Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Mencoba menaklukan Hamdi


__ADS_3

Malam telah tiba. Acara pernikahn antara Hamdi dan juga Naura kini telah selesai dengan berjalan cukup lancar tanpa sedikitpun gangguan. Hamdi dan Naura kini mulai pergi menaiki mobil, menuju rumahnya yang sudah ayah Naura berikan sebagai hadiah pernikahan. Hamdi lebih memilih diam mendengarkan ocehan Naura yang begitu senang membicarakan bagaimana orang orang membicarakan pesta mewah pernikahan mereka yang baru saja terlaksana.


Hingga saat mobil telah memasuki kawasan halaman rumah. Hamdi bejalan begitu saja meninggalkan Naura yang masih berada di sisi kiri mobil, padahal wanita itu sangat kesulitan untuk bergerak akibat gaun pernikahan yang ia kenakan.


"sayang! sayang bantu aku!" teriak Naura yang tentu saja diacuhkan oleh Hamdi.


Naura membuka kaca mobil dan membunyikan klakson dengan keras, hingga Hamdi menoleh dengan malas dan membukakan pintu untuk istri barunya tersebut. Hamdi benar benar muak dengan tingkah Naura yang begitu manja, terlebih lagi wanita itu sangatlah pengadu dan juga tak bisa mandiri.


"gendong" rengek Naura yang tentu saja membuat mata Hamdi membulat sempurna kala mendengarnya.


"Apa aku tak salah dengar?! lagi lagi! coba katakan lagi "


Hamdi mendekatkan telinganya pada Naura yang tentu saja membuat Naura kesal.


"Ish kamu ini! Gendong Ham! gondong aku! aku tak bisa berjalan sendiri. pakaianku sangat berat tau"


"Suruh siapa memakai pakaian seperti itu Hah?! aku sudah katakan jika kita menikah saja sederhana! setidaknya jika kau ingin terlihat elegan dan juga kaya, maka kau bisa kenakan gaun dari emas saja Ra!" bentak Hamdi yang mendapatkan respon tawa dari Naura.


kini Hamdi mulai paham bahwa Naura adalah tipikal wanita yang licik. Sejak saat kuliah dulu Hamdi memang tahu bahwa Naura menyukainya dan sengaja menjaga jarak dengannya sebab Naura sangatlah dimanja oleh sang ayah. Namun, jasa dari ayah Naura begitu banyak pada Hamdi sehingga saat ada waktu yang tepat, Hamdi sengaja menjauh dari wanita itu dan akhirnya kini ia bertemu dan bahkan harus terpaksa menikah.


"Cepat gendong aku Ham! kalau tidak kau tahu akibatnya!" ancam Naura yang sontak saja membuat Hamdi tertawa nyaring.


"kau mengancamku Ra?! iya?! hah dasar picik" Hamdi memegang rahang sang istri cukup kuat dan tentu saja hal itu membuat Naura terkejut.

__ADS_1


"Dengar ini baik baik Ra! aku tak sebaik yang kau kira! dan aku tak selemah yang kau bayangkan! aku Hamdi! aku bukanlah lagi pria Cupu dan penakut dengan gertakanmu! aku menikahimu karena sebuah alasan yang tentu saja bukan karena ancamanmu yang akan melakukan bunuh diri! Kau tak perlu repot repot menjajakan di*rimu padaku sebab aku sungguh tak tertarik padamu. Paham!"


Hamdi berlalu pergi meninggalkan Naura yang masih tampak syok dengan apa yang telah Hamdi lakukan.


Naura tak mengira jika Hamdi bisa sekasar itu padanya, sebab sebelum menikah, Hamdi bagai sebuah robot yang terus saja mengikuti ucapannya.


kini dengan terpaksa Naura mulai bangkit dan berjalan menuju dalam rumah mewah pemberian sang ayah, tanpa bantuan Hamdi di sampingnya. Naura tergopoh gopoh berjalan membawa gaunnya yang begitu berat dan juga menyulitkannya.


Dengan susah payah Naura berjalan menaiki anak tangga, menuju kamar pengantin yang ayahnya katakan sudah hias dengan banyak sekali mawar, untuk penghias malam pengantin yang akan ia lewati bersama Hamdi.


Namun saat pintu terbuka lebar, Tampaklah Hamdi tengah membaringkan tubuhnya dengan santai, dan seluruh bunga serta sprei yang sempat penghias bentuk seperti dua ekor angsa, jatuh begitu saja di atas lantai dengan hunga yang begitu berserakan.


"Hamdi! Apa yang telah kau lakukan hah?! kau hancurkan semua hiasan ini?!" Terbaik Naura menggema di seluruh ruangan.


Dengan perlahan, Hamdi mulai membuka matanya dan melihat Naura dengan tetapan nyalang serta penuh kebencian. Hamdi sengaja menyingkirkan semua hiasan hiasan bunga mawar dan juga sprei begitu saja, sebab tak suka dengan sosok yang sebenarnya telah ia nikahi.


Banyak Masalah dan cobaan yang telah Hamdi lalui, sehingga itu semua membuat dirinya menjadi pemilih hati yang keras dan juga beku.


Naura yang kesal lantas duduk di depan cermin dan melepaskan semua aksesoris yang ia kenakan. Naura bahkan mulai mengambil pakaian dari dalam lemari yang sudah ayahnya isikan dengan pakaian pakaian baru dan mahal, serta mulai berlalu pergi menuju kamar mandi untuk membilas dirinya yang sudah seharian penuh melakukan aktivitas yang begitu melelahkan.


byur!!!!!!!


Air mengalir dengan pelan, membasahi seluruh badan Naura yang sebelumnya lengket dengan keringat.

__ADS_1


Harum sabun menyeruak begitu saja, hingga saat ia keluar dari kamar mandi, harum sabun yang ia kenakan mampu memenuhi seisi ruangan ini dengan aromanya.


"Ham" panggil Naura dengan pelan, seraya berjalan ke arahnya yang masih diam menutup matanya dengan rapat.


"Hamdi"


panggil Naura lagi, seraya menggoyangkan tubuh Hamdi dengan pelan, sampai sampai pria itu kesal dan dengan cepat bangkit menatapnya.


Namun, mata Hamdi sontak saja membulat sempurna. Kala melihat Naura yang saat ini hanya terbalut kain tipis transparan duduk tepat di sampingnya.


"astagfirullahhaladzim!" pekik Hamdi dengan keras seraya memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


Naura mengerutkan kening. Wanita itu tersenyum licik melihat ekspresi Hamdi yang saat ini salah tingkah, disertai dengan pipinya yang bersemu merah.


"Hamdi kamu kenapa?"


Naura memegang dagu Hamdi dan berusaha membuat pria itu menatap kembali tubuhnya yang begitu tercetak sempurna sebab memakai pakaian yang cukup minim.


"Pakai dulu baju yang benar Ra! kau ini apa apaan! Kau tahu tidak! kau ini sama persis seperti Jelita yang sering ku temui di pinggir jalan" bentak Hani yang membuat Naura terkekeh pelan.


"Ini baju dinasku malam Ini Ham. Kau pasti sangat tak tahan melihat tubuhku kan? sekarang kau mandi dulu, kita mulai permainannya nanti. Oh ya siapa Jelita? apa dia pacarmu?" Naura mencoba menci**m tengkuk Hamdi, yang sontak saja membuat Hamdi memegang mulut Naura dengan gemas.


"Maen sosor aja hah?! Dasar soang! Asal kau tahu aja ya Ra! kau itu sama persis seperti Jelita, wari*a yang sering mengamen di depan kantorku dengan pakaian seksi seperti ini. Ya, dia seorang war**a"

__ADS_1


Hamdi bangkit dan pergi berlalu meninggalkan Naura yang saat ini menatapnya kesal dan juga penuh amarah. Naura sengaja mencoba mengejar Hamdi, namun pria itu dengan cepat menutup pintu kamar mandi, yang sontak saja membuat kening Naura terbentur dengan kencang tepat mengenai pintu.


"Kau lihat saja nanti Ham! Akan ku pastikan bahwa kau akan meminta kehangatan ku dan kau bahkan akan memintanya lagi setalah tahu bagaimana cara aku bermain di atas ranjang ini" gumam Naura pelan.


__ADS_2