
Setelah pamit, Aulia pun pergi untuk mencari pekerjaan, satu minggu, dua minggu hingga tiga minggu, hasilnya selalu nihil. Aulia tidak tahu, kalau ternyata mencari pekerjaan itu sulit, sedangkan kebutuhannya terlalu banyak. Apalagi Billy sudah meminta biaya kuliah, yang harus segera dibayarnya, dan Syifa sudah menjelang ujian, hingga banyak keperluan yang harus dibayar.
Saat Billy hendak ke dapur, dirinya mendengar suara tangisan dari arah halaman belakang, Billy pun segera menghampiri suara itu.
"Mama kenapa?" tanya Billy heran.
"Billy, tidak, Mama tidak apa-apa, oh ya, besok uang untuk kuliahnya ya, Mama sedang tidak pegang uang cash," ucap Aulia sambil menghapus airmatanya.
"Mah, Billy sudah bukan anak kecil lagi, Billy siap, mendengarkan semua keluh kesah Mama, biarkan Billy, menjadi bagian masalah yang sedang Mama hadapi, agar Billy bisa membantu."
Mendengar itu, Aulia kembali meneteskan airmatanya dan memeluk Billy dengan erat. Setidaknya, meskipun Aulia tidak ikut membesarkannya, tapi Billy tetap mau menyayangi dirinya sepenuh hati.
Keesokan harinya Aulia memberi Billy dan Syifa masing-masing amplop, untuk biaya sekolahnya. Billy hanya mampu, menatap mata sayu Aulia yang terlihat jelas, setidaknya Billy mengerti, Aulia pasti sedang memiliki masalah keuangan. Sepulang kuliah, Billy melihat Aulia tengah berjalan menyusuri jalanan dengan wajah lelah.
Sesegera mungkin Billy pun menghentikan motornya dan menghampiri Aulia.
"Mama sedang apa disini?" tanya Billy tiba-tiba muncul dihadapan Aulia.
"Mama, hanya sedang lewat saja, tadi Mama sedang ada perlu sama teman lama," ucap Aulia mengarang.
"Mama sedang mencari pekerjaan?" tanya Billy melihat sebuah amplop coklat besar ditangan Aulia.
"Billy pulang ya, kasian Papa Yoga sendirian," ucap Aulia sambil memegang tangan Billy.
"Billy tahu sekarang, pasti Mama sedang kesulitan keuangankan?"
"Billy pulang! ya," ucap Aulia.
__ADS_1
"Mah, biarkan Billy bilang ya sama Mama Nisa, tentang keadaan kita, siapa tahu Mama Nisa masih mau membiayai Billy."
"Nak, biarkan Mama berjuang untuk kalian, tidak perlu merepotkan oranglain, ini masalah kita."
"Tapi Mah -- "
"Mama akan selalu berusaha untuk kalian," ucap Aulia sambil membelai pipi Billy dengan lembut.
Aulia pun kembali melangkahkan kakinya, meninggalkan Billy yang masih mematung, hingga tak terasa, langkahnya terhenti disebuah butik bertuliskan "Lowongan Pekerjaan" di sebuah kaca dekat pintu. Aulia pun masuk dan mencoba menanyakan lowongan yang tersedia, namun saat Aulia menitipkan lamaran itu, datang seseorang menghampirinya.
"Aulia," sapa Nisa.
"Loh, Mbak Nisa ada disini, sedang apa?" tanya Aulia.
"Kebetulan ini cabang butikku yang ketiga, baru berjalan satu bulan, oh ya Kamu mau belanja? Sini Aku pilihkan yang terbaik, buat Kamu."
Mendengar itu Nisa, langsung mengajak Aulia keruangannya, Nisa mulai bertanya "Kenapa?" Awalnya Aulia hanya terdiam mematung. Namun desakan Nisa, membuatnya menceritakan masalah pribadinya.
"Lia, Aku bisa mempekerjakanmu disini, tapi Aku tidak bisa memberimu gaji besar."
"Tidak apa-apa Mbak, Lia janji akan bekerja dengan baik, demi keluarga Lia."
"Lia, Billy, sudah Aku anggap seperti anak kandungku sendiri, biarkan semua biaya kuliah Billy, Aku yang tanggung."
"Terimakasih Mbak, tapi ... sudah terlalu banyak Mbak berkorban untuk merawat Billy, Lia tidak mau, selalu merepotkan Mbak, Lia masih sanggup untuk membiayai Billy."
"Baiklah, jika suatu saat Billy memerlukan hal lain, jangan sungkan bicara padaku."
__ADS_1
"Terimakasih Mbak, oh ya, Mbak kenapa belum menikah lagi?" tanya Aulia.
"Aku sudah tidak memikirkan pernikahan, Aku hanya ingin lebih fokus pada anak-anak, dan usahaku saja, meski suatu saat anak-anak menginginkan aku untuk menikah, aku tidak ingin mengabulkannya, ya ... kalau bisa mendapatkan suami yang lebih baik, mungkin akan bagus, tapi bagaimana jika mendapatkan suami yang lebih buruk dari pada Mas Bayu."
"Maaf Mbak, jika kehadiran Lia, membuat Mbak trauma dengan pernikahan."
"Tidak, bukan trauma, Aku hanya merasa bahagia sebagai wanita single parent, Aku menikmatinya, bahagia itu bukan hanya melulu soal jodoh, tapi mempunyai anak-anak yang baik, usaha yang maju, itu sudah lebih dari cukup."
Setelah asik berbincang, Aulia pun segera pamit untuk pulang, dan akan memulai pekerjaannya esok hari. Aulia mencium kening suaminya, dan memberi kabar baik ini. Yoga sangat berterimakasih pada Aulia, yang tidak meninggalkannya, namun malah tetap berusaha membangun keluarganya.
Kini sepulang kuliah, Billy bekerja paruh waktu, demi membantu Aulia, untuk membiayai kuliahnya. Awalnya Aulia melarang, tapi Billy tetap memaksa, hingga tidak ada pilihan lain untuk Aulia menolak permintaannya. Billy bekerja sebagai barista disebuah kedai kopi, jam kerjanya mulai dari pulang kuliah, sampai jam sembilan malam.
Saat Billy datang dengan secangkir coklat panas, dengan disertai camilan, ternyata tak lain pelanggan itu adalah Nisa. Nisa, langsung memeluk erat Billy, rindu sudah pasti, karena Billy sudah jarang menemuinya. Melihat kondisi Billy saat ini, Nisa mengajaknya sedikit untuk mengobrol, Nisa hanya berniat untuk membiayai kuliahnya, namun sayang, Billy menolak halus permintaan itu.
Billy bukan tidak menghargai niat baiknya, hanya saja Billy tidak mau selalu merepotkan Nisa, meski sebenarnya Billy memang sangat menginginkannya. Namun Aulia benar, setidaknya jangan merepotkan oranglain, untuk urusan keluarganya.
Nisa merasa bangga, setidaknya kini Billy sudah bisa bersikap lebih dewasa. Kini seluruh hidup Aulia, hanya untuk membayar kesalahan dimasa lalu, dia mencoba merawat suaminya dengan keikhlasan, meski yang dia jalani mungkin tidaklah mudah.
Setidaknya untuk saat ini dia sudah mempunyai pekerjaan, untuk membiayai anak-anak dan suaminya, bahkan dengan sukarela Billy ikut membantu bekerja untuk biaya kuliah. Sedangkan keadaan Bayu ditempat lain semakin terpuruk, gedung supermarket miliknya dan rumah yang ditinggalinya telah disita oleh bank.
Hingga mau tidak mau, dirinya harus kembali mengisi rumah peninggalan orangtuanya, yang sudah usang. Setidaknya Bayu bersyukur, seluruh hutang pada rekan-rekannya sudah terbayar, hingga tak ada lagi hutang piutang. Bayu mencoba kembali mulai bekerja serabutan, asal ada untuk makan.
Alby dan Candra terkadang selalu datang untuk menjenguk Bayu, yang terkadang selalu sambil membawa makanan kesukaan Bayu. Bayu sangat berterimakasih pada anak-anaknya, karena mereka tidak pernah membenci dirinya, padahal dirinya, selalu membuat hati Ibu mereka tersakiti.
Tamat
Terimakasih semua yang sudah suport🙏
__ADS_1