Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Perasaan


__ADS_3

Hamdi menatap jendela kamarnya, seraya memikirkan bagaimana nasib Siska dan bayinya yang lambat laun akan semakin tumbuh membesar didalam perut Siska.


Pertemuan kedua bagi Hamdi dengan Siska setelah dipersidangan, membuatnya sedikit penasaran dengan kehidupan adik dari sahabatnya sendiri.


Ada rasa iba yang ia miliki untuk Siska yang merupakan gadis remaja tapi harus menjadi seorang ibu muda ditengah usianya yang baru menginjak 17tahun. Ada perasaan aneh ketika ia memikirkan Siska yang baru saja ia temui.


Hamdi menepis jauh jauh rasa yang ada didalam hatinya dan menamai serta meyakini bahwa itu hanya sebuah rasa kasihan.


"Aku harus bicara pada Zidan" guman Hamdi.


******


Pagi menjelang, Hamdi yang terbangun segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Hari ini dia berniat untuk berbicara pada Zidan mengenai masalah yang terjadi pada Siska.


Ponsel segera ia ambil diatas laci, tak lupa segera menelpon sahabatnya yang selama ini setia bersamanya.


"Hallo Dan, bisa kita ketemu ditempat biasa?"


"Assalamualaikum buka hallo!" jawab Zidan ketus.


"Ya, ya maaf. Assalamualaikum Dan bisa kita ketemu ditempat biasa?"


"Waalaikumsalam, iya bisa. Memangnya ada pa Ham?"

__ADS_1


"Ada yang mau aku bicarakan tentang adikmu Siska"


"Memangnya ada apa dengan Siska? jangan macam macam kau sama adikku! "


"Temui saja aku disana. Aku akan menceritakan semuanya, kutunggu disana. Wassalamualaikum "


Belum juga Zidan menjawab salam dari Hamdi, panggilan sudah terputus secara tiba tiba. Zidan yang merasa aneh dengan kelakuan Hamdi hanya bisa menatap layar ponselnya yang kini sedang ia genggam.


"Aneh sekali " gumam Zidan pelan.


Zidan segera memacu mobilnya menuju cafe tempat biasa mereka bertemu. Terlihat Hamdi yang sudah menunggunya didalam sana dengan tatatapnya yang kosong.


"Assalamualaikum " ucap Zidan yang langsung membuat Hamdi tersadar dari lamunannya.


"Waalaikumsalam"


"Aku ingin menikahi Siska Dan" jawab Hamdi dengan tiba tiba.


Zidan terkejut mendengar perkataan sahabatnya yang terbilang tiba tiba.


"Kau sakit ? atau gila? jangan pernah kau berniat untuk menyakiti adikku dengan lelucon murahan seperti ini! kau tak tahu siapa Siska dan kau hanya baru sekali melihatnya. Itupun saat persidangan Bian saja"


"Aku tak bercanda Dan. Aku serius. Sebenarnya kemarin malam aku bertemu dengan adikmu dipinggir jalan sedang berusaha melompat dari jembatan. Aku tahu ini terlihat konyol dan tiba tiba. Tapi dengarlah dulu alasanku. Adikmu mencoba untuk bunuh diri karena masalah yang sedang ia hadapi saat ini. Aku tak tega jika nanti ornag orang tahu bahwa adikmu menjadi korban pelecehan dan sekarang tengah mengandung anak baj*ingan yang tak bertanggung jawab itu. Kau pasti tahu sangsi sosial yang akan Siska dapatkan dari masyarakat. Mereka akan menilai adikmu lah yang bersalah karena telah mengumbar aurat dan dengan suka rela datang ke tempat adikmu dinodai. Sekarang masyarakat lebih kejam kepada korban pelecehan daripada merasa iba padanya"

__ADS_1


Zidan termenung memikirkan perkataan Hamdi yang jelas jelas membuat dirinya sedikit syok.


"Apakah kau mau menikahi Siska karena iba dan kasihan ? pernikahan tidak didasari dengan keterpaksaan ataupun rasa kasihan. Kau pikirkan perasaan Siska yang akan menjadi pendampingmu saat dia tahu bahwa kau menikahinya karena kau merasa kasihan pada nasibnya"


"Aku sudah memikirkannya matang matang Dan. Aku memang merasa kasihan pada Siska dan tak ingin ia dicap sebagai wanita murahan. Tapi ketahuilah, saat kemarin malam aku bertemu dengannya, perasaanku pada Siska bukan hanya karena kasihan. Melainkan ada perasaan lain yang akupun tak tahu rasa apa itu. Yang jelas aku hanya ingin melindunginya dari pandangan jahat orang orang diluaran sana. Ku tahu ini terkesan mendadak, dan juga aku tak tahu apakah Siska mau menerimaku atau tidak. Yang jelas aku katan ini dulu padamu karena kau adalah kakaknya walaupun bukan kakak kandung"


"Kau tahu Ham, menikahi wanita hamil yang jelas jelas hamil bukan dengan pria yang akan menikahi itu tak boleh. Kau harus menunggu dulu sampai bayi itu lahir baru kau bisa menikahinya"


"Tapi kenapa Dan?"


"Menurut pendapat Mazhab Al-Hanafiyah dan Asy-Syafi'iah yaitu mereka justru menghalalkan pernikahan tersebut, baik dilakukan laki-laki yang menjadi ayah dari si bayi atau pun laki-laki lain yang bukan ayah si bayi. 


Penting untuk dijadikan catatan, meski kedua mazhab ini membolehkan terjadinya akad nikah, namun kebolehannya berhenti hanya sampai pada akadnya saja. Sedangkan hubungan suami istri hukumnya haram dilakukan.  walaupun demikian, menurut Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah Mazhab Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah berpendapat bahwa menikahi wanita yang dalam keadaan hamil akibat berzina dengan laki-laki lain hukumnya haram. Dan keharaman ini berlaku mutlak, baik kepada laki-laki yang menghamilinya, atau ayah si bayi, dan juga berlaku kepada laki-laki lain"


"Dasar keharamannya adalah dalil-dalil berikut ini. Nabi SAW bersabda dalam hadits riwayat Abu Dawud dan al-Hakim: لا توطأ حامل حتى تضع "Janganlah disetubuhi (dikawini) seorang wanita hamil (karena zina) hingga melahirkan.” " sambung Zidan.


Hamdi terdiam sejenak mendengarkan perkataan Zidan.


"Sekarang kau tunggulah dulu sampai Siska melahirkan agar kau bisa lebih jauh mengenalnya dan tak ada keraguan dihatimu karena terkesan terburu buru. Aku tak mau jika sampai hubungan pertemanan kita putus hanya karena kau ingin menikahi Siska secara tiba tiba karena kehamilannya. Aku tak mau ada masalah didalam pertemanan kita. Kau bisa berteman dulu dengan Siska selama ia mengandung sampai ia melahirkan. Jika nanti anaknya sudah lahir, kau bisa mengatakan apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Kau bisa menikahinya ataupun menjadi temannya saja"


"Baiklah jika itu jawaban darimu untukku. Aku akan mencoba mengenal Siska lebih jauh dan membuat hatiku yakin akan niatku padanya. Aku juga tak mau jika menikahinya karena rasa yang salah kutafsirkan. Maafkan aku karena secara tiba tiba membicarakan ini padamu. Aku hanya tak ingin melihat Siska bersedih karena nasibnya yang sedang ia alami. Aku juga tak ingin melihat anak yang ia kandung tak memiliki ayah nantinya. Aku tahu bagaimana sakitnya tak bisa merasakan kasih sayang seorang ayah"


"Aku tahu bagaimana kamu Ham. Walaupun kau baru bertemu dengan Siska dua kali, tapi tak menutup kemungkinan bahwa kau mengalami cinta pada pandangan pertama. Maksudku cinta pada pandangan kedua. Kau bisa saja mencintainya, namun sekarang lebih baik kau mantapkan dulu hatimu dan yakinkan niatmu padanya"

__ADS_1


Hamdi berfikir bahwa perkataan Zidan benar. Dia takut jika sampai salah langkah dengan menikahi Siska karena kejadian semalam. Dilubuk hatinya yang paling dalam, ia tak bisa lupa akan perasaan yang sejak malam mengganggu pikirannya.


Note : untuk hukum mengenai pernikahan yang dilakukan karena wanita hamil diluar nikah, keterangan diatas berdasarkan sumber dari salah satu artikel. Untuk hukum diatas banyak perbedaan pemahaman serta perbedaan pendapat dari beberapa pihak. Jika ada kesalahan mohon maaf karena minimnya ilmu saya dan jika ada yang mau menambahkan silahkan tinggalkan dikolom komentar 🙏 Terimakasih.


__ADS_2