Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Kembali?


__ADS_3

Hamdi bersembunyi untuk menghindari siapapun yang nantinya akan membocorkan kejadian ini pada Naura serta ayah mertuanya sendiri. Hamdi tahu bahwa Naura tidak sedang menstruasi sebab darah yang keluar dari organ intimnya sangatlah banyak, tak seperti darah haid pada umumnya.


Walaupun Hamdi bukanlah dokter dan juga ia merupakan pria biasa. Tapi setidaknya Hamdi juga sadar bahwa darah itu bukanlah darah biasa. Dan ia berpikir jika ada sesuatu yang tengah Naura sembunyikan darinya..


hampir dua puluh menit Hamdi menunggu dokter itu keluar dari rumah Naura. Hingga tak lama kemudian, pria berpakaian serba putih itu keluar dengan terburu buru dan menaiki mobilnya berlalu dari kediaman mewah tersebut.


Hamdi ingin sekali bertanya tentang apa yang sebenarnya telah terjadi pada Naura hingga harus di tangani oleh dokter tersebut. Namun jika pun ia bertanya baik baik pada istri serta mertuanya itu, Hamdi tentu saja Takan mendapatkan jawaban jujur dari keduanya karena sesuatu yang terjadi bukanlah hal yang wajar untuknya saat ini.


Hamdi bahkan menerka nerka apa yang sebenarnya telah menimpa Naura akibat dorongannya sehingga menyebabkan pendarahan di bagian inti wanita itu. Sampai akhirnya ia pun yakin bahwa hal itu pasti berkaitan dengan alat reproduksi istrinya sendiri.


"Apa Naura hamil?" gumam Hamdi seraya membulatkan mata kala sadar pendarahan yang Naura alami layaknya wanita yang keguguran .


****************


Pagi telah tiba menampakan sinarnya yang cerah di kediaman Atmaja yang sampai saat ini masih di huni oleh Zidan, ibu Widya, Nayla dan juga Siska serta anaknya tercinta.


Zidan sudah lama tak melihat celotehan yang keluar dari mulut manis Siska. Hingga tibanya hari ini, wanita itu tampak sangat ceria dan juga senang dengan hal yang ia pun tak tahu apa yang telah terjadi padanya.

__ADS_1


Siska dengan asik menyuapkan sesendok kecil makanan pada mulut Cleo, hingga akhirnya Zidan pun menepuk pelan pundak wanita itu secara cepat, yang tentu saja membuatnya terkejut bukan main.


"Ish Mas Zidan ngagetin aja" ucap Siska dengan sedikit kesal pada sepupunya yang sebentar lagi akan menyandang gelar sebagai ayah .


"Makanya jangan asik sendiri. Ini sudah siang dan kamu harusnya pergi ke kampus"


Siska menaruh mangkuk kecil yang berisikan makanan Cleo dengan cepat menuju nakas yang ada di dekatnya. Ia tak lupa menunjuk kalender yang saat ini merupakan hari berwarna merah disana. Yang tentu saja membuat Zidan tersenyum dengan pelan.


"heheh, mas lupa" ucapnya pelan.


Siska kembali menyuapi Cleo secara pelan dan kembali asik dengan obrolannya dengan Cleo yang hanya di timpali oleh senyuman.


Wanita itu menggelengkan kepala dengan pelan, kala kembali teringat akan pergulatan yang dilakukan Jonathan dengan pelaku penusukan yang tak lain adalah temannya sendiri. Hanya untuk menyelamatkan Siska dari tindakan pelecehan yang akan kembali ia alami.


"Sebaiknya kau jenguk saja Jonathan sis. Dia adalah pria yang baik dan juga berani. Ia bahkan rela menyelamatkanmu dan mengorbankan nyawanya hanya untuk membelamu" saran Zidan yang tentu saja di dengarkan oleh Siska.


Ada getaran aneh di dalam dada Siska kala teringat akan kebaikan yang Jonathan lakukan untuknya. Pria itu bahkan rela terluka hanya untuk membelanya dari perilaku bejat Rafa yang ingin mengambil kehormatannya secara paksa. Namun perasaan yang Siska miliki kali ini sungguh berbeda dari perasannya dulu pada Hamdi selama ini.

__ADS_1


Apa ini cinta? Atau hanya rasa iba? Entahlah. Yang Siska yang rasakan hari ini cukup aneh dan tentu saja membuatnya sedikit bimbang..


"Nanti sore aku akan ke rumah sakit untuk menemuinya mas. Aku ingin mengucapkan rasa terimakasih padanya. ya, walaupun Siska tahu nenek lampir pasti akan terus menghinaku"


Zidan terkekeh pelan mendengar kata nenek lampir keluar dari mulut adik sepupunya itu. Ia tahu bahwa ibu Jonathan sangat tak suka dengan Siska. Apalagi setelah tahu bahwa Jonathan lebih membelanya. Namun Zidan cukup yakin bahwa lama kelamaan sikap serta sifat dari wanita itu akan luluh ketika tahu kepribadian baik yang dimiliki Siska. Sama halnya dengan dulu saat sang bibi, yaitu ibu Widya begitu membenci Nayla yang notabene menantunya sendiri.


"Mas akan temani kamu kesana Sis. Kita akan beri pelajaran pada nenek lampir itu jika kembali berani menghinamu".


"Tak usah mas, Siska bis...."


Belum sempat Siska meneruskan kalimatnya untuk menjawab ucapan Zidan. Tiba tiba saja ponselnya berdering dengan nyaring, yang tentunya membuat wanita itu dengan cepat menerimanya. Padahal Telok. Tersebut berasal dari nomor yang tak ia kenal sebelumnya.


"Hallo assalamualaikum" jawab Siska sopan, namun setelah mendengar jawaban dari sebrang telpon sana, ia pun terdiam seolah tak menyangka akan sosok yang menghubunginya saat ini.


"Temui aku di depan jembatan yang dulu saat pertama kita bertemu. Aku ingin bertanya sesuatu"


Tuttt

__ADS_1


Telpon dimatikan dengan cepat oleh orang tersebut. Padahal Siska jelas jelas belum menyetujui pertemuan itu dan bahkan ia masih menerka nerka apa yang sebenarnya orang itu inginkan lagi darinya.


__ADS_2