
Cuaca sore kali ini sangat bagus sayang jika dilewatkan hanya untuk melamun dan menangis.
Di ambilnya tas kecil yang tergantung di belakang pintu, dan segera menjalankan motor kesayangannya.
"Eh.. Neng Santi mau kemana?" Ucap seorang perempuan paruh baya ketika melihat Santi sedang mendorong motornya karena mogok.
"Ini lho buk mau nyari angin malah motornya ngadat" jawab Santi tersenyum malu.
"disini bengkelnya jauh ya neng, mau di bantuin sama anak ibu nggak?" tawarnya.
"Tidak buk. Terimakasih. Ini Santi juga sambil nyari angin segar aja kok,"
"Ya sudah ibu duluan ya."
Dan perempuan paruh baya yang ku lupa namanya itu berlalu pergi.
Dulu sebelum Santi mengenal Agus, Santi disukai banyak laki-laki di kampung itu, termasuk anak ibu yang tadi.
Sudah terlalu capek Santi mendorong motornya. Kemudian ia terhenti, pandangan matanya jelas tertuju pada sosok perempuan berkaos oblong yang berdiri di atas tebing.
"Please jangan loncat ke bawah,"ucap Santi syok melihat mata perempuan itu terpejam dan terlihat juga bekas tetesan air mata.
Seketika perempuan itu menoleh ke pinggir, matanya melotot dan segera loncat ke dekat Santi berdiri.
"Siapa kamu?" Nayla mengerutkan dahinya.
Dilihat dari bawah ke atas, nayla takjub akan penampakan Santi yang polos itu. Mangsa sudah ada di depan matanya.
Nayla langsung ingat dengan wajah polos itu dan segera menarik ke atas tebing yang curam.
"Akhirnya tanpa umpanpun aku mendapatkan mangsaku!"
Teriak Nayla dengan tertawa kemenangannya.
Tangan Santi yang kecil itu di tarik dengan kerasnya.
"Maksud kamu apa? Siapa kamu?" Santi berusaha melepaskan pegangan tangan itu.
Tapi nayla sudah kesetanan ia sangat kuat memegang tangan Santi. Dengan suara yang sedikit gemetar ia menyuruh Santi melompat dari atas tebing yang sangat tinggi dan curam itu.
__ADS_1
"Loncat.. loncat sekarang! Anak manis," nayla semakin bersemangat untuk membunuh anak dari orang yang telah menghancurkan hidupnya itu.
"Kamu siapa? Kenapa kamu ingin membunuhku?" Santi masih berusaha melepaskan pegangan tangan yang sangat kuat itu.
"Aku hampir saja menjadi ibu sambung mu anak manis! Ha ha ha" teriaknya lagi.
"Asal kamu tahu, aku dan papamu itu sudah tunangan dulu aku hampir menikah dengannya tapi ibu datang menghancurkan semuanya. Ibumu jahat, kenapa ibu mu harus muncul saat aku lagi sayang sayangnya. Andai saja dulu ibu mu tidak menghancurkan ku, mungkin aku sudah menikah dengan papah mu. Dan aku juga pasti akan bahagia walau aku tau hanya di jadikan istri kedua olehnya."
Nayla ambruk dan menunduk lemas.
"Maksud tante apa?" Tanya Santi masih belum mengerti.
Saat nayla ambruk bukannya Santi segera pergi untuk menyelamatkan diri, ia malah bertanya lagi tentang keheranannya.
"Maksudku adalah.. aku ingin membunuhmu untuk membalas dendam pada papamu yang bajin*an itu. Yang tega meninggalkan aku begitu saja setelah aku sakit karena teror dan dari mamamu."
"Papaku?" Santi semakin tidak mengerti.
Di dorongnya Santi oleh nayla ke bawah jurang, tapi sayang usaha nayla tidak berjalan lancar, santi masih tergantung di atas tebing ia berpegang pada sebuah batu kecil yang menonjol tajam, batu itu juga sedikit melukai bagian tangan.
"Ha.. ha.. ha.. Akhirnya balas dendamku terbalaskan!" nayla menepuk-nepuk tangannya membersihkan tangan.
Nayla pun berlalu pergi dengan hati yang puas.
Dari kecil ia hidup di perkampungan yang penuh dengan curam dan sedikitnya ia terlatih bangkit walaupun sakit.
Matahari mulai meninggalkan Santi seorang diri di atas tebing.
Sampai larut malam ia baru selamat dari bahaya itu, darahnya bercucuran sangat banyak, baju putihnya penuh dengan darah. Saat menghembuskan nafas panjangnya ia lega telah selamat.
Banyak mengeluarkan tenaga dan juga darah akhirnya Santipun pingsan.
Dari sore hari Agus merasa tidak nyaman untuk beraktifitas dan seperti firasat datang padanya.
Waktu baby sitter mengantarkan el kerumah, El juga sedang menangis tapi sang baby sitter tidak tahu kenapa, sampai ia tertidur di jam larut malam tidak biasanya.
"Mas, coba kamu cari si Santi kerumahnya siapa tahu ia balik ke rumah ibunya" sahut Zihan.
Dalam hati Agus ia tidak mungkin pulang ke rumah ibunya, Santi akan menginap jika ia telah mendapatkan persetujuan dari Agus.
__ADS_1
Tok.. tok.. tok..
Bunyi ketukan pintu membangunkan Agus yang sedari malam tidur di sofa ruang tamu untuk menunggu Santi pulang.
"Assalamualaikum." salam dari seseorang di luar sana.
"Waalaikumsalam. Iya ada pak?" jawab Agus dengan mata yang sayu masih mengantuk.
"Pak Agus maaf kalau saya mengganggu pagi-pagi buta seperti ini." ujar bapak-bapak yang memakai peci telah rapi dengan pakaian dan sejadah di tangannya.
"Iya tidak apa-apa kok pak, ada apa ya kalau boleh saya tahu?"
"Anu pak, bu Santi di temukan pingsan di pinggir jalan yang ada tebing curamnya itu lho pak, tapi sekarang sudah di bawa ke klinik oleh warga. Silahkan bila bapak mau menjemput." ucap bapak-bapak itu.
"Kok bisa pak?" Agus kaget.
"Saya tidak tahu tentang kejadiannya, saya dan yang lain hanya menemukannya tadi saat saya hendak pergi ke masjid dan saya langsung kesini untuk memberitahu kabar ini pada keluarga bu Santi" ucap bapak-bapak itu.
"Kalau begitu saya permisi ya pak," tambahnya lagi.
"Iya terimakasih ya pak informasinya."
"Pak.. pak.. tunggu!" Agus mengejar bapak-bapak itu dan menawarkan diri untuk berangkat bersama karena Agus juga tahu bapak itu adalah tetangga kampung yang rumahnya lumayan jauh bila berjalan kaki.
****
Dilihatnya Santi penuh luka mulai dari wajah hingga kaki, bajunya pun lusuh dengan darah. Tak sadarkan diri Agus menangis histeris ketika melihat istrinya terbaring.
"Maaf pak, saya disini hanya membersihkan luka dan menginfuskannya, untuk bagian luka yang serius tunggu pak dokternya datang ya pak, tadi saya sudah menghubunginya." Ucap seseorang yang sepertinya bidan baru.
"Iya, buk. Terimakasih."
Agus masih belum percaya apa yang dilihatnya itu nyata apa dia hanya bermimpi. ia mencubit tangannya sendiri dan ternyata rasanya sakit, ini menandakan bahwa dia tidak bermimpi, tapi Agus masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya istri hadapi pada sore hari itu.
Agus mengetahui saat istrinya izin mencari angin keluar dan Agus sangat menyesal tidak mengizinkan nya ia juga menyesal kenapa ia tidak menemani sang istri.
Di rumah.
Zihan kelabakan sendiri menenangkan El sendirian, El menangis seperti semalam.
__ADS_1
"Mas di klinik biasa, Santi dirawat sini."
Sebuah pesan singkat datang dari Agus, untuk Zihan. Dan Zihan pun langsung memberi tahu yang lainnya.