
Hamdi melajukan mobil dengan kencang. Segera menuju tempat Nikita dibawa oleh Frans dan ayahnya. Polisi saat ini tengah bergerak menuju rumah mewah milik Frans setelah mendapatkan laporan atas ketiga pria bersenjata yang masuk kedalam rumah itu.
Zidan dan Nayla yang sat ini tengah bersembunyi diatas loteng, segera turun setelah mengetahui para penjahat keluar menuju halaman. Tak lupa mereka terus menggenggam ponsel milik ayahnya Frans untuk mengetahui gerak gerik mereka.
Saat Zidan dan Nayla tengah berjalan menuruni anak tangga, ponsel milik ayahnya Frans kembali bergetar dan tertera nomor yang sama seperti tadi mengirim persan tentang tugas yang sudah dipersiapkan ayah Frans untuk orang tersebut.
[Kami sudah siapkan tempat untuk eksekusi orang orang tersebut. Tuan bisa datang dengan segera agar kami juga bisa segera mendapatkan bayaran tersebut]
Zidan mengerutkan kening dan memiliki firast tak baik yang akan menimpa Nikita. Hingga akhirnya dia pun sengaja mengscreenshot pesan yang masuk dari nomor tersebut serta segera mengirimkan tangkapan layarnya keponsel miliknya sendiri.
Tak lama ketika Nayla dan Zidan sudah sampai di kamar mereka, dengan segera Zidan mengambil laptop miliknya dan memasukannya kedalam tas untuk dibawa kabur dari rumah mewah tersebut.
Beberapa kali Nayla terlihat seperti ketakutan namun dengan sigap Zidan menggenggam tangannya dan meyakinkan Nayla bahwa semuanya akan baik baik saja.
Harapan mereka saat ini hanya polisi yang akan datang meringkus para penjahat yang ditugaskan oleh Ayahnya Frans ditempat ini. Namun lama mereka menunggu tak kunjung terlihat juga orang orang yang sedang mereka harapkan.
Zidan segera membawa Nayla keluar rumah tersebut dengan keluar melalui jendela dan tak lupa membawa sebilah pisau lipat yang selalu ia bawa untuk berjaga jaga.
"Situasi dirumah ini sudah tak aman Nay. Kita harus segera keluar dari rumah ini sebelum mereka kembali masuk dan mencari kita"
"Iya mas, aku juga takut sekali dengan mereka. Apalagi senjata yang mereka miliki bisa membuat kita kehilangan nyawa saat peluru itu menembus tubuh kita"
"Huss! jangan ngomong begitu. Aku akan pastikan kita keluar dari sini dengan selamat"
Zidan segera membuka kaca jendela dengan pelan dan menyuruh Nayla untuk segera menaiki bangku yang ia sudah siapkan agar mudah keluar dari jendela.
******
Nikita mulai tersenyum atas perlakuan yang ia dapatkan dari ayahnya Frans. Ia kemudian duduk dengan santai dan terdiam tanpa memberontak.
__ADS_1
"Kau sudah cape sayang? sampai sampai kau tak ingin hidup lagi didunia ini?"
Frans tertawa dengan keras yang disambut gelak tawa juga dari ayahnya.
"Aku sebentar lagi pasti mati. Namun aku bersumpah, hidup kalian pasti tidak akan tenang dan akan ku pastikan juga kalian akan merasakan penderitaan yang lebih dariku dan mendapatkan juga perlakuan hina dari orang orang"
"Hahahaha. Mana mungkin aku susah seperti apa yang kau katakan. Aku memiliki uang banyak serta memiliki kekuasaan yang akan meringankan hukumanku jika ketahuan melenyapkanmu. Kau jangan terlalu bangga perempuan mura*n"
Frans kembali melajukan mobilnya menuju tempat yang sudah ia rencanakan sebelumnya.
"Apakah tempatnya sudah siap ayah?"
"Tak tahu nak. Ayah belum mendapatkan pesan dari mereka. Eh, tunggu. Ponsel ayah mana?" Ayah Frans yang sedari tadi tak sadar bahwa ponselnya tertinggal kemudian sibuk mencari dan mengingat tempat terakhir ia menggunakan ponselnya.
"Ayah taruh dimana memang?"
"Ayah juga gak tahu. Yang pasti tadi ayah terburu buru saat mendengar suara jatuh dari kamarmu. Dan ayah menutup telpon saat berbicara dengan mereka"
Ayah Frans mulai merasa gusar mendengarkan penuturan anaknya. Ia sangat takut semua bukti atas kecurangan dalam bisnis, korupsi serta penggelapan dana yang ia lakukan didalam perusahaan negara akan terbongkar. Selain itu jika sampai Zidan tahu semua kebusukannya yang ada didalam ponsel otomatis ia akan mendapatkan hukuman berat bahkan hukuman mati, jika sampai nanti Nikita sudah ia lenyapkan.
"Cepat suruh orang yang sedang ayah tugaskan melenyapkan suami istri sialan itu, untuk mencari ponsel ayah!"
Frans yang ikut panik mulai melajukan mobilnya dengan kencang dan membawa Nikita menuju tempat eksekusi.
Hamdi yang sedang berada diperjalanan menyusul mobil Nikita tak henti hentinya berdoa agar Nikita segera ia temukan dalam kedaan selamat.
"Aku pasti akan melindungimu Niki" guman Hamdi pelan.
Pikirannya sangat kalut ketika memikirkan nasib Nikita, Nayla dan Zidan yang saat ini sedang dalam bahaya.
__ADS_1
Hamdi melajukan mobilnya dengan kencang hingga membuat daun daun dipohon sekitar jalan ikut bergoyang.
Dari kejauhan ia melihat sebuah mobil yang terlihat terburu buru dengan plat nomor sama dengan mobil yang pernah ia lihat di garasi rumah Frans.
"Itu pasti mobil kepa**t itu" Hamdi menjaga jarak mobilnya agak jauh dari mobil Frans untuk memantau keadaan sekitar serta mengintai mobil yang mereka tumpangi menuju kemana.
Hingga tak lama kemudian, terlihat sebuah rumah kumuh diantara bengitu banyak rumput liar dan ilalang yang menjulang tinggi.
Nikita yang saat ini matanya masih tertutup sebuah kain, serta tangan dan kaki yang diikat, diseret kasar oleh Frans dan ayahnya. Rambut indah yang kini mulai terlihat kusut dijambak kencang oleh Frans yang sesekali juga menyeret tubuh Nikita dengan kasar.
"Baji*ga***" gumam Hamdi yang menatap iba pada Nikita.
Tak lama ia pun berjalan dengan pelan menuju rumah tempat Nikita dibawa seraya membawa sebilah bambu yang lumayan runcing dengan satu sisi yang sangat tajam.
Nikita yang sesekali meringis kesakitan hanya bisa terdiam didalam luka serta sesak yang ia alami saat ini. Ia rela untuk mati hanya demi melakukan misi ini agar Hamdi bisa membalaskan dendam orang yang ia cintai. Walaupun Nikita juga mencintai Hamdi, tapi jika memang kebahagiaan Hamdi bukan dengannya, maka ia akan selalu mendukung apa yang bisa membuat Hamdi tersenyum walaupun nyawanya sendiri taruhannya.
Dengan keras, Frans mendorong tubuh Nikita sampai tersunggur dan kepalanya membentur lantai hingga mengeluarkan darah segar dari pelipisnya. Tawa menggema jadi satu. Mata Nikita yang tertutup, membuat dirinya tak bisa melihat siapa saja yang saat ini ada dihadapannya. Namun ia yakin suara tawa yang begitu banyak dari pria berbeda beda membuatnya berpikir bahwa banyak sekali orang diruangan ini.
Frans mendekatkan tubuhnya menuju Nikita dan mengusap kasar darah yang mengalir di pelipis Nikita.
"Cup cup cup, keningmu berdarah sayang? apakah sakit?"
Frans kembali menjambak rambut Nikita dengan kasar. Membuat Nikita menetskan air mata yang menyerap ke kain yang menutupi matanya.
Dengan susah payah ia kemudian mencoba diam diam membuka ikatan ditangannya serta mulai mengatur strategi yang ia akan lakukan. Hingga saat Frans membuka ikatan kain dimatanya, Nikita mengerjapkan mata dengan pelan beberapa kali untuk memfokuskan pandangan sekitarnya.
"Hallo sayangku. Apakah kamu senang bisa melihat wajahku yang tampan?" Frans tersenyum kearah Nikita hingga detik kemudian ikatan ditangan Nikita yang sudah melonggar dan terbuka, membuat dirinya berani menjambak rambut Frans dan membenturkan kepala pria dihadapannya kelantai dengan kencang.
"Rasakan ini set**" umpat Nikita kesal.
__ADS_1
Beberapa pria dihadapannya yang memakai topeng serta ayahnya Frans yang terkejut melihat Nikita berontak, segera berlari menuju Nikita dan segera berusaha menolong Frans yang saat ini tengah Nikita jerat dengan tali bekas ikatan ditangannya untuk menjerat leher Frans.