Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Berhijab


__ADS_3

Hari demi hari berlalu keadaan Santipun semakin membaik, tapi ia sama sekali tidak mau menceritakan semua kejadian yang telah menimpanya kala sore itu.


Ini membuat Agus yang tadinya peduli menjadi geregetan dan tidak mau peduli lagi pada istri pertamanya itu.


Santi lebih banyak melamun dan memikirkan apa maksud dari perempuan yang ingin membunuhnya kala itu, dan santi juga berfikir yang telah menerornya mungkin saja perempuan itu.


Tidak ada bakat dalam menyelidiki kasus tapi Santi bertekad ingin memecahkan masalah ini sendirian.


Ia bingung harus memulai dari mana, karena bertanya kepada keluarganyapun akan percuma.


Santi memandang dirinya di kaca, bekas luka masih terlihat jelas di wajahnya.


Tapi bukan luka ini yang ia permasalahkan melainkan niat perempuan itu yang sangat membuat Santi penasaran.


Santi terus mengingat apakah ia mengenal perempuan itu atau tidak, dan kini Santi teringat dulu ia pernah berjalan-jalan bersama papa mertuanya dan waktu itu juga ia di perhatikan seseorang dengan pandangan tajam.


"Oh iya perempuan itu!" Ucap Santi ingat dengan perempuan yang menajamkan matanya ketika melihat Santi dan papa.


Santi berpikir apakah ia harus menanyakan masalah ini pada papa mertuanya atau dia mencari sendiri kebenarannya.


Jauh di kota Sana Nayla sedang berpesta ria merayakan kemenangannya bersama keluarganya.


Semua keluarganya menganggap nayla sakit jiwa dan sedang menghayal tingkat tinggi, makanya keluarganya selalu menurut jika nayla ingin sesuatu dan selalu memaklumi setiap perbuatan yang di buat nayla.


"Sayang. Aku sudah membunuh anak dari orang yang telah membuat aku gila ini, tapi sekarang kita akan hidup bahagia, aku juga tidak akan banyak pikiran lagi tentang masa lalu aku sayang" ucap nayla sambil menyenderkan kepalanya ke bahu suaminya, pak jaya.


"Iya sayang aku paham" ucap pak jaya dengan santainya.


"Besok kita balik kepenginapan lagi ya sayang, aku banyak kerjaan bulan-bulan ini ga bisa santai" ucap pak jaya lagi.


"Iya siap suamiku" jawab nayla dengan mata masih berbinar.


Keluarganya berterima kasih kepada Jaya karena pak jaya bisa terus mendampingi Nayla walaupun kadang nayla sering menunjukan bahwa dirinya tidaklah waras lagi.


Akibat teror yang kejam dan di tinggal pergi Surya kala itu membuat Nayla sedikit terganggu mentalnya.


Santi tidak mau memikirkan tentang keluarganya, toh Agus juga sudah bahagia bersama istri keduanya. Saat ini yang ia pikirkan hanya masalah ia kedepannya ia takut kejadian itu terulang lagi dan ia juga takut El akan terbawa ke masalah ini.


Santi menekadkan diri menyamar setiap hari dan mencari perempuan gila yang telah berusaha ingin membunuhnya.


Ibu dan Mila kini menjadi fatner dalam penyamarannya, walaupun ibu sakit mendengar anaknya telah di aniyaya seseorang yang sama sekali tidak di kenalinya.


"Ibu siap membantumu nak!" Ucap ibu memeluk Santi.

__ADS_1


"Iya aku juga siap!" Ucap sang asisten pribadinya.


"Tapi aku harus menjadi seperti apa buk?" Santi melemparkan tatapan kepada ibunya juga mela.


"Hmm.. bagaimana kalau menyamar sebagai laki-laki saja, biar lebih fleksibel hanya menggunakan jas dan topi," usul mela.


"Bagaimana kalau aku begini?" ucap Santi menutup kepalanya dengan hijab.


"Bagus juga sih," ucap sang fatner.


"Ya sudah aku akan menggunakan hijab, ini bukanlah penyamaran tapi insyaallah aku akan sedikit demi sedikit hijrah dan akan lebih meminta pertolongan kepada Allah SWT." Ucap santi.


Ibunya tersenyum dan mengucap syukur atas apa yang telah terjadi pada putrinya itu adalah suatu hikmah juga.


Ibu dan sang asisten pun tergerak hatinya untuk menjadi lebih baik, dengan pakaian yang sopan dan juga berhijab.


Pulang kerumah dengan hijab yang sederhana, Agus melihatnya dari atas sampai bawah.


"Kamu ngapain di hijab?" Tanya Agus sedikit tidak setuju dengan penampilan baru istrinya itu.


"Ya kewajibanlah mas." jawab Santi sambil mencium tangan Agus dan langsung pergi ke kamarnya.


Agus terheran dengan perubahan istrinya, dari dulu ia selalu ingin tampil cantik dengan pakaian sexy, sekarang ia langsung menutup seluruhnya.


Walaupun Santi tahu suaminya akan lebih sering bersama Zihan ketimbang dirinya.


"Ada apa mas?" Tanya Zihan sambil menengok kanan kiri.


"Tidak. Tidak ada apa-apa kok!"


Agus juga pergi meninggalkan Zihan sendirian.


"Aneh, tadi seperti ada yang debat disini" ucap Zihan menutup rapat mulutnya.


Di dapur.


"Heh. Siapa kamu?" Teriak mama.


"Ini santi mah." Jawab Santi membalikkan badannya,


"Doain Santi agar Santi menjadi lebih baik dan selalu Istiqomah ya mah," ucap Santi dengan senyuman.


"So. Soan kamu itu"

__ADS_1


"Santi tidak meminta apa-apa mah, Santi hanya ingin di sayang mamah dan semua keluarga ini. Mudah-mudahan saja mamah bisa melihat ketulusanku."


Ucap Santi merasa sedih ketika ia tidak ada dukungan dari suami dan juga keluarganya.


"Paling besok juga lepas lagi." Ledek Zihan yang telah mendengar percakapan Santi dengan mama.


"insyaallah saya Istiqomah," ucap Santi membalikan badannya lagi dan fokus pada masakannya.


"Ya tidak apa-apa sih kamu berhijab begini tapi mas Agus akan lebih sering sama aku, karena penampilan kamu yang seperti itu, lusuh dan juga tidak bermodel." ucap Zihan.


Santi merasa sedih dan segera meninggalkan mama dan juga Zihan di dapur.


"Kamu sih ngomongnya gitu jadi dia kan ninggalin kerjaan gini!" Ujar mamah cemberut.


"Ya sudah sini Zihan saja yang masak,"


Di kamar santi mengambil benda mungil alat tempurnya untuk bekerja berjualan online. Disitu Santi mencari model-model baju dan hijab yang moderen.


Santi melihat barang yang sering di cari customer muslim dan Santi juga ingin aktif belajar di pengajian rutin seminggu sekali di kampungnya.


Belajar memang tidak mengenal usia, Santi tidak malu atau merasa minder karena dia baru lagi dalam memperdalam ilmu islam, ia memilih mengulang semuanya dari awal dari mulai menghafal dan juga mengaji.


"Sayang buka pintunya!"


Ucap Agus di sebrang pintu membuyarkan niatan-niatan yang ada di benak Santi.


"Ya mas kenapa?"


"Mas mau tidur disini bareng kamu!" Ucap Agus masuk ke kamar Santi.


"Iya," jawab singkat dari Santi.


"Kerudungnya buka saja, kan ini di kamar. Lagian mas ini kan suami kamu."


"Iya," Santi melepaskan kerudungnya dan mereka terlelap sampai pagi waktunya sholat subuh.


"Mas bangun, kita sholat berjamaah yuk," ajak Santi.


"Iya kamu duluan saja, nanti mas lima menit lagi nyusul." Jawabnya setengah sadar dengan mata yang masih lengket sangat susah di buka.


"Ya sudah, aku mandi dulu." Kemudian Santi menuju kamar mandi dan sampai ia selesai sholat, Agus belum bangun juga.


"kamu mas dari dulu tidak pernah berubah." Ucap Santi dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2