
Sore hari, dengan mentari yang begitu terik bersinar. Nayla , Zidan dan Hamdi akhirnya pamit kepada ibu Aisyah untuk segera pulang. Ketiganya mulai mencium tangan Ibu Aisyah dan memeluknya tanpa mengatakan bahwa ketiganya hari ini akan berangkat ke Pulau Bali.
Bukannya berniat untuk menyembunyikan semuanya, tapi Nayla dan Zidan sudah memikirkan semuanya matang matang agar Ibu Aisyah tak terlalu khwatir dengan rencana yang akan mereka jalankan.
"Bu, Nayla sama Mas Zidan pamit pergi dulu ya. Kami akan liburan di luar kota bersama Hamdi. Ibu baik baik disini, oh ya, In Sya Allah Siska sama Ibu Widya akan main kesini. Jaga kesehatan ibu, jika ada apa apa telpon aku segera" ucap Nayla seraya memeluk tubuh wanita paruh baya didepannya.
"Iya nak. Ibu akan jaga ibu baik baik. Kamu jangan khawatir, ibu pasti sangat rindu Nayla dan jangan lupa, jaga juga dirimu baik baik ya."
Ibu Aisyah memeluk tubuh Nayla dengan erat dan mencium pucuk kepalanya dengan lembut.
"Oh ya, nikmati liburan kalian, kasih tahu ibu kabar baik secepatnya. Ibu harap setelah kalian pulang liburan membawa kabar bahwa Nayla akan menjado seorang ibu"
Ibu Aisyah tersenyum kearah Zidan dan Nayla. Keduanya terseipu malu mendengar perkataan Ibu Aisyah yang ingin sekali Nayla hamil.
"Iya bu, tentu saja. Zidan kan ahli dalam hal itu. Pasti dia akan memberikan ibu cucu dua belas biar menjadi team sepak bola" tawa menggelegar dari mulut Hamdi yang begitu lancar mengejek Nayla dan Zidan.
"Tentu saja aku akan memberikan ibu cucu yang banyak. Toh biar bayinya Siska punya banyak teman dirumah. Selain itu biar rumah ku ramai dengan suara anak anak. Ya sudah, ini sudah saatnya kita berangkat. Ibu hati hati ya"
Zidan, Nayla dan Hamdi segera berlalu meninggalkan Ibu Aisyah yang menatap punggung ketiganya menghilang masuk kedalam mobil merah kesayangan Zidan.
Lambayan tangan dari Nayla membuat Ibu Aisyah begitu bahagia melihat putrinya kini bisa bahagia bersama suami barunya. Beda dengan rumah tangganya yang dulu bersama Bian, penuh dengan kebohongan dan nafsu belaka.
****
Kini mobil mewah milik Zidan telah terparkir di bandara. Ketiganya berjalan dengan terburu buru menuju kursi penumpang di pesawat yang akan mereka tumpangi. Zidan membantu Nayla mendorong koper sedangkan Hamdi sibuk dengan barang bawaannya yang begitu banyak.
"Bisa gak sih bantuin dikit? berat ni" ketus Hamdi.
Sedetik kemudian Zidan dan Nayla menoleh ke arah Hamdi yang sedang mendorong dua koper serta menjingjing tas besar ditangan kirinya.
"Siapa suruh bawa banyak barang? lagian kita mau kesana untuk menangkap bocah seta*n itu bukan untuk liburan. Beda lagi kalo aku sama Nayla, kami akan sekalian berbulan madu disana dan melakukan hal romantis. Kau ajak saja Nikita untuk menjadi teman gabut"
"Dasar teman gak punya persaan"
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Nayla, Zidan dan Hamdi sudah duduk dikursi penumpang kelas VIP. Dengan mengikuti arahan dari pramugari, ketiganya memasang sabuk pengaman dan mulai berdoa agar perjalanan mereka lancar dan selamat sampai tujuan.
Jarak tempuh yang lumayan cukup jauh, membuat Nayla perlahan merasakan kantuk hingga tak sadar dirinya kini bersandar pada bahu Zidan. Zidan yang mersa kasihan pada sang istri mulai mengusap lembut kepala sang istri dan mencium pucuk kepalanya dengan pelan.
Perjalanan yang memakan waktu tidak sedikit membuat ketiganya terlelap didalam pesawat dan terbangun ketika pesawat mulai akan mendarat. Hamdi segera menepuk pelan pundak Zidan dan Nayla ketika pesawar bersiap untuk mendarat.
"Dan, Dan, bangun. Sebentar lagi kita sampai."
"Dan, Dan. Zidan!" dengan pukulan yang cukup keras dipundak Zidan. Akhirnya Zidan pun terbangun dan mengucek matanya yang terasa begitu rapat.
Dengan wajah yang kebingungan ia mulai celingukan menatap lingkungannya yang penuh dengan orang orang.
"Kita dimana Ham?" tanya polos Zidan.
Hamdi menepuk keningnya dan mulai menarik nafas dengan kasar karena kesal.
"Kamu amnesia atau lupa? kita ada dipasawat Zaidani Atmaja yang tampan rupawan"
"Sayang bangun. Sebentar lagi kita sampai"
Dengan ucapan sekali saja, Nayla kemudian membuka matanya dan melihat kearah suaminya.
"Kita sudah sampai mas? ko cepat sekali?"
"Bukan cepat nyonya Zidan. Tapi anda yang begitu nyenyak tertidur disini. Sudah cepat rapihkan dulu bajumu dan siap siap kita akan segera turun"
Hamdi mulai membenarkan pakaiannya yang kusut, disusul dengan Nayla yang mulai membenarkan letak hijabnya yang miring karena tertidur di pundak Zidan. Sedangkan Zidan mulai merapihkan rambutnya agar terlihat tampan.
Pesawat telah mendarat dibandara. Ketiganya begitu antusias melihat keadaan sekitar yabg begitu cerah dan mulai menaiki sebuah mobil yang sebelumnya sudah dipesan jauh sebelum mereka berangkat.
"Kita mau kemana tuan?" tanya sopir dengan sopan.
Zidan yang duduk ditengah kursi penumpang, serta Hamdi dan Nayla berada disisi kanan dan kirinya.
__ADS_1
"Kami mau ke penginapan dikawasan pantai pak. Tolong antarkan kami kesana dengan cepat karena seseorang sudah menunggu kami disana"
Supir pun mengangguk dan mulai menjalankan mobilnya dengan cepat. Cuaca yang begitu cerah, membuat mentari yang akan tenggelam menampilkan sinar jingganya yang begitu indah. Nayla menatap kaca jendela mobil dan menikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajahnya.
Perjalanan yang begitu cepat membuat Nayla, Zidan dan Hamdi segera turun dari mobil ketika sampai di halaman penginapan. Udara yang sejuk serta angin yang begitu kencang membuat Nayla kedinginan dan meminta Hamdi untuk segera masuk kedalam penginapan.
"Penginapan ini sudah aku sewa jadi takan ada orang lain selain kita. Oh ya, Nikita sudah ada didalam menunggu kita sejak siang tadi. Aku menelponnya sebelum kau menjempuku di apartement tadi"
Zidan menganggukan kepala dan mulai berjalan beriringan dengan Nayla mengekor di belakang Hamdi.
Suara pintu yang terbuka, membuat sosok wanita yang tengah duduk diruang tamu spontan menoleh kearah ketiganya.
"Hamdi" pekik Nikita yang bangkit kemudian memeluk sepupunya dengan erat.
Zidan melotot tajam kearah Hamdi yang hanya diam dengan ekspresi takut sebab Zidan terus saja menatapnya dengan tatapan elang.
Perlahan Nikita mulai melepaskan pelukannya dan segera bersalaman dengan Nayla.
"Perkenalkan saya Nikita" ucapnya ramah.
"Saya Nayla. Senang bisa bertemu dengan anda"
Sesaat kemudian, Nikita yang akan bersalaman dengan Zidan mendapat tarikan dari Hamdi yang berbisik ditelinganya.
"Oh ini suami kamu Nayla?" tanyanya dengan santai.
"Iya. Dia Mas Zidan, suamiku"
Zidan menangkupkan tangan didadanya dan menatap Nayla dengan tersenyum.
Pakaian yang dikenakan Nikita cukup membuat Zidan dan Nayla merasa risih karena ia hanya menggunakan rok pantai dan atasan yang cukup terbuka.
Note: Mohon maaf jika terjadi keterlambatan dalam up part baru dikarenakan otornya lagi sedikit kurang sehat yang membuat tidak fokus untuk membuat ceritanya🙏
__ADS_1