
Siang telah datang. Mentari menyinari dengan cerah dunia ini. Tanpa lelah dan tanpa rasa kesal, Zidan setia menunggu Nayla di bangku taman sekolah ini.
Jauh dilubuk hatinya yang paling dalam, Zidan tak henti hentinya mengucap syukur pada Allah karena telah diberikan pengganti Arumi seperti Nayla. Walaupun demikian ada perasaan tak enak juga dihatinya kala nanti Bian mengetahui mantan istrinya sekarang menjadi calon kakak iparnya sendiri.
Mungkin ini sudah takdir yang harus di jalani oleh seorang Muhammad Zidaini Atmaja. Diusianya yang masih kecil ia harus kehilangan kedua orang tua kandungnya serta saat ia akan melangsungkan pertunangan dengan tambatan hatinya yaitu Arumi, ia harus kehilangan Arumi dengan setragis itu.
Bian adalah sepupu yang sudah ia anggap sebagai adik kandungnya sendiri, tega melenyapkan kekasih hatibya dengan cara yang keji.
Walaupun demikian, sekarang Zidan dapat menerima masa lalunya yang kelam serta memaafkan kelakuan dari Bian dengan proses hukum yang tetap berlangsung.
Jam istirahat berbunyi. Terlihat dari kejauhan Nayla sedang berjalan bersama Amar dan Nadia. Senyum dibibir ketiganya membuat Zidan heran dengan apa yang sedang mereka bicarakan.
Zidan berlari kearah ketiganya yang menatap balik dengan heran. Tawa yang mereka lakukan seketika hilang digantikan dengan tanda tanya dengan kedatangan Zidan.
"Mas kenapa lari?"
"Aku hanya ingin tahu kenapa kalian senyum senyum. Apakah ada hal yang lucu?"
Amar langsung menepuk pundak Zidan seraya menggelengkan kepalanya.
"Pak Zidan, kami hanya bercanda saja. Tak perlu khwatir kalau Nayla membicarakan anda. Tak perlu berlebihan "
Zidan yang merasa malu dan kesal hanya bisa menatap datar kearah Amar.
"Ya sudah pak bu, saya pamit dulu ya, Wassalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Nayla berjalan didepan disusul dengan Zidan yang mengikutinya dibelakang.
Nayla segera masuk kedalam kantor dan membereskan semua buku serta barang barangnya untuk segera pulang. Zidan hanya menatap wanita didepannya.
Hingga beberapa saat kemudian Nayla keluar dengan tas yang ia bawa.
"Yu mas pulang"
Zidan tersenyum kearah Nayla dan segera pergi menuju halaman sekolah untuk menaiki mobilnya yang terparkir disana.
Jalanan terlihat begitu lenggang dengan kendaraan, maklum cuaca sekarang sedikit gerimis. Nayla dan Zidan hanya diam tanpa bicara. Keduanya sadar bahwa ini salah, berduaan didalam mobil dengan statusnya yang belum halal serta belum ada ikatan diantara keduanya. Maka dari itu Zidan ingin segera menghalalkan hubungan keduanya kejenjang yang serius.
"Nay apakah kau sudah siap jika minggu depan aku datang bersama ibu dan Siska untuk melamar ulang dirimu?"
"In Sya Allah aku siap mas. Aku hanya ingin kita tak selalu jalan berdua tanpa ikatan yang halal. Aku tahu bahwa orang orang pasti menganggap aku sebagai wanita tak baik. Tapi ketahuilah bahwa memang benar aku tak sebaik yang mereka pikir dan juga tak seburuk yang mereka bicarakan"
"Iya aku tahu Nay. Ya sudah minggu depan aku datang kepanti menemui Ibu Aisyah untuk melamarmu"
Pipi Nayla bersemu merah karena malu. Namun jauh dilubuk hatinya ia merasa bahagia karena sebentar lagi akan dipersunting oleh pria yang ia cintai serta selama ini banyak membantu didalam hidupnya.
Mobil kini sudah berada dihalaman panti asuhan Bunda Aisyah. Nayla segera turun dari mobil dan melangkahkan kakinya menuju rumahnya.
__ADS_1
"Assalamualaikum bu" ucap Nayla seraya mengetuk pintu.
Tak berselang lama, Ibu Aisyah datang membukakan pintu dan menyambut kepulangan putrinya.
Zidan dan Nayla langsung mencium punggung tangan Ibu Aisyah.
"Ibu, Zidan pamit pulang"
"Kenapa buru buru nak"
"Saya akan bicara pada ibu dan Siska untuk segera menemui ibu mengenai lamaran saya untuk Nayla. Saya tak ingin menunda nunda kabar baik ini. Saya tak ingin ada fitnah buruk bagi Nayla dan juga saya jika terlalu lama bersama sama tanpa ikatan"
Walaupun Zidan minim ilmu agama tapi ia ingin selalu merubah dirinya kearah yang lebih baik lagi. Selain itu Nayla juga paham akan konsekuensi dirinya yang dicap buruk oleh orang orang karena selalu berpergian dengan lelaki yang bukan muhrimnya walaupun hanya sekedar berbicara atau pergi ke sekolah saja.
"Ya sudah kalau begitu, hati hati di jalan ya"
"Wassalamualaikum"
"waalaikumsalam" ucap Nayla dan Ibu Aisyah serempak.
Zidan pergi melajukan mobilnya dengan pelan. Dipikirannya saat ini hanyalah berisi tentang hari hari bahagia yang nantinya akan ia lewati bersama Nayla. Senyum mengembang dibibirnya dan segera menepis pikirannya agar tak terlalu jauh sehingga dosa.
Halaman parkir di kediaman Atmaja sudah terlihat, Zidan segera memarkirkan mobilnya dan melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.
"Assalamualaikum bu, Siska"
Siska dan Ibu Widya yang tengah duduk diruang tamu langsung bangkit dan menyambut Zidan yang baru saja sampai.
"Jadi ada yang mau Zidan bicarakan pada kalian. Sebenarnya Zidab sudah memiliki niat baik pada Nayla bu. Zidan ingin melamar Nayla dan menjadikannya sebagai istri Zidan"
Senyum terukir dibibir Ibu Widya dan Siska.
"Alhamdulillah nak, ibu ikut senang. Jadi kapan kamu akan bicara pada ayah untuk ikut kita kerumah Ibu Aisyah?"
Zidan menundukan kepalanya dan kemudian tersenyum.
"Zidan gak tahu bu. Ayah pasti tak ingin tahu kabar baik ini. Lagi pula jika pun ayah tahu, ia pasti takan pernah datang kesini untuk datang ke panti"
Ibu Widya paham betul dengan watak suaminya yang keras kepala dan egonya untuk kekayaan saja.
"Ya sudah, biar nanti ibu sama Siska saja yang menemanimu datang ke panti"
Zidan tersenyum dan langsung memeluk ibu serta adiknya yang kini perutnya semakin buncit.
"Sebentar lagi om menikah sayang" ucap Zidan seraya mengelus perut Siska.
"Iya om, sebentar lagi gelar bujang lapuk om akan terhapuskan" Jawab Siska dengan tawanya.
****
__ADS_1
Malam kian larut. Zidan berfikir bagaimana caranya agar ia bisa berbicara dengan ayahnya mengenai kabar baiknya untuk segera melamar Nayla.
"Pasti ayah akan terkejut dengan niat baikku untuk Nayla. Secara Nayla adalah mantan istri anaknya sendiri" gumam Zidan pelan.
Bayangan masa lalunya bersama Arumi menari nari di pikirannya. Walaupun kesedihannya tentang kematian Arumi yang tragis belum hilang, tapi dengan kehadiran Nayla di hidupnya mampu membuat Zidan sedikit lupa dan sedikit mengurangi lukanya dengan bahagia. Sekarang kebahagiaan Zidan ada didalam diri Nayla. Susah senang telah ia lewati bersama Nayla.
Hingga akhirnya ia memutuskan untuk besok pergi ke penjara menemui Bian dan memberitahukan rencananya untuk melamar Nayla. Suka atau tidak Bian harus menerima kabar baik ini. Sebab dulu lah ia yang menyia nyiakan Nayla dan sekarang Nayla akan menjadi istri dari sepupunya sendiri yaitu Zidan.
Pagi menjelang, Zidan sudah bersiap siap bertemu dengan Bian di sel tahanan untuk memberi tahu kabar bahwa ia akan meminang Nayla.
Stelan jas dan celana sudah melekat ditubuhnya dengan rapih. Dilajukannya mobil merah kesayangannya menuju salah satu penjara di pusat kota. Hingga selang beberapa lama, ia kini sudah berada dikawasan para tahanan.
Langkah kakinya kini hanya tertuju pada Bian. Setelah mendapatkan ijin untul bertemu dengan Bian yang kini menjadi tahanan, akhirnya Zidan masuk kedalam ruangan yang di khususkan untuk keluarga bertemu dengan sanak saudaranya yang menjadi seorang narapidana.
"Mau apa kau kesini?" ucap Bian ketus.
"Aku hanya ingin melihat bagaimana kondisimu sekarang. Ku lihat kau baik baik saja setelah kejadian yang membuat hidupmu hancur"
"Tak perlu basa basi. Cepat katakan apa yang ingin kau ucapkan padaku. Dan aku peringatkan untuk tak membahas kedua manusia laknat itu. Aku sudah menghapus mereka dari hidupku"
Nafas berat keluar dari Zidan.
"Anakmu sekarang tinggal bersama istrimu disalah satu kontrakan yang aku bayar, dan mereka hidup aman. Selain itu ayahmu juga sekarang sudah pulih dari sakitnya. Ibu dan Siska juga baik baik saja, sekarang usia kandungan Siska sudah maju ke delapan bulan. Aku hanya ingin memberitahukan kabar mereka."
"Sekarang kabar intinya adalah, aku akan menikahi mantan istrimu, Nayla" sambung Zidan.
Bian menatap nyalang kearah Zidan dan tersenyum getir.
"Sudah kuduga kau pasti mengincar Nayla setelah kepergian kekasih mu itu"
Zidan menatap tak percaya dengan ucapan Bian padanya.
"Maksudmu apa hah!"
"Aku sudah tahu bahwa setelah kematian Arumi di tanganku, kau pasti akan menikahi Nayla. Ambil saja wanita bekasku itu. ck "
Amarah Zidan memuncak mendengar semua perkataan yang keluar dari mulut Bian.
"Jaga ucapanmu baji*ngan! Kau tak pantas menghina Nayla seperti itu. Kau kira Nayla adalah barang ?! Tidak! Nayla lebih berharga dibandingkan harga dirimu sendiri"
Zidan menarik baju Bian dengan sangat kencang, penjaga tahanan mencoba menjauhkan Zidan yang saat ini tengah diliputi oleh emosi agar tak melakukan hal lebih jauh lagi.
"Bapak tenang!" ucap Penjaga tahanan yang sedang mengawasi mereka.
"Kau camkan ini baik baik breng*ek! Nayla sekarang milikku, dan kau akan menyesali setiap perlakuanmu padanya. Kau masih belum pantas jika dihukum seperti ini. Kau seharusnya dihukum ma*ti"
Zidan berlalu meninggalkan Bian yang tersenyum licik.
Note: Mengenai karakter Nayla yang saya ceritakan disini diambil dari sifat asli dikehidupan nyata. Banyak yang mengaku bahwa dirinya adalah orang baik namun sering juga melakukan kesalahan. Contohnya berpacaran dan sering membicarakan keburukan orang lain. Seorang muslimah tahu bahwa berpacaran itu salah, tapi sebagian masih saja menjalani ikatan itu yang jelas jelas banyak dosa didalamnya. Jadi sebagian karakter cerita disini saya ambil dari sifat asli dikehidupan nyata. Selain itu mengenai karakter Zidan disini saya ceritakan sebagai pria yang dulunya seorang laki laki yang bisa dibilang nakal namun ketika bertemu dengan Arumi dan Nayla dia menyesuiakan serta berpegang teguh untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi walaupun kehidupannya masih yak luput dari suatu tindakan yang salah.
__ADS_1
Dibeberapa part juga ada penjelasan mengenai karakter Nayla yang mencoba mengubah dirinya menjadi lebih baik.
Mohon maaf sebesar besarnya jika cerita ini sedikit menganggu beberapa pihak. Disini saya hanya menyampaikan sedikit cerita mengenai kehidupan yang ada diluaran sana, intinya cerita ini diambil dari beberapa kisah nyata. Terimakasih ❤️🙏