
Hari ini adalah hari yang melelahkan bagi Zidan dan Nayla. Baru satu hari dirinya menyandang status sebagai pengantin baru, namun mereka kini harus banyak menghabiskan waktu di rumah sakit menjaga Siska yang baru saja melahirkan.
Hati Nayla dan Zidan tak pernah merasakan kesal sedikitpun karena waktu mereka harus terganggu. Bagi mereka keluarga sangatlah berharga dibandingkan apapun. Apalagi mengingat kalau Siska kini menjadi seorang ibu di usinya yang masih muda.
Saat ini Siska masih belum sadarkan diri akibat pemdarahan yang terjadi sebelum oprasi cesar berlangsung. Bayi yang berjenis kelamin laki laki kini berada di ruangan NICU untuk mendapatkan perawatan serta pantauan secara berkala oleh dokter.
Detak jantungnya yang lemah serta nafasnya yang belum stabil karena terlahir prematur, membuatnya kini berada didalam inkubator dengan berbagai macam selang terpasang dibadannya.
Air mata Nayla mengalir kala melihat malaikat kecil itu kini terlelap dengan nyenyak dengan banyak alat yang terpasang dibadannya. Zidan yang melihat air mata sang istri jatuh, segera memeluknya dan menenangkannya.
"Kasihan sekali mas, bayinya Siska harus terpasang banyak alat ditubuhnya yang masih kecil"
"Iya Nay aku tahu. Mau bagaimana lagi, ini sudah takdir dari Allah dan kita harus menerima kondisinya dengan ikhlas dan sabar. Ini juga merupakan ujian bagi kita agar senantiasa bertawakal menghadapi semuanya"
Nayla menghapus air matanya dan mulai mengusap jendela ruangan tempat bayi Siska dirawat.
"Kamu sehat sehat ya sayang. Cepat sembuh biar kita bisa main bersama"
******
Tawa yang pagi tadi terpancar kini berubah dengan kesedihan di setiap anggota keluarga. Belum hilang keterkejutan mereka dengan kehadiran ayah secara tiba tiba, kini harus dihadapkan dengan keadaan Siska yang melahirkan secara tiba tiba.
Siska sudah dipindahkan ke ruangan inap biasa dan sekarang boleh di dampingi oleh siapapun termasuk Hamdi. Ibu saat ini tengah mencium tangan Siska yang masih belum sadarkan diri. Sesekali ia mengusap lembut pucuk kepala putrinya dan mencium kening sang putri dengan pelan berharap sang putri bisa segera tersadar.
"Maafkan saya bu karena saya datang terlambat" ucap Hamdi dengan pelan.
"Tak apa nak. Ibu tahu kau mendapatkan kabar ini secara tiba tiba. Ibu mohon jika kau tulus menyayangi Siska, maka sayangi juga anaknya karena ia tak bersalah nak"
Hamdi menatap sendu Ibu Widya dihadapannya. Hingga akhirnya ia pun mengangguk menjawab perkataan calon ibu mertuanya.
"Tentu bu, aku akan menyayanginya seperti anakku sendiri"
__ADS_1
"Jadi kau akan menikahi anakku?!" ucap Ayah mengejutkan Hamdi dan ibu.
Ayah yang baru saja datang setelah pergi ke kamar mandi langsung memotong perkataan Hamdi dengan ucapan yang penuh penekanan.
"Ya, dia menyayangi putriku dan akan menikahinya! kau takan pernah tahu apapun tentang putrimu karena kau sibuk mengurusi harta yang selama ini kau puja puja"
"Aku tahu benar putriku. Dan kau, kau kan bilang hanya temannya Siska, lalu bagaimana mungkin kau mau menikahi putriku? apa yang kau punya untuk bisa bersanding dengan putriku?!"
Lagi lagi ayah hanya membicarakan tentang harta yang dimiliki Hamdi.
"Maaf om saya hanya orang biasa. Saya hanya memiliki binis properti dan beberapa tanah di pinggir ibu kota serta hanya memiliki dua mobil diapartemen saya. Untuk menikahi Siska saya hanya bisa menjadikan cafe di berada di tiga cabang sebagai mahar untuknya"
Sketika ucapan Hamdi dapat membuat mulut ayah menganga tak percaya. Ternyata pria yang sejak tadi ia pikir hanya karyawan Zidan, memiliki banyak bisnis dan harta yang berlimpah.
"Kau tak bohong kan ?"
"Untuk apa saya bohong pak? saya benar benar memiliki banyak aset kekayaan yang selama ini saya rawat sendiri. Orang tua saya sudah lama meninggal dan saya hanya hidup sendiri. Saya harap bapak bisa merestui hubungan saya dan Siska, dan membiarkan kami menikah"
Ayah terdiam sejenak memikirkan harta yang dimiliki Hamdi bisa ia miliki juga kedepannya. Dalam pikirannya hanya ada dengan uang serta kekayaan yang selama ini ia butuhkan dari Zidan. Sekarang dengan adanya Hamdi yang akan menjadi menantunya, tentu membuatnya merasa senang karena dapat juga merasakan semua aset yang akan dimiliki Siska nantinya.
"Syarat apa itu pak?"
"Saya ingin salah satu restoran yang akan dijadikan mahar untuk Siska diberikan pada saya dan atas nama saya. Jadi hanya dua saja restoran yang akan dijadikan mahar untuknya nanti"
"Kau itu dasar pria serakah! pria tamak! kau mat*i takan membawa harta sedikitpun!" teriak Ibu Widya geram.
"Ibu bicaranya pelan pelan, Siska masih belum sadar, jangan sampai menganggunya bu. Saya setuju dan akan memberikan salah satu cafe atas nama ayahnya Siska bu. Saya tak keberatan." ucap Zidan mengingatkan.
Ibu Widya menatap nyalang pada suaminya dan menghembuskan nafas dengan kasar. Hamdi yang tersenyum penuh arti dalam setiap perkataannya sebenarnya sudah memiliki rencana yang ia siapkan untuk ayah dari sang pujaan hati.
"Ya sudah saya mau pulang dulu. Titip salam untuk putriku tercinta. Katakan bahwa ayahnya datang"
__ADS_1
Ayah mulai mendekat ke arah Siska dan mencium kening putringa dengan pelan. Tak ada jawaban dari Hamdi dan ibu atas perkataan ayah.
"Jaga dia dengan baik selagi aku tak ada. Nanti aku kesini lagi untuk melihat putriku menikah dan memberikan surat cinta dari hakim untukku istri durhaka!"
Ayah pergi berlalu dengan langkah kakinya yang santai. Ibu menatap pilu kepergian suaminya yang selama ini selalu bersamanya dikala suka dan duka.
Kehadiran Clara di keluarganya benar benar seperti ular yang mematikan semua kebahagiaan yang sejak dulu terbina didalam rumah tangganya. Sikap suaminya yang penyayang serta kelembutan yang dimilikinya kini berubah dengan sikap kasar dan acuh padanya.
Ada penyesalan yang terdalam di hati Ibu Widya karena telah membiarkan benalu tumbuh didalam keluarganya sehingga bisa membuat kehidupannya luluh lantah bak diterjang badai. Hatinya berdenyut nyeri kala mendengar bahwa sebentar lagi dirinya akan menyandang status sebagai seorang janda.
"Ibu gak papa kan?" tanya Hamdi dengan iba.
"Ibu gak papa nak. Ibu sudah muak dengan ketidak jelasan rumah tangga ibu, dan juga sudah muak dengan pria bangka tamak itu. Biarkan perceraian ini berjalan. Maaf karena kamu mendengarkan apa yang seharusnya tak kau denagrkan"
Hamdi berjalan ke arah Ibu Widya dan mulai mengusap tangan ibu.
"Ibu yang sabar ya. In Sya Allah, Allah sudah menyiapkan rencana yang baik untuk kehidupan ibu kedepannya"
"Amin"
Tak lama pintu ruangan perlahan terbuka, menampilkan Nayla dan Zidan yang menatap keduanya dengan heran.
"Ini ada apa bu, Ham?" tanya Nayla dengan heran.
"Gak papa Nay. Nak Hamdi hanya sedang meminta restu pada ibu"
"Oh begitu ya bu. Tapi apakah dia juga sudah meminta restu pada ayah?"
Ibu Widya seketika diam. Ia tak mampu menyembunyikan semuanya sekarang.
"Ia Nay, Hamdi sudah memibta restu padanya. Hanya saja mahar yang nanti diberikan pada Siska salah satunya akan diberikan pada pria tamak itu, karena itu salah satu syaratnya jika Hamdi ingin menikahi Siska. Selain itu ia juga memiliki kejutan indah untuk ibu yaitu perceraian"
__ADS_1
Nayla dan Zidan membulatkan mata tanda tak percaya. Bagaimana mungkin ayah yang baru saja tiba kini meminta salah satu harta dari Hamdi dan mengajukan perceraian pada ibu secara mendadak.
"Dasar pria tak waras!" umpat Zidan kesal.