
Kepalan tangan yang sangat kuat dilayangkan oleh pria kekar itu dengan sangat keras tepat ke wajah Rafa.
Siska yang sempat menutup mata dan menangis. Seketika membelalak sempurna kala hantaman kuat itu dilayangkan Jonathan pada Rafa yang mencoba menc**m bibirnya.
"kurang ajar kau Raf! Baji**Ngan! dasar pria mesum! Apa yang ingin kau lakukan pad Siska ku hah?!"
Pukulan terus saja dilayangkan Jonathan pada Rafa yang kini terkulai lemas di atas lantai dengan tawanya yang keras dan juga menggema. Siska dan Jonathan bahkan terdiam sejenak menatap Rafa yang malah tertawa saat dipukul olehnya, bahkan Rafa kini bertepuk tangan dengan aksi yang sudah Jonathan lakukan padanya.
"wah wah wah! Lihatlah Sis! pahlawanmu sudah datang!" Rafa bersiap untuk bangkit berdiri, namun dengan cepat Jonathan yang sudah kalap malah memukulnya lagi sampai sampai pria itu kembali terjatuh dan tertawa dengan aneh.
"ku kira kau Cupu Raf! Ternyata kau hanya menutupi otakmu yang mesum di balik kecerdasan mu! Aku sempat memujimu dan bahkan kagum dengan kepandaian yang kau miliki Raf, namun sekarang? Cuih! Aku bahkan tak Sudi menatap wajahmu yang mesum ini!" maki Jonathan kencang dengan pukulan keras yang terus saja ia layangkan pada wajah Rafa sampai sudut bibir dan hidung pria itu mengeluarkan darah.
Siska yang sadar bahwa Rafa memang sepertinya bukan orang yang waras, segera menghalau Jonathan untuk tak terus memukuli pria yang sempat akan melecehkannya.
Namun tenaga Jonathan bahkan berhasil membuat Siska menyingkir dari sampingnya dan duduk di atas lantai dengan tubuh membeku.
"sudah Jo! Sudah! lihat Rafa! Dia banyak mengeluarkan darah Jo!"
Jonathan tak menggubris ucapan Siska, melainkan ia trus saja menghajar hidung dan perut pria yang saat ini tertawa di bawah tubuhnya.
"lihat dia Sis! Dia orang gila! Di saat seperti ini saja dia bahkan bisa tertawa!" ucap Jonathan geram.
Kini Jonathan memaksa Rafa untuk berdiri dan mendorongnya sampai ke tembok. Jonathan sudah gelap mata dan terus saja menghajar Rafa tanpa ampun. Sampai sampai kini ia terus saja membanting tubuh Rafa yang masih tertawa ke tembok dan juga meja meja murid kampus tersebut.
bugh!!!
Srak!!!!
Jonathan mendorong tubuh Rafa sampai ke telungkup ke atas meja murid di bagian pojok dengan posisi membelakanginya. Dan saya ia hendak memukul kembali wajah Rafa, tiba tiba saja Jonathan terdiam dengan mata membulat sempurna
Bleshhhh!!!!!!
__ADS_1
"HAHAHAHAH gimana Jo!? sakit?! Uh? sakit ya?" tanya Rafa dengan seringai menyeramkan yang ia tunjukan.
Siska yang sejak tadi berusaha menelpon satpam depan kampus pun terhenyak seketika, kala melihat Jonathan kini diam membeku. Berdiri tepat di hadapan Rada yang tersenyum mengerikan.
Tes!!!
Tes!!!!
Tes!!!!
Darah menetes perlahan dari balik pakaian putih yang saat ini Jonathan kenakan.
Rafa tersenyum dan mendorong tubuh Jonathan dengan sangat keras, sampai sampai pria itu jatuh ke atas lantai masih dalam posisi memegang perutnya yang terta****ncap gu***nting panjang.
"Jonathan!" teriak Siska seraya mulai berlari ke arah pria itu dan menepuk pelan pipi Jonathan agar tetap sadarkan diri.
"Baji**Ngan kau ya Raf! dasar penjahat!" umpat Siska geram.
Wanita itu lantas meninju wajah Rafa dengan keras dan terus memukul pria itu dengan kekuatan yang ia miliki. Sambil sesekali menyeka air matanya yang jatuh begitu saja tanpa bisa ia bendung sebelumnya.
Bugh!!!!
Plak!!!!
"Berhenti! Sudah!" teriak seseorang dari balik pintu yang sontak saja membuat Siska menghentikan aksinya dan menoleh dengan cepat ke arah pria berpakaian hitam dengan topi di kepalanya.
Satpam kampus telah tiba dengan dua orang satpam lainnya dan langsung menangkap Rafa untuk di bawa ke kantor polisi secepatnya.
Sementara Jonathan di bawa oleh beberapa murid yang baru saja sampai untuk ke rumah sakit dan mengobati tu**ikan di perutnya akibat gunting yang sebelumnya Raga Tan**apkan.
Rafa mengambil gunting yang tergeletak begitu saja di salah satu meja murid, dan saat kesempatan mulai berpihak padanya, pria itu dengan cepat menan***capkan gunting tersebut tepat ke bagian perut Jonathan sangat dalam. Sehingga darah yang keluar dari sela sela gunting itu bahkan mentes begitu saja membanjiri lantai kampus tersebut.
__ADS_1
Beberapa siswa kini memasukan tubuh Jonathan ke dalam mobil kampus yang sangat besar, dengan Siska yang ikut disampingnya.
Wanita itu terus saja berbicara dengan Jonathan yang hanya diam dengan mata terbuka dan mulut yang menganga.
"Jo. Aku mohon, tolong jangan pergi! tolong jangan lakukan ini padaku. Aku mohon Jo! Aku mohon! kau pasti pulih dan akan pulih seperti dulu lagi. Maafkan aku karena tak menunggumu tadi. Maafkan aku Jo kumohon maafkan aku!" pinta Siska dengan pelan.
Kini mobil berjalan membelah jalanan yang ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang untuk melakukan aktivitas seperti biasanya.
Siska bahkan sejak tadi sudah menelpon Zidan dan juga Nayla untuk segera menyusulkan ke rumah sakit karena kondisi Jonathan semakin detik semakin melemah.
**************
Kini tubuh Jonathan segera di ambil alih oleh beberapa perawat rumah sakit dan dipindahkan ke atas blankar dorong untuk di bawa ke unit gawat darurat di rumah sakit tersebut.
Siska bahkan membantu mendorong blankar itu sampai depan pintu ruangan dan duduk lemas di atas kursi dengan tatapan nanar dan juga sembab.
"Anda bisa tunggu disini. Kami akan melakukan penanganan pada pasien secepatnya" Ucap salah satu suster pada Siska.
Kini gadis itu terduduk lemas di atas lantai dan menutup wajahnya dengan tangis yang sejak tadi pecah.
Entah kenapa musibah terus saja menimpa dirinya, sampai sampai Siska mulai lelah dengan semua yang terjadi pada hidupnya.
"Sus! Suster! Mana anak saya?!"
Tiba tiba saja suara perempuan paruh baya menggema di lorong rumah sakit yang membuat Siska menoleh ke arahnya dengan cepat. Wanita paruh baya itu tampak di temani oleh seorang pria bertubuh kurus berpakaian khas seperti supir, dan kini wanita itu bahkan memegang pintu dengan tangisnya yang pecah.
"Jonathan! Sayang! Ini ibu nak!' teriaknya dengan keras.
Siska yang baru kali ini melihat ibu dari sahabatnya itu, lantas bangkit dan berniat untuk menjelaskan apa yang terjadi. Namun tiba tiba saja saat Siska berusaha mengulurkan tangan kepadanya..
Plak!!!!
__ADS_1
Tamparan keras melayang tepat ke arah pipi mulus gadis itu, sehingga menciptakan sebuah jiplakan tangan merah yang begitu panas terasa oleh Siska.
"Apa apaan ini hah?!" Suara bariton yang sangat Siska kenal sontak saja membuat semua orang menatap ke arahnya.