
Darah di dalam diri Siska perlahan mulai terhisap melalui satu kantung yang telah di persiapkan pihak rumah sakit untuk menampung darah yang Siska donorkan untuk Jonathan.
Siska tak habis pikir dengan Kelakuan Rafa yang selama ini terlihat pendiam dan juga culun. Terlebih lagi dia dan Jonathan bahkan selalu saja membantu Rafa ketika dia menjadi bahan olok olokan teman sekelasnya.
.Siska terus menatap aliran darah yang mengalir masuk ke dalam kantung di atasnya seraya terus memikirkan kondisi Jonathan yang sebelumnya melemah akibat luka tusukan yang dilakukan oleh Rafa.
Hingga tak lama kemudian, ibu dari pria itu pun datang, masuk ke dalam ruangan tempat Siska mendonorkan darahnya yang kebetulan hanya di temani oleh suster yang sedang bertugas, sebab Zidan tengah membelikan jus untuk nanti Siska.
"ibu" ucap Siska dengan pelan.
Wajah angkuh dan juga masam terus saja wanita paruh baya itu tunjukan pada gadis cantik yang terbaring di atas kasur di hadapannya, tanpa mau mengukir senyum sedikitpun.
wanita itu mendekat ke arah Siska dan berdiri tepat di samping wanita itu tanpa memperdulikan suster yang sejak tadi mencoba mengusirnya untuk menunggu diluar ruangan.
"Ibu bisa tunggu diluar saja" ucap lembut suster muda yang tengah menangani Siska.
"Tidak! Saya mau disini! Ada hal yang ingin saya tanyakan pada gadis ini dan aa banyak hal yang saya ucapkan untuknya setelah melukai putra saya" jawabnya dengan ketus
"tapi maaf, dia sedang melakukan transfusi darah untuk putra ibu. Jadi sebaiknya anda berprilaku baik juga padanya" bela sang suster dengan nada selembut mungkin.
Tatapan nyalang ibu Jonathan berikan pada suster di hadapannya. Wanita paruh baya itu terus saja berkacak pinggang di dekat Siska tanpa memperdulikan rasa sakit yang Siska tahan sejak tadi.
__ADS_1
"biarkan dia disini sus. Dia ibu dari teman yang sudah menyelamatkan saya" jawab Siska dengan pelan.
"Bagus! ternyata kau sadar diri juga dan menganggap putra saya sebagai teman"
Siska mengerutkan kening mendengar perkataan dari ibunya Jonathan.
"maksud ibu apa? Saya tak paham"
Wanita itu terdengar menghela nafas kasar dan membuangnya begitu saja.
"apa kau terlalu malu untuk mengakui hubunganku dengan putra saya SISKA? Atau apa kamu masih belum berani mengatakan bahwa ini adalah pacar dari anak saya karena malu dengan status kamu sebagai janda? Iya"
Tiba tiba saja perkataan wanita itu mampu membuat Siska terdiam. Ia tak pernah kenal dengan ibunya Jonathan dan Siska pun yakin pasti Jonathan tak mengatakan masa lalunya pada ibunya tersebut.
."apa kau terkejut karena saya tahu bahwa wanita semuda kamu adalah janda? Iya? Wah wah wah Siska, Siska. Saya adalah orang berada dan tak mungkin saya menerima begitu saja wanita yang putra semata wayang saya sukai, tanpa menyelediki asl usul dirinya dan juga kehidupannya selama ini. Saya kaya dan saya akan cari tahu tentang setiap gadis yang dekat dengan putra saya, termasuk menjauhkannya dari wanita yang begajulan kaya kamu"
Siska yang sejak tadi diam dan menahan setiap ucapan sinis yang dilontarkan ibu dari temannya itu, mulai sedikit terpancing emosi disertai dengan panas hatinya.
"maaf anda tak bisa berkata hal demikian di hadapan umum"
"Hahahaha Siska apa kamu mau mengakui anakmu itu di hadapan umum? Apa kau ingin dilihat sebagai gadis remaja yang belum memiliki anak, padahal kebenarannya kau bahkan telah memiliki anak di usia yang dini seperti ini, dan terlebih lagi anak itu adalah hasil dari pemerk**Aan"
__ADS_1
Brak!!!
.
pintu tiba tiba saja di buka dengan keras oleh Zidan yang baru saja sampai di ruangan tersebut.
Zidan yang sejak tadi menguping pembicaraan yang dilontarkan ibunya Jonathan, lantas memasang wajah datar dan dinginnya. Serta mengepalkan tangan dengan wajah yang mulai memerah akibat menahan emosi.
"adik saya diam sejak tadi anda hina adalah karena dia menghormati anda yang sudah lanjut usia. Atau bisa di bilang TUA! Anda seharusnya bisa memikirkan kata kata yang pantas dan tak pantas anda katakan di hadapan orang lain. Terutama ditentang aib seseorang! Apa anda menghamburkan uang untuk membeli pendidikan dan bukannya mendapatkan pendidikan secara benar di sekolah Waktu dulu? Wah! Wah! Wah! Anda benar benar sangat kaya sehingga bisa menjadi saingan Bisnisku saat ini"
Wanita itu hanya diam mendengar apa yang Zidan ucapkan tepat di hadapannya. Ibu Jonathan tahu tentang pelecehan yang Siska alami sebab ia sengaja menyuruh orang untuk menyelidiki Siska sejak dulu. Jonathan setiap hari selalu saja pulang dengan keadaan senyum riang dan ceria sehingga membuat ibunya ikut bahagia dan penasaran dengan alasan dibalik kesenangan putranya.
Ibu Jonathan sengaja memancing sang putra berbincang dan mengatakan alasan dia terlihat sangat bahagia. hingga akhirnya dia pun tahu bahwa Jonathan sedang jatuh cinta dengan wanita yang bernama Siska.
.
Wanita itu tentu saja ikut bangga dan juga penasaran dengan sosok wanita yang mampu membuat putranya begitu berubah menjadi lebih baik. Ia sengaja menyewa seorang mata mata untuk mencari tahu tentang Siska, hingga akhirnya ia pun tahu bahwa Siska adalah wanita yang telah memiliki seorang putra, hasil dari pemer**Aan yang ia alami beberapa tahun silam.
Hal itu tentu saja membuat ibu dari Jonathan merasa ragu dan tak setuju dengan keinginan sang putra untuk menikahi Siska, walaupun Siska sendiri belum tahu bahwa Jonathan sangat mencintainya dan ingin menikahinya dengan cepat.
.
__ADS_1
Ibu Jonathan bahkan telah menyiapkan beberapa rencana agar bisa memisahkan Siska dari kehidupan Jonathan selamanya, walaupun ia harus merogoh kocek dalam untuk membuat wanita itu jauh dari Jonathan dan membuat putranya kembali menjadi pendiam dan juga pemurung.
"aku takan biarkan wanita mur**Han itu menjadi menantuku. Apalagi putranya yang tak jelas asal usulnya itu menjadi bagian dari keluargaku" batin ibu Jonathan dalam hati