarga. Sampai saat acara telah selesai, semua tamu dijamu dengan hidangan lezat yang sudah disediakan Zidan dengan memesan jasa catering.


Anak anak bersuka cita memakan makanan yang sudah dihidangkan diatas meja. Nayla yang kini duduk dihadapan Zidan hanya bisa menundukan kepala karena Zidan terus saja menatapnya.


"Jangan dilihatin mulu Naylanya, kasihan dia. Lihat pipinya merah gitu" celetuk Ibu Widya.


" Iya mas, kasihan Mbak Nayla nunduk terus. Kalo bisa pernikahannya dipercepat saja biar gak nambah dosa mas lihat Mbak Nayla terus terusan"


Zidan tersenyum mendengar perkataan ibunya dan segera menundukan kepala.


"Kalu begitu Zidan ingin pernikahannya lima minggu depan bu gimana?"


Nayla langsung menatap Zidan dangan matanya yang membulat sempurna.


"Apa tidak terlali cepet mas?" tanyanya tak percaya.


"Lebih cepat lebih baik Nay"


"Ya iyalah lebih baik. Toh kamu udah gak sabar ingin " Pukulan dipundak Hamdi cukup keras Zidan lakukan.


****


Siang berganti sore. Zidan bersama keluarganya izin pamit kepada Nayla dan Ibu Aisyah untuk segera pulang.


Acara pernikahan yang akan berlangsung akan segera ditetapkan menurut hari baik yang mereka sepakati nanti. Senyuman manis tak henti hentinya Nayla berikan pada Zidan yang akan segera menjadi suaminya.


Mobil berjalan pelan menjauh dari panti asuhan Bunda Aisyah. Semua orang telah selesai membereskan semua peralatan serta jamuan yang tadi digunakan saat prosesi lamaran.


Nayla memandang kosong kearah halaman rumahnya yang kini ramai oleh canda tawa anak anak. Tak terasa air matanya jatuh kala teringat masa kecilnya bersama Arumi yang selalu saja berlari dan bermain bersama didepan panti asuhan.


"Andai saja kau maih hidup Arum" gumam Nayla pelan.


Ibu Aisyah yang menatap putrinya sedang menangis segera memeluk dan menenagkan putrinya.


"Bersyukurlah pada Allah karena kamu di takdirkan menikahi calon suami sahabatmu dulu. Mungkin ini sudah jalannya, Arumi sekarang In Sya Allah sudah bahagia ditempatnya Allah dan sekarang kamu ditakdirkan untuk dipinang oleh pria sebaik Zidan"

__ADS_1


"Jika aku boleh memilih, aku akan tetap bahagia jika melihat Arumi menikah dengan Mas Zidan walaupun pernikahanku dengan Mas Bian hancur. Setidaknya dengan adanya Arumi dan Mas Zidan disisiku, aku akan menjadi lebih kuat lagi menghadapi cobaan ini"


"Jika Arumi masih hidup, sekarang ia mungkin sudah memiliki anak bersama Zidan Nay"


"Iya bu, cintaku pada Mas Zidan tumbuh setelah kepergian Arumi. Aku tak ada niat sedikitpun untuk mencintai pria yang jelas jelas sangat diinginkan sahabtku"


Usapan pelan dipucuk kelpala Nayla dari Ibu Aisyah membuat dirinya sedikit tenang.


"Ibu tahu bagaiman pengorbananmu untuk Arumi sejak dulu. Sekarang doakan saja Arumi agar senantiasa ditempatkan ditempat terbaik dan doakan dia agar tenang dialam sana"


"Amiin"


Malam berlalu dengan gelap dan cahaya bulan menyinari diatas kepala Zidan. Andai saja pria yang dia panggil ayah mau menghadiri acara pernikahannya nanti mungkin dirinya akan jauh lebih bahagia.


Tak dapat dipungkiri jika wajah ayahnya Bian sama persis dengan wajah ayah kandungnya sendiri.


Diambilnya gawai dan segera menghubungi Hamdi untuk membicarakan proses perniakahannya nanti.


"Assalamualaikum Ham"


"Waalikumsalam calon pengantin" ejek Hamdi dengan tawa kerasnya.


"Sudahlah Ham. Aku mau bicara serius dulu padamu. Bercandanya nanti saja"


"iya, iya ada apa?"


"Aku mau minta bantuan mu untuk menyewakan gedung yang tak jauh dari panti untuk pernikahanku dengan Nayla. Dan kau harus pastikan semua tamu undangan yang akan hadir adalah semua orang yang merupakan klien bisnisku, serta semua keluarga dan teman terdekat kita saat sekolah dulu"


"Lalu Clara dan Algi juga akan kau undang?"


Zidan terdiam mendengar pertanyaan yang kelaur dari mulut Hamdi. Tak pernah ia pikirkan sebelumnya jika ia harus mengundang Clara dan keponakannya itu.


"Aku lupa bahwa aku memiliki orang yang bisa kita jadikan pelayan makanan"


"Jadi kau mau undang dia ke acara pernikahanmu? Dan ayolah, ini adalah acara istimewa dihidupmu. Aku tak mau jika sampah itu hadir disana"


"Bagaimanapun dia masih istri sah Bian Ham. Dan Algi juga sudah lama aku tak bertemu dengan bayi mungil itu"


Hamdi menarik nafas dengan kasar.

__ADS_1


"Kalau itu maumu ya sudah. Tapi kau harus pastikan, kau jangan pernah goyah apalagi tergoda dengan wanita mur**han sepertinya"


"Tentu saja aku tak akan tergoda dengan kuntilanak itu Ham. Hatiku sudah terikat dengan Nayla dan takan pernah terpisahkan oleh siapapun"


__ADS_2