Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Mahluk halus


__ADS_3

Tubuh Bian kini mendekam dibalik jeruji besi. Pikirannya berkelana kala mengingat bahwa tubuh Clara menjadi candu bagi ayahnya sendiri.


Pantas saja sang ayah menyuruhnya menikahi Clara yang berlatar belakang sebagai kupu kupu malam. Mungkin saja karena sang ayah mengingingkan lebih banyak waktu yang bisa ia habiskan bersama menantunya sendiri.


Ada yang mengganjal dipikiran juga hatinya mengenai identitas Algi yang jelas jelas anaknya sendiri.


Kini pikirannya berpacu pada anak tak berdosa yang lahir dari rahim sang istri.


"Dasar jala*ng! mungkin saja Algi adalah anak ayah karena wajahnya yang mirip denganku" umpat Bian.


Bian berteriak teriak dengan kencang agar dia bisa bebas dari dalam sel pengjara. Para penjaga yang berada diluar selnya hanya bisa bersikap datar tanpa mau merespon Bian yang kini dijadikan tersangka atas kasus kekerasan terhadap Clara.


Sedangkan Clara kini tengah terbaring lemah didalam rumah sakit tanpa siapapun yang menemaninya.


Wajahnya yang bengkak, serta memar hampir menutupi wajahnya yang cantik. Diambilnya uang yang berserakan diatas lantai lalu menyimpannya didalam tas.


Bukan karena dia tak merasa bersalah, tapi harga dirinya yang bisa dibeli dengan uang yang membuat dirinya tanpa malu mengambil uang dari istri sah pria yang selalu ia layani.


"Saat ini aku sangat butuh uang untuk mengembalikan wajahku yang rusak menjadi cantik lagi"


Pikiran Clara hanya berisi dengqn uang ,uang dan uang. Tak pernah sedikitpun ia memperdulikan anaknya yang kini tengah bersama sang babysitter. Baginya uang adalah hal yang paling utama.


Saat suaminya juga ayah mertua yang selalu memenuhi kebutuhan mewahnya menjadi miskin, Clara berusaha untuk bangkit dan kembali menjadi wanita yang memberikan kehangatan kepada pria hidung belang diluaran sana.


Dengan tubuhnya yang menggoda.serta wajahnya yang cantik, dapat dengan mudah ia menjerat banyak lelaki yang memerlukan kebutuhan biologisnya.


Uang serta kepuasan yang bisa ia dapatkan dari banyak pria, tak pernah sedikitpun ia takuti akan akibat buruknya.


"Sus, suster!" teriak Clara.


"Iya ada apa bu?"


"Saya mau tanya, memar diwajah saya bisa hilang berapa jam sih?"


Suster yang datang kepadanya hanya tersenyum manis menanggapi perkataan Clara.


"Bu, memar di wajah ibu cukup parah. Kadi wajah ibu akan sedikit membaik jika sudah lebih dari 3 hari"


Kekecewaan jelas nampak diwajah Clara. Kecantikan yang ia miliki adalah aset yang paling berharga untuknya saat ini.


"Ck sial! gara gara pria set*an itu wajahku jadi jelek seperti ini" umpat Clara kesal.


Dilepaskannya jarum infus yang masih menancap ditangannya, lalu pergi seraya mengambil tas ditangannya.


"Ibu mau kemana?"

__ADS_1


"Saya mau pulang! jangan khwatir saya baik baik saja dan akan pergi membayar biaya perawatan selama saya disini!" jawab Clara dengan ketus.


Clara melangkahkan kaki menuju administrasi rumah sakit. Sejumlah uang ia keluarkan untuk membayar biaya pengobatannya selama dirawat.


Tak ada sedikitpun dia menjenguk ayah mertuanya yang jelas jelas sendirian diruangan gawat darurat.


ponsel yang sedari tadi dimatikan, kini ia ambil dan segera memesan taksi online untuk segera pulang kerumah keluarga Atmaja. Tak ada rasa malu sedikitpun dihatinya kala menginjakan kaki dirumah besar bercat putih dihadapannya.


Hening tak ada siapapun disina. Dilihatnya mobil milik Zidan yang terparkir didepan pintu, lalu pergi menuju kamarnya.


Kamar yang selalu menjadi saksi bisu kelakuannya dengan ayah mertua serta suaminya kini sunyi.


Ditatapnya langit langit kamar untuk mengecek dimanakah cctv yang terpasang dirumah ini. Hingga saat dia merasa tak ada satupun kamera dikamarnya, Clara melepaskan pakaian yang ia kenakan sejak kemarin.


Tubuh putih dan mulus kini menuju kamar mandi. Air yang mengalir ditubuh Clara terasa menyejukan. Pikiran kalut di otaknya sedikit berkurang seiringan dengan guyuran air yang mengenai kepalanya.


Saat ini dia sibuk membersihkan badan serta memikirkan bagaimana kelanjutan hidupnya.


Sampai saat dia melangkahkan kaki keluar kamar mandi, pikiran nakal mulai terbesit diotaknya.


Dengan tubuh yang hanya dililit oleh handuk, Clara berjalan menuju sikring listrik yang terpasang di kediaman Atmaja. Lampu yang menyala terang kini padam seketika kala Clara menurunkan tombol stop kontak yang menempel.


Gelap menyelimuti seluruh ruangan dirumah ini. Clara mulai berjalan menuju lantau atas dengan langkah pelan serta meraba setiap benda agar tak terjatuh.


Langkah kaki Clara saat ini menuju kamar milik pria tampan yang mungkin saat ini tengah tertidur pulas. Dengan perlahan dia membuka pintu kamar Zidan dan menutupnya dengan pelan.


Cahaya bulan yang menerobos masuk melalui kaca jendela sedikit membuat Clara bisa lebih jelas melihat pria tampan yang sedang tertidur diatas ranjang empuknya.


Tangan lentik Clara kini mendarat di atas wajah Zidan dan mulai mengelus setiap inci wajah Zidan dengan lembut. Zidan yang tak sadar bahwa Clara kini berada dikamarnya hanya sesekali menggeliat kala merasakan sentuhan yang Clara lakukan diwajahnya.


"Ternyata kau lebih tampan ya mas. Badanmu yang kekar pasti akan membuatku nyaman" bisik Clara manja.


Diciu*mnya pipi Zidan dengan detak jantung yang mulai tak karuan. Diusapnya lembut kepala sang pria tampan dihadapannya seraya mulai memegang dada bidang milik Zidan.


Sentuhan lembut Clara lakukan pada Zidan agar Zidan tidak bangun karna ulah nakalnya. Clara mulai bermain semakin nakal dan mulai melepaskan kancing yang terdapat dikemeja yang Zidan pakai.


Saat tinggal satu lagi kancing yang terpasang dibadan Zidan mulai lepas, mata Zidan terbuka lebar kala melihat sosok perempuan yang kini tengah berada tepat diatas tubuhnya.


Sontak saja Zidan terbangun dan kaget melihat Clara yang tak terlihat wajahnya karena gelap serta rambutnya yang terurai.


"Setan! kuntilanak! wewegombel!"


Zidan beringsut mundur dari kasurnya dan memeluk duling yang berada disampingnya.


"Pergi kau kuntilanak! pergi!"

__ADS_1


Clara yang kesal dengan sikap Zidan kepadanya kini mendekat dengan perlahan.


"Aku bukan setan mas. Masa wanita cantik kaya aku disebut setan sih!"


"Terus itu apa?! kuntianak pasti pake baju. Sedangkan kamu ah sudahlah, berarti kamu wewegombel!"


Zidan yang takut semakin mundur hingga mentok di dinding kamarnya.


"Mas pasti belum pernah ngerasain itu kan? jadi aku akan berikan mas secara gratis karena akupun saat ini sangat membutuhkan"


"Gak! gak mau! gak sudi aku harus melakukannya sama wewe gombel! pergi gak ! Aku jijik liat itu" Zidan seraya membaca doa sebisanya.


Clara mendekat kearah Zidan, namun saat tangannya akan menyentuh tubuh Zidan, Zidan menutup matanya dan mulai menarik tangan Clara menuju luar kamarnya.


Pintu ditutup dengan kasar oleh Zidan, seraya ucapan hamdallah keluar dari mulut pria yang kini sedang bersandar dibelakang pintu.


Tak pernah sedikitpun ia menyangka bahwa akan ada makhluk halus tanpa pakaian berada didalam kamarnya sendiri. Ditariknya nafas dalam dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan.


"Alhamdulillah Ya Allah engkau telah menyelamatkan hamba dari wewegombel itu. Jika saja tadi aku diberikan cairan racun dari bagian tubuhnya, mungkin saja aku diculik. Ih naudzubillah" ucap Zidan seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Disisi lain, Clara yang gagal melakukan aksinya hanya bisa menahan kesal yang memuncak saat tadi melihat tubuh atletis milik Zidan. Tak pernah dia bayangkan, jika tubuh sang kakak ipar jauh lebih menggoda dan akan jauh lebih membuatnya bersemangat jika dia memilikinya.


"Tunggu saja mas, mungkin saat ini kau bisa lolos, namun nanti kau bahkan akan meminta sentuhan hangat dariku yang akan menjadi candu bagimu"


Clara berjalan meninggalkan kamar Zidan dan berlalu menuju sikring listrik untuk dinyalakannya kembali.


Lampu kembali terang menyinari rumah mewah Zidan. Siska dan ibu yang baru sampai setelah pergi belanja untuk menghilangkan stres yang dialaminya kini telah sampai dirumahnya.


Mata ibu yang sembab masih terlihat diwajahnya. Siska yang setia memegang tangan sang ibu saat ini menuntunnya menuju kamar.


Clara yang mendengar langkah kaki dari arah luar, mencoba untuk bersikap setenang mungkin dan tak melakukan kegaduhan. Dirinya takut jika sampai Siska dan ibu tahu bahwa dirinya berada didalam rumah ini mungkin saja Siska akan kembali menampar wajahnya atau mengusirnya dari rumah mewah ini.


Dipakainya baju tidur secara perlahan, dan mulai mematikan lampu dikamarnya. Sebisa mungkin Clara menahan dirinya agar tak mengeluarkan bunyi sedikitpun.


"Bu, jal*ng itu pasti masih ada dirumah sakit. Kita keluarkan semua pakaiannya dari lemari dan buang ketempat sampah. Aku gak mau tinggal serumah sama wanita mura*han sepertinya" umpat Siska yang jelas terdengar oleh Clara.


Dengan jurus seribu dia kemudian bersembunyi dibelakang pintu kamar mandi sebab langkah kaki Siska kian mendekat kearah kamarnya.


Lampu yang sengaja ia padamkan berhasil membuat Siska tak jadi masuk dan berlalu pergi menuju dapur.


"huh syukurlah gadis bod*oh itu tak jadi masuk"ucap Clara dengan pelan.


Malam ini Zidan memiliki janji untuk mengunjungi panti asuhan dan menemui ibu Aisyah. Diambilnya jaket kemudian kunci mobil yang berada diatas laci dan melangkah pergi meninggalkan kamarnya.


Mobil melaju menembus jalanan ibu kota yang terlihat begitu ramai. Tak ada niat sedikitpun untuk Zidan berkunjung kerumah sakit untuk melihat adik ayahnya yang kini sedang dirawat intensif disana.

__ADS_1


Sakit hati yang ia alami membuat jiwanya menjadi keras tak dapat disentuh oleh siapapun kecuali Nayla. Baginya saat ini kebahagiaan Nayla adalah tujuan hidupnya. Entah karena amanat dari Arumi ataupun keinginan dari hatinya sendiri, yang jelas saat ini Zidan begitu peduli terhadap kelangsungan hidup Nayla.


__ADS_2