
Malam ini malam yang paling menharukan bagi Hamdi dan seluruh keluarga Zidan. Walaupun mereka tak mengenal Nikita seperti Hamdi, namun dengan kebaikan hatinya Zidan beserta keluarganya mengadakan pengajian untuk kematian Nikita.
Tepat pukul tujuh malam, jasad Nikita yang sudah di mandikan serta di sholatkan akhirnya dibawa menuju tempat peristirahat terakhirnya yaitu TPU Pondok Indah, tepat di dekat kantor Hamdi.
Dengan air mata yang sudah kering serta kelopak matanya yang sembab, Hamdi mencoba untuk tegar melakukan prosesi pemakaman Nikita sang sahabat sejatinya.
Hamdi segera naik kedalam mobil ambulan menemani jasad Nikita yang kini sudah berada didalam keranda, dengan di temani Zidan yang duduk disamping Hamdi.
Siska, Ibu Widya dan Nayla sibuk berada di dalam rumah untuk menyiapkan acara pengajian kematian Nikita dirumahnya sekaligus mengurus bayi Siska yang tak boleh pergi mengikuti proses pemakaman.
Jauh dilubuk hati Siska ia sangat cemburu dengan Nikita yang rela mengorbankan jiwa serta raganya untuk membantu Hamdi yang ingin mengungkap kebusukan Frans.
Siska yang saat ini tengah menggendong putranya pun terkejut ketika melihat seseorang pria berpakaian serba hitam tengah berdiri diluar gerbang rumahnya.
"Siapa dia mbak? Apa dia tetangga kita?"
Nayla yang tepat berada di samping Siska pun menatap pria yang Siska maksud. Nayla mengernyitkan dahi kala melihat mata pria itu tepat menatapnya.
"Ku rasa dia bukan tetangga kita Sis. Apa sebelumnya ada pria yang usianya sepantaran dengamu disini?"
Siska menggelengkan kepala, ia memang sudah lama tinggal dirumahnya, bahkan sejak ia baru lahir, namun dari mata pria itu Siska tak mengenal siapakah dia. Bahkan dia bukanlah tetangganya.
"Dia bukan tetangga kita mbak"
"Ya sudah aku akan bertanya padanya apakah ia ingin ikut pengajian atau bukan. Kita pastikan dulu dia siapa" Nayla mulai bangkit dan berjalan menuju luar rumah.
__ADS_1
Namun, saat Nayla akan menghampiri pria itu, dengan buru buru pria misterius trsebut kabur dan lari dengan cepat.
"Tunggu!" teriak Nayla dengan keras.
Para pelayat yang di dominasi bapak bapak yang tengah berada di halaman rumah Zidan pun menatap Nayla dengan heran.
"Kenapa mbak? panggil siapa?" tanya salah satu bapak tersebut.
"Ah, tidak pak. Tadi ada pria memakai topi menatap ke dalam rumah. Saya pikir dia sungkan untuk masuk pengajian" jawab Nayla seraya tersenyum.
"Oh anak muda yang tadi. Kayanya dia bukan mau mengikuti pengajian mbak, Soalnya tadi dia tanya sama kami bahwa ini rumahnya Siska dan kami jawab iya. Lalu dia gak ngomong apa apa cuman diem liatin ke dalam. Saya kira dia temannya Siska"
Nayla sedikit terkejut mendengar ucapan bapak tersebut. Sejak Siska keluar dari sekolahnya, bahkan tidak ada satu pun teman wanitanya datang main kerumah ini. Apalagi teman pria, mana mungkin teman pria Siska datang kemari setelah gosip kehamilan Siska beredar.
"Ya sudah kalau begitu. Bapak bapak semuanya mari masuk sebentar lagi acara pengajiannya dimulai. Saya pamit duluan ya pak" Nayla pun berjalan meninggalkan kerumunan pria paruh baya yang berada di luar rumahnya.
"Siapa mbak?" tanya Siska dengan cepat.
"Mbak mau tanya satu hal pada kamu Siska. Tapi jawabnya pelan saja soalnya tamu sudah mulai banyak yang masuk" Jawab Nayla dengan suara yang pelan.
Siska pun menganggukan kepala tanda setuju.
"Jadi saat mbak tadi samperin pria itu, dia malah lari dengan cepat sehingga mbak mencoba memanggilnya dengan berteriak. Namun saat itu para tamu pengajian yang berada diluar, mengatakan bahwa pria misterius tadi bukanlah orang yang ingin mengikuti acara pengajian kita melainkan orang yang tengah mencarimu"
"Mencariku? Siapa dia?" tanya Siska penasaran.
__ADS_1
"Aku pun tak tahu Sis. Kata salah satu bapak yang berada di luar, katanya pria itu temanmu dan sedang mencari rumahmu. Apakah kau masih berkomunikasi dengan teman ? Maaf jika aku lancang bertanya demikian. Tapi aku sungguh mengkhawatirkanmu dan bayimu Siska"
" Sungguh aku tak sekali pun berkomukasi dengan teman sekolahku mbak. Bahkan setelah kejadian setahun yang lalu, aku sudah kehilang kontak teman temanku bahkan sahabat perempuanku"
Nayla mulai terdiam. Ia berfikir keras mengenai pria tersebut.
"Ya sudah. Sekarang kau lebih berhati hati lagi Siska. Aku yakin orang itu memiliki niat jahat pada kita. Aku akan segera katakan ini pada Mas Zidan"
*******
Sirine ambulan membuat jalanan yang ramai kemacetan berubah menjadi lenggang. Hamdi terdiam menatap keranda mayat berisikan Nikita di hadapannya saat ini.
Zidan tak berkata sepatah kata pun pada Hamdi mengingat sahabatnya itu saat ini mungkin sedang bersedih.
Jalanan yang lenggang membuat mobil ambulan serta mobil beberapa tetangga yang mengantar mereka ke pemakaman pun telah tiba di tempat yang di tuju.
Liang lahat yang sudah terlihat dengan tanah yang sedikit basah, membuat Hamdi tak kuasa menahan air matanya. Hamdi yang saat ini dibantu beberapa orang memanggul keranda mayat Nikita terus saja meneteskan air matanya dengan deras.
Hingga saat ia sudah sampai di tempat peristirahatan sahabatnya tersebut, Hamdi menggotong tubuh Nikitq yang sudah terbungkus rapih dengan kain kafan.
Telah lama Hamdi bahkan tak mengumandangkan adzan, namun saat ini untuk pertama kalinya setalh sekian lama, Hamdi mulai mengumandangkan adzan tepat di tempat peristirahatan Nikita.
Dengan air mata yang berderai serta isak tangis yang keliar dari mulutnya Hamdi mulai harus mengikhlaskan sahabatnya tersebut dimakamkan.
Tanah yang mulai turun menutup tubuh Nikita semakin membuat hati Hamdi sakit dan sesak. Sejak lama ia tak bertemu dengan Nikita, tapi kali ini pertemuannya begitu singkat dan mungkin mereka akan bertemu nanti di tempat terakhir yang sama.
__ADS_1
"Maafkan aku Nik. Aku tak bisa melindungimu, aku tak bisa membalas cintamu yang tulus dan tak bisa mencintaimu seperti kau mencintaiku. Tersenyumlah dan lihatlah, orang yang kau cintai telah mengetahui cintamu itu walaupun sudah terlambat" ucap Hamdi dalam hati.