
Nayla dan Hamdi seketika diam. Keduanya tampak kikuk dan bingung untuk memulai pembicaraan dengan Zidan, mengingat pria itu bahkan saat ini masih khawatir degan keadaan ibunya sendiri.
"Iya mas, Hamdi baru saja tiba" jawab Nayla dengan cepat.
Hamdi masih diam dan tak bisa mengungkapkan kerisauannya akan sikap Siska jika sampai ia tahu. Namun Zidan yang notabene telah mengenal Hamdi sejak lama, pun tahu bahwa pria itu kini tengah menyembunyikan sesuatu darinya
"Apa yang ingin kau katakan Ham? apa ada sesuatu yang mengganggu di perjalanan sehingga kau sampai cukup lama, padahal sejak semalam kau berangkat"
"emh, kemarin malam jalanan disana cukup ramai dan macet Dan. Tapi memang kau benar, ada hal yang ingin ku katakan padamu saat ini. Tapi bisakah kau ikut aku ke halaman sebentar?" Hamdi mencoba mengajak Zidan untuk berbicara di halaman rumah sakit.
mengingat saat ini Siska bahkan masih dalam keadaan sedih akan kejadian yang menimpa ibunya.
"Nah, tolong jaga Siska dan ibu dulu ya. Aku akan pergi sebentar dengan Hamdi. Oh iya, ini tolong kabari aku jika ada hal penting ataupun sesuatu yang terjadi pada kesehatan ibu." Zidan pergi berlalu meninggalkan Nayla yang masih berdiri mematung.
Wanita dengan lesung Pipit itu hanya bisa terdiam kala mengetahui apa yang baru saja Hamdi alami semalam. Nayla masih bingung dengan siapa yang sebenarnya telah menjebak Hamdi dan berusaha menghancurkan hubungan antara Hamdi dan Siska. Terlebih lagi teror yang terjadi di keluarga Nayla masih belum berhenti.
*****
Saat ini Zidan masih diam seraya menatap wajah Handi yang tampak murung dan juga stres. Ia tahu bahwa Hamdi ingin mengatakan hal penting padanya namun Zidan pun tahu jika Hamdi sedang berada dalam masalah yang besar.
"Kita sudah bersahabat cukup lama Ham, dan kau masih saja mau menyembunyikan sesuatu dariku? apa aku masih belum bisa kau percaya Ham sehingga kau ingin menutupi semuanya rapat rapat dariku?" tanya Zidan dengan pelan.
__ADS_1
Hamdi sontak saja menatap dalam mata Zidan yang saat ini berada tepat di sampingnya. Ia tahu bahwa Zidan akan memaklumi semua sikap baji**ngannya, namun setelah bersama Siska, apakah Zidan masih mau memaklumi semua ya. Hamdi menarik nafas dalam dalam dan membuangnya dengan perlahan. Kini keberaniannya mulai muncul dan instingnya yang mengatakan dia hanyalah korban mulai berkibar.
"Aku telah dijebak seseorang Dan" ucap Hamdi dengan pelan.
Zidan langsung mengerutkan kening, merasa aneh dengan pola pernyataan yang Hamdi katakan padanya.
"Maksudmu apa Ham? dijebak? siapa yang menjebakmu?" tanya Zidan penasaran.
"Semalam saat aku keluar dari tempat penginapan, kepalaku dipukul keras oleh seseorang yang tak ku kenal. Aku pingsan dan saat mataku terbuka lebar, aku melihat sesorang wanita tanpa pakaian tepat berada di sampingku. Su...sunguh aku tak tahu apa yang sudah terjadi pada kami. Aku bersumpah bahwa aku di jebak dan aku tak melakukan apapun dengannya" Hamdi terlihat panik dan ketakutan dengan raut wajah Zidan yang kini terlihat tanpa ekspresi.
Zidan mulai bangkit dan berdiri mencoba mencerna apa yang sudah ia dengar dari mulut calon adik iparnya sendiri. ia tahu bagaimana sifat sahabatnya.
"Apa ?! ak..aku tak melakukan apapun dengannya Dan sungguh. aku dijebak. Aku pingsan dan aku pun tak tahu jika aku dibawa ke kamar olehnya! apa kau meragukan ku Dan?" Hamdi terlihat putus asa.
Pria itu nampak bangkit dan mencoba berdiri sejajar dengan Zidan. Hanya saja Zidan masih tetap berada di posisinya yang tak ingin menatap sahabatnya tersebut. Hingga tiba tiba saja Zidan memukul pundak Hamdi dengan sangat keras dan mulai tersenyum padanya.
"Apa kau tak mengenalku dengan baik Ham? Apa kau hanya mengenalku beberapa bulan ini saja hah?! kenapa kau bertanya bahwa aku meragukan perkataanmu? aku percaya dan aku Takan mungkin meragukan orang yang telah melakukan banyak hal untuk adikku"
Binar kebahagiaan mulai tampak di mata Hamdi. Ia merasa sedikit lega dengan respon Zidan yang bisa menerima pernyataannya tanpa meragukan semua ucapannya.
"Jadi siapa yang sudah menjebakmu? tak mungkin jika wanita itu membawamu sendirian ke kamar itu jika tanpa bantuan seseorang. Aku yakin pasti ini ada kaitannya dengan kondisi ibu saat ini" jelas Zidan dengan tegas .
__ADS_1
"Wanita itu bernama Clara Dan. Dia adalah seirang single parent yang memiliki seorang balita berjenis kelamin laki laki dan ku kira kau juga pernah melihatnya. sebab aku pun merasa sebelumnya pernah melihatnya"
Wajah Zidan seketika memerah. Ia curiga pada wanita yang dulu pernah membuat rumah tangga Nayla dan Bian hancur, sebab ia pun tahu bahwa Clara adalah wanita licik.
"Clara. Wanita ular itu berani beraninya mencoba mengambil calon suami adikku"
"Kau kenal dia Dan? bagaimana mungkin? kau belum pernah melihat orang yang sedang ku katakan"
Zidan memandang Hamdi dengan serius. Ia tahu nama Clara banyak di dunia, hanya saja wanita yang Hamdi katakan cukup membuatnya yakin bahwa wanita itu adalah Clara yang ia kenal.
"Kau bilang aku pernah melihatnya bersamamu. Dan nama wanita ular itu salah Clara. Entah kau sadar atau tidak, dulu kita pernah memata matai seorang wanita yang menjadi selingkuhan Bian. Dan wanita itu bernama Clara. Dia bahkan sudah memiliki seorang putra dan kini ia hidup dari hasil pemberianku. Aku tak ingin anak dari adikku terlantar hanya karena perilaku ayah serta ibunya yang menjijikan" terang Zidan penuh amarah.
"Tapi dia adalah seorang wanita penghibur Dan. Aku menolongnya saat dia akan dilecehkan di jalanan oleh seorang pria yang merupakan pelanggannya. Ia bahkan terlihat akan mendapat kekerasan dari pria hidung belang itu, sehingga aku pun terpaksa menolongnya"
"Jadi wanita itu sekarang berprofesi sebagai wanita penghibur! hah yang benar saja! aku bahkan memberikan dia uang bulanan sepuluh juta untuk memenuhi kebutuhan Algi dan juga membayar rumah sewanya. Tapi wanita itu masih saja menjajakan dirinya untuk memenuhi apapun yang ingin ia miliki. Dasar wanita mu**Han!" umpat Zidan kesal.
Hamdi mulai mengingat saat saat ia dan Zidan mengintai serang wanita yang pergi bersama dengan Bian dulu. Hingga saat Hamdi mulai ingat sepenuhnya, ia pun yakin dengan wanita yang Zidan maksud.
"Apa kau masih menyimpan fotonya Dan?" tanya Hamdi penasaran.
"kuarasa foto si jal**ng itu masih ada di rumahku. Aku pernah membuang foto foto yang Bian simpan di kamarnya dan menyimpan foto Bian berserta keluarganya itu di dalam gudang. Nanti akan ku cari agar kau lebih yakin dengan wanita ular yang kumaksud Ham"
__ADS_1