
Andi berjalan gontai melangkahkan kaki menuju luar ruangan tempat Hamdi dirawat. Hatinya behitu sakit karena baru kali ini Hamdi acuh dan marah besar padanya. Ia sadar betul semua perlakuan yang Hamdi berikan padanya itu semua murni atas kesalahannya sendiri. Tak dapat dipungkiri pula bahwa saat ini ia begitu merasa bersalah pada empat orang sekaligus. Yakni pada Siska, Hamdi, ibunya terutama pada Nikita yang rela memberikan nyawanya demi menyelamatkan Andi yang jelas jelas bahkan tak tahu siapa Nikita.
Langit yang semakin gelap, membuat suasana hari ini begitu sunyi sekali. Andi berkecamuk dalam pikiran serta hatinya akibat semua masalah yang ia lakukan dengan akar permasalahan berasal dari Frans yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.
Andi sangat siap dengan konsekuensi yang akan ia dapatkan atas kasus pelecehan yang ia lakukan pada Siska, bahkan ia siap jika harus dihukum mati sekalipun. Sebab apa yang ia lakakukan benar benar sudah membuat Siska kehilangan masa depan.
******
Saat ini Frans beserta ayahnya sudah diamankan didalam kantor polisi akibat tibdakannya yang menculik serta melakukan kekerasan terhadap Nikita sehingga membuatnya kehilangan nyawanya.
"Dasar anak pembawa si*l ! harusnya kau ikut saja dengan ibumu itu. Kau selalu saja membuatku kesusahan" umpat pria tua itu pada anaknya.
"Aku takan membuat masalah jika ayah menjadi orang tua yang baik. Kau kira, kau sudah menjadi ayah yang baik? tidak! kau sungguh membuatku menjadi seorang peniru yang handal. Aku selalu bermain dengan wanita panggilan sebab kau sendiri yang mencontohkannya. Apa aku salah? Kau terlalu sibuk memikirkan tentang wanita dan selalu saja sibuk dengan pekerjaanmu. Kau bahkan tak sekalipun bertanya apakah aku sakit atau tidak, kau tak pernah sekalipun bertanaya apakah aku sudah makan atau tidak! kau bahkan tak sekalipun bertanya apakah aku bahagia hidup bersamamu atau tidak! harus kau ketahui bahwa aku tak pernah menginginkan lahir menjadi putra seorang koruptor sepertimu!"
Plak!
Tamparan keras mendarat dipipi Frans hingga membuatnya tertawa kecut dengan muka yang memerah.
"Jaga ucapanmu anak brandal!"
Saat ini mereka berdua sedang berada diruangan tertutup hanya berdua saja. Sehingga polisi diluar pun dapat mendengarkan perkelahian ayah dan anak tersebut dari arah luar.
"Jika saja kau tak mencintai jal**ng itu mungkin kita akan aman saat ini"
Frans kembali tersenyum mendengarkan ocehan ayahnya sendiri.
"Kau sendirilah yang ingin ikut campur dengan urusanku. Jika saja kau tak menyuruh orang untuk menyelidiki Nikita, mungkin saja aku yang hanya ditahan karena telah menlenyapkannya. Aku tak oernah meminta untuk kau membantu setiap urusanku. Dan aku pun tak menuntutmu untuk menjadi orang kaya dengan cara kotor"
"Jaga ucapanmu Frans! kau pun ikit bersenang senang dengan uangku dan kau pun ikut menikmati uang haram tersebut"
"Apa yang harus aku perbuat saat tuhan menakdirkanku untuk terlahir sebagai anakmu? apakah aku harus memaki penciptaku sendiri karena sudah menakdirkanku sebagai putra dari seorang pria baik yang membuat istrinya pergi"
__ADS_1
Emosi ayahnya Frans sudah sangat memuncak hingga ia pun hanya bisa menahannya dan berteriak frustasi didalam ruangan tersebut. Saat ini polisi sedang mencari bukti bukti lainnya atas kasus penggelapan dana yang ia lakukan serta sedang mencari bukti juga untuk kasus yang melibatkan Andi dan beberapa teman anaknya yang lain.
Dering telpon yang masuk kedalam ponsel milik Siska dimalam ini membuatnya sedikit heran sebab nomor yang menghubunginya cukup asing. Sampai akhirnya ia pun bangkit dan menerima panggilan telpon tersebut.
"Halo, dengan saudara Siska" ucap seorang pria disebrang sana.
"I..iya, ini siapa ya?" tanya Siska gugup.
"Maaf menganggu waktunya, kami.dari pihak kepolisian ingin menanyakan apakah anda mengenal saudara Frans dan Andi?"
Seketika tubuh Siska bergetar hebat kala mendengar nama yang sudah lama ia sangat takuti dan benci.
"Maaf apakah anda masih disana?" suara petugas kepolisian kembali terdengar.
"Ya...ya saya disini pak" Siska mulai menangis kala mengingat semua kejadian dimana masa depannya mulai hancur.
"Apakah anda mengenal mereka ? saya sudah menerima laporan pelecehan yang kakak anda berikan dan saat ini bukti bukti sudah ada. Kami masih membutkan keterangan anda untuk penyelidikan lebih lanjut. Dan saat ini saudara Frans sudah kami tangkap karena kasus pelecahan yang anda alami berkaitan dengan kematian seseorang"
"Apa!" pekik Siska terkejut.
Ia mulai berfikir yang tidak tidak mengenai kakaknya serta kakak iparnya. Bahkan kali ini ia juga khawatir dengan keadaan kekasihnya yaitu Hamdi.
"Siapa dia pak? katakan" Siska mulai berteriak histeris dengan air mata yang mengalir.
"Korban Seorang wanita dan namanya adalah Nikita"
Siska terdiam mendengarkan nama yang petugas tersebut katakan. Nikita, nama yang cukup asing ditelinganya. Bahkan ia tak tahu siapakah wanita yang bernama Nikita tersebut.
Jadi, selama ini kakak, serta kakak iparnya juga Hamdi sedang mencari keadilan untuknya. Siska begitu terharu sekaligus kecewa karena mereka tak memberi tahu apapun tentang rencana ini padanya.
Mungkin juga ini alasannya Hamdi, Zidan dan Nayla susah sekali ia hubungi. Bahkan seledar bertanya kabar pun kakaknya tak menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
"Kami sedang mencari lagi bukti yang akan memberatkan tersangka. Saya harap anda bisa memberikan keterangan dikepolisian nanti. Kami akan menerbangkan pelaku ke kepolisian pusat di Jakarta, sebab kami akan melimpahkan perkara ditempat kejadian tersebut. Kami nanti akan menghubungi kembali anda untuk meminta keterangan saat semuanya berkas dan pelaku di Jakarta. Terimakasih nyonya"
Setelah telpon dimatikan. Tubuh Siska pun akhirnya luhur diatas lantai. Traumanya yang begitu dalam, membuat Siska beberapa kali ingin melakukan bunuh diri. Sampai akhirnya ia sudah mulai menerima kenyataan serta anak yang ia kandung dari pelecehan tersebut, ia justru dipaksa mengingat kembali kejadian tersebut untuk menghukum para pelaku.
Tangisnya pecah, hingga membuat bayi yang baru saja ia beri asi dan terlelap, kembali terbangun. Tangisnya begitu keras hingga membuat Ibu Widya pun datang dan melihat putrinya menangis dan membiarkan cucunya juga menangis.
"Ada apa Siska? katakan?" Tanya Ibu Widya panik.
Digendongnya sang bayi dan mulai mencoba meredakan tangisannya.
"Katakan apa yang terjadi sayang?" tanyanya kembali, namun Siska hanya terisak dalam tangisnya.
Trauma akan hal yang mengerikan terjadi dihidupnya, benar benar suatu kondisi yang sangat sulit untuk disembuhkan. Sebagian orang yang mengalami trauma bahkan juga bisa mengalami depresi hingga membuat dirinya melakukan hal salah dengan memilih menyakiti dirinya bahkan bunuh diri.
Itulah sebabnya Siska saat ini hanya bisa menangis kala mengingat kejadian mengerikan itu.
"Saat aku mulai menerima semua sakit dan lukaku, mengapa aku harus mengingatnya kembali bu" Siska menangis dengan keras.
"Dia yang sudah membuatku hina bahkan membuat diriku sendiri merasa jijik, kini sudah ditangkap dan akan segera diadili bu."
"Siapa dia Siska?"
"Frans! Frans! lelaki baji*ngan berhati ib*lis itu telah ditangkap. Mas Zidan, Mbak Nayla dan Hamdi sudah berhasil membuat baji**nnitu tertangkap"
"Bagaimana mungkin ?" Ibu Widya merasa heran sebab Zidan dan Nayla tak mengatakan apapun pada mereka.
Siska menatap kosong kearah jendela dengan air mata yang terus saja membasahi pipinya.
"Mas Zidan, Mbak Nay dan Hamdi ternyata melakukan sebuah rencana agar Frans dan teman temannya bisa tertangkap. Mereka sudah mengetahui siapa saja pelaku pelecehan tersebut dan sudah memiliki bukti bu. Namun aku pun tak tahu siapakah wanita yang sudah ibl**is itu bunuh"
"Wanita? maksudnya ?"
__ADS_1
"Ada seorang wanita yang Frans bunuh sebab ia terikat dengan masalah yang aku alami. Aku pun tak tahu bagaiman semua itu bisa terjadi. Mas Zidan, Mbak Nay dan juga Hamdi saat ini sangat sulit untuk ku hubungi. Yang pasti sebentar lagi aku harus berhadapan dengan para penjahat itu dipengadilan Jakarta untuk memberikan kesaksian agar para pelaku bisa dihukum"
Ibu Widya kini menatap sendu pada anaknya serta cucunya yang saat ini terlelap dipangkuannya.