Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Keputusan yang sulit


__ADS_3

Zidan kini memarkirkan mobilnya dihalaman panti asuhan. Terlihat anak anak yang baru saja keluar dari masjid dan berlari memeluknya.


"Om Zidan!" teriak anak anak sangat kencang.


Zidan yang melihat mereka langsung memeluknya dan bersalaman. Ibu Aisyah yang berjalan dibelakangnya beserta Nayla yang tampak begitu cantik dengan gamis berwarna biru terang yang ia kenakan.


"Assalamualaikum bu gimana sehat?" ucap Zidan seraya mencium tangan Ibu Aisyah.


"Alhamdulillah sehat nak. Bagaimana kabarmu ? "


"Alhamdulillah syukur kalau ibu sehat. Alhamdulillah saya sehat bu. Ngomong ngomong ibu mau bicara apa sama saya?"


Ibu Aisyah menarik nafas dengan pelan lalu tersenyum kearah pria tampan didepannya.


"Kita bicara didalam saja nak. Gak enak malam malam kita ngobrol diluar"


Ibu Asiyah pergi berlalu diikuti Nayla dan Zidan dibelakangnya.


Pintu rumah terbuka, Zidan, Nayla dan Ibu Asiyah kini duduk disofa empuk yang berada diruang tamu.


"Jadi gini nak Zidan. Sebenarnya ibu ingin sekali kasus kematian Arumi di bedah kembali dikepolisian. Ibu sampai detik ini belum tenang kalau pelaku pembunuhan Arumi masih berkeliaran diluar sana. Ibu takut jika sampai pelaku pembuhan Arumi akan terus mengintai panti dan mencelakakan penghuni disini, sebab dulu polisi pernah melakukan investigasi di tkp namun hasilnya nihil. Maka dari itu, ibu boleh minta tolong sama kamu untuk carikan orang atau detektif yang bisa melacak pelaku pembunuhan Arumi"


"Emh...itu...itu saya akan coba melakukan yang terbaik. Ibu jangan khawatir, jika saya telah menemukan atau mengetahui identitas pelaku maka saya akan beritahu ibu" ucap Zidan gugup.


"Tapi mas, bukannya ada kemungkinan bahwa pelaku pembuhan Arumi adalah orang rumah? bagaimana sapu tangannya sudah kamu cari?" cecar Nayla dengan spontan.


Ibu Aisyah yang terkejut menatap Nayla dan mencoba meminta penjelasan darinya.


"Sapu tangan? sapu tangan apa Nay?"


"Euh..itu bu jadi sebenarnya Nayla sama Mas Zidan sudah selidiki kasus pembunuhan Arumi dengan bantuan teman Mas Zidan. Dan kebetulan ada rekaman cctv didekat rumah tempat jasad Arumi ditemukan dan dalam rekaman itu terlihat bahwa pelaku terkena cakaran Arumi dibagian telinga dan berdarah. Sapu tangan itu digunakan pelaku untuk mengelap darah yang keluar dibelakang telinganya yang kemungkinan itu akan menjadi barang bukti yang kuat jika ditemukan. Aku dan Mas Zidan pernah melihat sapu tangan yang sama persis dengan sapu tangan yang digunakan pelaku di dalam rumah juga di kantor Mas Zidan. Jadi kesimpulannya, teman Mas Zidan menyuruh kita mencari sapu tangan itu, mungkin saja sapu tangan yang ada dirumah memang benar milik pelaku" terang Nayla.


Ibu Aisyah yang mendengarkan penuturan putrinya mengangguk dan mulai mengerti apa yang putrinya bicarakan.


"Jadi sapu tangan yang kalian curigai ada didalam rumahmu nak?" tanya ibu pada Zidan.


Zidan yang bingung harus berbuat apa, hanya mengangguk dan diam sejenak. Pikirannya kacau saat ini. Mana mungkin dia memberitahu kepada Ibu Aisyah dan Nayla bahwa sesungguhnya pelaku pembunuhan Arumi adalah Bian. Pasti kedua wanita itu akan hancur jika mengetahui bahwa orang terdekat mereka adalah pembunuh keluarganya.


"Iya bu. Kami menaruh curiga bahwa pelakunya adalah orang rumah. Namun saat ini kami bekum menemukan bukti yang kuat mengenai siapa pemilik sapu tangan itu" Jawab Zidan berbohong.


"Ya sudah nak, ibu hanya ingin meminta tolong sama kamu, supaya mengajukan permohonan ke polisian untuk membuka kembali kasus pembunuhan Arumi. Ibu sebenarnya sudah memaafkan pelaku, hanya saja ibu belum bisa tenang jika belum ada keadilan yang didapatkan Arumi. Maaf karena ibu menyuruh nak Zidan datang malam malam seperti ini"


"Iya gak papa bu. Nanti saya usahakan untuk membuka kembali kasus ini ke kepolisian. Ibu jangan khwatir, saya akan memberikan keadilan untuk Arumi. Saya janji. Sekarang saya pamit dulu sudah malam. Permisi bu. Wassalamualaikum"

__ADS_1


Zidan pergi berlalu seraya mencium punggung tangan wanita paruh baya didepannya. Nayla yang sedari tadi duduk disebelah Ibu Aisyah, kini bangkit dan berjalan dibelakng Zidan.


"Nay kamu cantik " ucap Zidan membuat Nayla tersipu malu.


"Ih Mas Zidan malem malem ngegembel"


"Dih gembel. Gombal nenek sihir, gombal"


jawab Zidan ketus.


"Jadi mas mau muji atau mau ngehina?"


Wajah Nayla kini mulai terlihat kesal dengan bibir yang mengerucut.


"Ya kamu lagian, dipuji malah ngehina. Jadi ancurkan moodku yang lagi baik ini" ucap Zidan.


Setelan gamis berwarna biru yang Nayla kenakan begitu anggun. Wajahnya yang cerah dan putih, membuat Zidan terpana akan keacantikan yang Nayla miliki.


"Ya sudah kalau gitu aku pamit udah malam. Kamu baik baik disini. Jangan lupa jika kamu butuh aku, panggil namaku tiga kali. Aku akan jamin bahwa aku akan datang"


"Baik om jin. Aku akan menggosok kembali teko gosong didapur sana jika aku memerlukan sesuatu"


"Ya sudah. Kalau begitu aku akan pulang dulu ke istana kerajaan. Kau diam disini cinderella, jangan pernah kau lepaskan sepatu kaca itu, sebab pasti wajahmu akan kembali tua seperyi nenek sihir" jawab Zidan seraya berlari menuju mobilnya yang terparkir di halaman panti asuhan.


Nayla yang geram dengan tingkah mantan kakak iparnya hanya bisa melemparkan sendal walaupun tak kena.


Diambilnya ponsel lalu mengirim pesan kepada Hamdi.


[ Ham tolong kau serahkan bukti itu kepada kepolisian dan bilang bahwa kau sudah menemukan bukti itu di dekat rumahku. Aku sudah ingin melihat ib*lis itu membusuk dipenjara karena telah mengambil cintaku. Lagi pula sudah terlalu lama dia berkeliaran tanpa mendapat hukuman dari kelakuan bej*dnya.]


Seperti biasa, Hamdi hanya menjawab pesan Zidan dengan emoticon jempol saja. Tak ada percakapan panjang diantara keduanya walaupun mereka berdua adalah seorang sahabat.


Entah sudah sejak kapan, hati Zidan selalu berdebar kala melihat Nayla yang kini berstatus sebagai mantan adik iparnya. Perasaan yang ia miliki untuk Nayla semakin hari semakin berubah. Ada rasa yang tak bisa dijelaskan oleh kata kata saat bersamanya.


Malam ini berjalan begitu cepat. Tak terasa kini Zidan sudah sampai dipekarangan rumah mewahnya.


Kesunyian menyelimuti rumah mewah didepannya. Tak ada tawa atau pun obrolan yang terdengar biasanya dari dalam. Hatinya bertanya tanya kemanakah keluarga adik ayahnya itu.


Pintu dibuka dengan lebar, tak ada siapapun diruang tamu. Foto yang tadi dia hancurkan untungnya sudah dibersihkan sebelum tadi sore dia tidur. Hingga saat dirinya akan pergi menuju kamarnya, terlihat Siska dan ibu yang berada didekat ruang kerja ayah.


"Zidan!" teriak ibu membuat pria itu langsung menghampirinya dengan malas.


"Ya ada apa?"

__ADS_1


"Ibu mau minta tolong, tolong carikan pengacara yang hebat untuk adikmu Bian nak"


Kening Zidan mengerut mendengar ucapan ibu Widya mengenai Bian. Zidan tak tahu ada masalah apa yang menimpa adiknya itu. Dia berpikir mungkin saja Bian ditangkap karena kasus penyebaran video asusila atau karena kasus pembunuhan Arumi.


"Bia..Bian kenapa bu?"


"Bian dipenjara nak. Tolong bantu dia. Adikmu melukai Clara dirumah sakit karena melihat video asusila istrinya dengan ayahnya. Tolong bantu ibu bebaskan adikmu nak. Kasihan dia"


Hati Zidan saat ini sangat senang dan bahagia saat mengetahui bahwa Bian sedang berada dibalik penjara. Tak pernah sedikitpun terlintas dibenaknya bahwa Bian akan berbuat kasar pada istri kesayangannya itu.


"Aku gak bisa bantu bu maaf. Ibu hubungi saja Clara supaya dia meminta suaminya tidak ditahan karena dia adalah korban"


Hening sejenak, ibu dan Siska berpikir bahwa memang ucapan Zidan benar. Clara adalah satu satunya orang yang bisa membuat Bian bebas dari balik penjara.


"Ibu gak sempet kepikiran kesana. Ya sudah ibu mau telpon dulu wanita busuk itu untuk bebaskan suaminya. Sekarang kau masuk dan istirahatlah nak"


Zidan tertawa puas kala mendengar bahwa sang adik kini tengah mendekam dibalik jeruji besi. Langkah kaki Zidan kini menuju kamarnya yang sangat luas. Ada perasaan takut kala memasuki ruangan ini karna tadi dia sempat melihat penampakan yang membuat nyalinya menciut.


"Assalamualaikum. Permisi" ucapnya pelan saat melewati pintu kamar.


Lampu yang menyala membuat dirinya sedikit tenang dan tak merasakan ketakutan. Dilepaskannya jaket yang ia kenakan, hingga tinggal menyisakan kaos putih yang membjat tubuh atletisnya tercetak sempurna.


Pikirannya berkelana memikirkan seorang gadi yang saat ini tengah menjalani sidang perceraian dengan adiknya. Mungkinkah dia bisa menjadi dekat dengan Nayla yang kini berstatus sebagai orang asing dihidupnya.


Dering ponsel membuyarkan lamunan pria berkulit putih yang sedang menatap langit langit kamar. Diraihnya ponsel yang berada diatas laci lalu menjawab panggilan dari sekertarisnya.


"Iya halo"


"Jadi aku harus keluar kota besok. Ya sudah aku akan siapkan berkas dan perlengkapanku"


"Siapakah orang yang menjadi partener bisniku nanti?"


"Anyelir?!" pekik Zidan terkejut.


"Ba..baiklah saya akan pergi besok. Terimakasih informasinya"


Panggilan pun terputus. Jujur sebenarnya dia merasa berat jika harus pergi menuju kota yang disebutkan oleh seketarisnya. Terlebih lagi daerah yang dituju adalah tempat masa lalunya berada.


Kenangan pahit yang dia miliki didesa tersebut sempat membuatnya depresi dan tak ingin kembali ketempat yang sama. Sebenarnya saat dulu dia kuliah dan melakukan penelitian dikampung tersebut, banyak cerita manis dan kenangan indah bersama seorang gadis yang merupakan rekan penelitiannya.


Walaupun semua itu terjadi sebelum dia mengenal Arumi, tapi rasa itu masih ada dihati kecilnya walaupun hanya tersisa sedikit untuk gadis bernama Anyelir.


Anyelir adalah gadis cantik yang merupakan anak dari salah satu pengusaha terkaya di Singapura. Kecantikan juga kebaikan hatinya membuat Zidan sangat mencintai gadis itu hingga keduanya resmi menjalin sebuah hubungan spesial. Namun kesalahan yang ia lakukan justru membuat ayah dari Anyelir marah dan membuat Anyelir terpaksa pindah keluar negeri.

__ADS_1


Hatinya kini diliputi oleh keraguan. Disaat dirinya memantapkan hati untuk semakin dekat dengan Nayla, masa lalunya bersama Anyelir kini menari nari dibenaknya. Setelah sekian lama ia mengubur dalam dalam rasa cinta yang ia miliki untuk Anyelir, gadis itu kini akan bertemu dengan dirinya kembali.


Keputusan yang sulit harus ia ambil saat ini. Haruskah ia pergi ketempat tersebut dan bertemu dengan Anyelir yang dulu pergi meninggalkannya, ataukah dia membatalkan kerja sama dengan perusahaan milik keluarga Anyelir dan memperjuangkan hati Nayla.


__ADS_2