
Agus sendirian menemui Zihan dan keluarganya, sudah tak asing lagi bagi agus bertemu dengan keluarganya, Agus telah mengenal baik keluarga dan saudara-saudara Zihan, apalagi letak kesalahan berada di pihak Zihan jadi Agus tidak perlu banyak bicara soal pelamaran ini. Keluarga Zihan dengan senang hati menerima Agus kembali. Dalam pembicaraan itu Agus juga mengakui kalau ia sudah beristri dan istrinya sekarang lagi hamil muda.
Penetapan tanggal pun telah disepakati.
Agus kembali pulang dan akan segera memberitahu keluarganya.
Semua keluarga dan saudara Agus sangat menyetujui pernikahan ini, selain karena mereka tidak setuju dengan Santi yang dari kalangan bawah, merekapun telah mengenal baik Zihan dan Zihan pun terlahir dari keluarga yang terpandang di kota itu jadi semua keluarga dan saudara Agus berpihak pada Zihan.
"Santi, mas minggu depan akan menikah mas harap kamu tidak melakukan hal-hal rendahan!" Ancam Agus.
"Iya mas. Tapi untuk sementara aku akan tinggal di rumah ibu. Aku tidak bisa menyaksikan kesakitan ini, aku harap kamu mengerti mas." Ucap Santi di iringi deraian air mata yang tak hentinya membasahi pipi Santi.
"Tidak. Kamu harus tetap disini. Apa kata ibumu nanti kalau suamimu ini menikah lagi, kamu mau ibumu menjadi sakit. Tenang saja kamu tidak usah khawatir masalah biaya ibumu dikampung aku yang nanggung biar kita sama-sama menguntungkan," ucap Agus enteng.
"Terserah!" Ucap santi tak peduli.
Sambil tertawa kecil Agus berlalu meninggalkan Santi yang masih terbaring lemah di kasur.
Santi tidak punya pilihan lain selain mengikhlaskan suaminya menikah lagi. Ia tidak mau ambil pusing toh walaupun di tentang juga percuma Santi sadar bahwa dirinya hanyalah pelampiasan.
**
Hari pernikahan itu tiba, acara berlangsung di rumah Zihan. Acaranya memang tak semegah waktu menikah dengan Santi, acara kali ini di adakan sangat sederhana dan hanya di datangi saudara-saudara dekat saja. Pernikahan yang dibayangkan tahun-tahun lalu akhirnya kini terwujud, wajah pasangan calon suami istri itu sangat terpancar, kebahagian terlihat begitu nyata.
Santi yang ikut serta menghadiri acra pernikahan duduk di paling belakang, ia benar-benar tidak kuat melihat suaminya bersanding dengan perempuan lain. Hatinya hancur. Sampai saat ini dadanya masih terasa sesak tak ada sandaran untuknya, Santi melihat suaminya begitu bahagia berbanding terbalik dengannya. Seperti ditusuk pedang panjang dan hatinya terluka.
Berpura-pura tegar menghadapinya, setelah ijab kabul selesai Santi menghampiri Agus ia segera menyodorkan tangannya untuk bersalaman mengucap selamat pada Agus dan madunya. Suaranya bergetar mata merah yang sayu sambil menahan air mata yang sudah tidak kuat ia bendung lagi.
"Selamat mas!" ucap Santi, Santi langsung berlalu pergi ia sungguh tak bisa menahan sesak di dadanya dan tumpahlah semua air mata yang sudah di bendungnya. Segera ia pulang dengan taksi online pesannannya. Dalam mobilpun Santi masih menangis.
"Sabar, Bu. Allah tidak akan menguji dibatas kemampuan umatnya," ucap supir yang terlihat iba melihat penumpangnya tak berhenti menangis.
__ADS_1
Sesampainya di kamar ia langsung ambruk bagai tak mempunyai tulang, kakinya sungguh lemas badannya menggigil tapi suhu tubuhnya sangat tinggi. Santi kembali sakit karena setiap hari tak dapat tidur ia hanya menangis menangis dan menangis.
"Mama minta maaf sayang mama akan kuat demi kamu nak."
Ucap Santi sambil mengelus perutnya. Kini penguat Santi hanyalah seorang anak.
**
Terdengar suara mobil Agus telah datang, Santi yang telah mempersiapkan diri menyambut kedatangan pengantin baru itu. Santi tampak beda dari biasanya yang biasanya ia hanya memakai daster dengab penampilan kumel karena seharian lelah mengerjakan semuanya sendirian, kali ini Santi terlihat cantik dengan dres merah muda pendek dan rambut panjang terurai dengan riasan yang tidak terlalu menor. Penampilan Santi pagi ini seperti dia masih gadis dulu bahkan lebih cantik. Di sudut ruangan Agus dan mama mertua kaget melihat mbo sri balik bekerja padahal mama mertua telah memberhentikannya.
"Sri, kok kamu balik lagi kesini?" ucap mama mertua keheranan.
"A an anu Buk" mbo Sri gugup ketakutan.
"Aku yang memanggilnya kembali ma!" ucap Dila sambil melangkah mendekati mamanya.
"Aku sengaja memanggilnya kembali ke rumah ini, semenjak mba Santi sakit rumah ini berantakan seperti kapal pecah saja, jijik aku melihatnya." Ucap Dila lagi menjelaskan.
"Biar si mbo yang membawa kopernya nyonya" ucap Sri mengambil koper baju milik Zihan.
"Iya mbo taruh saja di kamar tamu," ucap Agus.
Santi tersenyum sinis melihat Agus dan Zihan yang sedari tadi tidak melepaskan pegangan tangannya. Santi meraih tas kecil yang dia simpan di atas meja dan segera meninggalkan rumah.
"Aku mau ke salon dulu." Ucap santi pamit pada Agus.
"Iya sayang hati-hati." Jawab Agus.
Disana terlihat Zihan tidak menyukai keadaan seperti ini.
Taksi sudah menunggu di gerbang Santi segera masuk dan menyuruh supir menuju ke alamat rumahnya di kampung. Santi yang sadar bahwa mengijinkan suaminya menikah lagi itu suatu perkara buruk baginya, Santi sadar bahwa Zihan pasti tidak akan tinggal diam, Zihan pasti ingin Agus seutuhnya.
__ADS_1
Santi mulai menjadi wanita kuat dan berpikir.
"Ibu!" Santi berlari dan langsung memeluk ibunya, Santi menceritakan semua pada ibunya.
"Nak, kamu pasti kuat!" ucapan ibu menyemangati Santi.
"Ibu mau masak yang enak-enak buat kamu, sudah lama kamu tidak makan masakan ibu," ibu meninggalkan Santi di kamar sendrian dan pergi ke dapur, kebetulan tadi ada tetangga yang jualan ayam untung saja tadi ibu membelinya mungkin ini firasat seorang ibu akan kedatangan anaknya.
Dikamar terlihat Santi membuka-buka buku catatan semasa ia gadis, banyak sekali mimpi yang belum sempat ia wujudkan.
klik.
Bunyi pesan singkat datang dari Agus.
"Sayang masih lama tidak, kamu disalon mana biar mas jemput."
Isi pesan tersebut tak di hiraukan Santi. Santi hanya membacanya dan tersenyum kegelian, tiba-tiba suaminya perhatian setelah melihat penampilan baru Santi. Dan bila di bandingkan memang Santi yang lebih cantik dengan kulit putih mulus, matanya yang gede, hidung mancung dan berambut pirang panjang berbeda dengan zihan yang mempunyai kulit lebih gelap dan berhijabpun masih buka tutup. Ia memakai hijab karena mantan suaminya selalu menyuruhnya berhijab dan menutup auratnya tapi hati Zihan belum mantap masih tergoda dengan pakaian pendek-pendek, saat sekolahpun ia di wajibkan berhijab tapi belum ada niatan berhijab sepenuhnya.
Santi mengenang masa-masa ia berjualan, di kamar inilah tempatnya tidur dan bekerja. Ada sedikit penyesalan telah menikah di usia yang masih muda.
"Nak. Sini kita makan bareng, ibu sudah buatkan masakan yang kamu suka." Ajak ibu sambil menata makanan di meja.
"Iya bu." Jawab santi menghampiri ibunya.
"Bu. Ada satu hal lagi yang belum santi sampaikan, Santi hamil bu, dan itu menjadi alasan kuat Santi untuk tidak berpisah dengan mas Agus." Ucap Santi terlihat sedih kembali.
"Ibu mengerti nak, kamu yang kuat disana. Ibu tau kamu, kamu itu perempuan tegar dan pintar." Kata-kata ibu menjadi semangat baru untuk Santi.
Kehangatan seorang ibu menyiram kembali suasana hati Santi, Santi lebih percaya diri sekarang.
Waktu sudah menunjukan pukul 14.30 waktunya Santi berpamitan untuk pulang kembali kerumah yang tak pernah memberinya kenyamanan.
__ADS_1