
Mobil berjalan dengan cepat menembus gelapnya malam kali ini. Nayla yang tengah larut dalam pikirannya tak sadar bahwa Zidan tengah memperhatikannya.
Wajahnya yang cantik serta hijabnya yang tertiup angin membuat Nayla terlihat begitu mempesona.
Kebersamaan yang mereka lalui belakangan ini membuat keduanya sering salah tingkah dan merasa memiliki teman. Zidan yang merupakan pria dingin yang suka sekali membuat Nayla kesal kini bingung dengan perasaannya sendiri pada adik iparnya itu.
Dikala dia mulai merasa nyaman disisi sang adik ipar, sekarang Nayla malah harus pergi dari rumahnya dan tak lama lagi dia akan menjadi orang asing dihidupnya.
"Nay" panggil Zidan lembut.
"Iya apa mas?"
"Sekarang kau bukan lagi adik iparku, dan aku pun bukan kakak iparmu. Setidaknya kumohon jangan pernah menganggap aku sebagai orang asing dihidupmu. Kau boleh meminta apapun padaku. Jika kau kesulitan ataupun butuh bantuan, segera telpon aku, aku pasti akan datang"
Nayla tersenyum mendengar penuturan pria dingin disampingnya. Tak pernah ia sangka, bahwa selama ini Zidan memiliki perhatian padanya walaupun dia merasa perhatian itu sebagai bentuk rasa iba ataupun karna dia menaganggap memang Nayla sahabat dekat kekasihnya semasa dia hidup.
"Tentu mas. Aku akan memanggil namamu jika aku butuh bantuan. Terlebih lagi teko gosong dipanti merupakan tempat tinggalmu. Jika aku butuh bantuan, akan ku gosok teko tersebut hingga kau muncul didepanku"
Zidan memandang datar pada wanita disampingnya. Disaat dirinya mulai berkata serius, Nayla malah membuat lelucon yang justru membuat niat Zidan memperlihatkan kasih sayangnya tak tersampaikan.
"Nay, kau itu ya! orang lagi serius juga. Kau kira aku jin tomang apa?! lihat saja nanti, jika kau membutuhkan bantuanku, aku akan datang seperti yang kau harapkan. Tak memakai baju dan hanya menggenakan celana leging yang membuat pedangku tercetak sempurna"
"Kau itu ya mas! suka sekali membuat pikiranku traveling kemana mana! pedang, pedang! memang pedang apa yang ingin kau perlihatkan padaku hah! kau sangat menyebalkan mas!" bentak Nayla dengan kesal.
Zidan yang melihat kelucuan pada Nayla kini tertawa dengan riang. Disentuhnya kepala Nayla, lalu kembali memegang kemudi.
Hari sudah gelap. Nayla dan Zidan memasuki kawasan panti asuhan. Terlihat beberapa anak menuju kearah masjid, dengan Ibu Aisyah dibelakang mereka.
"Om Zidan!" teriak anak anak serempak.
Pelukan hangat dari anak anak yang tak memiliki ayah dan ibu kini melekat di tubuh kekar Zidan. Dikecupnya kening satu persatu anak lalu berjalan ke arah Ibu Aisyah.
Zidan dengan takzim mengecup tangan Ibu Aisyah dan pergi menuju pelataran majid untuk berwudhu serta menunaikan shalat berjamaah.
Dipanjatkannya doa supaya sang maha kuasa memberikan kesehatan serta keselamatan bagi orang orang yang dia sayangi dan cintai. Tak lupa, dia juga mendoakan almarhum ayah dan almarhumah ibunya yang telah lama meninggalkannya.
Malam kian beranjak. Zidan beriringan dengan Nayla menuju panti Ibu Aisyah. Koper yang Zidan bawa membuat Ibu Aisyah sedikit terkejut.
"Nay, kopermu kok dibawa? kamu mau nginep berapa hari?"
"Bu boleh suruh anak anak main di kamar masing masing sebentar. Nayla dan Mas Zidan mau bicara sesuatu sama ibu" jawab Nayla pelan.
Anak anak berlarian menuju kamar masing masing. Mereka membawa permen coklat masing masing satu, pemberian Zidan yang sengaja dia beli dijalan.
"Jadi gini bu. Sebenarnya Nayla minta cerai sama Mas Bian bu. Dia sudah menghianati pernikahan yang selama ini Nayla pertahankan. Bahkan Mas Bian sudah memiliki anak bersama perempuan itu" Ucap Nayla bergetar.
Sekuat apapun Nayla, tak bisa menyembunyikan rasa sakit dihatinya. Walaupun tak ada air mata yang keluar namun tetap saja, hatinya tak bisa menahan semua luka yang Bian berikan untuknya.
"Astagfirullah Nay! Sejak kapan kau tahu bahwa Bian sudah menikah nak?"
"Aku tahu tiga bulan yang lalu bu. Mas Bian sudah menikahi wanita bernama Clara satu tahun yang lalu dan dia menyembunyikannya dariku. Nayla mohon bu, izinkan Nayla tinggal lagi disini. Nayla janji akan cari pekerjaan untuk membayar biaya hidup disini"
"Nay! ibu gak pernah meminta apapun apalagi uang untuk biaya kamu hidup disini. Ibu sayang sama kamu seperti ibu sayang sama anak ibu sendiri. Kau jangan pernah berkata seperti itu Nay, ibu sakit mendengar perkataanmu"
Nayla berjalan kearah Ibu Aisyah dan memeluk tubuh wanita paruh baya didepannya. Didikan baik yang selalu ibu berikan membuat Nayla tumbuh menjadi wanita yang baik hati dan takut menyusahkan orang lain.
"Makasih bu. Nayla sayang sama ibu. Bagi Nayla, ibu adalah orang tua kandung Nayla. Maaf kan perkataan Nay yang membuat hati ibu sakit. Nay gak bermaksud demikian. Nay hanya malu karna sudah dewasa malah menyusahkan ibu"
"Ibu sayang sama Nayla. Ibu ada disini setiap Nayla butuh ibu. Nayla adalah anak yang kuat juga wanita yang hebat. Mudah mudahan ini keputusan yang terbaik untuk kehidupanmu kedepannya. Jangan pernah merasa sendiri Nay, sebab disini masih banyak yang sayang sama kamu"
"Termasuk aku" ucap Zidan membuat Nayla dan Ibu Aisyah menatap kepadanya.
"Mak...maksud aku aku juga selalu ada untukmu saat kau memerlukan bantuan Nay" sambung Zidan dengan senyumnya yang terkesan seperti seekor zebra.
Ibu Aisyah memeluk erat tubuh Nayal. Zidsn yang menatap kearah dua wanita didepannya ikut lega dan senang, sebab Nayla kini bisa bersama orang yang tepat.
"Nayla, sebenarnya tadi Bian datang kesini mencarimu" ucap ibu seraya menunduk.
__ADS_1
"Apa?! mau apalagi pria breng*sek itu datang kemari bu? apa dia membuat onar disini bu?!" jawab Zidan.
"Dia berteriak teriak mencari Nayla. Dia bilang kalau Nayla sudah menyebarkan video aib miliknya. Ibu juga tak melihat video itu karna Bian terus saja mengobrak abrik seluruh isi panti sehingga membuat oara warga datang kesini"
Tangan Zidan mengepal mendengar penuturan Ibu Aisyah. Dia tak pernah menyangka bahwa adiknya akan berbuat anarkis dirumah orang lain apalagi dihadapan anak anak.
"Sial! dasar pecundang. Berani beraninya dia berbuat onar disini. Akan ku buat dia menderita setelah ini. Apa ibu terluka?" tanya Zidan panik.
"Ibu tak apa apa nak. Justru Bian yang terluka akibat pukulan yang diberikan seluruh anak panti yang tadi siang menghajarnya. Sampaikan permintaan maaf ibu pada Bian atas kelakuan anak anak tadi siang"
"Ibu tak perlu meminta maaf. Justru genderewo itu yang harusnya meminta maaf"
Nayla memeluk erat tubuh ibu disampingnya. Takan pernah dia biarkan, Bian yang kini menjadi mantan suaminya menyakiti Ibu Aisyah beserta anak anak dipanti asuhan.
Pukul sepuluh malam, waktunya Zidan pamit untuk pergi pulang kerumahnya. Diciumnya tanagn Ibu Aisyah dan tak lupa berpamitan pada Nayla yang kini resmi menetap lagi didalam panti asuhan.
"Ibu, Nay, aku pulang dulu. Salam untuk anak anak dariku. Jika ada apa apa hubungi saja aku, aku pasti akan datang. Wassalamulaikum"
Pria bertubuh tinggi kini mulai hilang bersamaan dengan mobil yang dia kendarai menjauh dari panti asuhan.
Mobil yang dikendarai Zidan kini sepi sekali sebab tak ada Nayla yang selalu menjadi bahan ejekan Zidan. Ditatapnya kendaraan yang beralalu lalang, hingga tak lama kemhdia diapun sampai di halaman rumah mewah miliknya.
Pintu diketuk dengan kencang. Amarah yang di tahan sejak tadi tak belum bisa dilampiaskan.
"Bian! buka pintu!" teriaknya.
"Bian!"
"Bian buka pintu! "
Lagi lagi hening tak ada jawaban dari dalam rumah. Diambilnya kunci cadangan yang selalu ia bawa kemana mana. Hingga saat pintu terbuka lebar, sunyi sepi didalam rumah mewah miliknya. Tak ada siapapun diruangan yang gelap ini.
Zidan berjalan menuju saklar lampu. Dan mencoba mencari babysitter Algi.
"Sus!" teriaknya namun tak ada jawaban.
"Halo sus dimana?"
"Saya ada dirumah saya tuan bersama Algi. Nyonya pergi sama Tuan Bian kerumah sakit di Jalan Satria membawa ayah tuan yang tiba tiba jatuh" jawab babysitter disebrang telpon sana.
"Ya sudah kalau begitu. Saya titip Algi. Jangan lupa kasih dia makan dan jika nanti rewel cepat hubungi saya"
Telpon pun dimatikan. Diambilnya lagi kunci mobil dan segera pergi menuju rumah sakit tempat ayah Bian dirawat.
Zidan yang merasa jika bukti yang dia kumpulkan mengenai kasus perselingkuhan Bian sudah cukup, akhirnya menyuruh Hamdi untuk segera mengirim orang yang akan mencabut semua cctv yang sudah terpasang.
[Ham tolong aku sebentar. Carikan aku orang untuk mencopot semua cctv yang dulu ku pasang diseluruh sudut rumah. Jangan khawatir soal biaya. Akan kubayar lebih untukmu] pesan terkirim menuju nomor Hamdi.
Hamdi yang menerima pesan Zidan hanya membalasnya dengan emoticon jempol.
Sesampainya dirumah sakit Zidan bergegas bertanya kepada resepsionis untuk menanyakan tempat ayahnya dirawat.
Koridor rumah sakit disusurinya dengan cepat. Sesampainya dia didepan ruangan yang ia cari. Dia melihat Siska yang sedang terduduk dengan selang infusan yang menempel ditangannya tengah memeluk Ibu Widya.
Clara dan Bian pun sedang menunduk seraya memegang kening yang mungkit terasa sakit.
"Ada apa ini"
Ibu Widya yang melihat Zidan kini berlari kearahnya dan langsung memeluk tubuh tinggi Zidan.
"Perusahaan ayah hancur. Hancur!" teriak ibu histeris.
Zidan yang merasa aneh hanya bisa diam mematung tak merespon pelukan sang ibu.
"Hancur kenapa" ucapnya datar.
"Pabrik produksi milik ayah kebakaran dan orang kepercayaan ayah kabur menjual seluruh dokumen kepada pesaing bisnis" jawab Bian dengan cepat.
__ADS_1
Zidan berlalu meninggalkan ibu dan Bian yang tengah berdiri dihadapannya. Zidan lebih iba ketika melihat Siska yang hanya melihat dirinya dengan tatapan sendu. Walaupun Siska keluarga dari orang orang jahat, setidajnya saat dia masih kecil, Zidan selalu melindunginya dari anak anak yang suka mengganggu Siska.
Zidan memeluk erat tubuh Sisaka untuk menengkannya.
"Tenang, semua ini akan berakhir. Kau jangan seperti ini. Kau harus bisa bangkit dari keterpurukan ini" ucap Zidan seraya mengelus punggung sang adik.
"Aku hamil mas. Dan masa depanku hancur bersamaan dengan tumbuhnya anak ba**ngan dirahimku" isak Siska yang sontak membuat Zidan terkejut.
Ditariknya nafas dalam dalam agar tak terpancing emosi.
"Kau hamil anak siapa?" tanya Zidan datar.
"Ak...aku tak tahu mas. Yang ku ingat, saat aku diajak oleh Frans menuju villa milik salah satu temannya dia memberiku jus jeruk yang membuat kepalaku sakit hingga tak mengingat apapun. Dan...sa..saat aku terbangun, tubuhku penuh dengan memar serta banyak pria yang tertidur dibeberapa sud..sudut kamar. Aku tak melihat Frans disana, aku yang ketakutan mulai mencari pakaian lalu pergi mengendap ngendap agar tak membangunkan para pria disana" isak Siska.
"S*tan! breng*ek! akan kucari semua pelaku yang telah menhancurkan kehormatanmu. Akan kupastikan mereka mati didalam sel penjara" ucap Zidan geram.
Kini Zidan memegang wajah Siska dengan lembut. Dihapusnya air mata gadis kecil yang selalu ia jaga dan rawat dari bayi.
"Kau jangan merasa sedih, ada aku disini. Sekarang kau jangan pernah menangisi nasibmu ini. Dan jangan pernah bertindak hal buruk yang akan mengancam nyawamu apalagi nyawa anak didalam perutmu. Aku akan memberikan pelajaran pada seluruh pria ib*lis yang telah berani menodaimu"
Pelukan hangat yang Zidan berikan membuat Siska tersentuh akan kasih sayang dari kakak yang sebenarnya dia tahu bahwa Zidan bukanlah kakak kandung. Zidan dengan tulus menyayanginya sedangkan Bian adalah pria yang tempramental dan suka bertindak kasar jika dia berbuat salah.
"Sekarang bagaimana kondisi ayah? dan kenapa dia bisa masuk rumah sakit?"
"Ayah mu masuk rumah sakit karna syok mendengar kabar mengenai perusahaan miliknya. Kata dokter ayah mengalami serangan jantung dan hampir saja mengalami struk"
Entah harus bagaimana Zidan mengekspresikan perasaannya saat ini. Disatu sisi dia sedih mendengar bahwa adik almarhumah ayahnya sedang sakit dan mengalami kebangkrutan, sedangkan disisi lain di juga merasa puas sebab mungkin ini adalah karma yang tuhan berikan pada ayah yang melakukan zina dengan menantunya sendiri.
"Ya sudah nanti akan kubantu perusahaan kalian. Hanya saja mungkin bantuanku tidak gratis. Terlebih lagi karna kalian sudah berbohong dan menyembunyikan pernikahan Bian dan Clara serta karena biaya yang aku keluarkan pasti akan banyak. Perusahaan milik ayahku adalah milikku, sedangkan perusahaan Ayah Ardi adalah hadiah yang ayahku berikan padanya. Jadi penggalangan dana atas kerugian akan aku ganti asalkan properti yang Ayah Ardi miliki harus diganti atas namaku. Akan aku berikan perusahaan produksi pembuatan pakan ternak untuk kalian"
"Itu gak adil mas! perusahaan ayah kan besar sedangkan kau akan menggantikannya dengan pabrik produksi yang baru saja merintis"
"Uang yang akan aku keluarkan justru setara dengan harga seluruh aset perusahaan yang dijual oleh orang kepercayaan ayahmu. Kau harusnya bersyukur karna aku akan membeli perusahaanmu yang jelas jelas sebentar lagi akan bangkrut jika tak mendapat suntikan dana. Selain itu, aku masih punya hati sampai memberikan kalian pabrik secara gratis setelah aku memberikan dana untuk menutupi kerugian yang dialami perusahaanmu"
Ibu Widya, Clara dan Bian diam tanpa menjawab perkataan Zidan sedikitpun. Mungkin pikiran mereka buntu karna tak mau hidup susah dan mengalami kemiskinan.
"Ya sudah ibu setuju dan Bian pun pasti setuju karna ini keputusan ibu. Ibu gak mau hidup miskin tak punya aset kekayaan sedikitpun. Mau ditaruh dimana muka ibu dihadapan teman teman arisan"
Zidan tersenyum penuh kemenangan. Tanpa harus mengeluarkan banyak tenanga, sekarang dia bisa membalaskan semua luka yang diberikan keluarga adik ayahnya pada Nayla tanpa sentuhan sedikitpun.
"Kau akan merasakan hal yang jauh lebih menyakitkan Bian! tunggu saja" ucap Zidan dalam hati.
Dering ponsel membuat dirinya sadar bahwa ada sesuatu yang telah dia lupakan. dilihatnya ponsel yang memperlihatkan nama Hamdi disana.
Pesan masuk darinya membuat Zidan sedikit terkejut.
[ Hei bro, cctv dirumahmu sudah aku copot semua. Dan kau tahu aku menemukan sapu tangan yang sama dengan milik pelaku dalam rekaman cctv di gudang yang berada di belakang rumahmu. Aku sengaja membawa kunci duplikat rumahmu dan menyusuri semua tempat disini. Hingga saat aku melewati gudang dibelakang rumah, aku teringat perkataan wanita cantik yang selalu bersamamu perihal sapu tangan yang pernah ia lihat digudang. Dan aku menemukannya berada ditumpukan kardus, masih dengan noda yang mulai menghitam menempel disapu tangan itu]
Zidan mulai yakin bahwa sebenarnya pembunuh Arumi sebenarnya keluarga adik ayahnya yang kini sedang ia bantu. Emosinya meledak kala tahu bahwa sang pelaku pembunuh kekasihnya adalah keluarganya sendiri.
[ Kau amankan dulu sapu tangan itu dan antarkan ke ahli forensik untuk menemukan DNA yang terdapat disana. Mungkin saja DNA nya belum rusak. Jika kau sudah dapat DNA yang terdapat disapu tangan itu, hubungi aku cepat. Aku akan membuat baji*ngan itu merasakan hukuman karna telah melenyapkan Arumi]
Ditaruhnya kembali ponsel kedalam saku jas yang ia gunakan. Amarahnya yang selama ini tertahan karena tak tahu pelaku pembunuhan Arumi kini akan terlampiaskan sebab sekarang dia tahu bahwa sang pelaku berada didalam rumahnya. Entah karena harta warisan yang akan Zidan kuasai jika sampai ia jadi menikah dulu bersama Arumi, atau alasan lain yang membuat sang pelaku membunuh kekasihnya. Yang jelas saat ini dia akan menjadikan semua orang yang berada didalam rumah sebagai orang yang dia curigai, sampai saatnya DNA yang terdapat didalam sapu tangan itu mulai terungkap.
Malam ini keluarga Atmaja harus menghabiskan malam dirumah sakit. Selain Siska yang belum stabil kondisi kesehatannya, Ayah Ardi pun sedang terbaring lemah diruang perawatan intensif.
Zidan terus bertukar pesan bersama Hamdi untuk membicarakan noda yang menempel disapu tangan yang ia temukan.
[ Ham apakah kau sudah menemukan pemilik noda darah disapu tangan itu?]
[ Ya tentu, aku sudah mengetahui siapa pemilik noda darah disapu tangan ini. Akan kuberitahu kan siapa pemilik sapu tangan ini tapi kau harus janji, kau takan melakukan hal yang akan membuat pelaku bungkam hingga tak mau mengakui kejahatannya]
[ Cepat katakan siapa baji*ngan yang telah melenyapkan Arumi!]
Lama tak ada jawaban. Hingga menit kemudian Zidan menatap penuh kebencian pada pria didepannya.
[ Dia adalah Bian adikmu]
__ADS_1