
Hari ini adalah hari ulang tahun Nayla. Ibu Aisyah mengecup kening putrinya dan berdoa supaya ia selalu diberikan kesehatan serta kebahagiaan oleh Allah SWT.
Tak lupa ia yang pagi ini akan pergi mengajar seperti biasa di sekolah dasar, mulai berjalan menuju pintu luar rumah. Matanya yang indah kini menatap kearah luar halaman yang dihiasi begitu balon dan bunga dengan pria yang tak asing tengah berdiri memegang kue ditangannya. Zidan.
"Barakallah fii umrik Nayla Saraswati yang cantik jelita seperti bidadari syurga" teriak Zidan dengan girang.
Nayla yang merasa terkejut dan terharu mulai meneteskan air matanya seraya berjalan kearah Zidan yang sedang berdiri.
"Mas sejak kapan ada disini?" ucap Nayla seraya menghapus air matanya.
"Aku disini kira kira pukul dua dini hari, eh tidak tidak. Aku disini sudah empat jam kalau gak salah"
"Mas ngapain melakukan hal ini untukku. Pasti mas sangat lelah menghias semua ini dan menungguku sangat lama"
"Aku dibantu oleh Hamdi Nay. Tuh orangnya ada dimobil sedang tidur. Lagi pula aku sengaja memberikan kejutan ini untuk calon istriku yang semakin hari semakin menua"
Nayla memukul keras pundak Zidan. Hingga membuat tangan Zidan sedikit bergerak tetapi kue di tangannya masih bisa dipegang dengan erat.
"Nay kamu apa apa an sih. Bilang makasih atau apa gitu. Kalau mau peluk juga boleh kok" ucap Zidan cengengesan.
"Belum mukhrim nak! gak boleh peluk peluk" jawab Ibu Aisyah yang langsung membuat Zidan kikuk.
"Bercanda kok bu"
Nayla mulai mengambil kueh ditangan Zidan dan mulai memotong kue tersebut tentu saja tanpa meniup lilin. Suapan pertama ia berikan untuk Ibu Aisyah. Dan untuk potongan kedua ia arahkan pada Zidan, namun kemudian Nayla memakannya sendiri.
"Nay !" rengek Zidan.
Nayla tersenyum kemudian memotong kue dan memberikannya ketangan Zidan.
"Suapin dong Nay"
"Punya tangan masih utuh, makan sendiri nak!" jawab Ibu Aisyah seraya memukul pelan tangan pria yang selalu menyayangi putrinya itu.
"Hihi iya bu"
Hamdi yang mulai membuka matanya, berteriak memanggil Zidan dan berlari kearahnya.
"Zidan! mana kue bagianku?"
"Nih bungkusnya!"
Kardus kosong bekas kue kini Zidan berikan kepada Hamdi yang tampak lelah.
Nayla yang merasa kasihan dengan sahabat Zidan mulai memberikan sepotong kue kepada Hamdi.
"Ini Ham, makanlah. Sekalian kalau masih ngantuk kamu bisa tidur di kamar belakang. Kasihan pasti lelah menyiapkan ini ya"
"Iya Nay, aku sendiri menyiapkan ini. Bujang lapuk disampingku hanya bisa memerintah tanpa membantu sedikitpun"
Kaki Hamdi seketika diinjak keras oleh Zidan yang merasa kesal.
"Awww sakit Dan!"
Ibu Aisyah yang melihat kelakuan Zidan dan Hamdi hanya bisa tersenyum melihat tingkah konyol keduanya. Umur saja yang sudah dewasa namun kelakuan masih seperti anak kecil.
"Terimakasih Mas. Kamu repot repot memberikan kejutan ini untukku" ucap Nayla seraya menatap dalam mata pria didepannya.
Tubuh Zidan serasa kaku mendapatkan tatapan itu dari Nayla. Terlihat jelas bahwa saat ini Nayla tengah menatapnya penuh dengan perasaan dan cinta.
"Sama..sam"
Belum selesai Zidan menjawab pernyataan Nayla padanya, Hamdi tiba tiba saja memotong kata kata yang baru saja keluar dari mulut Zidan seraya mulai menghalangi pandangan Nayla padanya.
"Kok aku gak disebut Nay?" potong Hamdi kesal.
Zidan segera merangkul pundak Hamdi dengan sedikit lebih keras karena telah membuat momen romantisnya bersama Nayla terganggu.
"Iya makasih juga Ham, karena sudah membantu Mas Zidan menyiapkan kejutan ini untukku"
Obrolan terjadi diantara Zidan, Hamdi, Nayla dan Ibu Aisyah diteras depan rumah. Hingga saat jam sudah menunjukan pukul enam, Nayla segera bergegas pamit untuk segera pergi mengajar kesekolah tempat ia bekerja.
"Sudah siang bu, aku pamit dulu pergi ya" Nayla mulai bangkit dan mencium tangan Ibu Aisyah.
"Sama aku gak salim Nay?" jawab Zidan seraya mengulurkan tangannya kearah Nayla.
Hamdi yang senantiasa menggoda Zidan mulai bangkit dan mencium tangan sahabatnya beberapa kali sampai basah. Ibu Aisyah yang melihat kekonyolan Hamdi hanya bisa tertawa.
"Nanti kalau mas sudah jadi suamiku, pasti aku akan mencium tangan mas juga" ucap Nayla malu malu.
__ADS_1
"Berarti jawabannya itu Nay? kau memilih aku?"
Nayla segera menepis perkataannya barusan, karena memang ia belum mendapatkan jawaban dari shalat istikharah yang ia lakukan.
"Bu...bukan seperti itu mas. Maksudku jika memang mas jodohku dan menjadi suamiku, maka nanti aku akan menghormati mas seperti aku menghormati ibu. Sudah ya, aku telat Wassalamualaikum"
Nayla pergi berlalu dengan pipi merah merona karena malu, meninggalkan Hamdi, Zidan dan Ibu Aisyah yang menatapnya seraya tertawa.
"Nak Zidan gak ngawasin Nayla lagi?"
"Gak bu, hari ini aku ada meeting. Nanti saja kalau sudah pulang dari kantor, aku akan datang lagi kepanti bersama Siska adik saya"
"Siska?!" pekik Hamdi dengan wajah berbinar.
"Iya Siska! mau apa hah? mau ikut?!"
"Ya tentu dong aku ikut. Secara kan ada yayang bebeb. Jadi aku mesti menemani calon istriku"
Hubungan Hamdi dan Siska belakangan ini memang semakin dekat dan menuju jenjang pernikahan. Setelah beberapa bulan ini Hamdi dan Siska saling bertukar pesan dan beberapa kali bertemu dirumah mewah milik Zidan, keduanya tak canggung menunjukan keromantisan serta perasaannya.
Hampir setiap hari Hamdi akan mengirimi Siska makanan yang sedang dia inginkan, karena mungkin saat ini Siska sedang ngidam. Beberapa kali juga Hamdi selalu menemani Siska dan ibunya belanja keperluan bayi yang sedang ia kandung serta membeli beberapa pakaian yang mulai terasa ketat ditubuh Siska.
Dan Hamdi memakluminya karena saat ini kandungan Siska sudah menginjak usia tujuh bulan.
Sebagai pria yang menyanyangi adik sahabatnya, Hamdi selalu siap siaga dengan perkembangan kehamilan Siska yang diberitahu oleh Zidan setiap harinya. Bahkan Zidan sering sekali merasa jengkel oleh ulah temannya yang selalu saja menanyakan keadaan Siska yang berada dirumah sedangkan Zidan sedang bekerja dikantor.
******
Pukul tujuh kurang sepuluh menit, Nayla terlihat memarkirkan sepeda motornya dihalaman sekolah. Ibu ibu yang senantiasa menunggu anaknya didepan kelas, berjalan kearah Nayla dan mulai memberiaknnya hadiah yang mereka bawa dari rumah.
"Selamat ulang tahun Bu Nayla yang cantik. Semoga panjang umur, sehat selalu dan cepat diberikan jodoh yang baik sama seperti ibu. Ini hadiah dari saya dan juga anak saya"
"Iya Bu Nay, anak saya ngasih tahu bahwa hari ini gurunya yang cantik luar dalam ulang tahun, jadi kemarin saya pergi ke pusat perbelanjaan beli hadiah ini khusus untuk ibu karena kata anak saya, ibu selalu baik pada anak anak dikelas"
" Terimakasih banyak ibu ibu. Maaf merepotkan"
"Gak repot kok Bu Nay. Kami senang melihat ibu senang"
"Sekali lagi terimakasih banyak ibu ibu. Mudah mudahan ibu ibu sekalian dan anak anak selalu berada didalam lindungan Allah SWT dan diberikan kebahagiaan"
"Amiin" jawab ibu ibu serempak.
"Kok ibu ibu cuman ngasih kado sama Bu Nayla sih. Sama saya gak pernah ngasih?!"
"Maaf ya Bu Asti, kami gak tahu ibu kapan ulang tahun, lagi pula itu bukan urusan kami juga. Bu Asti kan selalu sibuk ngurus anak anak dari kalangan elit. Anak anak kami tak pernah ibu perhatikan. Jadi ibu minta saja sama anak anak yang selalu ibu puji puji orang tuanya yang kaya raya"
Seketika wajah Asti merah padam mendengar perkataan ibu ibu dihadapannya. Selama ini ia memang tak pernah berniat menyapa ataupun berbicara pada mereka yang terlihat selalu berpakaian sederhana. Ia lebih ingin dekat dengan orang tua anak anak yang memiliki mobil serta merupakan ibu ibu sosialita.
"Ya iyalah saya lebih ngurusin anak anak dari keluarga terpandang. Secara kalian saja berbuat tak adil pada guru yang berjasa sudah mengajar anak kalian"
Asti menghentakan kaki dan berlalu pergi meninggalkan Nayla dan ibu dari murid murid.
Tak lama, Nayla pun kemudian berjalan meninggalkan mereka untuk segera menuju kantor dan mulai mengajar. Nayla mengucapkan banyak terimaksih pada mereka karena hadiah yang mereka berikan cukup banyak, sampai sampai tangan Nayla penuh dengan hadiah hadiah.
Sesampainya dikantor, Nayla dikejutkan dengan pemandangan dimana ibu kepala sekolah tengah memegang kueh coklat kesukaan Nayla.
"Barakallah fii umrik Bu Nayla" ucapan selamat keluar dari mulut ibu kepala sekolah yang mulai menciumi pipi kanan dan kiri Nayla.
"Terimakasih banyak ibu kepala sekolah karena sudah menyiapkan semua ini untuk saya."
"Sama sama Bu Nay. Anda memang pantas diberikan kebahagiaan seperti ini dihari bahagia anda. Selama ini Ibu Nayla sudah mendedikasikan diri pada sekolah ini dengan baik hingga anak anak yang tadinya sangat susah diatur menjadi rajin belajar dan bersikap sopan kepada kami para guru disini. Itu semua tak mudah loh. Hanya dalam jangka waktu tiga bulan saja, Bu Nayla mampu merubah anak anak dikelas dua yang notabene anak anak pendiam dan sering sekali menjahili sesama temannya menjadi anak anak yang baik dan peduli sesama"
"Itu semua bukan kehendak saya bu, bukan juga karena saya. Itu semua karena memang anak anak hanya perlu bimbingan yang lembut untuk bisa menjadi anak yang paham mana yang baik dilakukan dan tak boleh dilakukan. Selain itu pada dasarnya anak anak memang terlahir dengan hati yang lembut, hanya saja jika kita mencap anak anak itu sebagai anak pembangkang dan susah diatur maka anak anak akan merasa dirinya memang seperti itu dan menerapkan label cap pada dirinya yang sudah kita berikan"
Para guru disana sangat salut dengan sikap Nayla yang rendah hati.
"Alah, palingan juga anak anak diancam sama dia! lagi pula Bu Nay kan tinggal dipanti jadi pantas saja dia bisa menjadi komando untuk mengendalikan anak anak" ucap Asti ketus.
"Kamu ya! sering sekali iri sama Bu Nay! kamu itu memang benar benar bagaikan langit dan bumi Bu As" ucap Nadia yang merasa geram dengan kelakuan Asti yang selalu saja iri dengan pujian yang diberikan orang orang kepada Nayla.
"Sudah, sudah! kalian gak usah ribut. Ini hari bahagian bagi Bu Nayla. Saya harap kalian disini ikut senang dengan kebahagaiaan yang dirasakan Bu Nayla. Sekarang siap siap, pelajaran akan dimulai. Segera masuk kedalam ruangan kelas mengajar masing masing"
Asti berjalan meninggalkan kantor dengan langkah kaki yang terdengar dihentakan. Nayla menatap punggung sahabatnya yang mulai menghilang di balik pintu. Amar yang menyadari Nayla yang merasa tak enak pada Asti mencoba mendekatinya dan mulai menyerahkan kado kecil kepada Nayla.
"Barakallah fii umrik Bu Nay. Semoga anda sehat selalu, panjang umur, serta cepat dipertemukan dengan jodoh yang terbaik untuk anda, walaupun memang jika nanti jodoh anda bukan saya. Saya hanya bisa memberikan hadiah kecil ini untuk anda. Saya harap ibu senang menerima hadiah sederhana dari saya dan bersedia memakainya"
Amar melangkah pergi meninggalkan Nayla dengan memberikan kotak persegi ditangan lentik Nayla.
"Terimaksih" gumam Nayla pelan.
__ADS_1
Nayla segera menyimpan semua hadiah diatas mejanya dan mulai berjalan keruang kelas tempat ia mengajar dengan beberapa buku ditangannya.
"Assalamualaikum anak anak, pagi"
"Waalaikumslaam Bu, pagi" jawab anak anak serempak.
Tak terasa pelajaran yang Nayla berikan sudah selesai. Sudah saatnya ia pergi menuju kantor dan menyuruh anak anak bersiap siap untuk pulang. Anak anak mencium punggung tangan Nayla dan memeluk tubuh guru yang amat mereka sayangi. Ucapan selamat ulang tahun dari anak anak membuat Nayla meneteskan air mata karena terharu.
Nayla berjalan menuju ruangan kantor dan saat ia sampai didekat mejanya, salah satu hadiah yang tadi diberikan salah satu ibu muridnya hilap tak tahu kemana. Nayla yang menyadari itu kemudian mencarinya keseluruh ruangan kantor karena takut hilang dan ibu dari anak didik yang memberi hadiahnya itu tahu bahwa kado yang ia berikan pada Nayla hilang.
"Bu Nay cari apa?" tanya Amar tiba tiba.
"Eh... Ini pak, kado dari Ibunya Alvin hilang pak. Saya tadi sudah taruh disini sama hadiah yang lainnya. Tapi saat saya sampai, hadiah hadiah ini sudah berserakan dan hadiah dari Ibunya Alvin hilang. Saya takut nanti ibu itu tahu saya menghilangkan hadiah pemberaiannya. Tadi ada tujuh orang tua yang memberikan saya kado, namun sekarang cuman ada enam saja pak"
"Apakah ibu yakin sudah menaruhnya disini? siapa tahu ibu lupa simpan?"
"Saya gak lupa pak. Hadiah dari Ibunya Alvin dibungkus kertas berwarna coklat dengan motif batik. Dan hadiah yang lainnya juga dibungkus dengan kertas yang berbeda jadi saya tahu kalau ada yang hilang"
"Ya sudah, Bu Nay jangan panik dulu. Kita cari dan tanyakan pada para guru disini. Kebetulan guru guru sebentar lagi istirahat. Kita tanyakan saja pada mereka siapa tahu ada yang tahu atau melihat hadiah ibu"
Nayla menganggukan kepala dengan sedih. Terbayang perjuangan ibu Alvin untuk mendapatkan uang yang dibelikan hadiah untuknya. Menyesal sudah pasti. Nayla merasa sedih karena tak bisa menjaga barang pemberian orang lain dengan baik.
Beberapa menit kemudian, para guru sudah tiba di ruang guru. Terlihat Amar mulai menatap satu persatu guru yang ada disana dengan pandangan menelaah.
"Maaf ibu kepala sekolah, boleh minta waktunya sebentar?"
"Iya Pak Amar boleh. Ada apa yang pak?"
"Ini bu, maaf sebelumnya. Bukan saya dan Bu Nayla ingin menuduh kalian, hanya saja Nayla ingin bertanya apakah diantara kalian melihat hadiah miliknya yang dibungkus dengan kertas motif batik?"
"Memangnya kenapa pak?" tanya Nadia penasaran.
Nayla menunduk karena takut salah bicara. Sedangkan Amar mulai menarik nafasnya dan memikirkan kata kata yang tepat untuk ditanyakan pada guru guru disana yang diantaranya sudah lanjut usia.
"Jadi gini bu, tadi ibu Nayla mendapat tujuh kado dari murid murid dan satu diantaranya hilang. Kado itu dibungkus dengan kertas coklat bermotif batik. Maaf sebesar besarnya, bukan mau menuduh hanya saja kami mau bertanya. Apakah diantara ibu guru ada yang melihat kado itu? karena itu adalah pemberian orang yang harus Bu Nayla jaga"
"Alah, hadiah hilang satu aja hebkh banget! emangnya isi hadiahnya apa? emas? berlian? atau sertifikat tanah hah?!" jawab Asti ketus.
"Bukan seperti itu Bu Asti. Saya hanya tak enak pada Ibunya Alvin jika hadiah itu sampai gak ketemu"
"Makanya jadi orang jangan sombong. Dipuji aja sampe lupa segalanya"
Nayla menarik nafas dalam dalam. Asti yang selalu mengatakan bahwa ia adalah sahabatnya, nyatanya sering sekali iri dengan apapun yang didapat Nayla. Dulu saat ia pertama mengajar disini, Asti memang memiliki sifat seperti itu. Namun kali ini kelakuannya sering sekali membuat Nayla harus sabar menghadapinya.
"Bu As, kenapa sih selalu saja mencari gara gara sama Bu Nayla?! kamu iri sama sahabat sendiri? saat ini Bu Nay sedang panik. Seharusnya jika anda memang sahabatnya, anda membantu menenangkannya ataupun membantu mencari hadiahnya. Bukan malah mencari keributan !" bentak Amar.
Hingga kepala sekolah pun hanya bisa menggelengkan kepala dengan sikap salah satu pengajarnya sendiri.
"Ya sudah, kita lihat saja cctv dikantor ini siapa tahu Bu Nayla lupa menaruhnya" ucap kepala sekolah.
Asti yang mendengar ucapan dari ibu kepala sekolah mulai panik dan pergi berlalu meninggalkan ruangan kantor.
Nayla dan para guru fokus menatap monitor yang menampilkan seorang wanita tengah mengambil hadiah dengan bungkus kertas berwarna coklat. Mata para guru membulat sempurna kala melihat jelas bahwa yang mengambil hadiah itu adalah Asti.
"Pantesan aja dia pergi! toh dia yang ambil hadiah Bu Nay" ketus Nadia.
"Sekarang kelakuan Bu Asti sudah tak mencerminkan seorang pengajar. Saya akan memikirkan tindakan yang harus saya ambil dan memberikan teguran pada Bu Asti"
*******
Siang berganti sore, kini Zidan berada di panti bersama Siska dan Hamdi. Hubungan Siska akhir akhir ini membaik dengan Nayla. Ia berani menyatakan kesalahan yang telah ia perbuat pada mantan kakak iparnya itu.
Nayla yang baru sampai ke panti asuhan sangat senang ketika melihat Siska yang tengah duduk bersama Zidan dan Hamdi. Hingga tak lama Ibu Aisyah datang dengan membawa nampan berisi air.
"Assalamualaikum bu" ucap Nayla seraya mencium punggun tangan Ibu Aisyah.
"Waalaikumsalam Nay. Kamu baru sampai?"
"Iya bu, tadi di jalan macet"
"Ya sudah, pergi mandi dulu sana. Biarkan Hamdi, Zidan dan Siska nanti menunggu didalam"
Nayl berjalan kearah Siska dan mengusap lembut perut Siska yang sudah membesar.
"Tante sudah gak sabar pengen ngendong kamu nak. Baik baik ya didalam sana"
Siska tersenyum melihat Nayla yang gemas dengan perutnya.
"Iya tante, tunggu aku lahir ya. Nanti kita main sama sama" jawab Siska seraya mengusap perutnya.
__ADS_1