
Nayla yang berada kurang lebih sepuluh meter dari tempat Zidan dan Amar hanya bisa menatap keduanya yang saling diam.
Zidan yang baru saja berbalik ingin meninggalkan Amar seketika diam dan tak jadi meninggalkannya.
"Mas masih disini?"
"Iya Nay. Mas nungguin kamu pulang. Kita nanti pulang bareng"
"Tapi mas, aku kan bawa motor"
Zidan yang lupa bahwa Nayla berangkat menggunakan motor hanya menunduk karena malu.
"Pak Zidan mungkin buru buru bu jadi lupa"
"Sotoy kamu!" ucap Zidan ketus.
Amar yang melihat wajah Zidan kian memerah karena malu olehnya hany bisa tersenyum seraya menggelengkan kepala.
"Kamu kan bisa pulang bareng sana aku Nay. Itu motor simpen aja disini biar nanti aku suruh Hamdi atau orang lain membawa motormu pulang"
"Aku bisa pulang sendiri mas. Mas gak perlu repot repot"
"Iya mas. Mas Zidan pulang aja, biar Bu Nayla nanti pulang bareng saya. Kebetulan saya juga naik motor, jadi bisa jagain dari belakang"
Zidan menatap tajam kearah Amar. Pria disampingnya memang tak bisa dibiarkan lama lama berada didekat Nayla.
"Bapak Amar yang terhormat. Anda tidak perlu menjaga Nayla apalagi sampai merepotkan seperti itu. Cukup saya yang menjaganya, anda bisa mengantar guru lain atau jika memang anda ingin sekali membantu orang maka anda bisa mengantar ibu kepala sekolahyang jelas jelas tak membawa motor. Kan bisa jadi pahala"
"Oh, iya ya. Saya bisa mengantar ibu kepala sekolah sekaligus mengawasi bu guru Nayla dari belakang karena arah rumah bu kepala sekolah sama dengam Bu Nayla"
Zidan menatap datar pada Amar yang menjawab semua ucapannya dengan santai. Kesal sudah pasti, tapi setidaknya dia berhasil membuat Amar tak mengikuti Nayla sampai ke panti.
"Pak Zidan juga bisakan antarkan guru guru yang lain pulang? soalnya disini banyak guru yang pulang harus menunggu jemputan suaminya. Kasihan mereka. Pak Zidan kan bawa mobil, otomatis dalamnya muat untuk sekitar empat sampai lima orang"
"Iya benar mas. Mas bisa antar guru yang lain pulang. Gak perlu repot repot ngawasi aku. Lumayan kan mereka bisa pulang lebih cepat tanpa menunggu suaminya" sambung Nayla dengan cepat.
Zidan saat ini tengah kesal pada Amar, ditambah lagi dengan pernyataan Nayla yang membuatnya kalah telak pada Amar. Mau tidak mau, sekarang dia harus menunggu semua guru pulang dan mengantar mereka sampai rumah.
******
Empat jam berlalu, bel pun berbunyi menandakan waktu pulang sudah tiba. Zidan yang menatap nyalang pada Amar yang ada disampingnya.
Hingga beberapa menit kemudian Nayla yang baru saja keluar dari ruang guru, berjalan menghampiri Amar dan Zidan yang menunggu guru guru yang mau ikut pulang bersama mereka.
"Mas, pak. Ibu kepala sekolah katanya bersedia ikut pulang sama Pak Amar, dan guru guru yang lain juga bersedia ikut pulang bareng Mas Zidan naik mobil"
Amar tersenyum ke arah Nayla, lain halnya dengan Zidan yang menekuk bibirnya tanda tak suka.
"Alhamdulillah. Ya sudah Bu Nayla, ibu naik dulu ke motor ibu dan jalankan motor didepan saya. Biar saya mengendarai motor dibelakang ibu"
Mata Zidan membulat sempurna. Kali ini saingannya ternyata selain cerdas dia juga licik.
"Nay, kamu hati hati ya naik motornya. Jangan sampai ada pengendara ugal ugalan nabrak kamu dari belakang" ucap Zidan seraya menatap Amar yang selalu saja tersenyum menyebalkan kearahnya.
__ADS_1
Lama mereka menunggu, akhirnya beberapa guru keluar kantor dan berjalan kearah mereka.
"Hai Bu Nay" teriak Asti girang.
Senyuman terukir dibibir Nayla kala melihat beberapa guru dan Asti yang datang kearahnya.
"Kami sudah siap untuk pulang Bu Nay. Oh ya, kami akan naik mobil mas yang ini kan?" tunjuk Asti pada Zidan.
"Iya bu. Kalian pulang sama Mas Zidan. Kalau ibu kepala sekolah nanti sama Pak Amar. Saya naik motor sendiri"
"Wah, wah, wah. Baru juga Bu Nayla masuk ke sekolah kami, ibu sudah mau membantu kita pulang"
"Saya gak bantu apa apa bu. Ini semua kemauan Pak Amar sama Mas Zidan, katanya sekalian mereka pulang"
"Kalau begitu sering seringlah Mas Zidan datang kesini, biar kami bisa hemat ongkos " jawab Asti searaya tertawa.
Zidan membuang nafas dengan kasar. Kini ia dan Amar mulai menyalakan mesin kendaraan dengan penumpang yang mereka bawa masing masing. Terlihat Nayla mulai menjalankan motornya didepan disusul dengan Amar yang mengikutinya dari belakang.
Zidan yang menaiki mobil merahnya, hanya bisa pasrah melihat pujaan hatinya berada jauh didepan tanpa bisa ia awasi karena terhalang motor Amar.
Asti yang duduk disamping Zidan selalu saja mengajak Zidan berbicara dengan diselingi tawanya yang membuat Zidan merasa risih.
"Mas Zidan sudah menikah belum? kalau belum ya boleh lah kita sahabatan siapa tahu jadi jodoh. Hahaaha, ya kan ibu ibu?"
"Iya pak, bapak bisa kenalan sama Bu asti, kebetulan ia jomblo loh" timpal salah satu guru.
Zidan hanya tersenyum mendengar guru guru yang ada dimobilnya. Jika saja bukan karena cintanya pada Nayla, mana mungkin ia mau mengantarkan wanita lain yang jelas jelas sangat membuat dirinya risih.
"Enggak bu, saya cuman lagi fokus aja nyetirnya" jawab Zidan malas.
"Oh tak kirain Mas Zidan lagi sakit. Kalau lagi sakit mas bisa bilang sama saya, biar saya obati"
"uwwwwwww" jawab ibu ibu serempak.
Zidan yang mulai jengkel dengan ocehan Asti mulai memikirkan ide gila dikepalanya. Ia berencana melajukan mobilnya dengan sedikit kencang kearah jalan pintas menuju rumah guru guru yang ikut pulang bersamanya.
Mobil pun akhirnya melaju dengan cepat, terlihat Asti kini memegang sabuk pengamannya dengan kencang.
"Mas Zidan pelan pelan dong. Saya kan jadi takut" rengeknya manja.
"Maaf ya ibu ibu, saya baru ingat bahwa sebentar lagi ada meeting dikantor. Jadi saya harus cepat mengantar ibu ibu pulang"
"Ya udah gak papa mas. Kami makasih loh sudah mas antarkan. Mas bisa ngebut ko taoi hati hati ya" jawab salah satu guru di jok belakang.
Zidan tersenyum mendengar mereka yang percaya dengan kebohongan yang ia buat. Bukannya tak ikhlas mengantar mereka, hanya saja kali ini saingannya merupakan pria menyebalkan yang selalu saja tak mau kalah debat dengannya.
Mobil melaju dan berhenti dirumah satu persatu guru yang menumpangi mobilnya. Sebelumnya mereka mengatakan terlebih dahulu alamat rumah pada Zidan yang lumayan sudah hafal daerah ini.
Kini hanya ada dia dan Asti yang ada didalam mobil. Hingga saat mobil berhenti didepan rumah Asti, Asti memberikan selembar kertas berisikan nomor telponnya pada Zidan.
"Ini apa?" ucap Zidan bingung.
"Itu nomor telpon saya mas. Jika mas butuh teman curhat atau butuh teman main saya siap kok nemenin Mas Zidan" jawab Asti tanpa malu.
__ADS_1
Zidan mengernyitkan kening. Baru kali ini ada wanita yang terang terangan ingin dekat dengan dirinya yang jelas jelas sudah bersikap dingin pada guru satu ini.
"Mas bisa telpon atau kirim pesan padaku. Aku akan membalasnya segera. Terimakasih atas tumpangannya"
Zidan tersenyum malas pada Asti. Terlihat wanita didepannya terus saja menatap kearahnya tanpa segera masuk kedalam rumah.
Lambaian tangan terlihat Asti lakukan pada Zidan yang mulai menjauh dari rumahnya. Tubuh Zidan bergidik ngeri melihat kelakuan Asti yang ia lihat dari kaca spionnya.
Mobil Zidan kini kembali melaju menembus jalanan. Sejak tadi ia memutuskan untuk melewati jalan pintas, ia tak bisa mengawasi Nayla yang mengendarai motornya didepan Amar. Hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk segera menuju panti asuhan karena ia pikir mungkin saja Nayla sudah sampai.
Setengah jam berlalu, akhirnya mobil Zidan terparkir dihalaman panti asuhan. Tangannya mengepal kencang kala melihat Ibu Aisyah tengah berbincang dengan pria yang kini tak asing di hidupnya.
"Amar" gumam Zidan pelan.
Ibu Aisyah yang menyadari kehadiran Zidan langsung bangkit dari duduknya dan mulai berjalan kearahnya. Amar yang tersenyum melihat kedatangan Zidan mulai ikut bangkit.
"Eh nak Zidan. Sudah pulang kerja?"
"Assalamualaikum" ucap Zidan seraya mencium punggung tangan Ibu Aisyah.
"Waalaikumsalam nak"
"Tadi saya gak berangkat kerja bu. Sengaja mau nungguin Nayla di tempat kerjanya, takut ada pria mata keranjang deketein dia"
Ibu Aisyah mengernyitkan kening mendengar ucaoan Zidan.
"Loh, nak Zidan kan bisa kerja. Lagian Nayla udah besar bisa jaga dirinya sendiri. Sekarngkan ada nak Amar yang sesama guru di sekolah tempat Nayla mengajar. Jadi nak Zidan gak perlu khwatir"
Amar tersenyum menandakan kemenangan dihadapan Zidan.
"Lagi lagi genderewo itu tersenyum" gumam Zidan pelan.
"Apa nak?" tanya Ibu Aisyah.
"Eh gak papa bu. Oh iya, Nayla nya mana ya bu kok gak keliatan?"
"Nayla lagi kedapur ambil minum buat Amar. Ibu mau panggilkan dia dulu sekalian biar buatkan minuman juga buat nak Zidan" Ibu Aisyah melenggang pergi meninggalkan Amar dan Zidan diteras rumahnya.
Zidan mengangguk dan mulai berjalan mendekati Amar.
"Ngapain kamu kesini?!"
"Ya saya cuman ingin memastikan Bu Nayla selamat sampai tujuan. Sekalian mau silaturahmi sama calon mertua"
"Calon mertua? jangan mimpi siang hari Pak Amar."
"Bukan saya bermimpi. Hanya saja mungkin ini jalan yang Allah berikan untuk saya sehingga bisa bertemu dengan Bu Nayla kembali. Intinya jodoh gak ada yang tahu. Saya hanya bisa berikhtiar saja"
Zidan yang mulai kelapakan mendengar Amar berharap bahwa Nayla adalah jodohnya segera menegak air minum yang masih dipegang oleh Nayla yang baru saja sampai diteras rumah.
"Mas Zidan kenapa?"
"Aku haus Nay. Cuacanya panas, tubuhku gerah" ucap Zidan seraya melotot kearah Amar yang terus saja tersenyum kearahnya.
__ADS_1