
Angin bertiup dengan pelan. Membuat setiap helai rambut yang berada dikepala pria tampan disamping Nayla ikut bergerak gerak.
Tak ada percakapam diantara kedua manusia yang tengah dilanda kegalauan. Nayla mematung memandang jalanan dengan pikiran berkelana akan nasib pernikahan yang selama ini dia pertahankan. Sedangkan Zidan tengah bimbang dengan perasaan yang dia miliki untuk istri adiknya sendiri.
Mobil melaju dengan lambat, membawa beribu duka dan luka untuk Nayla menuju tempat yang dulu ia anggap sebagai istana.
Rumput hijau kini terhampar disisi kanan dan kiri tempat mobil berhenti. Rumah kediaman Atmaja.
"Nay sudah sampai" ucap Zidan dengan pelan.
"Eh iya mas. Maaf tadi aku tak fokus"
"Gak papa Nay. Sekarang kamu turun dan siapkan hati juga mentalmu untuk menghadapi Bian beserta keluarganya nanti"
Anggukan kecil Nayla lakukan dengan senyum manis yang menyembunyikan beribu kesedihan.
Langkah kaki Nayla dan Zidan terdengar kala mereka memasuki rumah. Terlihat Bian , Clara , ibu dan Siska tengah menunggu kedatangan mereka.
"Assalamualaiakum" ucap Nayla ketika membuka pintu.
Hening tak ada jawaban. Hanya ada pandangan dari empat manusia yang tengah larut dalam pemikirannya masing masing.
Hingga saat Nayla akan pergi berlalu menuju kamarnya untuk membereskan semua pakaian yang ada, Bian dengan sigap mencekal tangan Nayla seraya berlutut.
"Nay, maafkan aku. Aku khilaf Nay"
Hempasan tangan yang Nayla lakukan membuat Bian semakin erat mencekal tangan Nayla.
"Khilaf kamu bilang mas? khilaf sampai bisa berkali kali dan sampai kau dapat keturunan dari wanita itu!" tunjuk Nayla pada Clara.
"Dia juga istriku Nay, dia adalah ibu dari anakku!" bentak Bian.
"Ya dia memang ibu dari darah dagingmu. Aku hanya istri yang kau jadikan pajangan disini. Kau akan datang padaku jika kau mau, dan kau akan meninggalkanku ketika kau punya mainan yang lebih baik dariku! kau menikah diam diam bersama dia tanpa sepengetahuanku mas! apa aku salah jika aku marah!?"
Ibu mulai bangkit dan menghampiri Nayla juga Bian.
"Kamu tuh wanita mandul Nay! jangan so jadi istri yang tersakiti"
__ADS_1
"Aku gak mandul! jika aku mandul mana mungkin bisa hamil dan keguguran?!" teriak Nayla pada ibu.
Dengan ekspresi terkejut ibu saling pandang dengan Siska dan Clara. Tak lupa Bian menundukan kepala untuk menujukan penyesalannya.
"Kau keguguran?" tanya ibu dengan wajah pias.
"Ya aku keguguran! darah daging dari pria ini tumbuh dirahimku tanpa ada yang tahu termasuk aku. Anakmu yang bergelar suami ini telah membunuh darah dagingnya sendiri. Demi wanita sampah seperti Clara, dia dengan tega mendorong tubuhku hingga tersungkur didalam kamar mandi!"
Tanpa aba aba, Bian menampar Nayla dengan sangat keras.
"Jaga ucapanmu Nay. Aku tak bermaksud melenyapkan anak kita paham!"
Air mata membasahi pipi mulus milik Nayla. Zidan yang merasa emosi kini menarik kerah baju milik Bian dan melayangkan pukul tepat diwajahnya.
"Kau berani sekali menyakiti istrimu sendiri! kau yang salah dan kau tak mau bertanggung jawab. Dia keguguran anakmu! anakmu! dan faktanya memang kau yang telah merenggut nyawa dari bayi yang belum lahir itu saat kau mendorong tubuh Nayla sampai membentur dinding kamar mandi. Jika saja Nayla tak stres memikirkan perselingkuhan kalian dan kau Bian tak mendorong tubuhnya yang lemah, pasti anakmu masih hidup sampai saat ini!" teriak Zidan pada Bian.
Noda merah kini membekas dipipi Nayla. Tamparan yang ia terima tak sebanding dengan luka dihatinya akibat pria yang sangat ia cintai.
"Kau berani menaparku mas? hahahahah, aku yang selalu membanggakan setiap tingakah lakumu yang lembut kini mendapat tamparan atas kesalahan yang kau buat sendiri. Sebegitu malunya kah kau sampai tak mau mendengar kebenaran atas keguguran yang aku alami. Bahkan kau tak memberitahu orang tuamu tentang kondisiku kemarin. Hebat ya mas ,hebat. Sekarang izinkan aku memasuki kamarmu untuk mengambil semua pakaianku"
Nayla pergi berlalu dengan air mata yang membanjiri pipinya. Clara hanya diam tak mampu berkata apapun dan Siska hanya bisa membisu ketika mendengar bahwa kakak ipar yang tak pernah ia sukai mengalami keguguran.
"Nay" ucap Zidan dengan pelan.
Kamar dengan ukuran yang cukup luas, kini gelap tanpa penerangan apapun selain cahaya dari celah jendela mungil disudut ruangan.
Nayla tengah memasukan beberapa gamis usang miliknya, yang ia miliki sebelum menjadi istri dari Bian Mahardika.
"Nay tenangkan dulu pikiranmu"
"Tenang kau bilang mas?tenang? kau sangat mudah berkata demikian sebab kau tak merasakan kehancuran yang aku derita saat ini!"
"Kau tak boleh terlihat lemah Nay. Aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini, maka dari itu jangan sampai kau tunjukan lukamu pada mereka yang mungkin saja bahagia dengan keputusanmu untuk pergi dari sini"
Disentuhnya wajah Nayla dan mulai menghapus bulir bening yang menetes dengan deras.
"Kau tak boleh menangis Nay"
__ADS_1
Tatapan mata Nayla terlihat sangat sendu, harapannya untuk mendapatkan kebahagiaan dirumah ini nyatanya hanya impian belaka. Kebahagiaan yang ia dapatkan saat bersama Bian, kini hanya tinggal kenangan yang akan terkubur dalam dalam.
Zidan membantu mengemas semua pakaian milik Nayla kemudian menaruhnya kedalam koper. Berkas perceraian kini ada digenggaman tangan wanita cantik berkulit putih.
"Bismillah, mudah mudahan ini jalan terbaik untukku"
Nayla dan Zidan berjalan beriringan menuruni anak tangga. Tangis yang tadi Nayla tunjukan sekarang sudah lenyap dengan kemantapan hati untuk menyatakan bahwa ia tidak lemah.
"Nay kau mau kemana?" tanya Bian dengan suara parau.
"Aku akan pergi dari penjara ini. Kau hiduplah yang damai bersama keluarga besarmu dan anak dari wanita ini" tunjuk Nayla pada Clara.
"Kau itu istriku Nay. Kau tak boleh meninggalkan aku disini"
"Istri kau bilang ? entah aku harus merasa sedih atau merasa senang dengan keadaanmu saat ini. Ku beri tahu ya, istri itu bukan hanya dijadikan pembantu ataupun mesin pencetak anak dan pemuas nafsu. Selain menjadi teman hidup, istri juga berhak memberikan pendapat pada suaminya walaupun pendapat itu tak pernah didengarkan atau dilakukan. Selain itu, istri juga berhak mengetahui apapun yang akan dilakukan suaminya mengenai rumah tangganya termasuk poligami. Kau dengan suka hati mencicipi istrimu tanpa adab dan aturan. Kau selalu mendatangi istri yang ingin kau jadikan pemuas nafsu saat bira*hi mu tengah memuncak."
Bian yang merasa malu hanya bisa diam tak menjawab semua perkataan yang Nayla lontarkan.
"Sekarang jatuhkan talakmu padaku dan kau bisa hidup bahagia bersamanya tanpa ada aku diantara kalian"
"Nay aku aku mohon maafkan aku, kita mulai lagi dari awal dengan Clara dan Algi sebagai keluargamu juga"
"Hahaha, dengan enteng nya kau bilang itu padaku mas. Kau serakah sekali! sampai ingin memiliki istri dua yang hidup satu atap agar kau bisa memberikan tubuhmu secara bergilir tanpa memikirkan perasaanku. Clara yang sudah mencicipi bekasku dengan senang hati menerimamu mas, namun sayang, aku terlalu jijik bila disentuh olehmu"
Tanpa diduga, Siska mulai bangkit dan berjalan kearah Nayla dengan tangan yang terulur berusaha untuk menampar kakak iparnya sendiri.
"Jaga mulutmu set*an"
Dicekalnya tangan Siska yang melayang diudara untuk menampar wajah cantik Nayla.
"Kau yang set*an. Kau itu lebih muda dariku dan juga seorang wanita. Harusnya kau membuka matamu atas semua kedzoliman yang kakakmu perbuat padaku"
Tatapan tajam diberikan Siska pada Nayla yang tengah mencekal tangannya dengan erat.
"Lepaskan!"
"Datanglah nanti di pengadilan. Kau tak perlu cape cape mengurus berkas perceraian kita sebab aku yang akan memberikannya hari ini ke pengadilan agama. Kau cukup tandatangani saja dan hadir nanti. Oh ya, jika kau tak hadir dipengadilan lebih bagus juga, sebab proses perceraian kita akan jauh lebih cepat. Aku pamit, Wassalamulaikum"
__ADS_1
...*Bonusnya***🙏🤗**...