
Waktu terasa berhenti. Langkah kedua insan yang pernah menyatu itu terhenti seketika. matanya saling menatap. Ragu untuk saling menyapa. Wajah Jaya tidak ada yang berubah, pria yang telah kehilangan keluarganya saat ia masih kecil dan di buang oleh saudaranya ketika ia beranjak dewasa.
Jaya dibuang oleh saudaranya karena Jaya adalah satu-satunya pewaris harta ayahnya, saudara gelap mata hingga meninggalkan Jaya di perkampungan yang jauh dari kota, hingga Jaya bertemu dengan Rara Dwi Putri ibunya Santi. Sampai pada akhirnya Jaya meninggalkan Rara dan putrinya karena faktor ekonomi yang sangat susah kala itu.
Kini wajah tampannya tampak menunduk malu.
Rara berpaling muka dan melanjutkan langkah melewati Jaya yang masih tertunduk malu.
"Tunggu!" Ucap Jaya sambil meraih tangan Rara paksa.
"Biar aku jelaskan semuanya?" Lanjutnya lagi.
"Tak perlu mas. Semuanya sudah jelas. Tolong lepaskan tanganku." Ucap Rara tanpa menoleh dan berusaha melepaskan pegangan jaya yang erat itu.
Jaya membawa Rara ibu nya Santi itu ke sebuah cafe dekat rumah sakit.
Ia menjelaskan semuanya dari awal, dari ia kecil yang ditinggal oleh kedua orang tuanya kecelakaan dan di buang oleh saudaranya ke perkampungan.
Ia menjelaskan juga kalau dia adalah keturunan dari seorang yang kaya. Semenjak ia di buang dia selalu mencari keberadaan saudaranya untuk meminta Hak-nya. Tapi tidak pernah ketemu mungkin mereka menghilangkan jejak. Jaya tidak dikenalkan dengan saudara yang lain karena sudah terencana pengambilan harta Jaya.
Semenjak saat itu Jaya tinggal di kampung dan bertahan hidup dengan menjadi tukang buruh tani dan kadang ia juga menjadi buruh kuli di pasar hingga bertemu dengan rara.
Ia menjelaskan juga kenapa ia tega meninggalkan Rara dan putri kecilnya di kampung.
"Maafkan aku, aku sangat berdosa padamu Ra," jaya menyucurkan air matanya.
"Aku sudah memaafkan kamu mas, tapi tolong jangan ganggu kebahagian aku dan anakku." Ucap Rara
"Tapi. Bolehkan aku bertemu dengan anak kita?"
"Terlalu sakit untukku mempertemukan mu mas, dari kecil ia tidak merasakan kasih sayang seorang ayah, ia hanya menunggu kedatangan ayahnya pulang karena yang ia tau ayahnya pergi untuk segera kembali."
Ucap rara sambil sesenggukan menangis karena harus mengingat kenangan yang begitu pahit dalam hidupnya.
__ADS_1
"Sedari kecil ia hidup susah, akupun tak sanggup membiayainya sekolah ia membantuku mengumpulkan barang bekas untuk di jual untuk kami makan sehari-hari. Kamu tidak pernah tau mas, sakitnya aku ketika melihat anakku bersedih ingin merasakan main bersama teman sebayanya, jarang sekali mas, putriku jarang main, ia hanya punya teman beberapa saja kebanyakan temannya menjauh setelah putriku berhenti bersekolah. Mereka seperti jijik dengan putriku, saat putriku menghampiri temannya selepas ia membantuku temannya semua menghindar itu juga membuat ku sakit mas." Lanjutnya lagi
"Maafkan aku. Maafkan aku!" Jaya menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
Penyesalan memang selalu datang di akhir.
"Sekarang anak yang kamu tinggalkan sudah bahagia, ia hidup senang dan mandiri ia juga sudah menikah. Dengan wali hakim karena akupun tidak tau kamu dimana dan masih hidup atau tidak," ucap Rara sambil menadahkan wajahnya ke atas seolah keadaan baik-baik saja, seolah ia tidak sedang merasakan sakit, dengan senyuman di bibirnya ia segera berdiri berniat meninggalkan Jaya.
"Tunggu. Duduklah dulu!" Jaya segera menghampiri dan memegang tangannya lagi.
"Kamu sudah menikah lagi. Aku tidak mau mengecewakan istrimu, aku tau di khianati itu sakit."
"Istriku koma. Aku mau meminta maaf padamu juga anak kita, aku sangatlah berdosa. Tolong izinkan aku bertemu dengan anak kita." Ucap Jaya penuh harap.
"Ya sudah nanti ku hubungi lagi, sekarang anakku lagi merawat anaknya yang sakit, aku tidak mau menambah sakitnya sekarang. Biar nanti saja setelah semuanya membaik" Rara mencoba menenangkan hatinya.
"Anak? Jadi aku sudah punya cucu?" Dengan matanya yang berbinar kini jaya tersenyum bahagia.
"Iya."
Rara kembali duduk, ia menyantap beberapa sendok makan dan meneguk minuman yang telah di pesan sedari tadi.
Rara bergegas melangkah pergi meninggalkan cafe dan berjalan balik menuju rumah sakit, Tanpa pikir panjang jaya segera mengikutinya di belakang.
Jaya banyak bicara bak bocah saja, tapi sama sekali tidak di hiraukan oleh Rara. Rara fokus berjalan sampai akhirnya tiba di depan pintu ruang rawat El yang bernomor 204.
Jaya berhenti seketika, hatinya sudah menebak bahawa Santi itu adalah anaknya yang sudah dewasa, dan El si anak lelaki kecil yang tampan itu adalah cucunya.
Air matanya tumpah begitu saja saat Rara membuka pintu dan menyuruhnya masuk.
Ceklek.
Bunyi pintu terbuka itu memperlihatkan sosok pria tampan yang selalu membuat hati Santi merasa tenang.
__ADS_1
Santi tersenyum, tapi seketika mengerutkan dahinya begitupun dengan Agus. Mereka berdua terheran melihat deraian air mata yang bercucuran membasahi pria itu, Jaya.
Yang semakin membuat Santi dan Agus heran lagi terlihat ibu di belakangnya yang juga sama seperti Jaya ia juga menangis dengan wajah yang tertunduk, kesakitannya yang sudah ia kubur puluhan tahun kini terbuka kembali.
Tanpa sebuah kata Jaya segera menghampiri Santi dan memeluknya erat.
"Sayang. Maafkan bapak nak." Suara yang terdengar gugup itu memecahkan pikiran dan pertanyaan Santi.
"Bapak?" Santi melepaskan pelukannya dan segera lari mendekati ibunya, ia takut melukai perasaan ibunya.
"Ibu tidak apa-apa kan Buk?" Santi cemas takut ibunya terluka kembali.
"Ibu tidak apa-apa nak, ibu sudah tau semuanya tadi ibu bertemu dengan dia dan dia juga sudah menceritakan semuanya." Ucap Rara sambil memeluk anaknya itu.
"Tolong maafkan bapakmu nak." Lanjut Rara sambil mengelus rambut Santi agar anaknya menjadi lebih tenang.
"Mama!"
Terdengar tangisan El, Jaya langsung menghampirinya.
"Cucu kakek udah besar ya sayang, kamu tampan sepeti ayahmu dan gagah seperti kakek mu" ucap Jaya mengedipkan mata kirinya sambil tersenyum, di cuimnya kening El dan tangannya.
"Cepat sembuh ya sayang nanti kakek temenin El main," ucapnya lagi.
El tersenyum dan mengangguk, ia menjentrikkan jari kelingkingnya ke hadapan Jaya kakeknya, dengan semangat Jaya membalas dan menyatukan jari kelingkingnya dengan El, pertanda sebuah perjanjian telah disepakati.
Kesakitan ibunya santi tiba-tiba hilang begitu saja ketika ia melihat cucunya tersenyum dan ceria kembali.
"Zihan.. Malam ini aku tidak pulang, aku mau menginap menemani el dirumah sakit. Tolong beritahu ibu juga ya."
Sebuah pesan singkat itu Agus kirim buat Zihan, ia tidak mau istri keduanya lama menunggu dan cemas.
"Agus dan Santi mau ke kantin dulu, ibu tolong titip el." Ucap Agus.
__ADS_1
"Sayang. Mama mau makan dulu ya, El mainnya di temenin nenek dulu ya sayang."
Santi dan Agus pun berlalu begitupun Jaya setelah ia pamitan ia segera pergi ke ruang inap istrinya yang berada di rumah sakit itu juga.