
Sebulan sudah Hamdi dan Siska memutuskan hubungan. Keduanya bahkan sudah lama tak saling bertegur sapa baik itu via tepon mau pun berjumpa secara langsung. Hubungan Hamdi dan Siska yang sudah dipikir berakhir ternyata tak membuat hubungan Hamdi dan Zidan terputus begitu saja.
Walau bagaimana pun, Zidan dan Hamdi tetap seorang sahabat walaupun Hamdi dan Siska sudah tak lagi mau bersama. Ketakutan yang berada di dalam diri Hamdi, dan ke marahan yang ada di dalam diri Siska membuat keduanya enggan untuk bertegur sapa walaupun hanya sekedar bertanya tentang kabar.
Hari ini sidang terakhir pembunuhan Nikita yang dilakukan oleh Frans beserta ayahnya. Dalam sidang tersebut Frans di vonis bersalah dan mendapatkan hukuman belasan tahun penjara serta mendapatkan juga hukuman atas perlecehan yang ia lakukan pada Siska.
Teman temabnya yang juga sama melakukan pelecehan terhadap Siska, mendapatkan juga hukuman belasan tahun serta denda yang lumayan besar. Namun karena Andi melakukannya secara spontan dan mau mengatakan semuanya secara terbuka di pengadilan, Andi mendapatkan hukuman lebih ringan dari pada yang lainnya.
Siska mulai kembali menata hidupnya dengan baik bersama bayinya yang hampir menginjak umur satu tahun tanpa Hamdi di sampingnya. Siska bahkan mulai penasaran dengan sosok misterius yang sering mengirimi ia hadiah dengan surat yang bertuliskan pengagum rahasianya.
Banyak hadiah mewah yang ia terima dari sosok tersebut bahkan beberapa perlengkapan bayi dan mainan untuk tumbuh kembang putranya sudah terpenuhi.
Nayla bahkan sedikit heran dengan tingkah Siska yang gampang sekali menerima barang yang jelas jelas bukan dari sosok yang ia kenal ataupun keluarganya kenal. Namun, Nayla tak bisa menegurnya sebab ia takut Siska akan marah dan menyalah artikan semua ke khawatiran di dalam diri Nayla.
Malam ini Nayla dan Zidan sedang berbincang di dalam kamarnya membahas sosom misterius yang sering sekali memberikan hadiah ke alamat rumahnya.
Entah kenapa Zidan pun enggan menegur Siska karena ia tahu sifat Siska yang masih sedikit memiliki sifat kekanakan.
"Kita lihat saja seberapa jauh, orang itu akan mengirimi Siska hadiah. Selagi dalam batas wajar dan tak berlebihan aku akan membiarkannya. Aku juga masih terus menyelidiki orang tersebut sebab aku pun takut bahwa nyawa Siska dan bayinya terancam" Ucap Zidan yang saat ini tengah membaringkan kepalanya di pangkuan Nayla.
Nayla hanya bisa menghela nafas mendengar ucapan suaminya tersebut dan mulai mengusap rambut indah suaminya tersebut.
"Kau tahu, aku sangat beruntung mendapatkan sorang suami sepertimu. Kau mau menerima segala kekuranganku dan mau menjagaku padahal aku sangat temprem padamu"
__ADS_1
Zidan tersenyum dan mengusap perut Nayla yang masih terlihat rata.
"Aku mencintaimu secara tiba tiba. Entah alasan apa yang jadi penyebab timbulnya rasa cinta dihatiku, padahal kau sangat buas seperti singa. Apalagi saat malam kau begitu..."
Dengan segera Nayla membekap mulut Zidan hingga membuat Zidan tertawa lepas. Pipi Nayla bahkan terlihat bersemu merah karena menahan malu saat Zidan terus saja menggodanya.
"Aku mau tidur. Kau tidur di sofa jangan dekat dekat denganku!" Nayla yang kesal segera mendorong pelan tubuh Zidan agar menyingkir dari atas kasurnya.
Zidan mulai memohon dengan sorot mata yang iba dan ucapan manis yang keluar dari mulutnya. Namun karena Nayla yang kesal ia pun terus saja menyuruh Zidan tidur di atas sofa dan melemparkan sebuah bantal ke arah suaminya tersebut.
Hingga akhirnya Zidan pun mengalah dan mulai tidur di atas sofa seraya menatap istrinya yang mulai menyelimuti dirinya sendiri dengan selimbut yang tebal.
Malam yang sunyi serta angin yang begitu dingin membuat tubuh Zidan sedikit bergetar menahan rasa dingin. Nayla yang terbangun dan melihat suaminya tersebut kedinginan, segera mengambil selimbut dan menaruhnya di atas tubuh Zidan dengan rapih. Tak lupa Nayla pun mengecup kening Zidan dan berbisik di telinga meminta maaf karena ia telah melakukan hal itu pada suaminya.
Entah kenapa ia akhir akhir ini sangat menjadi sensitif apalagi moodnya yang sering berubah ubah kadang membuat Nayla merasa bersalah sekaligus kesal pada Zidan. Namun, Zidan yang paham dengan kehamilan yang Nayla alami saat ini, membuatnya kadang harus bersabar bahkan harus ekstra bersabar menghadapi sikap Nayla.
"Mbak sedang apa? Apa ada yang ingin mbak makan?" tanya Siska dengan penasaran.
"Ah, Siska. Ini Mbak sedang membuat sarapan untuk kita nanti pagi. Mbak sedang ingin sekali memasak makanan yang kalian sukai"
"Kalau begitu nanti Siska bantu ya. Siska mau nidurin dulu Cleo di kamar"
"Gak usah Sis. Kamu tidurin saja Cleo. Kasihan dia jika di tinggal sendiri. Mbak sudsh hampir selesai kok masaknya. Kamu tunggu saja di kamar, nanti jika sudah selesai semuanya, mbak akan panggil kamu dan ibu juga Mas Zidan untuk sarapan bersama"
__ADS_1
Siska tersenyum dan mulai mengambil botol susu yang sudah terisi penuh.
"Ya sudah mbak. Ingat, jangan kecapean. Ada teman Cleo yang sedang tumbuh di dalam rahim Mbak Nay"
Nayla tersenyum dan mulia kembali memasak sarapan. Hari ini suasana hatinya sangat baik apalagi saat ia tahu bahwa kebahagiaan perlahan datang di dalam hidupnya yang dulu sempat hancur.
Kehamilan yang pertama bersama Bian, sungguh tak pernah di ketahui Nayla sehingga ia pun tak bisa menjaga bayinya itu dengan baik. Tapi kali ini, Nayla takan pernah menyia nyiakan waktu kehamilannya. Ia takan terlalu stres dan kecapean sebab ia sangat ingin memiliki seorang bayi yang selama ini ia nantikan sebelumnya.
Sang fajar kian terang benderang. Nayla kini memanggil satu persatu anggota kekuarganya dan mulai menyiapkan hidangan di atas meja makan. Senyum serta kebahagiaan di wajah Zidan, Siska dan ibu mertuanya tampak begitu menenangkan di hati Nayla.
Nayla dengan senang hati memberikan pelayanan bak seorang penjamu makanan di sebuah restoran sehingga membuat Zidan beberapa kali memandang wajah Nayla dengan sangat kagum.
"Sejak kapan kau begitu rajin?" tanya Zidan dengan keusilannya.
Nayla menatap Zidan sekilas dan mualai menyendokan nasi ke atas piring pria di sampingnya.
"Sejak kau menangis di depanku dan memohon untuk aku menerima lamaranmu"
"Menangis? Apa Mas Zidan juga bisa menangis?" sela Siska dengan tawanya.
"Tentu saja. Dia menangis dan memohon pada Mbak agar menerima cintanya, padahal mbak dulu mbak juga ada yang melamar"
Sontak saja Zidan yang tak mau kalah mulai menjawab ucapan Nayla dengan kekesalannya.
__ADS_1
"Mas menangis karena Nayla terus saja menginjak kaki mas. Dia dengan ketusnya menolak serta menginjak kaki mas yang saat itu tengah berlurut di hadapannya.
Sontak saja gurauan yang dilakukan Zidan dan Nayla membuat Ibu Widya dan Siska tertawa. Namun tak lama kemudian, Nayla mengerang kesakitan dan menjatuhkan gelas yang berisikan air.