Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Extrapart 1


__ADS_3

👉 Aulia dan Bayu


Setelah perceraian dengan Nisa, Bayu memilih untuk membeli sebuah rumah sederhana, yang setidaknya nyaman untuk dirinya sendiri yang tak jauh dari Supermarketnya. Rasanya hidup Bayu terasa hampa, dia selalu merindukan sosok Nisa dan anak-anaknya.


Tak jauh dari supermarketnya, ada sebuah bangunan yang sedang di renovasi, dan itu mulai mengganggu pandangan Bayu. Sebuah supermarket akan dibangun, bahkan lebih besar dari miliknya, Bayu tetap mencoba tenang, dan fokus pada usahanya.


Namun konsentrasi pada pekerjaannya, tidak juga berhasil, dan itu malah membuyarkan semuanya, mulai dari stok yang tak kunjung di isi, hingga berdampak pada penjualan yang menurun. Bahkan akhirnya tiga orang karyawan harus diberhentikan, karena keuangan yang mulai menurun.


"Lia, Aku tidak tahu, rasanya jauh dari Nisa, membuatku tidak bisa fokus, usahaku mulai menurun, lalu Aku harus bagaimana?" tanya Bayu sambil meremas rambutnya.


"Mas, harus bisa bangkit, kalau Mas seperti ini terus, bisa-bisa apa yang sudah Mas gapai, akan hancur," ucap Aulia, sambil memegang tangan Bayu.


"Lia, Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi, hanya tersisa Kamu," ucap Bayu, juga ikut memegang tangan Aulia.


"Mas, maaf, Lia sudah menikah," ucap Aulia pelan sambil melihat arah sekelilingnya.


Mereka kembali menyantap makanan yang sudah tersaji dihadapannya sejak tadi, saat tengah menikmati makanannya, ada seseorang yang menghampiri mereka. Saat Aulia melihat kearah orang itu, matanya gelagapan, sesegera mungkin Aulia berdiri dari duduknya.


"Mas Yoga, kok bisa ada disini?" tanya Aulia sambil memegang tangan Yoga.


"Kebetulan Mas ada janji sama client disini, kalian?" tanya Yoga sambil melihat kearah Bayu.


"Cuma kebetulan saja bertemu disini Mas," jawab Aulia sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ya sudah, Mas mau nemuin client, kasian sudah menunggu, Lia cepat pulang ya," ucap Yoga sambil memegang pundak Aulia dan berlalu pergi.


Aulia hanya tersenyum, sambil menatap Yoga, dan langsung segera pamit pulang pada Bayu. Mulanya Bayu menahan, karena mereka belum menyelesaikan makannya, tapi Aulia tidak mau, suaminya berpikiran lain terhadap dirinya. Aulia pun segera pergi kekasir untuk membayar makanannya, dan berlalu pergi meninggalkan Bayu yang masih betah dikursinya.


Saat di rumah, Aulia mulai gelisah, masih memikirkan Yoga, yang melihatnya sedang bersama Bayu. Hingga waktu menunjukan pukul lima sore, dan sebentar lagi Yoga akan datang.


"Assalamualaikum," ucap Yoga menerobos masuk pintu yang terbuka.


"Waalaikumsalam, sini Mas tasnya," jawab Aulia sambil mengambil tas kantor yang digenggam Yoga.


Yoga hanya terdiam, bahkan saat kumpul untuk makan malam, tidak ada sepatah katapun yang terucap. Setelah selesai makan dan mencuci piring, Aulia pun dengan segera menghampiri Yoga, yang sedang terduduk di ranjangnya sambil fokus dengan laptopnya.


"Mas marah ya sama Lia?" tanya Aulia sambil mulai duduk disamping Yoga.


"Karena tadi Lia, bertemu Mas Bayu," ucap Aulia."


Mendengar itu, Yoga pun langsung menutup laptopnya, dan menyimpannya di meja yang tak jauh darinya.


"Mas tidak pernah melarang Lia kemanapun, atau bertemu siapapun, tapi alangkah baiknya, Lia tidak terlalu sering, bertemu dengan Bayu, setidaknya hargai perasaan Mas," ucap Yoga sambil menatap Aulia.


"Iya Mas."


Setidaknya keesokan harinya Yoga bersikap seperti biasa lagi, kini Billy sudah mulai masuk kuliah. Satu kampus dengan Alby, yang sama-sama punya hobby fotografer. Billy dan Syifa sudah mulai terbiasa menjalani kehidupan sebagai adik-kakak.

__ADS_1


Bayu mulai resah, karena pihak bank sudah mulai menghubunginya tanpa henti, karena dirinya sudah menunggak selama dua bulan. Bayu malu, kalau dirinya harus meminta bantuan pada Nisa, karena Bayu tahu, dirinya sudah terlalu sering menyakitiny. Bayu pun mencoba menelepon Aulia, satu kali, dua kali, hingga tiga kali, tidak ada jawaban juga dari Aulia.


Bayu pun, mencoba menelepon Billy untuk meminta tolong, agar Mamanya mau menerima telepon darinya. Selang setengah jam Bayu pun kembali, untuk menelepon Aulia, dan Aulia pun mau menerima teleponnya. Bayu memintanya untuk bertemu, namun Aulia menolak, Bayu tetap memaksa dengan memohon, hingga Aulia pun luluh, mereka segera bertemu di caffe tempat biasa.


"Ada apa lagi sih Mas?" tanya Aulia menahan amarah.


"Maaf Lia, pikiranku buntu, Aku tidak tahu harus bagaimana," ucap Bayu sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Apa yang bisa Lia bantu, Mas?" tanya Aulia meluluh.


"Sudah tiga bulan, Aku menunggak pembayaran bank, apa Lia bisa bantu? Mas mau pinjam uang," ucap Bayu bernada rendah.


"Berapa?"


"Tiga puluh satu juta," ucap Bayu menunduk.


"Uang segitu tidak sedikit Mas, Lia tidak punya, ditabungan Lia hanya ada duabelas juta, Mas bisa pakai, tapi selebihnya ... Mas, coba minta tolong pada Mbak Nisa," ucap Aulia.


"Tidak apa-apa Lia, setidaknya Mas bisa bayar walaupun belum full, terimakasih sudah mau bantu Mas," ucap Bayu memegang tangan Aulia.


"Iya Mas sama-sama," ucap Aulia sambil melepaskan pegangan tangan Bayu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2