
Pagi ini Zidan berjalan menuju ruangan tempat ia bekerja dengan santai. Beberapa berkas yang sudah ia tanda tangani bahkan sudah diberikan pada Hamdi yang akan melakukan perjalanan kerja menuju luar kota.
Entah kenapa hati Zidan hari ini begitu tak tenang mengingat kandungan Nayla yang sangat lemah. Ia bahkan tak bisa fokus melakukan apapun mengingat masalah yang saat ini tengah ia hadapi.
"Kenapa wajahmu masam seperti mangga muda?" tanya Hamdi seraya tertawa.
"Diam Ham. Aku sedang pusing sekarang"
"Baik baik. Maafkan aku. Sekarang kau ceritalah kenapa kau seperti itu." Hamdi mulai duduk di kursi depan Zidan dan mulai menyimpan berkasnya di atas meja.
"Jadi sebenarnya kandungan Nayla saat ini sangat lemah dan harus banyak beristirahat dirumah'
"Lalu?"
"Lalu, aku tak bisa menetralkan rasa takut di hatiku walaupun Nayla kini banyak diam di rumah dan tak melakukan apapun. Aku tak masalah dengannya yang tak mengerjakan apapun dirumah, hanya saja rasa takutku kadang muncul ketika aku menatapnya yang sering mengingau ketika tertidur. Apakah Nayla menyimpan sesuatu?"
Hamdi terdiam. Ia bahkan baru tahu tentang masalah yang dihadapi Zidan sebab kemarin saat ia bertanya pada Nayla dan Zidan yang baru saja pulang dari rumah sakit, keduanya berkata bahwa pulang cek up kandungan saja.
"Jadi sebenarnya saat kalian pulang saat itu, kalian habis dari rumah sakit dan terjadi sesuatu pada Nayla?" tanya Hamdi dengan pelan.
Zidan menganggukan kepala dan menghela nafas panjang.
"Aku menyembunyikan ini karena saat ibu mengatakan kau akan melamar Siska, aku dan Nayla tak ingin menunda kebahagiaan kalian dengan berita ini. Nayla baik baik saja sekarang hanya saja jika ada yang membuatnya stres itu tak menutup kemungkinan kandungannya kembali bermasalah. Keguguran yang terjadi padanya dulu membuat rahimnya sedikit bermasalah'
"Kau tenang saja Dan. Aku yakin Nayla adalah wanita yang kuat. Kau temani dia dan bantu apapun yang ingin dia kerjakan. Jangan sampai Nayla merasa tertekan ataupun kelelahan. Aku akan menghandel semua pekerjaanmu setelah selesai peresmian bisnis baru kita di luar kota nanti"
"Terimakasih banyak Ham"
"Sama sama. Ya sudah aku pergi dulu untuk menyiapkan semua dokumen untuk presentasi nanti. Kau tenangkan pikiranmu dan jaga Nayla baik baik"
__ADS_1
Zidan tersenyum memandang punggung temannya yang kian menjauh dari pandangannya. Hati Zidan sedikit lega ketika mengatakan semuanya pada Hamdi, mengingat persahabatannya dengan pria itu telah berjalan lebih dari lima tahun.
*******
Sore ini dengan membawa beberapa makanan serta buah buahan ditangannya, Zidan mulai mendatangi beberapa petugas dan memberikan mereka beberapa makanan untuk di bagikan pada narapidana di dalam sel tahanan. Tak lupa, ia pun membawa sekotak pizza kesukaan Bian yang sudah lama tak pernah ia jenguk semenjak ditangkap dan di jadikan sebagai tersangka pembunuhan Arumi.
Pria dengan tubuh yang mulai kembali terlihat berisi itu kini tengah menundukan kepala seraya membaca beberapa ayat Al Quran yang ia pegang di tangannya. Wajah Zidan tampak tersenyum memandang sepupunya tersebut yang kini terlihat sudah berubah menjadi lebih baik.
"Sodara Bian, ada kunjungan dari keluarga anda" ucap salah satu polisi yang menjaga di depan sel Bian.
Tampak binar binar kebahagiaan terpancar dari mata Bian hingga pria itu dengan semangatnya berjalan keluar dari jeruji besi yang selama ini mengurungnya.
"Mas Zidan datang kesini?" ucap Bian seraya menatap pria tinggi di depannya.
Zidan tersenyum dan menganggukan kepala melihat adiknya yang tampak sedikit berisi dan putih setelah dulu tampak kurus dan tak terurus.
Bian yang tampak senang pun langsung memeluk tubuh Zidan dengan erat dan mencium tangannya dengan takzim. Zidan bahkan membalas pelukannya dengan erat dan mengajak sepupunya itu duduk untuk berbincang.
Belum sempat Zidan mengatakan maksud ia datang ke tahanan, Bian bahkan menanyakan mantan istrinya yang tak lain adalah Nayla.
"Bagaimana kondisi Nayla mas? Apa dia baik baik saja?" tanya Bian dengan pelan.
Zidan terdiam sejenak. Ia langsung menjawab pertanyaan sepupunya yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri dengan santai.
"Nayla baik baik saja"
"Mas Zidan ternyata mampu menjaganya dengan baik, tak seperti aku yang selalu saja menyakitinya dan menyia nyiakannya"
Zidan menatap Bian dan mencoba mencairkan suasana yang terasa begutu kaku.
__ADS_1
"Kau pria yang baik Bian, hanya saja emosi di dalam hatimu yang begitu besar mampu membuat dirimu menjadi orang yang jahat. Kau sekarang bahkan mencoba kembali menjadi Bian yang saat kecil ku kenal dan kau terlihat lebih baik sekarang"
Bian tersenyum tipis. Ia tak mampu membenarkan ucapan Zidan sebab ia pun tak yakin dengan perubahan yang terjadi di dalam dirinya tersebut.
"Jaga dia baik baik mas. Jangan sampai kau kehilangan bidadari sepertinya hanya tergoda dengan seonggok sampah. Aku bahkan tak pantas menerima maaf darinya karena kelakuanku yang sangat menjijikan. Oh ya Algi bagaimana kabarnya mas?'.
Zidan terkejut mendengar pertanyaan Bian. Sepupu yang sudah ia anggap sebagai adik kandungnya sendiri ternyata sekarang telah berdamai dengan keadaan, bahkan saat ini mau menanyakan darah dagingnya bersama wanita ular tersebut.
"Algi baik baik saja. Aku sering mendapatkan foto dari orang kepercayaanku yang ku suruh untuk mengawasi Clara di dekat perumahannya. Aku juga tak lupa memberikan uang kepada Clara agar dia menjaga dan merawat keponakanku itu dengan baik. Kau tak perlu khawatir tentang bayimu itu. Aku akan jamin dia akan tumbuh besar dengan baik"
"Terimakasih banyak mas, karena kamu sudah mau merwat bayiku serta keluargaku. Maaf karena aku banyak berbuat salah dan telah membuatmu malu dengan kelakuanku" Bian menundukan kepala tanda menyesal.
Lain halnya dengan Zidan yang mulai tersenyum kala melihat penyesalan yang di rasakan oleh Bian. Ternyata kebaikan di hati Bian belum benar benar hilang, sehingag ia mau berubah dan mengakui kesalahannya.
"Emh, aku ingin memberikan kabar baik padamu. Hanya saja aku merasa tak enak padamu" ucap Zidan pelan.
"Apa ini ada kaitannya dengan Nayla?" tanya Bian dengan cepat.
"Ya, Nayla sedang mengandung anakku dan saat ini ia harus isirahat total karena kandungannya lemah"
Bian terdiam, Ia sadar bahwa kelakuannya dulu telah mempengaruhi hidup Nayla yang sangat mencintainya.
"Apa bayimu baik baik saja mas?"
"Doakan saja agar bayiku dan Nayla sehat. Aku ingin kau bisa bebas dan melihat tumbuh kembang Algi. Aku tahu bahwa kau sangat membenci Clara, namun aku tahu perasaanmu yang sangat menyayangi putramu. Bersikaplah baik di sini, supaya kau mendapat keringanan hukuman. Aku juga sangat ingin melihat bayiku sehat dan tumbuh bersamanya, begitu pula denganmu."
Bian tersenyum menatap Zidan. Ia bahkan tak tahu kenapa sepupunya ini mau membantunya dikala semua orang mencacinya sebagai penjahat.
"Ya sudah, sekarang kita makan dulu ini. Ku tahu kau sangat rindu dengan makanan ini kan" ucap Zidan seraya mulai membuka kotak pizza yang sudah ia bawa.
__ADS_1