Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Terbukti Bersalah


__ADS_3

Kulangkahkan kaki menuju villa sederhana didepanku. Anyelir berjalan dengan anggun menghampiri pemilik rumah dan memesan kamar yang berada dilantai atas.


Pelayan memberikan aku kamar tepat didepan pintu kamar Anyelir. Ya, aku tak mengapa karena ini memang keadaan yang memungkinkan. Saat ini hanya ada dua kamar yang kosong di villa ini.


"Kau hati hati disana. Jangan sampai kau salah masuk kamar dan melakukan hal itu lagi padaku" ucap Anyelir seraya tertawa.


Sejujurnya aku merasa tak enak hati saat Anyelir mengatakan itu padaku. Aku yang dulu telah melakukan kesalahan sudah memutuskan untuk menjadi pria yang baik dan takan pernah merusak wanita manapun lagi yang bukan mukhrimku.


Anyelir berlalu pergi menuju kamarnya dan aku pun pergi menuju kamar didepannya. Kubuka isi koper dan menyimpan semua pakaianku didalam lemari.


Ponsel yang sedari tadi ku simpan didalam saku, berbunyi. Walaupun disini sulit sekali mendapatkan sinyal, tapi jika memang sedang mendapat keberuntungan, tak menutup kemungkinan kita dapat saling menelpon atau bertukar pesan melalui aplikasi hijau.


"Assalamualaikum Nay. Bagaimana kabarmu? sehat?" ucapku.


"Waaalaikum salam mas, alhamdulillah aku sehat. Mas sudah sampai? bagaimana suasana disana pasti sejuk ya ?" jawab Nayla padaku.


"Aku baru saja sampai. Suasana disini sangat sejuk Nay. Oh iya, apakah Hamdi ada menghububungimu Nay?"


"Oh Hamdi, tadi ada kirim pesan, katanya kalau aku perlu apa apa tinggal bilang sama dia. Oh iya mas, bagaimana kabar Mas Bian? apakah dia dan Clara sudah hidup bahagia? emh sebenarnya ini pertanyaan gak penting sih , hanya saja aku ingin tahu, apakah dia bersedih setelah berpisah dariku?"


Kutarik nafas dalam dalam. Ternyata Nayla masih sering memikirkan Bian yang jelas jelas tak pernah perduli akan perasaannya.


"Bian masuk penjara Nay karena dia memukuli Clara di rumah sakit saat tahu bahwa Clara melakukan hubungan ba*dan dengan ayah"


"Astagfirullah mas, sejak kapan?! " pekik Nayla.


"Baru kemarin Nay. Maaf aku lupa memberitahumu. Aku hanya ingin membuat dia menyesal karena dia sudah salah memilih. Dia rela menduakan berlian sepertimu Nay, dan malah menikahi sampah seperti Clara "


"Emh iya gak papa mas. Ku kira setelah kepergianku, Mas Bian dan Clara akan hidup bahagia bersama keluarganya. Nyatanya memang Mas Bian yang kukenal sudah berubah menjadi pria yang kasar dan tempramental. Kasihan Clara. Dan harusnya mas berbicara langsung pada Mas Bian mengenai video skandal ayah dan Clara agar tak terjadi hal tak diinginkan seperti itu"


Kutarik nafas dalam dalam, lalu menghembuskannya kasar. Mengapa Nayla begitu peduli pada wanita yang jelas jelas mengambil cintanya.


"Nay, aku hanya ingin memberikan pelajaran pada mereka. Walaupun caraku salah tapi setidaknya semua orang tahu bahwa Bian, Clara dan ayah tak seharusnya berbuat dzolim kepadamu"


"Iya mas aku paham. Tapi bagaimana jika nanti Algi sudah besar dia tahu bahwa ibunya bermain gila bersama pria beristri?"


Sial! aku lupa akan hal itu. Walau bagaimanapun Algi tak salah dan tak seharusnya menanggung malu karena aib yang dilakukan orang tuanya.


"Hemh iya aku salah Nay"


Tak ada jawaban dari wanita yang sedang ku ajak berbicara. Mungkin dia merasa kecewa dengan tindakan yang aku lakukan.


"Ya sudah Nay aku mau istirahat dulu. Kau jaga dirimu baik baik. Jika ada apa apa segera hubungi aku atau Hamdi. In Sya Allah jika jaringan disini sedang bagus, aku akan sering sering menelponmu"


"Iya mas, mas juga jaga diri baik baik. Jangan lupa shalat dan makan"

__ADS_1


"Wassalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Kutaruh ponsel diatas laci, hingga tak berselang lama satu panggilan masuk dari Hamdi.


"Assalamualaikum Ham ada apa?"


"Waalaikumsalam. Hei kera, lama sekali kau mengangkat telponku. Aku mau kasih kabar kalau aku sudah serahkan bukti mengenai kematian Arumi pada polisi dan mereka saat ini sedang melakukan pencocokan data data dengan Bian. Ini kabar baik karena sebentar lagi Bian akan mendekam disel penjara lebih lama lagi"


"Benarkah Ham? bagus kalau begitu. Aku sudah tak sabar ingin segera melihatnya mendapatkan hukuman yang setimpal atas perlakuan beja*dnya pada Arumi. Dia harus merasakan kehancuran yang lebih pedih Ham. Kau harus pastikan bahwa Bian akan mendapatkan hukuman seberat beratnya."


"Iya tentu, saat ini aku masih berada di kantor polisi dan akan diajukan beberapa pertanyaan mengenai bukti yang aku dapat. Kau tak perlu hawatir, aku akan melakukan yang terbaik untukmu dan juga Nayla"


Hamdi adalah pria yang menyebalkan namun baik hati. Sejak kami sekolah dulu, hanya dialah temanku yang benar benar selalu ada disaat aku terjatuh. Kami sering menghabiskan waktu hanya untuk sekedar melepaskan penat dan meluapkan keluh kesah yang ada.


Mataku sangat berat dan kepalaku sedikit pusing karena perjalanan didalam pesawat. Hingga akhirnya aku pun merebahkan tubuh diatas kasur seraya memejamkan mata.


Pukul 16.00 aku terbangun dengan tubuh yang segar. Kuambil handuk didalam lemari dan segera menuju kamar mandi. Hingga saat aku melepaskan baju yang kupakai, pintu kamar yang lupa ku kunci terbuka lebar, kamar mandi yang memang sengaja tak dikunci pun ikut terbuka seiringan dengan kedatangan Anyelir yang hanya mengenakan anduk.


"Wow badanmu masih atletis ya" ucap Anyelir hingga membuatku kaget dan menutup badanku menggunakan handuk.


"Ngapain kamu kesini ! maen nyelonong aja lagi!" bentakku.


"Kan bisa ketuk pintu atau megucap salam sebelum masuk! kamu tahu gak Nye itu gak sopan! dan aku risih"


Anyelir hanya memandang santai kearahku. Kuambil stok sabun didalam koper dan memberikan Anyelir satu bungkus untuknya.


"Ini ambil dan jangan pernah masuk lagi kedalam kamarku!"


Dengan santainya Anyelir pergi meninggalkan kamarku dengan tersenyum. Tak lupa dia menutup pintu kamarku dan melambaikan tangannya yang lentik.


Kupakai kaos putih dengan stelan celana kain berwarna hitam. Dan segera menuruni anak tangga untuk menuju tempat makan yang disediakan di villa ini.


Terlihat Anyelir dengan kaos putih bermotif bunga, tengah menyantap roti diatas meja makan.


"Hai pria macho" ucapnya padaku.


Kutatap dirinya dengan datar dan mulai duduk disebrangnya. Terdapat beberapa menu makanan dari mulai nasi, ikan bakar, ayam goreng dan beberapa jenis sayuran segar dengan sambal disampingnya.


Tak ada percakapan antara aku dan Nyelir saat ini. Aku yang asik menyantap makanan lezat didepanku hanya fokus mengunyah saja.


"Zidan, apakah proyek pembuatan pabrik di daerah ini akan baik untuk kelancaran usaha kita?" tanya Anyelir tiba tiba.


"In Sya Allah Nye. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa. Dan untuk kemajuan usaha kita, kita serahkan saja sama Allah"

__ADS_1


"Kau sudah berubah ya. Kau sekarang lebih alim dan baik ya walaupun kau masih sama seperti dulu, Zidan yang dingin dan menyebalkan. Aku hanya takut saja sama warga disini. Apakah mereka masih ingat sama kita dan apakah mereka akan menghakimi kita lagi sebab kesalahan dimasa lalu?"


"Untuk itupun aku serahkan sama Allah Nye. Setidaknya kita jangan sampai melakukan dosa itu lagi. Dan mungkin saja warga sudah lupa dengan wajah kita sebab aku saja sekarang lebih tampan dan kau tahu bahwa aku sekarang lebih macho" ucapku seraya tertawa.


Kami larut dalam obrolan hingga malam. Sampai ketika kulihat jam sudah menujukan waktu shalat.


"Aku pergi dulu Nye"


"Kemana?"


"Mau shalat. Kau mau shalat juga"


"Emh udah lama aku gak shalat Dan. Kau saja"


"Sayang sekali Nye, kamu meninggalkan kewajiban yang jelas jelas kamu harus kerjakan. Aku hanya ingin memberimu nasihat sedikit Nye, maaf jika aku terlalu menggurui. Tapi kau sudah diberikan kenikmatan oleh Allah dan kau tak melakukan kewajibanmu? setidaknya kerjakan shalatmu walau pun tidak tepat waktu. Aku permisi"


Anyelir menunduk, mungkin tersinggung dengan ucapanku. Sejujurnya akupun tak enak memberikan nasehat padanya. Tapi demi kebaikannya setidaknya aku hanya bisa menegur Anyelir tanpa memaksanya. Karena hidayah datang pada kita dengan sendirinya tanpa paksaan.


Malam berlalu. Kutatap ponsel diatas laci yang berbunyi notifikasi pesan dari Hamdi. Tak seperti biasanya dia mengirimku pesan jam segini.


Banyak sekali panggilan masuk yang tak kujawab darinya sebab ponselku memang sedari tadi disimpan di kamar.


Mataku hampir saja loncat dari tempatnya kala membaca pesan dari Hamdi yang mengatakan bahwa Bian sudah dinyatakan bersalah akan kasus kematian Arumi. Segera ku telpon Hamdi namun tak ada jawaban darinya.


Kukirim pesan padanya untuk menanyakan semua yang terjadi dikantor polisi serta bagaimana reaksi Nayla saat tahu bahwa mantan suaminyalah yang membunuh Arumi.


[ Hamdi angakat telponnya. Bagaimana keadaan Nayla sekarang?]


[ Ya Allah, Hamdi angakat telpon dariku cepat. Bagaimana keadaan Nayla saat tahu Bian ditangkap?]


Pesan yang kukirim tak dibalas satu pun oleh Hamdi. Hingga kuputuskan untuk segera menelpon Nayla.


"Assalamualaiakum Nay, bagaiman kabarmu?" hening tak ada jawaban. Hanya terdengar isakan yang keluar dari bibir Nayla.


"Nay kumohon jawab aku. Bagaimana keadaanmu? Apakah kau baik baik saja"


"Ternyata selama ini orang yang kita cari ada dirumahmu mas. Dia adalah pria bej*ad yang pernah aku kenal. Sungguh aku tak sudi bila harus memandang wajahnya yang menjijikan dipersidangan nanti. Hatiku sangat hancur saat tahu bahwa pembunuh Arumi selama ini tidur tepat disampingku. Cintaku telah berubah jadi benci yang amat sangat padanya. Terimaksih atas semua usahamu mas. Sekarang aku serahkan semua hukuman untuknya pada mas. Mas bisa mengajukan hukuman mati ataupun penjara seumur hidup padanya. Aku sudah tak peduli lagi sekarang. Terimakasih mas. Wassalamualaikum"


Pnggilan terputus.


Saat ini ku tahu jika Nayla pasti sangat syok ketika mengetahui bahwa pembunuh sahabatnya adalah mantan suaminya sendiri. Aku juga sebenarnya masih tak menyangka bahwa Bian adikku yang sangat kusayangi ternyata pelaku pembunuhan Arumi.


Pikiranku kalut memikirkan nasib Nayla yang mungkin saat ini butuh ketenangan. Tak mungkin aku harus pulang dan meninggalkan proyek besar ini karena memang akan terjadi masalah jika aku membuat klien kecewa.


Maafkan aku Nay karena tak ada disisimu disaat kau sangat butuh orang untuk bersandar. Kuyakin kau kuat dan bisa melewati ujian ini. Tunggu aku pulang, akan ku buat Bian menyesal seumur hidup dan membuatmu bahagia hidup disampingku.

__ADS_1


__ADS_2