Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Kabar Bahagia


__ADS_3

Nayla segera mamasukan pakaian Hamdi kedalam sebuah tas besar. Zidan yang saat ini tengah berada dikamar mandi merasa sedikit lega sebab kepalanya kini sudah sedikit dingin akibat guyuran air yang mengalir.


Tak selang beberapa lama, Zidan pun keluar dan mulai memakai kaos berwarna merah marun dengan setelan celana panjang berwarna cream. Wangi maskulin menyeruak memnuhi isi kamarnya dan mulai mematut wajah tampannya didepan cermin.


Ponselnya yang ia letakan diatas laci kini penuh dengan pesan yang dikirim oleh Siska. Tak ada nada dering yang ia setel membuatnya tak tahu bahwa sejak tadi Siska sepertinya khawatir karena akhir akhir ini ia, Nayla dan Hamdi tak ada kabar padanya.


[Mas Zidan kemana? kok gak nanyain Siska?]


[ Mas, apakah semuanya baik baik saja?]


[Mas kenapa pesanku gak dibalas? apakah telah terjadi sesuatu pada kalian?]


[ Jangan salahkan aku jika aku pergi menyusul kalian kalau tak menjawab pesanku sampai tengah malam!]


Banyak sekali pesan yang Siska kirimkan membuat Zidan sedikit gundah. Apakah dia harus mengatakan semuanya pada Siska? apakah dia harus mengetahui bahwa sepupu orang yang dia cintai, juga mencintai kekasihnya. Bahkan dia rela berkorban nyawa demi membuat kekasihnya bahagia bersama dengan Siska.


Zidan berjalan kearah kamar Hamdi dan mendapati Nayla yang sedang duduk melamun didekat tas besar yang penuh dengan pakaian Hamdi.


"Nay, kau kenapa?"


Seketika suara Zidan membuat Nayla menoleh kearahnya. Tubuhnya begitu pucat dan matanya yang sayu membuat Zidan seketika berlari kearahnya.


"Nay kau tak papa? apa yang sudah terjadi?"


Nayla yang hanya diam sontak saja membuat Zidan semakin panik. Air mata Nayla mulai jatuh dan akhirnya ia pun tak sadarkan diri.


"Nay! Nay! bangun sayang! Nayla!" Zidan beberapa kali menepuk pipi istrinya dengan lembut.


Tak ada respon ataupun gerakan dari Nayla membuat Zidan semakin panik, dan menggendong Nayla untuk dibawa kerumah sakit.


Perlahan lahan, Zidan menuruni anak tangga dengan menggendong Nayla dipangkuannya. Kepanikan semakin dirasa kala tubuh Nayla terasa semakin dingin.


Dengan tergesa gesa, Zidan membuka pintu mobil dan memasukan Nayla kedalamnya dengan hati hati. Sampai sampai ia melajukan mobil kearah rumah sakit dengan kecepatan yang sangat tinggi.


"Aku mohon sadarlah Nay. Aku tak rela jika kau samoai kenapa napa" gumam Zidan pelan.


Waktu yang dibutuhkan Zidan untuk sampai dirumah sakit tak lama, sampai akhirnya kini ia sudah berada ditempat parkir dan kemudian menggendong kembali sang istri masuk kedalam rumah sakit.


"Dokter! Dokter! Suster! tolong cepat tangani istri saya. Tubuhnya begitu dingin dan ia tak sadarkan diri"


Beberapa suster berlarian membawa sebuah brankar untuk Nayla. Hingga saat Zidan membaringkan tubuh Nayla diatasnya, suster tersebut mendorong brankar tersebut dan memasukan Nayla keruangan ICU.

__ADS_1


Zidan tak henti hentinya berdoa dalam hati dan mencoba menguatkan hatinya kembali agar tak merasa sedih.


"Cobaan apalagi ini Ya Allah" ucap Zidan dengan sedih.


"Tolong bapak tunggu disini sebentar"


"Tapi saya ingin bersama istri saya sus"


"Iya saya tahu bapak sangat khawatir dengan kondisi istri bapak. Tapi disini sudah peraturannya seperti itu, jadi saya mohon kerjasamanya. Kami akan memeriksa kondisi istri bapa terlebih dahulu dan melakukan perawatan. Silahkan bapak pergi ke ruang administrasi terlebih dahulu dan berdoalah demi kesehatan pasien"


Suster tersebut kemudian berjalan masuk kembali kedalam ruangan ICU dan meninggalkan Zidan sendirian dengan wajah yang sendu.


Pikirannya saat ini kalut dan badannya begitu lelah. Tanpa ia sadari saat tadi ia menggendong Nayla, jahitan di kakinya kembali terbuka dan mengeluarkan sedikit darah. Memang benar, ketika pikiran dan emosi sedang tak terkendali, sesakit apapun tubuh kita, kita sendiri akan lupa sebab kepanikan tersebut. Itulah yang saat ini dirasakan Zidan. Ia bahkan membiarkan saja kakinya mengeluarkan sedikit darah dan terduduk diruang tunggu.


Hingga akhirnya dokter yang memeriksa Nayla keluar dan tak sengaja melihat rembesan darah dicelana Zidan.


"Maaf, apakah anda terluka? mari ikut saya untuk mengobati luka tersebut. Tak baik jika dibuarkan seperti itu"


"Tak papa dok. Saya baik baik saja. Yang terpenting saat ini bagaimana kondisi istri saya sekarang? apakah dia baik baik saja?"


"Untuk informasi itu, saya akan sampaikan kepada anda, asalkan luka anda biar saya obati erlebih dahulu. Bagaimana?"


Zidan akhirnya menurut dan mengikuti dokter tersebut untuk memasuki ruang pemeriksaan. Celana panjang yang Zidan kenakan kini dibuka, supaya dokter bisa memeriksa luka Zidan.


"Iya memangnya kenapa dok? apakah dia kembali membuat onar?"


"Tidak pak. Saya hanya ingin berkata bahwa ia kini sedang berada dikamar tempatnya dirawat. Saya hanya ingin agar anda menemaninya dan memberikannya suport agar ia tak mengalami masalah mental. Maaf jika saya lancang, sepertinya ia sedang mengalami stres dan saat ini tengah duduk melamun didalam kamarnya"


"Iya dok, saya paham. Saya akan coba menghiburnya dan membuat ia lupa akan semua yang sudah terjadi. Walaupun sulit. Sekarang tolong beritahu saya, sebenarnya istri saya sakit apa dok?"


Dokter yang sudah selesai melakukan perawatan pada Zidan dan memasangkan perban baru dikakinya kini mengulurkan tangan seraya tersenyum.


"Selamat pak. Istri anda sedang hamil, dan saat ini usia kandungannya memasuki 3minggu"


Zidan yang tadinya sangat khwatir kini berubah menjadi sangat bahagia. Ia bahkan bangkit dan memeluk tubuh sang dokter dan berulang kali mengucapkan rasa terimaksih.


"Alhamdulillah Ya Allah, kau sudah memberikan malaikat kecil pada kekuarga kami."


"Terimaksih dok karena sudah memberikan saya kabar baik ini" sambung Zidan dengan senyum yang mengembang diwajahnya.


"Iya sama sama pak. Saya harap anda bisa menjaga kesehatan istri anda dan memastikan bahwa ia jangan sampai kelelahan, kecapean bahkan pastikan bahwa ia makan teratur"

__ADS_1


"Baik dok. Saya akan memberikan semua yang terbaik untuk istri serta calon bayi kami. Sekarang saya boleh melihat istri saya?"


"Tentu boleh pak. Oh ya, tolong jangan bawa dulu pasien pulang karena kondisinya sangat lemah"


Zidan menganggukan kepala dan pergi menemui Nayal. Tak lupa ia mampir terlebih dahulu kantin rumah sakit dan membwa beberapa jenis makanan untuk Nayla.


Suster yang menjaga diruangan Nayla begitu terkejut ketika melihat Zidan begitu kesulitan menenteng makanan dan masuk kedalam ruangan tempat Nayla dirawat saat ini.


"Maaf pak, anda tak boleh makan diruangan ini"


"Tidak sus, bukan saya yang akan memakan makanan ini. Tapi istri saya Nayla yang sedang anda rawat. Ia begitu kelaparan sejak kemarin belum makan. Saya tak ingin dia sampai kurus dan sakit"


"Iya pak saya paham betul atas kekhawatiran anda.Tapi saat ini pasien sedang sakit dan baru saja sadar. Ia hanya boleh memakan makanan yang sudah kami sediakan seprti bubur dan sayur ini"


Nayla yang sudah siuman hanya tersenyum kecil melihat pertikaian yang dilakukan suaminya serta suster.


"Baiklah kalau begitu, saya yang akan memakannya. Tapi tolong tinggalkan kami berdua disini. Biarkan saya yang menyuapi istri saya makanan itu"


"Baiklah kalau begitu. Tapi saya berpesan pada anda, agar jangan memberikan pasien makanan apapun selain bubur yang sudah saya bawa. ingat!"


"Iya, iya sus."


Suster tersebut kini pergi berlalu meninggalkan Zidan dan Nayla berduaan. Tak lupa Zidan mulai berjalan seraya tersenyum gembira kepada istrinya tersebut. Zidan mencium kening Nayla dengan lembut dan diakhiri dengan mencium kedua pipi istrinya yang begitu lembut.


"Terimakasih karena sudah memberikanku kebahagiaan sebesar ini Nay"


"Alhamdulillah mas, atas ijin Allah aku bisa mengandung anak kita"


"Iya Nay, alhamdulillah. Aku berjanji akan selalu menjagamu dan anak kita serta takan membiarkan kalian sakit apalagi sedih"


"Iya mas, iya"


Zidan kini mulai mencoba membantu Nayla untuk duduk dan mengambil mangkuk berisikan bubur diatas laci agar Nayla segera makan.


"Sekarang kamu makan dulu. Biar tenagamu pulih dan anak kita didalam sana sehat. Aaa"


Zidan menyendokan bubur didalam mangkuk dan mulai mengarahkan sendok kemulut Nayla. Namun wanita tersebut malah mentup rapat mulutnya dan melihat kearah makanan milik Zidan yang ia bawa tadi.


"Aku gak mau bubur mas. Aku maunya itu" tunjuk Nayla pada salah satu roti yang semoat Zidan gigit dikantin.


"Tapi kata suster kamu gak boleh makan makanan yang lain selain ini"

__ADS_1


"Ini hambar mas, gak ada rasanya. Aku mau itu. Masa kamu gak mau kasih. Ini permintaan ankmu loh mas" cecar Nayla mencoba membujuk Zidan agar mau memberikan roti tersebut.


"Iya, iya baiklah kalau begitu. Ini makan ya istriku sayang. Jangan sampai kamu kurus dan sakit lagi. Oh ya, jangan sampai juga kamu ngidam aneh aneh dan memberikan alasan bahwa dedek bayi ini yang memintanya" ucap Zidan gemas seraya mulai mengusap perut Nayla yang masih rata.


__ADS_2