Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Keputusan


__ADS_3

Sentuhan hangat yang Zidan berikan kepada Nayla, membuatnya seakan terbang menikmati hal yang dinamakan surga dunia.


Deru nafas yang membara dikeduanya membuat satu sama lain terbakar oleh api cinta yang tiada akhir. Kecupan hangat yang Zidan berikan di setiap inci tubuh Nayla membuat noda kemerahan di beberapa bagian tubuhnya.


Aroma khas yang keluar dari tubuh Nayla seolah candu yang membuat Zidan terus merasa lapar.


"Terimakasih" bisik Zidan di telibga Nayla ketika sudah selesai menuntaskan has*ratnya.


****


Pagi telah datang menyinari kedua insang yang kini tengah berada didalam kamar mandi bersama.


Tak cukup hanya pelampiasan semalam. Kini Zidan dan Nayla melakukannya lagi di dalam kamar mandi.


"Kau begitu memamukanku Nay" ucap Zidan seraya menci**um tengkuk leher sang istri.


Tanpa mereka sadari, Siska dan Ibu Widya berada tepat dibelakang pintu kamar mereka menunggu Zidan dan Nayla keluar. Ketukan di pintu yang terdengar keras, teredam oleh suara gemercik air didalam kamar mandi.


"Mas Zidan buka pintunya!" teriak Siska kencang.


"Mas Zidan buka pintunya!"


Tak ada jawaban dari dalam membuat Siska dan ibu sedikit khawatir.


"Mbak Nay buka pintunya!"


Siska yang mulai kesal tak mendapat jawaban dari dalam segera menghubungi Hamdi.


"Siska, mungkin saja mas sama mbakmu lagi gak mau diganggu" ucap Ibu Widya meyakinkan.


"Tapi bu, mana mungkin Mas Zidan dan Mbak Nayla gak jawab sama sekali. Apa ibu gak khawatir kalo jangan jangan mereka berantem terus terjadi sesuatu hal yang menakutkan? kan serem bu"


Siska yang menunggu panggilan dengan Hamdi tersambung nampak bahagia ketika Hamdi mulai mengangkat telponnya.


"Hallo Mas Hamdi, hari ini sibuk gak? udah bangun kan?"


"Waalaikumsalam Sayang. Enggak, mas gak sibuk. Ada apa?"


"Ini loh mas aku mau kamu kesini.Tolong dobrak pintu kamar Mas Zidan"


Hamdi yang merasa heran dengan permintaan Siska di pagi buta untuk mendobrak kamar kakaknya, hanya bisa terdiam.


"Memangnya kenapa dengan dia yang?"


"Jadi gini ya mas. Dari tadi, aku sama ibu ngetuk pintu kamar mereka tapi gak di buka buka. Aku sama ibu khawatir sama keadaan Mbak Nay dan Mas Zidan, takut mereka berantem terus terjadi hal yang gak diingkan"


Hamdi menarik nafas dan tersenyum mendengar perkataan Siska.

__ADS_1


"Kau tak perlu khwatir Sis, mungkin saja Nayla sama Zidan sedang membuat adik untuk bayi kita."


"Pokonya aku gak mau tahu, mas cepat datang kesini dan tolong dobrak pintu kamar Mas Zidan"


"Ok,ok cantik. Mas akan menemuimu sekarang. Tunggu aku disana honey, dadah"


Panggilan pun terputus. Hamdi segera bangkit dan bergegas mengenakan jaket berwarna hitam miliknya dan pergi mengendarai mobil untuk segera menuju rumah Zidan.


Ibu dan Siska yang kini masih setia menunggu Zidan dan Nayla didepan pintu kamar tak henti hentinya berdoa agar keduanya baik baik saja. Mereka duduk diatas lantai dan terdiam dengan pikiran mereka masing masing.


Tak perlu menunggu waktu lama, Hamdi yang baru saja sampai dikediaman Atmaja segera berjalan menuju lantai atas dan bertemu dengan Siska dan Ibu Widya yang tengah mengnggu gusar.


"Cepat dobrak pintunya Ham, ibu takut Zidan dan Nayla kenapa napa"


"Baik bu. Tapi sebelun itu aku mau coba dulu ketuk pintunya siapa tahu mereka buka"


"Silahkan Ham. Tapi cepat ya, ibu khawatir"


Hamdi mulai mengetuk pintu kamar Zidan dengan pelan. Tak ada tanda tanda bahwa Zidan akan membuka pintunya ataupun sekedar menjawab ketukan darinya.


"Dan, buka Dan!" teriak Hamdi kencang.


"Kelamaan mas. Cepat dobrak saja pintunya!" ucap Siska kesal.


"iya, iya sayang"


"Satu....dua.....tiga..."


Hamdi tersungkur dengan keras. Belum sempat tubuhnya bersentuhan dengan pintu kamar, namun pintu sudah terbuka dengan sendirinya.


Zidan menatap tubuh Hamdi yang tergeletak disamping kakinya dengan heran.


"Mau ngapain Ham?"


Siska dan Ibu Widya berlari mencoba membantu Hamdi untuk bangkit. Keduanya terlihat panik ketika tahu bahwa Hamdi tersungkur.


"Mas gak papa kan? apa ada yang sakit? mananya yang sakit mas?" Cecar Siska.


Hamdi hanya bisa mengerang sakit sisekujut tubuhnya terutama bagian lengan kanannya.


"Ahhhh" Hamdi meringis kesakitan.


Nayla yang terperangah menatap Hamdi terjatuh segera berjalan kearahnya dengan mukena yang masih menutup diseluruh tubuhnya.


Sika bangkit dan mulai memarahi Zidan.


"Mas tuh dari tadi digedor gedor pintu kenapa gak dibuka? Ngapain aja sama Mbak Nay? awas aja kalau mas macem macem sama Mbak Nayla!"

__ADS_1


"Gedor gedor? kapan? mas gak denger tuh?"


Ucapan Zidan sontak saja membuat Siska, Ibu dan Hamdi menatap tak percaya.


"Kamu gak denger nak? tadi ibu, Siska sama Hamdi udah ketuk pintu kamu keras banget. Malahan tadinya Hamdi mau dobrak pintu kamar kamu"


Zidan mengernyitkan kening. Ia merasa aneh pada ibu dan Siska yang mengatakan bahwa sedari tadi mereka menggedor pintu padahal ia tak mendengar apapun saat sebelum Hamdi berteriak.


"Zidan gak denger bu. Zidan sama Nayla hanya dengar ketukan pintu dari Hamdi saja saat shalat subuh. Zidan gak bukain pintu karena nagnggung lagi shalat"


Siska merasa kesal dengan jawaban yang keluar dari mulut Zidan. Lantas ia berjalan kearah Nayla dan mengatakan hal yang sama.


"Mbak Nay gak mungkin bohong. Jadi aku mau nanya sama Mbak Nayla. Apakah tadi Mbak gak dengar saat ibu dan aku ngetuk pintu mbak ?"


Nayla terdiam dan mengingat ngingat kejadian tadi. Hingga akhirnya ia pun sadar, mungkin saja Siska dan Ibu mengetuk pintu kamarnya saat ia dan Zidan berada didalam kamar mandi sehingga mereka tak mendengar suara dari pintu kamar.


Kamarnya yang terlalu luas, posisi kamar mandi yang cukup jauh dari pintu serta suara air di kamar mandi membuat dirinya dan Zidan tak mendengar ketukan serta teriakan dari Siska dan ibu mertuanya.


"Maafkan mbak Siska. Mbak tadi tak mendengarnya. Tadi Mas Zidan sedang tidur dan Mbak Nayla ada dikamar mandi jadi gak kedengaran. Mbak Nayla cuman dengar ketukan dan teriakan dari Hamdi saat tadi shalat berjamaah sama Mas Zidan" ucap Nayla bohong karena malu jika ia mengatakan hal yang sebenarnya.


"Ya sudah jangan dibahas lagi. Sekarang kita turun dulu kebawah ibu mau bicarakan hal yang penting sama kalian. Oh ya, kamu juga Hamdi, janagn dulu pulang. Tunggulah disini ibu juga mau bicara sama kamu, sekalian kita sarapan bersama"


Siska, ibu, Hamdi dan Zidan kini mulai berjalan menuruni anak tangga menuju ruang tamu. Mereka tampak penasaran dengan apa yang akan dikatakan ibu nanti.


Nayla yang baru saja mepepaskan mukena serta memakai hijabnya berjalan menyusul mereka dibelakang.


Nayla dan Siska pergi berlalu menuju dapur untuk membuatkan teh hangat. Hingga saat Nayla kembali dengan membawa cangkir ditangannya, terkejut mendengar perkataan Hamdi yang sedang membicarakan rencananya.


"Bu sebelumnya saya mau ngasih tahu sesuatu yang penting mengenai siapa para pelaku yang telah melecehkan Siska. Mantan pacar Siska sudah ketemu keberadaannya dan saat ini sepupu saya Nikita sudah berhasil membuat Frans masuk kedalam perangkapnya"


Sontak saja ibu pun ikut terkejut dan penasaran dengan langkah selanjutnya


"Lalu bagaimana kondisi baji*ngan itu Ham? apakah kita bisa menangkap semua pelakunya dan membuat mereka membusuk dipenjara?"


"Untuk itu bu, kita gak bisa buru buru karena sepupu saya baru saja berhasil menjalankan rencana yang pertama. Bocah mes*um itu mudah sekali terpikat dengan tubuh Nikita yang menggoda hingga itulah yang akan memudahkan kita membuatnya menderita"


"Jadi intinya nanti bagaimana? ibu kurang paham"


"Gini saja bu, kita ambil simpelnya saja. Aku akan pergi menuju kota dimana set*an itu berada agar aku bisa memantau kondisi Nikita disana. Dan untuk itu, aku membutuhkan Zidan beserta Nayla agar mau menjalankan rencana selanjutnya. Supaya kami bisa membagi tugas menjebak seluruh bocah tengik itu masuk perangkap"


Zidan dan Nayla saling pandang mendengar perkataan Hamdi. Hingga saat Siska datang membawa bayi dipangkuannya, ibu mengubah topik pembicaraan agar Siska tak mengingat kejadian kelam itu.


"Oh ya Siska duduk sini" ucap ibu seraya mendudukan Siska tepat disampingnya.


"Ibu mau bicara apa? kok serius amat?"


Ibu menarik nafas dengan panjang dan berkata dengan satu tarikan nafasnya.

__ADS_1


"Ibu dan ayahmu akan segera bercerai"


Sontak semua orang terkejut mendengar perkataan Ibu Widya. Siska menatap tak percaya pada ibunya sedangkan Hamdi, Zidan dan Nayla yang sedari awal sudah tahu dibuat semakin terkejut ketika mendengar persetujuan ibu untuk bercerai dari ayah.


__ADS_2