
Hamdi tersenyum menatap Zidan yang kini tengah berdiri di depannya. Hubungan keduanya memang sudah erjalin lama sehingga tak ada keraguan satu sama lain yang akan membuat mereka renggang. Tak terkecuali dengan tindakan Clara yang mencoba menjebak Hamdi agar memutuskan hubungan dengan Siska.
"Ya sudah sekarang kau temui saja Siska di dalam. Sejak kemarin dia hanya diam saja tanpa mau bicara pada siapapun. ku tahu ibunya bukanlah ibu kandungku. Tapi aku juga ikut sedih dengan apa yang sedang terjadi pada Ibu Widya. Ku harap kamu bisa menghiburnya. Dan untuk hal yang baru saja kau katakan, jangan dulu ucapkan ini pada Siska. ku tahu sikapnya masih terbilang labil dan pasti akan membuat hubungan kalian menjadi renggang" Zidan memberikan saran pada Hamdi.
"iya tentu Dan. Di situasi seperti ini aku tak ingin membuatnya semakin hancur dan juga sedih. aku ingin moodnya kembali normal dan aku pun akan mengatakan semuanya ketika keadaan Ibu Widya kembali pulih. Terimakasih karena mau memahami ku Dan" Hamdi memeluk tubuh tegap Zidan hingga membuat pria itu sedikit terkejut dan mendorongnya.
"Jangan peluk peluk Ham. Aku takut semua orang mengira bahwa kau dan aku..." ucapan Zidan menggantung seiringan dengan dua orang wanita yang tengah menatap ke arahnya.
"Ayo kita masuk saja dan ku harap kau bisa membuat Siska sedikit membaik" Zidan berjalan meninggalkan Hamdi yang saat ini hanya diam dengan keheranan.
Langkah keduanya begitu senada sehingga menambah kesan gagah pada Hamdi dan Zidan yang saat ini tengah berjalan beriringan. Beberapa mata bahkan tertuju pada keduanya hingga membuat Zidan dan Hamdi semakin menebar pesonanya. Kaus putih yang Zidan pakai cukup membuat dirirnya tampak maskulin dan juga keren terlihat oleh beberapa kaum hawa. Sedangkan rambut Hamdi yang bak seperti oppa oppa Korea membuatnya tampak seperti seorang idol.
Kini keduanya telah sampai di depan kamar tempat Ibu Widya dirawat. Zidan terlebih dahulu masuk dan tak lama kemudian Hamdi menyusul di belakangnya. Saat ini Nayla yang tengah menggendong bayi Siska seketika mengedipkan mata pada kedua pria yang baru saja datang. Dan tak lama kemudian Siska pun bangkit dan berjalan menuju Hamdi dengan tatapan yang dingin.
"Ikuti aku" ucap Siska dengan singkat.
Wanita itu pun pergi berjalan hingga membuat Zidan dan Hamdi sekdikit bingung dengan tindakannya. Namun dengan cepat Nayla mengatakan apa yang sudah terjadi pada wanita muda tersebut.
__ADS_1
"ketika aku sampai disini Siska sedang mengotak ngatik ponselnya dan tampak begitu pucat. Ku tanya apa yang sedang terjadi dia hanya diam saja dan tak menjawab perkataanku. Dia bertanya tentang Hamdi yang saat ini telah tiba padahal sebelumnya aku pun belum katakan bahwa Hamdi sudah ada disini. Ku pikir Siska tahu sesuatu tentang masalah yang sedang terjadi pada Hamdi. Sebaiknya kau cepat ikuti Siska aku takut wanita itu salah paham"
"Bagaimana mungkin dia tahu tentang ini?" tanya Hamdi dengan panik.
"Clara adalah siluman Ham dan dia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa pun yang ia mau. Ku kira dia pasti sudah mengatakan segalanya pada Siska hingga membuatnya seperti itu. Tenang saja Ham, aku ada di pihak mu. Aku akan memberikan pelajaran pada siluman ular itu agar dia jera. Sekarang kau susul saja Siska dan jawab dia dengan lembut. Aku tahu saat ini dia sangat sensitif sehingga apapun yang kau katakan dengan emosi pasti akan menyulut keraguan di hatinya ' Zidan menepuk pundak Hamdi dengan pelan.
Hingga pria itu pun berjalan mengikuti Siska yang telah dulu pergi keluar ruangan tersebut.
Siska saat ini duduk termenung di kursi halaman rumah sakit dengan tangis yang sejak tadi ia tahan. Hatinya begitu sakit ketika melihat foto foto yang menampilkan pria yang sangat ia cintai tengah tidur bersama wanita lain yang sangat ia benci. Siska tahu Hamdi adalah pria normal dan tak menutup kemungkinan ia akan membagi hatinya untuk wanita nakal seperti Clara. Namun saat ini Siska bahkan belum siap dengan semua ini terlebih lagi hatinya masih sangat hancur ketika melihat sang ibu tengah terbaring lemah dirumah sakit.
"Sejak kapan kamu berhubungan dengan si jal**Ng itu?" ucap Siska datar.
Pertanyaan itu pun sontak membuat Hamdi terkejut dan mencoba untuk ikut santai menjawabnya.
"Aku tak pernah sekalipun mengenal siluman itu Sis. Dan ku harap kau paham maksudku" terang Hamdi dengan jelas.
Siska yang mendengar hal itu pun langsung tersenyum getir. Nuraninya sebagai seorang wanita tak bisa bohong jika saat ini dirinya sedang cemburu.
__ADS_1
"Kau benar benar hebat Ham, bisa tidur dengan wanita yang jelas jelas bahkan kau tak kenal"
Hamdi semakin benci dengan Clara. Wanita itu telah berhasil membuat Siska kembali ragu dengan cintanya dan kini ia bahkan telah dianggap sebagai pria bajin**n oleh wanita yang ia cintai.
"aku sungguh tak melakukan apapun dengannya Sis kumohon percayalah"
"Bahkan kau jelas jelas tidur dengannya dan kau katakan, tak melakukan apa pun dengannya begitu?! apa kau gila Ham! sehingga kau mudah lupa telah berbagi peluh dengan wanita lain?!" Siska berteriak hingga membuat Hamdi terdiam.
Sebelumnya Hamdi hanya sekali melihat Siska berteriak saat dia akan mengakhiri hidupnya di jembatan dulu. Da sekarang wanita itu kembali berteriak di depannya hingga membuat Hamdi sedikit terkejut.
"Kamu membentakku Sis?" tanya Hamdi dengan mata yang sayu.
"Ya! aku membentak mu Ham! kau pria pengecut yang berani beraninya bermain api di belakangku! kau katakan bahwa kau mencintaiku dan ingin hidup bersamaku dan putraku! tapi nyatanya kau bahkan tidur dengan wanita lain yang kau pun ta pernah tahu bahwa ia sangat ku benci! wanita itu adalah penghancur keluarga Nayla dan juga penghancur rumah tangga ayahku! Apa kau tak pernah tahu tentang hidupku dan juga keluargaku Ham, sehingga kau dengan mudahnya tidur dengan wanita itu!"
Hamdi yang sebisa mungkin menahan amarahnya segera menggelengkan kepala dengan pelan. Ia yang tak tahan dengan semua tuduhan yang Siska lontarkan segera mendekati pohon di dekat halaman tersebut dan meninjunya dengan sangat keras. Batang pohon yang kokoh kini telah terdapat sebuah lubang dibagian sampingnya begitu juga dengan tangan Hamdi yang ikut berdarah akibat benturan yang cukup keras.
"Jangan katakan aku tidur dengan jal**ng itu Sis! aku tak serendah yang kau katakan! Kau bahkan tak tahu kepalaku bahkan saat ini masih berdenyut sakit akibat hantaman kayu yang dilakukan oleh orang suruhan si jal**Ng itu! Sejak kemarin malam aku ingin pergi ke sini untuk menemanimu! Namun siluman ular itu menjebakku dan membawaku yang tak sadarkan diri ke sebuah hotel"
__ADS_1