
Zidan kini tengah menatap wanita paruh baya yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri. Wanita itu bahkan kini terbaring lemah tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit dengan selang yang menempel pada tabung oksigen.
"Apa cedera dikepala ibu sangat parah mas?" tanya Nayla dengan gusar.
Ia bahkan kini sekuat tenaga menahan rasa mual yang sering datang pada dirinya kala menghirup bau ruangan didalam sana. Nayal ingin melihat ibu mertuanya yang saat ini terkulai lemah dan ingin sekali merawatnya sampai ia sehat. Lain halnya dengan Siska yang saat ini bahkan masih diam membisu karena sedih melihat kondisi ibunya yang tiba tiba saja seperti ini.
Siska bahkan mengacuhkan Cleo yang kini harus dititipkan pada Nayla yang sepenuh hati menjaganya.
"Besok mas akan datang ke kantor polisi untuk membuat laporan tentang penyerangan yang terjadi pada ibu. Aku bahkan tak tahu siapa orang yang sudah melakukan ini pada ibu sebab selama ini kehidupan kita mulai membaik dan ibu pun aku yakin tak memiliki musuh" Zidan mulai memainkan jarinya pada kursi tempat ia duduk.
Pria itu bahkan sangat geram kala tahu bahwa ibu Widya diserang tepat di bagian kepala belakangnya yang sangat fatal jika sampai terkena pukulan sangat keras.
"Aku besok ikut mas" tiba tiba saja Siska mengucapkan kata kata yang membuat Zidan terdiam.
"Kau tunggua saja disini dan temani ibu Sis. Biar mbak saja yang temani Mas Zidan pergi ke kantor polisi" ucap Nayla berusaha membujuk.
__ADS_1
Siska bahkan tak tahu betapa sayangnya sang kakak ipar padanya hingga Nayla tak ingin jika Siska kecapean terlebih lagi ada Cleo yang sangat membutuhkannya.
"Kau tunggu saja disini. Besok Hamdi akan pulang dan menemanimu disini. Kau akan memiliki teman berbincang disini seraya menunggu kesehatan ibu membaik" bujuk Zidan yang berhasil membuat Siska menganggukan kepala.
Siska benar benar takut kehilangan ibunya. Sejahat apapun ibunya dulu dan sebenci apa ibunya dulu pada dirinya, jauh di lubuk hati Ibu Widya, Siska pun tahu bahwa ibunya itu sangat perduli dan menyayanginya. Terlebih lagi sang ayah yang sudah berani bermain gila dengan menantunya sendiri itu pergi meninggalkan Siska dan ibunya disaat saat mereka tengah terpuruk.
Berkat bantuan Zidan dan Nayla kini Siska bahkan mendapatkan tempat tinggal, makanan dan kehidupan yang lebih layak dari pada di jalanan.
"Aku akan menunggu ibu disini. Dan ku harap mas dan mbak akan baik baik saja. Oh ya, ku mohon hati hatilah dalam setiap hal. Sebab kita tak tahu musuh kita ini siapa dan dimana dia berada" Siska menahan rasa sedih di matanya.
"Mas Zidan. mungkin saja ini adalah ulah salah satu keluarga dari para pelaku pelecehanku yang kini sedang di tahan. Mereka mungkin benci padaku yang memenjarakan putra mereka hingga mendapatkan hukuman yang begitu lama"
Zidan terdiam, ucapan Siska ada benarnya juga pikir Zidan. Ia kini mulai fokus dengan satu persatu tersangka pelecehan Siska yang saat ini tengah ditahan. Mungkin benar salah satu dari mereka mengatakan sesuatu pada keluarganya sehingga dengan bantuan dari orang luar mereka bisa membalaskan dendam pada Siska dan keluarganya.
"Besok aku akan menyelidiki mereka. Aku akan mencari tahu keluarga para pelaku yang mungkin saja menjadi pelaku teror ini"
__ADS_1
**************
Malam ini Zidan dan Nayla kembali harus menghabiskan malamnya di rumah sakit. Siska dan Nayla bahkan kini sedang terlelap di atas ranjang tempat tidur yang nyaman bersama Cleo sebab Zidan sengaja memesan kamar rumah sakit yang mewah untuk memberikan kenyamanan untuk keluarganya.
"Hamdi mengatakan bahwa ada hal yang penting ingin ia katakan. Taompi kenapa pria itu kini tak bisa dihubungi" Zidan bergumam seraya menatap hamparan gedung gedung kota dari atas balkon kamar rumah sakit.
Entah kenapa malam ini hati Zidan begitu gelisah memikirkan Hamdi. Sahabatnya itu kerap sekali sibuk dengan urusan kantor namun kali ini panggilan dari Zidan bahkan tak tersambung ke ponsel sahabatnya itu. Zidan khawatir bahwa sesuatu telah terjadi pada Zidan sehingga ia beberapa kali menelpon Hamdi dengan rasa tak karuan.
"Cepat angkat Ham" Zidan sibuk mengotak ngatik ponselnya yang tak kunjung mendapat jawaban dari Hamdi.
Namun disisi lain kini Hamdi bahkan tengah terlelap dengan pulas kibat pukulan keras di belakang kepalanya akibat orang bayaran Clara yang dengan sengaja menyerang Hamdi di parkiran sebuah toko oleh oleh yang cukup terpencil.
"Kau memang tampan" ucap Clara dengan pelan.
Clara membelai pipi Hamdi yang saat ini berada di atas tempat tidur tanpa menggunakan pakaian. Dengan sengaja Clara bahkan memotret dirinya yang tengah berbaring dengan Hamdi dan menci**m pipi pria itu dengan senyum diwajahnya.
__ADS_1
Clara sudah menyiapkan rencana untuk kekasih Hamdi agar mereka batal melangsungkan pernikahan dan Hamdi akan mencintainya karena Clara akan berpura pura telah melakukan hubungan dewasa dengan pria yang Clara pun tak tahu bahwa Hamdi adalah kekasih Siska.