Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Ditolak


__ADS_3

Nayla melangkah pergi menuju kamar mandi. Dibasuhnya tubuh dengan air yang mengalir yang membuat hatinya tenang. Wangi sabun menyeruak dikamarnya kala Nayla keluar dari kamar mandi.


Gamis berwarna kuning ia gunakan saat ini. Kulitnya yang putih membuat dirinya terlihat lebih bercahaya ketika memakai gamis ini.


Nayla tersenyum melihat dirinya di cermin yang sudah rapih menggunakan gamis dan hijab yang berwarna senada . Langkah kakinya kini tertuju pada teras rumah, dimana ada pria yang selama ini ia mimpikan dan selalu ada untuknya.


"Assalamualaikum" ucap Nayla pelan.


"Waalaikumsalam" jawab Zidan, Hamdi dan Siska serempak.


Mata Zidan tak berkedip kala melihat Nayla yang sangat mempesona sedang berdiri dihadapannya.


"Masyaallah cantik sekali Mbak Nay" ucap Siska takjub.


"Alhamdulillah"


"Iya cantik sekali kamu Nay" Zidan bangkit dan mulai menatap dalam dalam mata Nayla yang berada dihadapannya.


"Ekhem! "


Suara Ibu Asiyah sontak membuat Zidan kembali duduk dikursinya. Ia tahu bahwa kali ini matanya tak bisa lagi menahan pandangan dari Nayla yang sangat menawan.


"Bu apakah masih ada lauk pauk didalam kulkas? Nayla ingin masak dulu buat makan malam kita hari ini"


"Astagfirullah ibu lupa Nay, stok makanan didalam kulkas sudah habis. Sekarang bisakah kamu pergi dulu ke warung depan dan beli beberapa telur dan mie instan untuk makan malam anak anak. Sekalian beli juga untuk nak Hamdi, Siska dan Zidan ya!"


Nayla menganggukan kepala tanda mengerti. Namun saat Nayla akan pergi masuk kedalam rumah membawa uang, Zidan mencegatnya dan segera berlari menuju bagasi mobilnya.


"Ibu, Nay. Kali ini kalian gak usah masak. Aku lupa tadi tak memberitahu kalian, bahwa aku sudah membawa nasi box untuk makan malam anak anak dipanti dan untuk kita. Dan untuk stok makanan dikulkas, Ibu juga jangan khwatir saya akan suruh orang untuk membelikan semua bahan makanan selama seminggu"


"Jangan seperti itu nak! ibu malu. Nak Zidan gak perku repot repot seperti ini. Biarkan nanti ibu sama Nayla pergi belanja sendiri. Ini sudah kewajiban ibu memberikan keperluan serta kebutuhan anak anak dipanti"


"Tak papa bu, Zidan ikhlas. Itung itung saya memberikan sebagian harta saya untuk anak anak disini. Itu juga merupakan kewajiban saya kan untuk menolong anak anak yatim piatu yang membutuhkan makanan"


"Terimakasih banyak nak, sudah membantu ibu dan Nayla. Semoga kamu dan keluargamu selalu dalam lindungan Allah serta semua impianmu cepat terwujud"


Ibu Aisyah memegang tangan Zidan seraya mengucapkan terimaksih. Nayla yang ikut terharu dengan kebaikan hati Zidan hanya bisa menatap kagum pada pria baik hati dihadapannya.


"Amiin "


*****


Waktu makan malam telah tiba. Anak anak dengan suka cita menerima bingkisan berisi nasi kotak yang satu persatu dibagiakan Zidan dan Siska.


"Terimaksih Om Zidan, Tante Siska" ucap anak anak serempak.


"Om Hamdi gak disebut" rengek Hamdi kesal seraya pura pura menangis.


Zidan menepuk pundak sahabatnya dan tersenyum kearah Ibu Aisyah. Ibu Aisyah pun mengedipkan mata kearah anak anak untuk mengucapkan terimakasih juga pada Hamdi.


"Terimaksih juga Om Hamdi" teriak anak anak seraya tertawa melihat Hamdi yang mulai bertingkah.


Nayla tersenyum melihat anak anak yang selalu ceria dan tertawa ketika sedang bersama Zidan. Nayla paham benar, bahwa sekarang Zidan merupakan salah satu sumber kebahagiaan bagi mereka. Hingga dilubuk hatinya yang paling dalam ia sudah memantapkan hati, bahwa ia akan memilih Zidan sebagai calon imamnya kelak.


Semua anak anak mulai menundukan kepala dan menengadahkan tangan berdoa. Doa makan yang kali ini dipimpin oleh Zidan berjalan sangat khidmat. Hingga saat doa telah selesai, akhirnya anak anak mulai menyuapkan nasi serta lauk pauk kedalam mulut mereka.


Ibu Aisyah sangat terharu melihat anak anak yatim piatu dihadapannya kini sering memakan makanan lezat yang selalu Zidan bawa. Walaupun banyak sekali profosal yang beberapa orang minta atas nama panti asuhan Bunda Aisyah, namun uang donasi yang benar benar Ibu Aisyah tak mampu memenuhi kebutuhan anak anak didalam panti yang jumlah anak serta kebutuhan mereka sangatlah banyak. Dari mulai makan, serta biaya sekolahnya. Yang pasti Ibu Aisyah selalu ikhlas memberikan yang terbaik untuk mereka dan juga selalu bersyukur dengan uang yang ia dapatkan dari orang yang menyelenggarakan penggalangan dana dari donatur.


Walaupun banyak orang yang hanya mengada ngada mengatas namakan panti asuhannya hanya untuk mendapatkan uang dari donatur yang baik hati, untuk kepentingan mereka pribadi. Karena Ibu Aisyah dulu pernah ditipu oleh beberapa orang yang mengatas namakan panti asuhannya dan membuka penggalangan dana untuk anak anak yatim piatu ditempatnya di media sosial, yang kemudian ternyata uang yang didapatkan dari donatur itu malah dibawa kabur dan tak ada sedikitpun dana yang ia dapatkan untuk anak anak.


Yang jelas, Ibu Aisyah juga telah mengajukan kasus itu untuk diusut agar oknum tersebut mendapatkan hukuman dan anak anak dipanti mendapatkan keadilan. Namun sampai sekarang orang tersebut belum juga tertangkap dan kasus yang dulu ia ajukan tak pernah diusut tuntas.


*****

__ADS_1


Adzan magrib telah berkumandang. Saat ini Hamdi, Siska, Ibu Aisyah dan Nayla sedang bersiap siap untuk pergi kemasjid melaksanakan shalat magrib berjamaah. Siska yang berjalan diapit oleh Nayla dan Ibu Aisyah sangat senang ketika bayi didalam perutnya terus saja terasa bergerak.


"Mbak Nay, Bu Aisyah. Coba pegang perutku bergerak gerak, bayiku sangat senang pergi kemasjid" ucap Siska senang.


Nayla dan Ibu Aisyah segera memegang perut Siska, dan benar saja, bayi didalam perut Siska sangat aktif menendang dan bergerak gerak didalam sana.


"Alhamdulillah bayi kamu mungkin senang bisa diajak pergi kemasjid. Semoga saja anakmu nanti menjadi anak yang sholeh ya Sis. Amiin"


"Amiin mbak"


Hamdi yang mendengarkan percakapan antara Siska dan Nayla mulai berjalan dan menghadang Siska. Hingga saat ia akan mencoba memegang perut Siska, sejurus kemudian Ibu Aisyah memukul tangan Hamdi dengan kantung mukena yang Ibu Aisyah pegang lumayan keras.


"Gak boleh pegang pegang nak! belum mukhrim"


"Aku lupa bu" ucap Hamdi seraya tertawa.


Zidan mendekat kearah Hamdi dan mulai berbisik ditelinganya.


"Rasain kamu Ham!"


*****


Malam kian beranjak. Siska, Zidan dan Hamdi mulai pamit untuk pulang karena kondisi Siska yang sedang hamil besar tak baik jika terus terkena angin malam.


"Ibu Aisyah, Nayla, kami pamit pulang dulu ya sudah malam."


"Iya nak, kasihan Siska yang sedang hamil besar jika harus pulang kemalaman. Hati hati dijalannya, titip salam untuk ibu kalian. Kapan kapan ajak main kesini ya" ucap Ibu Aisyah seraya tersenyum.


"Iya bu nanti saya sampaikan. Terimakasih untuk hari ini ya bu, Mbak Nay. Siska sangat senang hari ini. Kami pamit ya, Waasalamualaikum"


Siska berjalan kearah Ibu Aisyah dan Nayla kemudian memeluk serta mencium punggung tangan mantan kakak iparnya yang sekarang sudah ia anggap kakak sendiri. Tak terkecuali Ibu Aisyah, yang kini juga sudah Siska anggap sebagai ibu sendiri.


Zidan dan Hamdi mulai bangkit dari kursi dan mulai berpamitan pada Ibu Aisyah. Hingga saat ketiganya mulai melambaikan tangan dari dalam mobil, Ibu Aisyah merangkul pundak Nayla dan tersenyum kearah mereka.


Hari ini adalah hari ulang tahun yang sangat berarti dihidup Nayla sebab dapat merasakan kebahagiaan dari orang orang yang tulus menyayanginya serta sangat tulus memberikan kebahagiaan untuknya.


"Bu, Nayla sudah putuskan bahwa Nayla akan memilih Zidan sebagai pasangan hidup Nayla" Pipi Nayla bersemu merah menahan rasa malu dihatinya kala mengatakan itu pada Ibu Aisyah.


"Alhamdulillah Nay. Kamu sudah mantap memilih nak Zidan sebagai suamimu?"


"Iya bu, Nayla sudah yakin" jawab Nayla menunduk.


"Kalau begitu kau laksanakanlah shalat istikharah malam ini. Mintalah petunjuk pada Allah mengenai kemantapan hatimu yang telah memilih Zidan sebagai calon imammu"


"Iya bu, Nayla akan lakukan"


Ibu Aisyah mendekat kearah putrinya. Dipeluknya tubuh Nayla dengan erat seraya mulai mencium kening anak perempuannya yang kini sudah semakin dewasa dengan pemikirannya.


Tengah malam, Nayla terbangun dan melaksanakan shalat sunat istikharah meminta petunjuk pada Allah akan pilihannya yang telah mantap memilih Zidan sebagai pendampingnya. Ia bersimpuh dan berdoa kepada sang pencipta alam semesta agar diberikan petunjuk mengenai keputusannya memilih Zidan.


Sajadah dan mukena yang Nayla pakai kini dilipat rapih dan dimasukan kembali kedalam lemari. Kini ia mulai membaringkan tubuhnya diatas kasur empuk sederhana dan mulai menengadahkan tangan serta berdoa agar Allah senantiasa menjaganya dalam mimpi indahnya.


...Bismillahirrahmanirrahim...


...بِسْمِكَ اللّهُمَّ اَحْيَا وَ بِسْمِكَ اَمُوْتُ...


...“Bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut.”...


...Artinya: “Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup, dan dengan nama-Mu aku mati.” (HR. Bukhari dan Muslim)....


Matanya mulai terlelap hingga akhirnya Nayla pun masuk kedalam mimpi indahnya.


****

__ADS_1


Keesokan paginya, seperti biasa Nayla berpamitan kepada Ibu Aisyah dan mencium punggung tangan ibunya dengan takzim.


"Bu, Nayla pamit dulu ya. Assalamualaiku"


"Waalaikumsalam Nay, hati hati"


Nayla tersenyum manis kearah sang ibu dan bergegas menjalankan sepeda motornya menuju sekolah tempat ia mengajar. Kali ini jalanan sedikit lenggang hingga tak butuh banyak waktu, Nayla akhirnya telah tiba di halaman sekolah.


Nayla berjalan menuju kantor dan mendapati Asti yang sedang tertunduk berdiri diantara para guru dan kepala sekolah.


"Assalamualaikum" ucap Nayla sontak membuat para guru menatap kearahnya.


"Gara gara kamu aku harus kena hukuman diberhentikan mengajar sementara Nay!" teriak Asti membuat Nayla kaget seketika.


"Ma...maksud kamu apa?"


"Jangan so polos deh kamu! kukira kau itu baik Nay. Ternyata kau itu busuk !"


Amar yang geram melihat Asti, kemudian mendekat kerahnya.


"Jaga bicaramu Bu Asti! ini lingkungan sekolah, jangan sampai orang tua murid tahu kelakuan anda yang sangat memalukan ini!"


"oh jadi kamu juga belain dia Mar?! kukira kau akan membelaku. Semua ini gara gara wanita so hebat ini! kau tega fitnah aku yang ambil hadiah sampah milikmu itu!"


"Maaf ya Bu Asti yang terhormat! selama ini saya diam atas semua omongan yang keluar dari mulut anda! saya tak pernah memfitnah anda. Justru anda sendiri yang melakukan kesalahan tapi tak mau mengakui. Sebegitu malunya kah anda bu? sampai tak mau mengakui kesalahan yang telah diperbuat dan malah memutar balikan faktanya" jawab Nayla geram.


Ibu kepala sekolah mulai berjalan kearah Asti dan mulai berdiri disamping Nayla.


"Bu Asti, apakah anda lupa bahwa disekolah kita ini sekarang memiliki kamera pengawas? rekaman cctv sudah menampilkan kelakuan tak terpuji anda pada hadiah milik Bu Nayla kemarin. Saya hanya memberi teguran dan sankksi ringan pada anda, tapi justru anda masih tetap tak mau mengakui kesalahan padahal bukti sudah ada tepat didepan mata ibu! Saya hanya ingin anda merenungkan kesalahan yang telah anda perbuat dengan cara menegur anda diruangan tertutup agar anda tak merasa malu. Tapi kelakuan anda yang berkoar koar dan berteriak mengenai masalah ini, justru membuat diri anda terlihat lebih salah dan memalukan"


"Kalian sudah tertipu dengan kepolosan wanita dihadapan kalian! Kamu sudah membuat saya malu Nay!"


"Kamu sendiri yang sudah mempermalukan diri sendiri. Aku tak melakukan apapun Bu As. Kenapa anda jadi seperti ini?"


"Aku muak sama kamu Nay! dulu sebelum kau keluar dari sekolah ini, aku selalu mendapatkan pujian dari semua guru dan kau tahu itu snagat berarti bagiku. Hingga kau sudah kuanggap seperti adikku sendiri Nay karena kau selalu ada untukku dikaala kegagalan sedang melandaku. Dan sekarang saat kau masuk kembali kesini, kau malah mencari muka dan haus pujian dari semua orang. Harusnya aku yang mebdapatkan semua hadiah serta kejutan yang semua orang berikan untukmu. Aku tak pernah mendapatkan sambutan dari semua guru dan anak anak saat kau kembali kesini. Aku sudah berusaha sebaik mungkin agar dapat diterima sebagai bagian di instansi ini Nay, tapi nyatanya nol besar! mereka tak pernah menganggapku ada dan tak pernah memuji prestasiku sedikitpun sstelah kau ada. Dengan masuknya lagi kau kedalam lingkungan sekolah ini sungguh membuatku bahagia pada awalnya. Tapi ketika kau mendapatkan apa yang selama ini aku dapatkan, justru aku merasa muak dengan kehadiranmu yang selalu dijadikan panutan dan diagungkan semua orang disini!"


"Seharusnya anda merasa malu dan introfeksi diri Bu Asti. Kami hanya menegur ibu secara baik baik dan hanya ingin mengetahui alasan ibu melakukan hal itu pada Bu Nayla"


Nayla menarik nafas dengan kasar. Teringat saat saat dulu ia mengajar bersama Asti disekolah ini. Canda tawa mereka lakukan bersama. Tak ada sedikitpun rasa iri di hati Nayla kala dulu Asti sering me dapatkan pujian dari guru guru disekolah ini. Bagi Nayla, Asti adalah guru yang baik dan pintar. Hingga membuat Nayla termotivasi untuk menjadi lebih giat lagi belajar dan menjadi pintar seperti Asti.


Akhirnya Asti pergi berlalu meninggalkan semua orang yang tengah menatapnya. Semua guru disana beserta ibu kepala sekolah sadar, bahwa memang setelah kehadiran Nayla disana, Asti banyak sekali berubah.


Pukul 07.00, saat nya pembelajaran dimulai. Nayla pergi berlalu menuju kelas tempat ia mengajar dengan perasaan yang kacau dan merasa bersalah kepada Asti.


Hingga saat bel pulang, Nayla sengaja menemui Amar agar ia menyampaikan permintaan maaf dari Nayla, karena letak rumah Amar bersebelahan dengan rumah Asti.


"Pak Amar!"


"Iya Bu Nay"


"Maaf pak saya mau titip pesan untuk Ibu Asti. Jika nanti bapak bertemu dengan dia, tolong sampaikan permintaan maaf dari saya karena akibat kejadian tadi, Bu Asti harus behenti mengajar sementara"


Amar menarik nafas dan tersenyum kearah Nayla.


"Seharusnya dia yang meminta maaf pada ibu, bukannya sebaliknya. Tapi ya sudahlah, nanti saya akan sampaikan pada dia. Emh ngomong ngomong, mengenai lamaranku tempo lalu apakah sudah ada jawabannya Nay?"


Mata Nayla membulat sempurna. Sebab Amar pun sadar bahwa Nayla memang tak akan memilihnya.


"Maafkan saya pak, saya tak bisa menerima lamaran bapak. Sekali lagi maafkan saya" ucap Nayla menunduk.


"Sudah kuduga Bu. Kalau begitu jika memang ibu tak menerima lamaran saya, bisakah ibu menerima pertemanan dari saya"


Nayla mengangkat wajahnya dan tersenyum kearah Amar.

__ADS_1


"Ya tentu pak. Sejak saya bertemu dengan anda, dan anda sering ke panti, disitu ssya sudah menganggap bapak sebagai teman saya sendiri. Terimkasih pak"


Amar tersenyum menyembunyikan kekecewaan dihatinya. Ada perasaan sedih yang mendalam dihatinya karena penolakan dari Nayla. Namun ia sadar, perasaan cinta dan hubungan pernikahan tak bisa dipaksakan. Hingga akhirnya ia harus menerima keputusan Nayla dengan lapang dada.


__ADS_2