
Pagi ini mentari begitu terik menyorot tepat ke mata Zidan yang baru saja keluar dari mobil putih kesayangannya. Pria itu berjalan menuju salah satu tempat dimana ia sangat mengenal daerah tersebut dan beberapa kali melemparkan senyum para orang yang ia temui.
"selamat siang pak" ucap Zidan ramah pada salah satu pria paruh baya yang membawa cangkul.
"siang den. udah lama gak pernah kelihatan" ucap pria tersebut pada Zidan dengan ramah.
"iya pak, saya baru ada waktu luang. oh ya pak apa bapak lihat mobil Hamdi di villanya?"
pria paruh baya itu mulai terlihat berpikir hingga tak lama kemudian ia pun tersenyum dengan senang.
"oh iya iya saya lihat. Mas Hamdi udah dua hari tinggal di villanya den'
Sekarang Zidan semakin yakin dengan keberadaan Hamdi di dalam villanya tersebut. Ia tahu bahwa ada sesuatu yang Hamdi sembunyikan darinya terkebih lagi saat ini Siska bahkan tak pernah sekalipun dapat kabar dari Hamdi tentang kondisinya.
"terimakasih banyak pak atas informasinya. Mari" Zidan membungkukkan badan dan mulai berjalan menuju salahnya bangunan termewah di daerah tersebut.
ya, villa dengan luas yang hampir setara dengan lima buah rumah itu tampak kokoh berdiri di tengah tengah daerah sepi dan juga sunyi yang hanya di huni oleh beberapa keluarga saja.
Selama dua hari ini Zidan sengaja melacak keberadaan Hamdi setelah sahabatnya itu tampak dingin dan juga acuh pada dirinya ataupun pada Siska yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Zidan tahu, kedua orang tersebut sedang terlibat masalah uang disebabkan oleh Clara, maka dari itu Zidan tak ingin sampai Hamdi kembali menjadi orang yang jahat dengan semua tindakan yang mungkin saja kelewat batas.
tok!
tok!!
tok!!!
Zidan mengetuk pintu villa dengan pelan hingga tak lama.kemudian terdengar dari arah dalam, seseorang berjalan menuju pintu dan membuka kunci.
__ADS_1
"Ham" ucap Zidan dengan senang ketika melihat tubuh sahabatnya itu tampak sehat dan bugar.
"Ada apa kau kesini Dan?" tanya Hamdi panik.
Zidan tampak terkejut mendengar pertanyaan Hamdi tentang kedatangannya itu. Padahal dengan jelas setiap ia datang, Hamdi selalu saja senang dan menerima kedatanganya tanpa mempertanyakan sebelumnya.
"Apa kau sibuk Ham selama dua hari ini, sehingga bertanya demikian padaku ?"
Hamdi menghela nafas dan mulai menatap wajah sahabatnya itu yang mulai diam.
"Apa ada yang kau sembunyikan Ham?" tanya Zidan dengan pelan.
Hamdi mulai membuka pintu dengan lebar dan mulai memberikan jalan pada Zidan untuk masuk kedalam villa miliknya. Perlahan lahan langkah pria itu kini tertuju pada ruang tamu yang tampak sunyi dan juga sepi. Ia tahu selama ini Villa milik sahabatnya itu selalu di gunakan sebagai tempat menenangkan diri. Namun ada yang aneh dengan posisi tempat duduk yang begitu berantakan.
Zidan mulai menaiki anak tangga di dalam rumah tersebut dan mulai masuk kedalam kamar Hamdi tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
Pintu dibuka dengan perlahan. Gelap dan sangat pengap ruangan tersebut. Hamdi sengaja tak menyalakan lampu kamarnya sebab ada hal yang ia sembunyikan dari Zidan selama ini. Sampai saat sahabatnya itu mulai menyalakan sklar lampu. Mata Zidan membelalak sempurna kala melihat penampakan tubuh seorang wanita dengan pakaian basah kini terduduk diatas kursi kayu.
Wanita dengan luka lebam di seluruh wajahnya itu tampak memperihatinkan. Terlebih lagi mulutnya yang terlihat membiru dengan seluruh tubuh yang terlihat sangat putih pucat.
"Ham! Hamdi! " Teriak Zidan dengan keras hingga terdengar begitu menggema di seluruh ruangan.
Terdengar langkah kaki dari sang empunya rumah mulai mendekat ke arah tempat Zidan berada. Hingga tak lama kemudian, pria berjambang tipis itu mulai tepat beras di samping Zidan saat ini.
"apa yang kau lakukan Hah?! apa?!" teriak Zidan dengan lantang hingga membuat Hamdi sedikit terkejut.
"Ini bukan urusanmu! dan kau tak perlu melakukan apapun ataupun ikut campur dengan apa yang tengah aku kerjakan!" ucap Hamdi dengan dingin.
Zidan menggelengkan kepala merasa tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Urusan? ikut campur? kata kata itu tak pernah terlontar dari mulut Hamdi sebelumnya.
__ADS_1
"apa kau gila Ham?! dia itu manusia dan bukan hewan! dia bahkan memiliki seorang putra yang harus ia lindungi sat ini!"
Hamdi tertawa dengan tenang. ia tahu bahwa Clara memang memiliki satu orang putra dan wanita itu bahkan tak perlu dikasihani sebab kelakuannya ia rasa sudah seperti seekor ular.
"Lantas apa aku harus peduli padanya? iya? apa untungnya aku mengasihani wanita itu sebab ia pun Takan pernah sadar jika pun ia mati sekarang"
"cukup Ham! cukup! Diam jangan banyak bicara! jika sampai ia mati kau pun akan masuk penjara!"
"lalu apa kau harus peduli Dan! Dia mati ataupun tidak aku tak peduli! sama seperti adikmu itu yang tak pernah peduli dengan cinta, kesetiaan serta pengorbananku!" Hamdi berteriak dengan keras hingga membuat Zidan tertegun.
"Kau sudah gila! benar benar gila!"
Zidan mulai berjalan menuju Clara yang saat ini tak sadarkan diri dan mulai membuka ikatan disetiap tubuhnya untuk membawa wanita itu ke rumah sakit.
"Kau mau bawa dia kemana?!" cegah Hamdi dengan ketus.
"Aku akan membawanya kerumah sakit. Dia butuh pertolongan dan dia harus hidup. Minggir!
Zidan mulai menggendong tubuh Clara dan membawanya masuk kedalam mobil putih yang sejak tadi ia gunakan menuju villa tersebut. Didalam mobil, Zidan bahkan tak bisa berpikir jernih ketika melihat kondisi Clara yang begitu menghawatirkan dengan seluruh tubuh yang tampak pucat serta dingin.
pria itu tak yakin bahwa Clara akan bisa pulih dengan cepat mengingat kondisinya yang seperti ini. Untung saja koneksi yang Zidan miliki mampu membuatnya bisa lolos nanti dari pertanyaan para polisi serta perawat yang akan membantu Clara.
Zidan mulai mengambil gawai didalam sakunya dan menelpon salah satu kenalannya di dalam salah satu institusi.
"Saya menemukan orang dalam keadaan luka-luka didekat sebuah hutan karena ulah sahabat saya sendiri. Saat ini saya sedang membawanya ke salah satu rumah sakit untuk ditangani dengan cepat dan saya minta agar pihak manapun tak memperpanjang urusan ini sebab ada urusan pribadi antara kami. Mohon kerjasamanya"
Zidan mematikan ponselnya dan mulai kembali fokus menyetir membawa Clara ke rumah sakit tempat ibunya dirawat. Hingga tak lama kemudian saat ia tlah sampai di halaman rumah sakit, Zidan berteriak meminta para perawat mengambil blankar kosong untuk membawa tubuh Clara kedalam ruangan gawat darurat.
*note: Terimakasih karena sudah menunggu ❤️mohon maaf sebesar besarnya jika terlalu lama up part baru dikarenakan othor tumbang kembali 🙏
__ADS_1