
Malam telah datang. Zidan, Rio dan Anyelir memutuskan untuk ikut menginap satu hari dipanti asuhan. Rumah yang sederhana, dengan banyak tawa anak anak yang kehilangan orang tua kandung mereka membuat Anyelir dan Rio takjub dengan ketabahan yang dimiliki oleh anak anak sekecil mereka.
Adzan magrib berkumandang. Mereka akhirnya pergi menuju mushola untuk shalat berjamaah. Tak terkecuali Anyelir, dengan mukena milik Arumi yang dipakainya, membuat seluruh mata memandang kearahnya.
"Masyaallah cantik sekali istriku" ucap Rio mengagumi kecantikan Anyelir.
Zidan yang melihat Anyelir memakai mukena yang selalu dipakai Arumi, ikut terpana melihat kecantikan alami yang keluar dari wajah Anyelir.
"Anyelir cantikkan" ucap Nayla seraya tersenyum.
"Cantikan kamu Nay" jawab Zidan membuat pipi Nayla menjadi memerah.
"Nayla dan Anyelir sama sama cantik dimata ibu. Ya sudah, ayo kita pergi ke masjid, sebentar lagi shalat magrib mau dimulai"
Akhirnya mereka berjalan beriringan menuju masjid. Terlihat sesekali Zidan menatap kearah Nayla yang berjalan dengan senyum yang terukir dibibirnya.
"kurasa kesedihan yang Nayla rasakan sedikit berkurang dengan kehadiran Anyelir" ucap Zidan dalam hati.
Lama mereka berada dimasjid. Shalat berjamaah, mengaji dan mendengarkan ceramah dari ustadz merupakan hal yang baru kali ini Anyelir rasakan. Entah sudah berapa lama ia tak pernah pergi ke masjid dan menghadiri pengajian.
*****
Pukul 21.00 malam, Zidan, Nayla, Anyelir, Rio dan Ibu Aisyah pulang ke panti bersama anak anak. Canda tawa terlontar dari bibir mungil anak anak yang berjalan beriringan bersama mereka.
Hingga saat Ibu Aisyah pulang lebih dulu, Zidan dan Nayla berjalan beriringan dengan Rio dan Anyelir tepat dibelakang mereka.
"Nay, bagaimana perkembangan kasus Arumi? Apakah hukuman untuk Bian sudah ditetapkan Nay?" tanya Zidan ragu ragu.
"Kasus itu baru resmi dibuka kembali mas, dua hari lagi akan ada sidang perdana yang akan dihadiri langsung oleh Bian dan tentunya keluargamu. Ayah masih dirawat dan belum tahu mengenai anaknya yang tengah berada didalam bui. In Sya Allah aku akan datang bersama Ibu Aisyah nanti"
"Syukur Alhamdulillah Nay. Aku juga pasti akan hadir untuk berada dipihakmu. Keadilan harus ditegakan dan Bian harus mendapatkan hukuman yang setimpal"
Anyelir dan Rio yang tak mengerti akan pembicaraan yang dilakukan Nayla dan Zidan hanya diam mendengarkan. Hingga Anyelir yang notabene adalah wanita, mencoba bertanya mengenai arah pembicaraan yang Zidan lakukan.
"Maaf nih sedikit ingin tahu. Memangnya kasus apa yang sedang kalian bicarakan? boleh dong bagi bagi informasi" Anyelir tersenyum kearah Nayla.
"Nanti aku bicarakan didalam, nanti kamu tidur sama aku dulu. Biarkan Mas Rio tidur sama Mas Zidan dulu. Gak papa kan ?"
"Tentu gak papa dong Nay. Secara kitakan wanita. Banyak sekali yang ingin aku bicarakan kepadamu mengenai pria dingin yang sedang berada disampingmu"
Zidan yang merasa salah tingkah kini hanya bisa tertunduk malu. Rio yang menyadari Zidan yang gugup segera menepuk pundaknya dan merangkulnya untuk jalan duluan.
"Kalian lanjutkan nanti bicaranya. Sekarang cepat jalan agar kita bisa segera masuk rumah. Udaranya sangat dingin, gak baik bagi kesehatan" ucap Rio.
"Iya sayang kami sedang berusaha jalan dengan cepat. Maklum baru pakai mukena lagi, jadi belum terbiasa jalan pakai ini" jawab Anyelir pada Rio.
__ADS_1
Perjalanan dari masjid menuju rumah Ibu Aisyah tak terlalu jauh. Cukup berjalan sepuluh menit saja sudah sampai.
Nayla dan Anyelir segera pergi berlalu menuju kamar dan melepaskan mukena yang mereka pakai. Nayla memakai kerudung berwarna cokelat yang membuat wajahnya terlihat bercahaya. Sedangkan Anyelir yang belum memakai jilbab, hanya merapihkan rambutnya yang sedikit kusut.
"Nay aku mau tanya boleh?"
"Tanya apa Mbak?"
"Ish jangan panggil mbak. Panggil Anyelir aja atau apapun. Aku seumuran denganmu masa dipanggil mbak sih. Jadi sebenarnya aku mau bertanya mengenai hubungan kamu sama Zidan"
"Aku sama Mas Zidan ? kami hanya sebatas teman saja gak lebih. Dulu aku menikah dengan adiknya dan dia rencananya dulu mau menikahi temanku dipanti asuhan. Aku dan adik Mas Zidan resmi menikah, sedangkan temanku atau bisa dibilang calon istri Mas Zidan mengalami kejadiaan yang mengerikan. Dia dibunuh dan mengalami pelecehan sebelum nyawanya diambil paksa. Kami hanya sebatas adik ipar dan kakak ipar. Namun saat kami menyelidikan kasus kematian Arumi temanku, ternyata pelakunya bukan orang asing. Kau pasti takan pernah menyangka siapa pelakunya" terang Nayla dengan mata yang berkaca kaca.
"Orang itu adalah suamiku, maksudku mantan suamiku" sambung Nayla.
Anyelir yang terkejut dengan ucapan Nayla hanya bisa diam tanpa berani menjawabnya. Anyelir takut bahwa nanti dia salah menjawab perkataan Nayla.
Nayla menceritakan semua kejadian yang dia alami. Dari mulai kegagalan pernikahannya, hingga kematian yang menimpa Arumi kekasih Zidan. Terlepas dari cerita Nayla, sebisa mungkin Nayla menutupi aib yang dilakukan suaminya mengenai perselingkuhan yang terjadi, serta kasus Clara dengan ayah mertuanya.
Nayla tahu, bahwa aib suami serta keluarganya harus ia jaga sampai kapanpun.
"Kau tahu Nay, kau itu wanita istimewa dan unik. Kau pantas bahagia bersama Zidan"
"Mas Zidan? dia itu hanya ku anggap teman Anyelir tak lebih"
"Tapi kulihat kau begitu nyaman saat berada didekat dia, begitu pula sebaliknya. Aku menganal Zidan sudah lama Nay. Aku tahu bagaimana dia memperlakukan wanita yang benar benar spesial dihidupnya. Kau juga pasti tahu bagaimana Zidan memperlakukan Arumi dulu"
Anyelir tersenyum menimpali ucapan Nayla. Anyelir tahu bagaimana Zidan jika sudah mencintai seorang wanita, dia akan melakukan segala cara. Walaupun harus dibeci sebelum dicintai, Zidan rela menunggu sampai sang wanita pujaan hatinya membalas semua cinta yang ia berikan. Sebab dulupun saat Zidan mendekati Anyelir, dia selalu membuat Anyelir kesal, walaupun kini Anyelir tahu bahwa ketulusan cinta yang Zidan berikan padanya dulu tak sebesar pengorbanan Zidan pada Nayla saat ini.
"Maaf Nye aku mau tanya. Kamu kan mengenal Mas Zidan sudah lama. Jadi pasti kamu tahu siapa saja wanita yang pernah menjadi kekasihnya ataupun berapa banyak wanita yang menginginkan Mas Zidan?"
"Kenapa kamu bertanya mengenai hal itu? apakah kamu mau tahu wanita wanita yang dulu menjadi pengisi hati pahlawanmu Nay?" Anyelir tertawa.
"Euhh...Mak..Maksudku gak seperti itu Nye. Aku hanya ingin tahu bagaimana Mas Zidan memperlakukan mantan kekasihnya dulu ataupun wanita yang pernah dekat dengannya. Secara wajah Mas Zidan kan menarik jadi pasti banyak sekali wanita yang ingin memilikinya.
"Jadi kamu ingin tahu semuanya Nay? kamu yakin? ternyata Nayla sangat penasaran dengan masa lalu Zidan ya" Jawab Anyelir seraya tertawa.
Nayla yang malu malu memberanikan diri untuk bertanya mengenai Zidan pada Anyelir.
"Jadi gini Nay, dulu Zidan hanya memiliki satu mantan kekasih, aku gak mau sebut namanya karena privasi. Dulu dia snagat dingin pada siapapun termasuk kekasihnya. Sebenarnya Zidan adalah pria yang banyak digilai wanita dikampusku, namun sikapnya yang dingin pada wanita membuat dirinya acuh dan cuek pada setiap gadis yang mendekatinya termasuk kekasihnya sendiri. Kasihan sekali ya mantannya" ucap Anyelir yang sebenarnya sedang membicarakan dirinya sendiri.
"Mana mungkin Mas Zidan seperti itu Nye? Mas Zidan selalu bersikap lembut kok pada Arumi, mana mungkin sama pacarnya sendiri sedingin itu? lagi pula secantik apa sih wanita yang mampu membuat pria menyebalkan itu jatuh cinta?"
"Yang jelas wanita itu cantik, cantik sekali. Namun dinginnya sikap Zidan membuat kekasihnya pergi meninggalkannya" Anyelir tersenyum memuji dirinya sendiri walaupun Nayla tak tahu.
Wajah Nayla berubah menjadi murung. Rasa cemburu kini menyelimuti hatinya. Entah sejak kapan dia mulai nyaman jika berada dekat dengan mantan kakak iparnya itu. Yang jelas saat ini Nayla sangat ingin tahu bagaimana Zidan saat dulu dan bagaimana tipe wanita kesukaannya.
__ADS_1
"Kamu cemburu Nay? kok cemberut gitu?" Anyelir tertawa.
"Engak kok, aku gak cemburu. Lagipula Mas Zidan itu bukan siapa siapa. Jadi untuk apa aku cemburu pada pria menyebalkan itu. Oh ya satu lagi"
"Apa?"
"Apakah Mas Zidan pernah melakukan hal yang seharusnya dia tak lakukan bersama mantan kekasihnya?" ucapan Nayla berhasil membuat Anyelir tersedak daj terkejut.
"Uhuk..uhukk"
Dengan cepat Nayla mengambil air putih yang selalu ia simpan diatas laci kamarnya.
"Minum dulu Nye"
"Makasih...Nay"
Perkataan Nayla berhasil membuat Anyelir kikuk dan salah tingkah. Bagaimana mungkin ia akan berkata jujur mengenai dosa yang pernah ia perbuat bersama Zidan. Walau bagaimanapun sekarang dia tahu, bahwa jangan pernah mengumbar aib yang pernah dilakukannya pada siapapun. Sebab jika dia mengumbar aib itu, secara tidak langsung dirinya telah bangga berbuat hal kotor bersama pria yang jelas jelas bukan mukhrimnya.
"Sudah mendingan Nye?"
"Sudah Nay. Lagian kamu bertanya perkataan yang jelas jelas mana mungkin aku tahu jawabannya Nay. Aneh aneh saja. Gini Nay, jika kamu memang memiliki rasa sama Zidan. Cukup tahu sifat aslinya sekarang dan jangan pernah ingin tahu masa lalunya. Sebab jika kau mencintai seseorang, tataplah masa depan bersamanya dan cukup terima masa lalunya. Jangan pernah mengorek ngorek luka lama yang terjadi di masa lampau sebab jika kau mencari apa yang tak seharusnya kau cari, yakinlah bahwa kau akan terluka dan berfikir ulang mengenai orang kau cintai. Rio dan aku selalu menatap masa depan yang akan terjadi dikemudian hari. Kami tak pernah mempertanyakan masa lalu yang jelas jelas sudah terlewat" ungkap Anyelir.
Sejujurnya Anyelir merasa bersalah pada Nayla mengenai kebenaran hubungannya dengan Zidan. Tapi benar kata Zidan, aib itu bukan untuk di umbar atau dibicarakan pada siapa saja. Biarlah aib yang mereka perbuat dulu menjadi rahasia yang hanya mereka yang tahu.
******
Pagi telah tiba, Zidan, Rio, Nayla dan Anyelir kini berada diaula panti asuhan bersama anak anak. Mereka menyantap sarapan yang dibuat oleh Nayla dan Ibu Aisyah serta Anyelir yang membantunya. Tak ada percakapan diantara mereka, hanya ada bunyi sendok dan piring beradu.
Cukup sederhana makanan yang mereka santap. Namun kebersamaan yang mereka lakukan, membuat hidangan terasa lebih nikmat.
Hari ini Zidan harus pulang kekediamannya yang mewah sebab banyak berkas yang harus ia persiapkan untuk kontrak kerjasama yang telah ia lakukan bersama Anyelir selama seminggu ini.
Zidan, Anyelir dan Rio akhirnya pamit kepada Ibu Aisyah untuk pulang. Nayla menatap lekat pada Zidan tak mengatakan apapun. Hingga akhirnya Anyelir mengajak Nayla agar bisa pergi bersama mereka.
"Nay kamu ikut dulu saja sama kami. Kamu pasti seminggu ini jenuh terus berada didalam rumah"
"Gak Nye. Aku gak papa disini aja"
"Ayolah Nay. Kita jalan jalan sebentar untuk refreshing. Lagi pula aku gak ada teman untuk bicara. Rio dan Zidan pasti akan banyak menghabiskan waktu berdua. Sedangkan aku? pasti akan merasakan bosan" ucap Anyelir seraya menyikut tangan sang suami.
"Iya Nay, ikut kami saja sebentar. Nanti kami akan antar kamu pulang. Kasihan Anyelir tak memiliki teman. Sekarang kamu kan teman Anyelir jadi bisa kan temani dia"
Nayla memandang kearah Zidan dan Ibu Aisyah bergiliran. Hingga akhirnya Ibu Aisyah mengangguk memberikan isyarat pada Nayla.
"Aku pergi dulu ya bu. Wassalamualaikum" Nayla mengecup punggung tangan Ibu Aisyah.
__ADS_1
Zidan dan Nayla saling memandang dalam diam. Dari cara Zidan memandang Nayla terlihat jelas bahwa Zidan sangat senang ketika Nayla bersedia ikut bersamanya.