Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Sampai


__ADS_3

Pagi telah menampakan sinarnya. Hamdi yang sudah siap sejak sebelum fajar terlihat kini tengah bersiap siap merapihkan pakaiannya ke dalam koper. Ia begitu tak tenang ketika memikirkan Siska dan bayinya yang sudah diketahui oleh sosok misterius itu.


Hamdi sangat takut bahwa orang misterius itu bisa membahayakannya apalagi ia sangat mencintai Siska dan bayinya. Terlepas dari siapapun ayah bayi itu, Hamdi sangat ingin melindungi mereka dari marah bahaya.


"Akan ku cari tahu siapa yang sudah melakukan ini pada Siska. Aku takan membiarkannya bosa mendekati calon istri serta calon anakku. Tidak akan pernah'' Hamdi bergumam dengan amarahnya yang masih menggebu.


Ia tahu betul bahwa semua pelaku pelecahan Siska sudah ditangkap, namun bagaimana mungkin salah satu diantara mereka bisa mengetahui keberadaan Siska bahkan mengirimkan hadiah segala.


Hamdi pun bergegas turun menuju ruang tamu dan segera membangunkan Zidan yang saat ini tengah berada didalam kamarnya untuk ikut bersamanya menjemput jenasah Nikita.


Pintu diketuknya pelan karena ia pun tahu bahwa mungkin ia menganggu sahabatnya tersebut.


Tok! Tok! tok!


Pintu perlahan terbuka. Terlihat Zidan yang sudah rapih dan Nayla yang sedang mengecek semua barang baranya di dalam kamar.


"Maaf jika aku menganggumu. Tapi"


"Aku sudah tahu Ham. Kau sangat khwatir kepada Siska dan bayinya. Maka dari itu aku akan mengantarmu menuju rumah sakit dan mengambil jenasah Nikita untuk diambil ke Jakarta. Kita akan bantu kau untui mengetahui siapa pelaku yang telah berusaha mendekati Siska. Kau jangan khwatir" Zidan menepuk pundak sahabatnya dan berjalan beriringan menuruni anak tangga.


Nayla yang sudah siap pun segera bergegas menuju kamar Siska untuk menbantunya siap siap sebelum Zidan dan Hamdi pulang dari rumah sakit.


Ketika Nayla menuju kamar Siska ia mendengar suara ibu yang saat ini tengah menangis dikamarnya. Nayla pun segera masuk untuk memstikan kondisi ibu mertuanya baik baik saja.


Tok! tok! tok.


Nayla mengetuk pintu yang terbuka sedikit dan mulai masuk kedalam kamar ibu mertuanya.


"Ibu, ibu tak papa?" tanya Nayla dengan pelan.

__ADS_1


Ibu Widya yang melihat Nayla segera menghapus kasar air matanya agar terlihat baik baik saja.


"Ah kau datang Nay. I..ibu hanya sedang tak enak badan saja"


Nayla yang paham dengan kondisi ibu mertuanya hanya bisa terdiam dan mulai mendekati tubuh wanita paruh baya itu. Nayka tersenyum dan memeluk Ibu Widya agar ia merasa sedikit membaik.


"Ibu kenapa? Cerita saja sama Nayla"


"Sebenarnya ibu merasa sangat takut saat ini Nay. Ibu sangat takut kehilangan Siska dan anaknya. Terlebih lagi keadaan Siska yang sedikit labil, ibu takut ia tergoda dan pergi bersama pria misterius yang mengirimkan hadiah untuk putranya Nay"


"Tak mungkin bu. Nayla tahu Siska memang kekanak kanakan tapi ibu juga harus tahu bahwa Siska sangat mencintai Hamdi dan tak mungkin berpaling darinya"


Ibu widya terdiam. Ia mulai nenatap kosong kearah depan.


"Lalu bagaiamana jika pria itu berbuat nekat dan mengambil paksa Siska serta bayinya Nay ?"


"Tak mungkin bu. Percaya pada Nayla. Siska pasti akan baik baik saja. Sekarang ibu bersiap siap. Sebenatar lagi kita akan pulang ke Jakarta. Ibu tenang saja, pasti semuanya akan baik baik saja. Dan Nayla akan menjamin semua itu"


Dari kejauhan terlihat Siska yang tenagh bermain bersama bayinya diruang tamu. Mungkin Hamdi dan Zidan sudah berangkat menuju rumah sakit untuk konfirmasi pemberangkatan jenasah Nikita.


Tak lama kemudian, benar saja kedua pria itu kini sudah membunyikan klakson didepan pagar rumah. Mobil hitam itu kini beriringan dengan mobil ambulan dibelakangnya.


Siska, Ibu Widya dan Nayla segera keluar rumah dan berjalan menuju mobil Hamdi. Koper koper mereka di naikan oleh seorang pelayan yang ada di villa tersebut dan memasukannya kedalam bagasi mobil.


"Hari ini kita akan pulang sayang" Hamdi mulai mengelus pucuk kepala Siska yang saat ini duduk di sampingnya bersama bayi di pangkuannya.


"Semoga kedepannya kita akan semakin baik mas" Siska tersenyum dan mobil pun perlahan pergi meninggalkan villa tersebut.


Bayang bayang wajah Nikita masih saja menari di benak Hamdi. Hingga sesekali pria itu tak kuasa menahan tangisnya dan mulai mengusap lembut air matanya.

__ADS_1


Siska yang menyadari bahwa kekasihnya masih bersedih segera memegang tanggannya berusaha untuk menguatkan pria tersebut.


" Jika kau ingin menangis, maka menangislah. Jika lukamu didalam sana belum sembuh maka aku akan berusaha mengobatinya. Kau tahu, kau adalah pria yang baik, maka tak heran Nikita pun sangat mencintaimu. Aku takan pernah bisa menggantikan posisinya dihatimu sebab aku pun memiliki posisi tersendiri di dalam hatimu. Jangan kau ragu jika ingin mengingat masa lalumu, karena ku tahu dia lah yang telah membuatmu selamat dan hanya dialah wanita yang membuatmu tersenyum saat kecil"


Hamdi terenyuh mendengarkan ucapan Siska. Ia mulai mengerti akan posisi Nikita di hatinya dan memang benar sekalipun ia sangat mencintai Siska, namun Siska tak mungkin mengisi dan menggantikan posisi sepupunya di hatinya. Sebab Siska pun memiliki posisi istimewa di hati Hamdi.


Mobil melaju menuju bandara dengan cepat. Sirine ambulan terdengar begitu kencang dibelakang mobil dan saat mobil mulai menuju bandara, ambulan pun mulai mematikan sirine.


Mereka pergi menuju Jakarta dengan Nikita yang terbujur kaku didalam peti sana. Berjam jam mereka mengudara dengan rasa yang sulit untuk di ucapkan saat ini. Mereka fokus dengan pemikirannya masing masing dan saling diam tanpa mau banyak bicara.


Hingga akhirnya pesawat pun mulai mendarat di kota yang mereka tuju.


"Ku bawa kau kesini , walaupun kau tak bisa merasakan bagaimana selama ini aku bertaruh hidup di kota ini. Aku adalah cinta pertamamu dan kau adalah sahabat sejatiku. Kau istimewa bagiku Niki" gumam Hamdi pelan saat menatap langit Jakarta yang begitu cerah.


Mereka mulai menuju loba bandara dan segera mencari tempat parkir mobil yang sudah dipesan Zidan sebelumnya. Mobil merah kesayangan pria itu sudah terparkir didepan sana.


Senyum sumringah dari wajah Zidan mulai terlihat kala ia mulai duduk dibangku pengemudi.


"Maafkan aku Siska. Ku kira, aku akan pergi menaiki ambulan saja. Aku ingin menghabiskan waktu bersama Nikita sebelum ia di makamkan"


Siska terdiam. Ia kemudian tersenyum dan mulai menganggukan kepalanya.


"Iya, tak papa. Kau pergi saja. Aku akan menunggumu di rumah. Aku akan menunggu kau dan Nikita disana"


Ibu Widya mengelus pundak putrinya, dan Hamdi pun mulai berjalan mendekati tubuh Siska untuk mengecup pucuk kepala gadis itu. Namun, Zidan yang paham segera turun dan menghalangi kecupan itu dengan tangannya.


"Kau nikahi dulu adikku, baru bisa melakukan itu"


Semua tertawa melihat kejadian tersebut.

__ADS_1


"Ya sudah, aku pergi dulu. Kalian tunggu dirumah aku akan segera menyusul bersama Nikiku" Hamdi menatap peti jenasah yang mulai dimasukan kedalam ambulan.


__ADS_2