Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Panik


__ADS_3

Zidan segera bangkit dan berjalan menuju Nayla yang saat ini terkulai lemas di atas lantai. Siska yang tengah makan bersama Ibu Widya pun segera menghentikan aktivitasnya dan memilih membantu Nayla yang saat ini tak sadarkan diri dengan wajah yang pucat.


Dengan sigap Zidan menggendong tubuh Nayla ke atas sofa dan menidurkannya. Hingga akhirnya ia pun sadar bahwa ada cairan merah yang merembes dari balik gamis bagian bawah Nayla.


"Darah!" ucap Siska dengan panik.


Bu Widya menutup mulut dan terlihat begitu terkejut. Zidan yang menatap sedikit darah di bagian tangannya pun tampak syok dan bergetar. Kejadian beberapa tahun lalu kembali terjadi pada Nayla. Kali ini Zidan benar benar sangat takut dan khawatir jika sampai hal buruk akan menimpa Nayla dan calon bayi di dalam rahim Nayla.


"Kita harus bawa dia kerumah sakit" Zidan segera membawa tubuh Nayla masuk kedalam mobil dengan bantuan Siska dan Ibu Widya.


"Aku pergi dulu" Zidan pun perlahan masuk ke dalam mobil dan menutup pintu tersebut dengan begitu keras.


"Aku nanti akan menyusul mas" Siska menatap mobil Zidan yang kian menjauh dari pandangannya..


Ia tampak begitu panik dan segera berjalan menuju kamarnya untuk melihat putranya yang masih terlelap. Sampai saat Siska akan membangunkan putranya, dengan sentuhan lembut Ibu Widya menahan tangan Siska dan menggelengkan kepala dengan pelan.


"Kau diam saja dirumah. Ibu yang akan ke rumah sakit menjaga Nayla. Ibu harap kau jaga Cleo dengan baik. Ibu akan pergi kesana untuk melihat kondisinya"


"Tapi aku juga ingin ikut bu" rengek Siska dengan sendu.


"Ini keadaan darurat Siska. Ibu harap kamu mengerti. Lihatlah Cleo yang masih kecil dan baru saja tertidur. Ibu takut ada apa apa dengan cucu ibu. Dia terlihat kelelahan dan tak baik jika bayi sering di bawa kemana mana. Nanti ibu akan kirim pesan mengenai kondisi Nayla jika sudah sampai di sana. Doa kan saja semoga Nayla dan bayinya baik baik saja. Ibu pamit dulu"


Bu Widya pergi berlalu meninggalkan Siska yang masih menatap punggung ibunya sampai menghilang di balik pintu. Siska yang masih merasa khawatir bahkan tak bisa diam dengan tenang sebab pikirannya saat ini berkelana memikirkan Nayla.

__ADS_1


Rasa benci di hatinya dulu kini berubah menjadi rasa sayang. Siska benar benar sudah menganggap bahwa Nayla adalah akaknya sendiri sebab kebaikan Nayla sudah sangat banyak untuknya. Keadilan dan kebaikan yang Nayla tunjukan berhasil membuat Siska luluh dan menjadikan Nayla sebagai panutannya.


Ibu Widya berjalan meninggalkan rumahnya dan pergi menuju alamat rumah sakit yang Zidan kirimkan melalui pesan.


Saat ini Nayla segera di tangani oleh seorang dokter.serta beberapa perawat yang segera memberikan sebuah alat pernafasan untuk membantu Nayla bernafas.


Dokter terlihat sangat sibuk dengan Nayla yang saat ini masih dalam keadaan tidak sadar. Zidan bahkan bertahan menatap istrinya dari balik kaca jendela dengan keadaan cemas.


Hingga tak lama kemudian, terlihat sang dokter berjalan keluar dan langsung di hampiei oleh Zidan yang tampak panik.


"Ada apa dengan istri saya dok? Istri saya baik baik saja kan? anak saya tidak papa kan dok? Kenapa Nayla belum sadarkan diri dok?"


Dokter terlihat memegang tangan Zidan dan mencoba menenangkannya. Kali ini dokter terlihat sedikit lega karena telah memeriksa kondisi Nayla.


"Tunggu dok!"


Dokter tersebut kembali menatap Zidan yang masih berdiri di ambang pintu.


"Jadi Nayla dan bayi saya baik baik saja kan?"


"Alhamduliah bayi di dalam kandungan serta ibunya baik baik saja. Anda bisa masuk dan melihat kondisinya"


Seketika wajah Zidan tampak berseri. Dengan senangnya dia kemudian berjalan menuju ruangan tempat Nayla sedang di rawat dan menggenggam tangan Nayla dengan sangat erat. Zidan menge*up lembut kening disaat Nayla masih menutup matanya.

__ADS_1


"Kau kuat Nay. Kau pasti akan sembuh dan baik baik saja" Zidan mengec*p tangan Nayla yang perlahan lahan mulai terasa hangat.


" Maafkan aku karena selama ini selalu membuatmu kesal dan tak pernah membantu pekerjaanmu di rumah. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku di kantor sampai sampai tak tahu jika kondisi kandunganmu sangaah lemah. Maafkan aku Nay" Zidan meneteskan air matanya hingga membasahi tangan Nayla.


Namun, sentuhan dari wanita di depannya, berhasil membuat Zidan terkejut dan seketika menatap istrinya yang mulai sadarkan diri. Nayla terlihat tersenyum dan menghapus air mata di pipi Zidan.


"Kau sudah bangun Nay" ucap Zidan dengan bahagia.


Nayla menganggukan kepala dan tersenyum ke arah suaminya.


"Kau jangan pikirkan bayi kita. Bayi kita masih ada di dalam perutmu dan dia baik baik saja. Kua harus jaga kesehatanmu dan jangan pernah lakukan ini lagi padaku. Kau tahu aku sangat menghawatirkanmu. Aku sangat cinta kanu Nay. Aku tak bisa melihat kau seperti ini. Aku janji, mulai sekarang akan selalu menjaga serta membantu pekerjaanmu di rumah"


Zidan bersemangat mengatakan semua janjinya kepada Nayla. Tanpa ia sadari bahwa saat ini ada seseorang tengah berusaha mendekati Siska yang sedang sendirian di dalam rumahnya bersama Cleo.


Ibu widya yang sejak tadi meninggalkan Siska pun kini sudah sampai di depan lobi rumah sakit. Namun, Siska yang tengah bersama Cleo di ruang tamu tampak terkejut ketika melihat seirang pria berpakaian serba hitam tengah berdiri di depan rumahnya. Pria itu tersenyum me arah Siska hingga membuat wanita itu memeluk erat sang bayi di dalam pelukannya dan segera berlari menuju kamarnya dan menguci pintu kamarnya dari dalam.


Pria yang saat ini berada di dalam rumah Siska berjalan dengan santai masuk kedalam rumahnya dan mulai mengetuk ngetuk pintu kamar Siska dengan sedikit keras. Cleo yang tengah berada di pangkuan Siska pun menangis dengan keras hingga membuat Siska semakin panik dan segera mencari ponselnya yang berada di dalam kamar.


Beberapa kali knop pintu kamar Siska terlihat bergetar hingga membuat Siska bertambah panik dan ketakutan. Hingga saat Siska mulai menemukan ponselnya, ia pun dengan segera menelpon Zidan dan Ibu Widya namun tak kunjung diangkat oleh keduanya. Sampai saat dirasa tak ada pilihan lain. Siska pun segera menekan nomor ponsel Hamdi dan akhornya diangkat.


"Hallo, in...ini ak..aku Siska. Ak...aku mohon tolong aku. Ada orang misterius sedang berada diluar kamarku. Ibu dan Mas Zidan sedang berada di rumah sakit mengecek kondisi Mbak Nayla. Aku disini hanya berdua dengan Cleo. Kumohon tolong aku"


Hamdi yang mendengar ucapan Siska pun tampak panik dan segera masuk kembali kedalam mobilnya. Hamdi yang baru saja sampai di halaman kantornya langsung pergi tancap gas menuju rumah Siska tanpa menatikan telponnya.

__ADS_1


__ADS_2