
Entah kenapa matanya yang kian terasa berat membuat Nikita perlahan hilang kesadaran sepenuhnya. Ia bahkan tak tahu apa saja yang Frnas lakukan kepadanya selama ia tak sadarkan diri.
Nikita yang baru saja membuka matanya, hanya bisa sesekali menitikan air mata karena pandangannya yang tertutup kain, serta suaranya yang tak bisa didengarkan oleh orang lain diluar mobil yang saat ini sedang dikemudikan Frans.
Hanya doa yang bisa ia lakukan saat ini. Memohon pada Allah agar membantunya dalam situasi sulit seperti ini. Walaupun Nikita sadar bahwa ia memiliki banyak dosa dan tak pantas untuk selamat, namun ia sangat ingin saat ia mati nanti, ia dalam keadaan yang terbaik.
"To..long lepaskan saya tuan" rintih Nikita dengan suara yang terdengar tak jelas.
Frans dan ayahnya hanya bisa tertawa melihat keadaan Nikita yang memprihatinkan saat ini. Tanpa rasa iba dan kasihan, ayah Frans menampar pipi mulus Nikita hingga membuat wanita itu merintih kesakitan dan tersungkur kesamping jok mobil.
"Diam kau wanita tak tahu diri. Kau yang memulai dan memilih kematianmu saat ini. Kau yang sengaja ingin menjebak kami dan ingin menjebloskan anak kesayanganku kedalam jeruji besi. Kau tak tahu, aku bahkan bisa mencari seluruh orang terdekatmu dam membunuh mereka satu persatu. Bahkan saat ini mungkin orang suruhanku sedang mengeksekusi teman temanmu"
Nikita membulatkan mata sempurna. Sesekali ia berteriak dengan sendu tak mau hal buruk terjadi pada Nayla, Zidan bahkan Hamdi sekalipun. Ia rela mati asalkan teman temannya bisa selamat dan membalaskan keadilan untuknya dan Siska.
Frans menepikan mobilnya dijalanan sepi dan kemudian mengambil ponselnya untuk menelpon seseorang.
"Sudah ketemu orang yang menyuruh jala**ng ini memata mataiku? Bagus! cepat lenyapkan ia jika sudah berada ditanganmu"
Frans tertawa lebar ketika mengetahui orabg suruhannya menemukan lokasi Hamdi tinggal. Saat ini Nikita yang merasa ketakutan Hamdi terluka, memohon ampun serta memohon keselamatan untuk Hamdi, Nayla dan Zidan yang saat ini dalam bahaya.
Frans membuka kasar kain yang menutupi mulut Nikita dan membiarkan Nikita mengoceh apapun yang ia mau.
"Sekarang kau bisa berteriak sepuasnya sebab sebentar lagi suaramu bahkan nafasmu akan ku ambil secara paksa. Nikmatilah detik detik kehidupanmu saat ini"
"Biad**b kau Frans! Dasar pria baji**ng! kau cepatlah bunuh aku! tapi kumohon lepaskan mereka sebab mereka tak tahu mengenai hal apapun. Kau bisa menghabisi ku sekarang juga dan memberikan kematian yang pahit sekalipun. Aku bahkan takan pernah takut kau bunu*h dengan kejam sebab kau memang seperti binat**ng yang tak punya hati bahkan otak"
Frans memukul wajah Nikita dengan kencang, hingga membuat pipi mulus Nikita meninggalkan noda merah yang begitu jelas.
"Dasar kau ja**ng! saat seperti ini pun kau tak punya rasa takut. Kau benar benar pemberani rupanya. Baiklah jika kau memang ingin mati ditanganku. Tapi aku ingin melihat ekspresi di wajahmu jika semua teman temanmu kubunuh terlebih dahulu"
Mata Nikita yang saat ini masih tertutup hanya bisa menghadapkan kepalanya kearah Frans dengan sumpah serapah yang tak henti keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Ku tahu, mata indahmu saat ini pasti merah menyala mendapatkan kebenaran bahwa aku ingin sekali melihat kau menderita. Ayahku adalah orang besar. Kekuasaan serta hartanya mampu menyuap oknum untuk menghilangkan jejak pembunuhan yang aku lakukan padamu serta teman temanmu. Kudengar kau sangat pandai bela diri. Tapi sayang kau adalah perempuan, dan sudah kodratnya wanita itu adalah mahluk yang lemah" cibir Frans dengan senang.
"Aku memang perempuan. Tapi kau tak bisa mencap wanita sebagai kaum yang lemah. Kau bisa terlahir didunia atas pengorbanan seorang wanita! kau dilahirkan oleh seirang wanita dan kau sama sekali tak memikirkan perkataanmu. Aku memang perempuan, tapi aku tak selemah dan pengecut sepertimu. Jika saja pria bau tanah itu tak memukulku, maka akan kupastikan kau sudah mat** ditanganku!"
Ayah Frans menampar wajah Nikita dengan kencang. Hingga membuat pipi Nikita bertambah merah dengan bekas tangan yang terukir diwajahnya. Nikita hanya tersenyum mendapatkan perlakuan kasar dari ayah dan anak tersebut. Rasa sakitnya sudah lenyap seiringan dengan rasa takut ia kehilangan orang orang yang ia sayangi sekarang ini.
*****
Nayla dan Zidan saat ini sangat panik mengetahui bahwa Nikita telah dibawa oleh Frans beserta ayahnya kedalam pelosok yang entah apa yang akan mereka lakukan kepadanya.
"Sekarang kita harus pergi mas. Kau cepat telpon Hamdi dan katakan padanya agar ia segera menjemput kita"
"Iya sayang. Aku akan memanggilnya kesini"
Zidan segera mengambil ponselnya dan segera menghubungi Hamdi agar segera datang kerumah Frans.
"Ham cepat kau kesini! aku sudah menemukan alamat yang dituju Frans beserta ayahnya untuk membawa Nikita pergi. Jangan lupa panggilah polisi dan segera kirin orang agar membuat laporan atas kasusu korupsi dan kasusu suap yang dilakukan oleh ayahnya Frans. Jangan lupa kau bawalah sebilah pisau lipat atau apapun untuk berjaga jaga"
Hamdi yang panik melihat empat orang pria memakai topeng serta pakain hitam masuk kedalam rumah Frans membawa senjata api ditangan mereka segera memperingatkan Zidan dan Nayla.
"Kau sembunyilah di tempat yang aman. Aku akan segera masuk kedalam sana dan menelpon polisi untuk kesini. Ku yakin, bahwa mereka adalah orang suruhan pria tua bangka itu untuk melenyapkan kalian"
Seketika Zidan dan Nayla segera mematikan panggilan telpon dan segera berlari bersembunyi ketempat yang aman. Nayla yang panik hanya bisa menarik nafasnya dengan kasar hingga detik kemudian Zidan menggenggam tangannya dengan lembut dan mengatakan bahwa semuanya akan baik baik saja.
Brak!
Tak lama terdengar suara pintu utama yang dibuka dengan kencang, membuat Nayla dan Zidan sedikit ketakutan. Hingga keduanya begitu berkeringat dengan deras dan mulai menutup mulut mereka seraya mencati tempat persembunyian yang aman.
"Cepat keluarlah! jangan bersembunyi!" teriak seseorang yang berada dilantai bawah.
Zidan segera membungkukan badannya dan menyuruh Nayla untuk naik kepundaknya.
__ADS_1
"Cepat naik keatas tubuhku Nay. Kita akan bersembunyi diatas loteng ini!" Zidan menunjuk kearah atas langit langit dikamar ayahnya Frans yang terdapat celah disana.
"Tapi mas, disana pasti banyak tikus"
"Kau adalah wanita yang berani Nay. Ku yakin kau takan ketakutan disaat seperti ini. Kita harus selamat bagaimanapun caranya. Sekarang percayalah padaku dan cepat naik kedalam sana! aku juga akan bersamamu Nay"
Nayla mulai naik keatas badan Zidan yang membungkuk. Kemudian ia naik keatas pundak Zidan dan segera menitikan kakinya kelemari pakaian yang berada tepat dibawah lubang yang Zidan maksud.
Tak lama Zidan pun mengambil kursi dan mulai naik keatasnya serta menitikan kaki dengan susah payah agar sampai diatas kemari untuk segera bersembunyi diloteng tersebut.
Terdengar tembakan yang dilakukan para pria misterius dilantai bawah yang membuat tubuh Nayla bergetar hebat sehingga membuat Zidan berusaha menenagkannya.
Perlahan lahan, langkah kaki dari orang orang tersebut terdengar dengan jelas, membuka setiap pintu kamar dengan kencang hingga membuat Nayla terkejut beberapa kali.
Sampai saatnya para pria itu menendang dengan keras pintu kamar ayahnya Farns sehingga membuat Nayla terkejut hebat.
"Keluarlah kalian! kami hanya ingin bersennag senang dengan nyawa kalian! Jangan takut. Kami akan cepat mengambil nyawamu hingga kau pun tak sadar bahwa kau sudsh ma**. Hahahahah"
Suara tawa yang memekakan telinga tersebut. Membuat Nayla takut dan berkeringat sangat banyak. Zidan tak henti hentinya memegang tangan sang istri agar lebih tenang dan membungkam mulut Nayla dengan lembut agar tak bersuara.
"Mereka mungkin ada dihalaman rumah. Dan Pasti mereka sudah tahu kedatangan kita untuk melenyapkannya. Sekarang kita cari disana dan jika tak ada terpaksa kita harus telpon bos"
Nayla yang sedang memegang ponsel milik ayahnya Frans segera menyalakan ponsel tersebut dan membuat handphone itu senyap. Para pria dihadapannya segera pergi berlalu menuju halaman rumah untuk mencari keberadaan Nayla dan Zidan.
Zidan yang merasa saat ini nyawa Nayla, Hamdi serta dirinya sedang dalam bahaya segera menelpon Hamdi agar pergi dari rumah ini dan segera menghubungi kepolisian.
"Ham cepatlah pergi dari sini! ini terlalu berbahaya. Aku butuh sekali pertolonganmu. Kau cepat panggilkan polisi dan menjauhlah dari rumah ini. Ada empat orang pria bersenjata sedang mengincar nyawa kita dan kupastikan bahwa mereka adalah suruhan ayahnya Frans"
"Iya Dan. Aku juga merasa begitu. Aku juga sudah menelpon kepolisian dan sedang menunggu kedatangan mereka. Kau bersembunyilah ditempat aman dan jagalah dirimu baik baik"
"Iya tentu. Kau cepatlah pergi ke alamat yang aku kirimkan melalui pesan. Disana adalah tempat Nikita akan dibawa. Semoga saja ia baik baik saja. Kau jangan khawatirkan aku dan Nayla. Aku akan menjaga Nayla walaupun nyawaku taruhannya"
__ADS_1
Mohon maaf ya para readers 🙏jika ceritanya saya buat sedikit tegang. Akhir akhir ini saya sangat sibuk dan kewalahan mengatur jadwal untuk membuat cerita serta up part baru. Mohon maklumi dan tetap mampir diceritaku ini🤗❤️