
Ruangan gelap dan pengap terasa begitu tak nyaman bagi keluarga konglomerat yang terbiasa dengan rumah mewah dengan udara sejuk yang keluar dari AC. Ayah Frans yang selalu terlihat angkuh kini hanya bisa tertunduk malu dihadapan petugas yang sejak tadi memberondongnya dengan berbagai pertanyaan. Sesekali ia menatap wajah aparat yang kini tengah berdiri dihadapannya dengan rasa benci dan sinis.
Seakan dirinya berkata dalam.hati bahwa ia adalah seorang penguasa yang tak bisa diperlakukan semena mena walaupun ia melakukan kesalahan sefatal apapun.
"Jadi, Anda beserta anak anda telah membuat nyawa seorang wanita melayang hanya karena alasan dia melakukan penipuan didalam rumah anda? begitu?"
"Ya ! tentu. Dia berani menyamar dan masuk kedalam rumah saya untuk mencari tahu informasi pribadi mengenai anak saya. Dan dia juga mencoba memfitnah anak saya melakukan pelecehan pada seorang wanita murahan saat ia masih disekolah menengah atas!" suara ayah Frans yang keras sontak saja membuat petugas tersenyum miring dengan keberanian yang pria tua dihadapannya miliki.
"Saya bertanya dengan nada yang sebisa mungkin tak membuat anda kena serangan jantung! selain itu anda sudah berumur jadi sebisa mungkin saya berlaku sopan kepada anda. Namun, anda begitu angkuh dan seolah merasa tak bersalah padahal barang bukti sudah banyak kami kumpulkan"
Dengan gerakan tangan pelan orang yang mengintrogasi, membuat beberapa petugas datang dan membawa sebuah kertas berisi tangkapan layar adegan tak senonoh yang dilakukan Frans pada ayahnya. Selain itu polisi juga memberikan beberapa bukti arsip mengenai penggelapan dana anggaran yang dilakukan ayahnya Frans.
Kedua bola mata pria angkuh itu kini seakan keluar dari tempatnya. Tak menyangka bahwa para aparat sudah mengetahui kasus korupsi yang ia lakukan.
"aapp..apa ini ? saya tak melakukan apapun. Ka..kalau ini saya akui memang anak saya sempat bercerita bahwa ia melakukan kesalahan pada seorang gadis dimasa ia sekolah, namun sang gadis juga melakukannya dengan keinginannya sendiri"
Ayah Frans begitu gelagapan menanggapi bukti bukti yang kini tepat berada dihadapannya. Ia tak mampu mengelak bahkan berakting dengan sempurna mengenai apa yang telah ia perbuat selama ini.
"Dari pernyataan anda saya sudah tahu apa yang kini ada dikepala anda. Saya harap anda bisa berkata sejujur jujurnya dipersidangan nanti, agar anda bisa bertobat dan bisa menikmati sisa umur anda tuan" para petugas kini meninggalkan ayahnya Frans sendirian diruangan tersebut.
Dan terlihat jelas dikamera saat ini, ayah Frans begitu frustasi dan melemparkan semua kertas diatas meja seraya berteriak teriak histeris.
"Aku hancur! hancur! anak tak tahu diuntung itu sudah membuat karir yang kubangun hancur berantakan. Dan wanita jala**ng itu adalah inti masalahnya"
*******
Andi yang sudah selesai diperiksa kini terduduk lemas diatas kursi tunggu luar ruangan. Ia masih syok dengan kejadian yang mengenai Nikita tepat dihadapannya. Selain rasa bersalah yang amat dalam, ia juga merasa menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan selama ini pada Siska. Tanpa ia sadari, wanita yang sudah Andi nodai kini memiliki seorang anak yang ia rasa adalah buah hatinya sendiri.
Diambilnya gawai dan segera menghubungi Hamdi. Bagaimanapun ketika ia mempunya masalah, hanyalah Hamdi yang bisa menyelesaikannya. Dan tanpa ia sadari, kini hidupnya bergantung pada Hamdi yang sudah sejak lama ia anggap sebagai kakaknya sendiri.
__ADS_1
Telpon berdering nyaring disaku celana Hamdi. Matanya yang masih sembab serta rasa sakit dihatinya yang masih teramat sangat membuatnya enggan mengangkat panggilan dari siapapun. Berulang kali telponnya berdering hingga membuatnya kesal dan menatap sebuah nama yang saat ini tertera diponselnya. Andi.
"Assalamualaikum Tuan. Maaf mengganggu, apakah tuan baik baik saja? saya sangat khwatir saat melihat anda digudang kemarin. Saya harap tuan segera pulih. Dan maaf juga saya belum bisa menjenguk tuan karena saya berada di kantor polisi untuk memberikan keterangan mengenai kasus kematian wanita yang menyelamatkan nyawa saya"
Deg.
Perkataan Andi sontak saja membuat Hamdi terdiam dan mencerna perkataan terakhir yang ia katakan. Wanita yang menyelamatkan nyawa Andi apakah dia adalah Nikita.
Dengan erat Hamdi menggenggam ponselnya dan menjawab pernyataan Andi dengan suara yang gemetar.
"Apakah wanita yang menyelamatkanmu beranama Nikita?"
Andi terdiam mendengarkan perkataan Hamdi yang penuh penekanan.
"Jawab cepat!"
Hamdi dengan mata merah menyala berteriak pada Andi dengan sangat kemcang sehingga membuat Nayla dan Zidan menoleh kearahnya.
"Setelah kau ambil kehormatan Siska kini kau ambil Nikita dariku hah! dasar ibli** ,set**n bagji**n kau! akan kubunuh kau sekarang juga"
Hamdi melemparkan ponsel berlogo buah itu kedinding rumah sakit, hingga membuat ponselnya hancur berkeping keping. Tak perduli lukanya yang belum kering, Hamdi berjalan dengan tergesa menuju luar rumah sakit untuk menemui Andi di kantor polisi.
Zidan dan Nayla yang berusaha mencegah Hamdi hanya bisa memperlambat pergerakan Hamdi saja. Sebab luka dikaki Zidan belum pulih total, membuatnya sedikit kesulitan untuk mencegah sahabatnya yang kini tengah terbakar emosi.
Beberapa perawat berlari mengejar Hamdi. Menangkap serta memegang erat tangan pemuda tersebut agar tak keluar dari rumah sakit. Hingga beberapa menit kemudian seorang perawat datang membawa sebuah suntikan berisikan obat bius dan menyuntikannya ke tubuh Hamdi.
"Lepaskan aku, aku akan bunuh orang yang sudah merenggut wanita yang aku sayangi! lepaskan !"
Teriakan Hamdi begitu terdengar pilu. Tak ada siapapun disana yang membiarkan Hamdi pergi dengan keadaan emosi seperti ini. Selain itu, kondisi Hamdi yang harus dipantau setelah melakukan oprasi kecil pengangkatan peluru, tak memungkinkan untuknya keluar dari rumah sakit secepat ini.
__ADS_1
Nayla yang sedih kemudian berjalan gontai bersama Zidan menuju tempat jenasah Nikita disimpan. Mereka terduduk lemas dibanku lorong rumah sakit berkecamuk dalam pikiran masing masing. Dering ponsel Zidan berbunyi sangat keras, membuatnya berpamitan pada Nayla sebab penelpon adalah klien bisnis yang ia rasa ini sangat penting.
Nayla menganggukan kepala dan berjalan meninggalkan Zidan sebentar untuk menerima telpon. Ia berjalan menghampiri salah seorang perawat yang kini tengah sibuk membereskan obat obatan yang berada di sebuah lemari besi kecil yang ia dorong.
"Maaf sus mau tanya"
Suster itu kemudian menoleh kearah Nayla dan tersenyum ramah kearahnya.
" Iya ada apa nyonya?"
"Saya kerabat dari almarhumah Nikita. Maaf apakah jenasah pasien bisa dimandikan oleh keluarga kami atau tidak? Dan jika bisa, lalu kapan jenasah akan diberikan pada kami sebab saya begitu ingin membalas semua jasa jasa yang beliau berikan pada keluarga kami?"
"Untuk itu saya tak tahu nyonya. Tapi saya hanya bisa mengatakan bahwa mungkin jenasah akan beberapa hari kedepan baru bisa diberikan, sebab pihak berwajib harus melakukan autopsi lebih lanjut pada jenasah karena beliau meninggal sebab kasus pembunuhan"
Nayla menghembuskan nafasnya dengan kasar. Teringat jelas saat saat menyenangkan baginya bersama Nikita selama ini. Cerita, cand a tawa serta kekuatan yang Nikita miliki berhasil membuat Nayla begitu kagum kepadanya. Hingga akhirnya ia teringat dengan sosok pria yang Nikita cintai. Apakah ia tahu bahwa pengagum serta orang yang selalu mencintai sosok pria misterius itu telah berpulang pada sang pencipta.
Nayla berpikir bahwa ia harus mengatakan semuanya pada pria itu karena bagaimanapun Nikita begitu mencintai pria itu dan setidaknya pria itu harus melihat proses pemakaman Nikita.
Nayla berjalan menuju Zidan setelah betpamitan pada suster. Ia berjalan kearah suaminya yang sudah selesai melakukan sambungan telpon dan segera meminta suaminya untuk pulang ke villa yang dulu mereka tempati.
"Mas sebaiknya kita pulang dulu untuk berganti pakaian, juga membawa pakaian untuk Hamdi. Selain itu aku juga ingin mencari sesuatu yang berkaitan dengan Nikita dan itu sangat penting"
"Memangnya apa itu Nay?"
"Kau pasti akan tahu saat nanti aku berhasil mendapatkan informasi lebih lanjut. Yang pastinya, Nikita sangat mencintai seorang pria dan aku pun tak tahu siapakah pria tersebut. Jangankan wajahnya, nama pun aku tahu. Setidaknya jika kita tahu pria itu, kita harus membawanya nanti di pemakaman Nikita agar dia melihat wanita yang selama ini selalu ia sia siakan telah tiada. Selain itu, aku juga ingin melihat Nikita bahagia karena kita mendatangkan pria yang ia cintai sebelum ia dikebumikan"
"Ya sudah Nay. Ayo kita pulang. Dan kita lakukan apa yang kau mau. Aku akan selalu bersamamu"
"Terimakasih mas"
__ADS_1