Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Rencana


__ADS_3

Jaya mengajak istrinya menginap di dekat perkebunan milik mereka, maksud dari pak jaya biar istrinya lebih fresh menghirup udara perkebunan yang segar tidak seperti di kota tempat tinggalnya yang begitu bising dekat dengan jalan utama.


Sore itu juga mereka berangkat, Sinta masih sekolah ia tidak bisa meninggalkan sekolah takut ketinggalan pelajaran.


Udara perkampungan ini tak asing bagi istrinya pak jaya. Walaupun sudah bertahun-tahun lamanya ia tidak pernah menginjakan di perkebunan ini tapi ia sudah merasa langsung bosan pasalnya tempat ini selalu dijadikan tempat pacarannya dulu sewaktu ia bersama Surya papanya Agus.


Ya. Mereka dulu sempat saling mencintai dan hampir saja akan menikah. Nayla dijadikan selingkuhan oleh Surya, makanya sekarang Nayla ingin membalas dendam pada surya. Ia masih tidak terima dijadikan selingkuhan dan dibohongi terus-menerus.


Pembalasan dendam Nayla sudah terpenuhi oleh suaminya, Jaya tidak tahu menahu tentang rencana istrinya itu, Jaya seperti bonekanya Nayla.


Tapi dengan merebut perkebunan itu belum membuat Nayla merasa puas, Nayla ingin semua kelurga surya hancur seperti perasaan dia kala itu.


Dirumah Agus.


"Santi. Tolong temenin papa berjemur, sekalian kamu juga berjemur bawa el," ajak Surya, papa mertua.


Surya sangat sayang pada Santi begitupun Santi, selama ini Santi tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah, dan kini ia dapatkan dari papa mertuanya. Papa mertua sangat perhatian pada Santi dan juga cucunya El.


"Iya pa." Santi membawa El ke halaman depan.


Dimeja makan masih ada Agus yang sedang sarapan sendirian.


Zihan dan dila masih menyelami mimpi indah mereka. Mereka selalu bangun siang tak pernah memikirkan pekerjaan rumah, padahal pekerjaan rumah itu tidak bisa diremehkan.


Mama sedang menikmati teh hangat di depan televisi dengan santainya, karena sekarang mama tidak pernah menyentuh pekerjaan rumah lagi.


Dari jam 3 dini hari Santi sudah bangun dan mengerjakan semuanya sendirian.


"Santi. Maafin papa ya, karena papa kamu jadi menderita begini."


"Menderita apanya pah, justru Santi senang bisa berada didekat dan merawat papa," ucap Santi.


"Kalau tidak ada kamu, semua keadaan rumah tidak seperti ini. Jangankan sarapan buat mandi aja sering ribut dan akhirnya Agus berangkat kerjapun sering kesiangan."


"Hmm.. Ya sudah sekarang papa mau di buatkan kopi apa teh?" Ucap Santi mengalihkan pembicaraan.


"Tidak. Papa hanya ingin berjemur bersama cucu papa."


"Sayang. Mas berangkat kerja dulu ya," ucap Agus menghampiri Santi dan mencium keningnya juga.


"Ayah kerja dulu ya sayang." Agus mencium anak semata wayangnya itu.


Santi mengajak Surya keliling kampung menggunakan motor matic kesayangannya. Ketika ia berhenti di tempat makan buat sarapan bareng, Santi merasa ia sedang di awasi seseorang.


Melihat ke kanan ke kiri tapi hanya satu perempuan yang memakai kaos oblong itu yang sedang menatap tajam ke arah Santi.


Santi merasa bingung kenapa ia di awasi sebegitu tajamnya oleh seorang yang sama sekali ia tidak mengenalinya.


"Oh jadi itu anak perempuannya, lumayan cantik, lumayan juga untukku jadikan sebuah permainan. Anak manis kau akan merasakan apa yang telah ibu bapakmu lakukan padaku!"

__ADS_1


Bisik batin Nayla ketika ia melihat Surya dan Santi sedang memesan makanan.


"Lihat saja permainan seperti apa yang akan ku main kan gadis kecilku! Ha ha ha!"


Batinnya lagi.


Nayla mengira kalau Santi itu adalah dila, selama ini nayla hanya tau pak surya itu mempunyai dua orang anak, laki-laki dan perempuan tapi Nayla belum pernah melihat anaknya Surya.


Santi menoleh ke belakang tempat perempuan misterius itu memandangnya, tapi ia sudah tidak ada. Perasaan Santi agak sedikit lega dari tadi ia risih dilihatin seperti itu.


"Pah ayo kita pulang," ucap Santi sambil merapihkan gendongannya,


"Kamu makin berat aja nak," ucap Santi lagi pada el.


"Ayok! Kamu hati-hati bawa motornya, papa takut jalannya banyak yang berlubang."


"Iya pah."


Dengan gesitnya Nayla mengikuti dari belakang, ia ingin tau mangsanya tinggal dimana sekarang.


Setelah sampai dirumah surya Nayla segera membalikkan badannya dengan senyuman sinis. Dan ia pun langsung kembali kepenginapannya.


Jauh dalam lubuk hatinya nayla menyusun rencana, hal pertama apa yang harus ia lakukan.


Mondar-mandir mencari ide yang paling tepat.


Tok.. tok.. tok..


"Iya masuk saja!" Ucap nayla dengan nada kesal.


"Sayang kamu kenapa kok mukanya tidak senang begitu melihat aku pulang?" Tanya jaya.


"Aku mau tidur. Ngantuk!" Ucap nayla tidak menghiraukan suaminya.


Jaya hanya bisa menggelengkan kepalanya, kemudian ia kembali ke kantor.


Saat makan siang nayla datang ke kantor menemui suaminya, setelah tiba di kantor ia melihat Santi sedang duduk di ruang tamu.


Nayla memperhatikan Santi dengan seksama, takutnya ia salah lihat dengan penglihatannya tadi pagi.


Jaya keluar menemui istrinya dan langsung membawanya pergi makan siang.


"Sayang kok kamu disini, ngapain?" Ucap Agus segera duduk di sebelah Santi.


"Mas tadi aku telpon kamu tapi ga aktif, makanya aku tunggu kamu disini. Kebetulan tadi aku lewat sini jadinya sekalian mampir mau ngajakin kamu makan siang bareng"


"Oh.. kirain ada apa! Ya sudah yuk kita berangkat," ucap Agus.


Jaya telah memindahkan Agus ke bagian manager di perusahaannya.

__ADS_1


Dirumah Zihan sedang mengasuh El, tadi Santi keluar hanya untuk bertemu klien tapi berhubung selesainya pas jam makan siang makanya Santi memanfaatkan kesempatan ini buat berduaan dengan Agus.


Santi juga manusia biasa ia ingin sekali berduaan walaupun itu hanya sekedar makan bareng diluar tanpa Zihan.


****


"Haduh.. ini si santi langsung ngelayab kemana sih. Udah tau anaknya rewel," ucap zihan sambil menggendong el dan sedikit menepuk-nepuk pantatnya biar ia berhenti menangis.


"Kasih susu dong, gitu aja repot," ucap mama sibuk memainkan ponselnya.


"Coba buatin ma! Aku tidak tau takaran susunya."


"Kamu ini apa-apa tidak bisa!" Mama mengomel dan segera membuatkan susu.


El adalah tipe anak yang pendiam, ia juga tidak aktif seperti anak seumurannya. El lebih banyak memainkan puzzle kesukaannya. Kalau sudah bermain itu ia tidak pernah mau di ganggu.


Dari latar belakang keluarganya juga jadi el kurang perhatian dari ayah nenek juga dari yang lainnya.


Tok.. tok.. tok..


Bunyi ketukan pintu membuyarkan keheningan malam, tepat jam 12 malam seseorang mengetuk pintu dengan kerasnya.


"Siapa sih malam-malam begini bertamu" ucap Zihan.


Pas Zihan membuka pintu ia tidak melihat seseorang di luar. Ia hanya melihat buket bunga yang cantik bertuliskan "for Santi."


"Dari siapa ini, apa Santi punya selingkuhan?" Zihan tertawa lepas, ia senang kalau itu memang dari laki-laki lain.


Lalu ditaruhnya di meja ruang depan, mau membangunkan Santi takutnya mengganggu.


Pagi hari.


"Untukku?"


Santi membaca secuil kertas yang ada di buket bunga semalam, sambil mengerenyitkan dahinya ia bertanya-tanya siapa pengirim bunga cantik ini.


Santi segera membangunkan Agus dan memeluknya, ia kira bunga itu dari Agus karena kebetulan juga semalam Agus pulang agak malam.


"Makasih sayang bunganya cantik!" Sambil tersenyum dan mencium bunga tersebut.


"Bunga dari siapa?" Tanya Agus keheranan.


"Ya dari kamu lah mas, orang tulisannya juga untukku," ucap Santi agak sedikit monyong.


Agus segera menjelaskan bahwa bukan ia pengirim bunga itu, tapi Santi masih saja tidak berhenti bercanda karena Santi yakin itu memang dari suaminya.


Saat di meja makan Zihan berbicara kalau semalam ada yang menaruh bunga di depan pintu dan tidak ada orang yang mengantarkannya.


"Apa mungkin dia selingkuhannya Santi kali mas, selingkuhannya ingin muncul tidak mau di sembunyi-sembunyikan lagi." Ucap Zihan yang sesekali menengok ke arah Santi dan sedikit melukis senyum sinis di wajahnya.

__ADS_1


Akibat ucapan dimeja makan tadi membuat Agus kepikiran.


__ADS_2