Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Persaingan


__ADS_3

Bel masuk sudah berbunyi. Nayla bergegas pamit untuk kembali keruang kantor mengambil buku serta menemui kepala sekolah.


"Mas, pak, saya duluan ya. Ini hari pertama saya mengajar, jadi saya ingin meminta dulu daftar siswa yang akan saya ajar kepada ibu kepala sekolah. Maka dari itu saya pamit. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" jawab Zidan dan Amar bersamaan.


Zidan berjalan disamping pria yang baru saja ia temui. Peci yang ia gunakan serta senyum yang selalu mengembang diwajahnya, membuat Zidan merasa takut bahwa kharisma serta ketampanan yang ia punya akan tersaingi.


"Emh, kau sudah berapa lama mengajar disini?" tanya Zidan yang langsung membuat Amar menoleh kesampingnya.


"Saya sudah mengajar disini cukup lama. Saya bekerja disini sehari sebelum Ibu Nayla keluar dari sekolah ini"


"Oh begitu. Jadi kau baru dua kali bertemu dengan Nayla?"


"Iya pak, saya baru dua kali bertemu dengan Bu Nayla. Satu kali waktu hari dimana saya masuk kesekolah ini dan mengantarnya pulang, serta untuk kedua kalinya ya hari ini. Mungkin juga seterusnya, sekarang saya bisa bertemu dengan Bu Nayla"


Zidan menatap tajam kearah Amar yang terlihat senyuk senyum sendiri.


"Kenapa kau tersenyum? apakah ada yang lucu?!" ucap Zidan ketus.


"Emh, saya hanya sedang mengingat kejadian dulu, dimana saat Bu Nayla akan saya antar pulang, sendalnya tertukar dengan Bu Asti selepas shalat dzuhur"


"Kenapa kau mengingat masa lalu. Ku tegaskannya, jangan pernah kau memikirkan Nayla apalagi membayangkan hal yang tidak tidak!"


"Astagfirullah pak, saya hanya mengingat kejadian lucu Bu Nayla saja. Lagi pula saya cuman sekedar teman sepekerjaan saja dengannya. Selain itu, maaf saya mau bertanya, bapak siapanya Bu Nayla?"


Zidan kelimpungan mencari jawaban yang tepat, hingga terlintas mengatakan bahwa dia adalah calon istrinya.


"Dia adalah calon istri saya"


"Oh baru calon istri toh. Kirain bapak adalah suaminya Bu Nayla. Kalau begitu In Sya Allah saya juga akan menjadi calon imamnya Bu Nayla" jawab Amar dengan tertawa.


"Jangan berani berani ya kamu merebut Nayla dariku! Dia pasti akan menikah denganku dan kau hanya akan menjadi tamu undangannya saja"


"Saya tidak akan mengambil Bu Nayla dari bapak. Jika dia jodoh saya, maka Allah akan mendekatkannya pada saya. Sekarang sudah jam saya mengajar, saya pamit dulu. Wassalamualaikum"


Amar berlalu pergi meninggalkan Zidan yang tengah melutup letup menahan amarah.


"Waalaikumsalam"


*******


Dikantor Nayla sedang merapihkan bukunya yang akan dipakai untuk mengajar anak anak yang menjadi tanggung jawabnya sekarang. Hingga Asti pun datang dan membantu Nayla merapihkan bukunya diatas meja.


"Bu Nayla yang cantik, biar saya bantu"

__ADS_1


"Makasih Bu Asti"


Tak lama ibu kepala sekolah datang menghampiri Nayla dan Asti yang sedang memasukan buku buku yang akan Nayla bawa keruang kelasnya.


"Bu Nayla, ini adalah pertemuan pertama anda dengan anak anak. Saya harap anda bisa sabar mengajar mereka dan bisa mendidik anak anak menjadi lebih baik. Selain kepintaran, akhlak yang baik juga harus bisa anda ajarkan pada anak anak tersebut"


"Iya bu baik. In Sya Allah saya akan mengajar pelajaran dengan serius dan akan mendidik anak anak agar menjadi anak yang sholeh serta sholehah"


"Ya sudah bu, ini daftar nama para siswa dikelas yang akan ibu ajar nanti. Jika ada yang ingin ibu sampaikan atau tanyakan silahkan"


"Terimaksih bu. Nanti setelah saya mengajar jika ada hal yang ingin saya tanyakan maka saya akan datang pada ibu kepala. Terimakasih banyak bu"


Senyum terukir diwajah cantik Nayla. Asti yang melihat Nayla hanya bisa memuji serta mengagumi kecantikan serta kepintaran yang Nayla miliki. Selain kecerdasan dan ilmu yang Nayla punya, sikap serta sopan santun yang Nayla dapat membuatnya menjadi pusat perhatian serta magnet orang orang disekolah ini pada hati pertamanya.


"Nay ngomong ngomong kamu pake skincare atau perawatan apa? kok muka kamu bisa putih bersih begitu sih?" tanya Asti ingin tahu.


"Bu Asti, nanti ya saya akan jawab serta akan jelaskan pada ibu saya pakai produk apa dan perawatan apa. Sekarang saya buru buru sudah saatnya saya masuk kelas. Nanti istirahat saya akan mendatangi ibu. Saya permisi dulu, Wassalamualaikum"


"Waalaikumsalam" jawab Asti dengan kesal.


Nayla berjalan terburu buru menuju ruang kelas. Terlihat ibu kepala sekolah tengah berbicara dengan anak anak dan membicarakan bahwa dirinya akan menjadi guru dikelas ini.


"Anak anak, itu Ibu Nayla nya sudah datang. Silahkan Bu Nayla masuk dan perkenalkan diri anda"


"Asik bu gurunya cantik!"


Nayla yang malu mendengar anak itu berteriak memujinya hanya bisa tersenyum. Sedangkan ibu kepala sekolah hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan anak kecil dihadapannya.


"Assalamualaikum anak anak"


"Waalaikumsalam"


"Perkenalkan nama ibu adalah Ibu Nayla Saraswati. Panggil saja Bu Nayla.Sekarang ibu akan mengajar dikelas ini dan menemani kalian belajar serta bermain. Ibu harap kalian senang dengan pelajaran yang ibu berikan nanti pada kalin. Jika ada yang mau bertanya silahkan"


Semua anak mulai tersenyum kearah Nayla. Mereka sangat senang karena saat ini kelas mereka diajar oleh guru baik seperti Nayla.


"Ibu saya mau tanya bu " teriak salah satu anak.


"Iya apa nak?"


"Saya mau tanya. Apakah ibu sudah memiliki bayi seperti ibu saya yang baru saja memiliki dedek bayi dirumah?"


Nayla tersenyum menimpali pertanyaan anak didepannya.


"Ibu belum punya bayi. Mungkin jika nanti ibu memiliki bayi, ibu akan mengajaknya kesini dan bermain serta belajar bersama kalian "

__ADS_1


Ibu kepala sekolah yang takut mendengar pertanyaan polos yang lebih privasi untuk Nayla segera mengalihkan pembicaraan anak anak.


"Sudah, sudah. Sekarang kan waktunya belajar, jadi sekarang bisa mulai belajar bersama Bu Nayla, dan kalian bisa bertanya hanya tentang materi yang sedang Ibu Nayla jelaskan. Jika kalian bertanya hal yang tidak ada kaitannya dengan pelajaran, maka kalian tidak boleh bertanya yang lainnya. Paham?"


"Paham bu" seru anak anak serempak.


Waktu berlalu, Nayla mulai mengabsen anak muridnya dan melakukan pembelajaran yang efektif bagi anak anak. Tak ada keributan ataupun kenakalan yang anak anak lakukan.


Hingga tiga jam berlalu, kini Nayla sudah selesai mengajar anak anak di kelas dua. Dan saat nya Nayla kembali ke kantor sebab anak anak sudah pulang karena peraturan disekolah ini, untuk anak anak kelas satu dan dua mereka hanya belajar sampai pukul 10.00 . Lain halnya dengan Asti yang terlihat sedang makan diruangan kantor, dia mengajar anak anak dikelas empat dan saat ini ia sedang beristirahat. Nayla datang dan mulai berjalan menuju mejanya.


"Bu Nayla gimana ngajarnya? berjalan efektif gak ? " tanya Asti pada Nayla yang sedang berjalan dihadapannya.


"Alhamdulillah bu. Anak anak baik baik dan nurut"


"Syukur deh kalo gitu. Oh iya, itu ada pria didepan yang sedang nungguin ibu. Dia duduk ditaman sama Pak Amar"


Nayla mengernyitkan kening. Dipikirannya ia sudah mampu menebak bahwa pria itu adalah Zidan.


"Benarkah bu? "


"Iya bu. Ngomong ngomong dia siapanya Bu Nayla?"


"Dia teman saya. Ya sudah kalau begitu, saya permisi dulu ya bu"


"Eh tunggu tunggu! jadi dia hanya teman Ibu? kalau begitu boleh dong kenalin sama saya. Saya juga ingin berteman sama dia. Syukur syukur bisa lebih dari teman"


Mata Nayla membulat sempurna kala mendengar perkataan Asti yang dengan santainya ingin berkenalan dengan Zidan. Hati Nayla merasa panas ketika mendengar bahwa ada wanita lain yang ingin dekat dengan Zidan.


"Iya, nanti saya kenalkan. Saya pamit. Wassalamualaikum" jawab Nayla dengan senyum terpaksa.


Asti adalah temannya saat dia dulu mengajar disekolah ini. Walaupun demikian, Asti sering sekali membuat Nayla menggelengkan kepala kala melihat kelakuannya yang sering bergonta ganti pasangan serta membicarakan keburukan orang lain.


*******


Ditaman, Zidan saat ini tengah berbicara dengan Amar yang senantiasa menimpali ucapan Zidan yang sudah tersulut emosi dengan perkataannya.


"Ku peringatkan pada anda, jangan pernah berniat mendekati Nayla apalagi bermimpi menjadi suaminya!" ucap Zidan penuh penekananan.


"Selagi Bu Nayla belum memiliki suami saya akan mencoba mengenalnya lebih jauh. Tak ada larangan dari orang tuanya ataupun dari Bu Nayla sebagai orang yang bersangkutan"


"Anda benar benar ya! anda tahu bahwa saya adalah calon suaminya dan tetap ingin merebutnya dariku!"


"Maaf ya pak. Selagi belum ada janur kuning melengkung dengan kertas bertuliskan Bu Nayla dan bapak, saya akan tetap berdoa dan berikhtiar untuk mendekatinya. Selain itu, bagaimana jika memang Bu Nayla memang jodoh saya? apakah bapak bisa mencegah kuasa Allah?"


Emosi Zidan sudah memuncak. Sedari tadi ia menahan emosinya dengan mengepalkan tangan dan menari nafas, sekarang dia mulai bangkit dan mulai pergi meninggalkan Amar.

__ADS_1


__ADS_2