
Hati yang baru saja tenang, hidup yang mulai tertata rapih dan masa depan yang kian indah dibayangkan, mulai pudar di mata Zidan.
Nayla yang entah sedang dimana dengan Asti mulai mengganggu pikiran Zidan saat ini.
Ponsel Zidan berbunyi menandakan bahwa panggilan dari seseorang telah masuk.
"Iya Ham ada apa? apakah kau sudah mendapatkan lokasi Nayla saat ini?"
"Iya Dan, Nayla saat ini sedang berada dilapang kosong bekas pabrik dipinggir kota. Kau segera pergilah kesana dan kalau bisa ajak lah seseorang untuk mencari Nayla. Aku akan pergi dulu ke kantor polisi meminta bantuan sebab saat aku menyuruh orang untuk melacak Nayla, terlihat di cctv dekat pintu masuk bekas pabrik, sebelum Nayla masuk kesana bersama Asti, kulihat ada tiga orang pria bertubuh kekar yang diyakini sebagai pengedar obat obatan terlarang. Kebetulan cctv disana masih aktif dan dengan bantuan temanku yang bisa meretas akses disana, aku bisa melihat kedatangan Nayla dengan Asti. Aku takut akan terjadi sesuatu padanya. Kau segera pergi dan selamatkan Nayla"
"Iya Ham, aku akan pergi kesana bersama temanku. Kau segera pergi ke kepolisian dan datanglah nanti kesana"
"Ya sudah Dan. Kau hati hati"
Panggialan pun terhenti. Zidan segera berlari kearah mobil dengan Amar yang ikut bersamanya mencari Nayla. Disusurinya jalanan ibu kota yang begitu ramai kendaraan.
"Sial!" gumam Zidan.
"Sabarlah pak. Berdoa saja dulu pak semoga Nayla tak kenapa napa" ucap Amar mencoba menenangkan Zidan walaupun dirinya sendiri sama sama dalam kepanikan.
Jalan yang ia susuri kian menyempit karena masuk kedalam perumahan. Disimpannya mobil dipinggir jalan, dan mulai melangkahkan kakinya menyusuri rumah rumah yang terlihat kumuh dan sepi. Hingga beberapa saat kemudian Zidan tepat berada didepan gerbang masuk lapangan kosong bekas pabrik.
"Kukira ini tempatnya Mar"
"Sepertinya memang ini tempatnya pak. Kita coba cari saja dulu Nayla disekitaran sini. Ku yakin mereka takan pergi jauh dari sini"
Zidan dan Amar mulai menyusuri setiap tempat dan ruangan yang kumuh didepan gerbang utama pabrik. Hingga tak lama, Amar menemukan sebelah sandal yang sering dipakai Nayla diantara ilalang yang tinggi.
"Pak Zidan, ini bukannya sendal Nayla?"
Zidan menatap sendal ditangan Amar dengan hati yang gusar.
"Iya benar, ini memang sendal milik Nayla. Aku yakin pasti Nayla ada disini Mar"
Zidan mencoba menembus ilalang yang begitu lebat menutupi lapangan ini. Ia sengaja tak berteriak teriak memanggil nama Nayla sebab dipikirannya saat ini mungkin Nayla sedang bersama orang orang jahat yang siap melukai Nayla ataupun Zidan dan Amar yang mencoba mencarinya.
"Kita coba jalan dulu kesana pak, Siapa tahu ada ruangan juga di dekat danau itu"
Zidan dan Amar mulai berjalan menuju danau. Terlihat sebuah gubuk dengan dinding kayu yang masih kokoh berdiri diantara rimbunnya rumput liar dan ilalang disekitarnya. Perlahan lahan mereka berjalan dengan langkah kaki yang pelan agar tak menimbulkan suara apapun.
Bagian belakang gubuk yang bersih tanpa rumput sedikitpun membuat Amar dan Zidan leluasa berjalan tanpa menimbulkan efek suara yang akan terdengar oleh siapapun didalam sana.
Celah kecil dibelakang tembok kayu ini membuat Zidan dan Amar bisa melihat seisi ruangan yang gelap dengan tiga orang pria yang tengah menghisap dan menyuntikan sesuatu pada tubuh mereka.
Amar yang tahu dengan apa yang mereka lakukan hanya bisa menggelngkan kepala dan mencoba mencari keberadaan Asti dan Nayla.
"Mereka tengah memakai obat obatan terlarang Mar, kita harus hati hati" bisik Zidan pelan.
"Iya aku tahu pak. Tapi dimana Asti dan Nayla? aku takut bahwa Asti akan memaksa Nayla menggunakan obat obatan tersebut"
"Tenang saja Mar, siapapun yang berani merusak Nayla mau itu wanita ataupun pria, akan aku pastikan dia akan membusuk dipenjara"
Zidan dan Amar menunggu kedatangan Hamdi bersama polisi datang ketempat tersebut karena mereka takut bahwa ketiga pria didalam sana membawa senja api.
__ADS_1
Hingga detik kemudian, terdengar suara Asti yang berbicara dengan ketiga pria tersebut.
"Perempuan yang aku bawa itu bisa kalian jual kepada mu****kari diluar sana. Aku ingin melihatnya hancur sama sepertiku saat ini. Dia adalah wanita yang merebut kebahagiaan dihidupku. Aku hanya ingin dia merasakan apa yang selama ini aku rasakan"
"Baiklah kalau kau memberikannya pada kami. Tapi bagaimana dengan bayaran kami?"
"Tenang saja, aku sudah menyiapkannya sejak tadi. Sekarang kau bisa mendapatkan keuntungan berlipat dariku. Kau jual saja dia pada pria hidung belang diluaran sana ataupun muc**kari yang memiliki klien pengusaha sukses. Dan ingat! jangan kau coba dulu dia sebab kalian hanya milikku, dan aku akan memberikan kep*uasan yang selalu kalian nik*ti. Aku tak sudi jika harus berbagi tubuh kalian dengan dia"
Tawa keras mulai terdengar dari keempat manusia laknat didalam sana. Amar tak pernah menyangka bahwa Asti akan berbuat sejahat ini pada Nayla. Asti yang dulu memang ia kenal sebagai wanita pengidap depresi dan gangguan kejiwaan karena keluarganya yang berantakan, sehingga ia kira bahwa Asti sudah benar benar sembuh.
"Wanita ibli*s itu tidak akan pernah bisa membuat Naylaku hancur sebab sebelum ia menyentuh tubuh Nayla, akan aku pastikan ia merasakan sakit disekujur tubuhnya" ucap Zidan geram.
"Kita harus segera menyelamatkan Nayla pak. Mereka semua sudah gila dan dirasuki setan!"
Zidan dan Amar berjalan menuju samping gubuk tersebut. Suara suara yang Asti dan ketiga pria didalam sana keluarkan cukup membuat Amar dan Zidan merasa jijik serta mual.
Ditutupnya telinga dan terus berjalan menuju samping gubuk untuk melihat keberadaan Nayla.
"Itu Nayla pak" bisik Amar pelan.
Kondisi Nayla yang tengah duduk tertidur dengan tangan dan kaki diikat dikursi membuat Zidan dan Amar begitu khawatir dengan keadaan Nayla saat ini. Zidan mengucap syukur karena Nayla masih lengkap menggunakan gamis serta kerudungnya walaupun sedikit kusut dan kotor.
"Kita harus bagaimana pak?"
"Sekarang aku akan memancing mereka keluar dari sana menuju gerbang pabrik. Kau bisa bebaskan Nayla dari sana dan ajak dia bersembunyi dulu menungguku datang atau Hamdi dan polisi kesini"
"Tapi nanti bapak bagaimana? saya takut bapak kenapa napa"
Lama Zidan dan Amar menunggu kegiatan yang Asti beserta ketiga pria didalam sana selesai. Sampai saat suara aneh itu mulai tidak terdengar, Zidan menghitung mundur bersama Amar untuk melakukan aksinya.
Satu..Dua...Tiga
"Set*an! sedang apa kalian disana? cepat keluar sebelum aku melaporkan kelakuan kalian kepada polisi dan warga sekitar!" teriak Zidan dengan kencang.
Tak lama menunggu, ketiga pria bertubuh kekar yang tadi ia lihat kini sudah berdiri tegap didepan pintu menatap nyalang kearah Zidan yang berada sekitar 7 meter dari mereka.
Strategi ini sengaja ia lakukan agar bisa lebih cepat berlari dan tak tertangkap oleh ketiga pria yang jelas jelas memiliki postur tubuh jauh lebih besar dari tubuh Zidan sendiri.
"Berani beraninya kau menganggu kesenangan kami hah! kau mau ma*ti?!"
"Aku bukan mau ma*ti! tapi aku ingin kaian yang ma*ti"
"Bre*sek"
Ketiga pria bertubuh kekar tersebut kemudian berlari kearah Zidan berdiri. Keributan yang Zidan lakukan berhasil membuat ketiga pria itu mengejarnya sehingga Amar bisa leluasa masuk kedalam gubuk tersebut.
Dengan segera Amar menghampiri Nayla dan membuka ikatan tali ditangan Nayla. Hingga selang beberapa saat, ia sadar bahwa Asti ada disini.
"Hai Amar sayang" ucap Asti yang tiba tiba saja muncul dibelakang Amar"
"Dasar kau wanita jahat! mengapa kau lakukan semua ini pada Nayla hah?!"
Asti dengan santai berjalan mendekat kearah Amar dan mulai mengusap lembut badan tegap milik Amar. Sedikit demi sedikit Amar mulai memundurkan tubuhnya dari Asti.
__ADS_1
"Sayang kenapa marah marah? aku sedih lih kamu bentak"
Ditepisnya tangan Asti oleh Amar dengan kasar.
"Jangan sentuh aku wanita kotor"
Mata Asti membulat sempurna mendengar cacian yang keluar dari mulut pria yang sangat ia cintai.
"Kau panggil aku wanita kotor hah! kotor! Kau sungguh telah berubah ya Mar. Karena sahabat yang sangat kusayangi ini kau berubah!" teriak Asti seraya memegang hijab Nayla dengan kasar.
"Bukan aku yang berubah As, tapi kamu! kamu yang sudah jauh berbeda dari Asti yang dulu ku kenal!"
Nayla yang mulai sadar kemudian menatap sendu pada sahabatnya yang kini tengah berada disampingnya.
"Uh, sahabat baikku sudah bangun ya? maaf ya karena aku membuatmu terbangun"
Nayla manatap tajam ke arah Asti seraya mulai berteriak dengan suara yang tertahan oleh kain penutup yang menempel dimulutnya.
"Lepaskan Nayla Asti! kau sudah keterlaluan!"
"Aku keterlaluan Mar? aku? wanita ini sudah merebutmu dariku Mar. Kau harus tahu bahwa aku sangat mencintaimu dan tak ada siapapun yang boleh bersanding dengamu selain aku! bahkan wanita ini pun tak boleh kau cintai. Dia merebut segalanya dariku. Cinta, kasih sayang, perhatian semua orang, serta pujian yang dulu selalu mereka berikan untukku kini mereka berikan untuk Nayla. Termasuk dirimu Mar"
Nayla berusaha melepaskan ikatan ditangannya yang terasa longgar karena Amar. Dengan cara sederhana yang pernah ia lihat diponselnya, Nayla sedikit demi sedikit menggerakan tangannya memutar dan kemudian dengan jarinya yang lentik, ikatan yang berada disisi kanannya kian melonggar dan kemudian terlepas.
Asti yang tengah fokus mencurahkan semua amarah serta kekesalan dihatinya pada Amar tak menyadari bahwa Nayla kini sudah lepas dari ikatannya dan mulai melepaskan ikatan dikakinya juga. Amar yang melihat aksi Nayla dibelakang Asti hanya bisa menarik nafas lega karena sebentar lagi ia dan Nayla bisa segera keluar dari tempat ini.
"Gara gara kau Amar membenciku Nay!" teriak Asti yang kemudian berjalan menuju laci mengambil pisau yang tergeletak disana.
Nayla yang berpura pura seolah tangannya diikat, mulai bangkit dan mencengkram tangan Asti dengan kuat serta mengunci tangan Asti dibelakang tubuhnya sendiri.
"Maafkan aku karena tak sebodoh yang kau kita As" bisik Nayla dibelakang telinga Asti.
Tangan Asti yang dikunci Nayla dibelakang tubuhnya, kini menjatuhkan pisau tajam yang kemudian diambil Amar. Hingga Amar pun ikut memegang tangan Asti dengan kuat.
"Sekarang kau ikut kami kepihak berwajib untuk bertanggung jawab atas semua kejahatan yang telah kau perbuat As"
Asti meringis kesakitan sebab cengkaraman kuat ditangannya oleh Amar.
"Kau tega sama aku Mar! kau jahat!"
Amar tersenyum getir mendengar perkataan Asti yang jelas jelas seolah ia adalah korban disini. Diseretnya tubuh Asti agar menuju luar gubuk dengan Nayla yang berjalan dibelakang Amar. Lama mereka berjalan menyusuri rumput dan ilalang yang tumbuh tinggi, hingga dari kejauhan mulai terlihat Zidan sedang berlari menuju Nayla dan memeluknya erat.
"Nay kau tak papa?" ucap Zidan seraya mulai melepaskan pelukannya.
"Aku gak papa mas."
"Syukurlah kalau begitu. Sekarang kita bawa wanita gila ini kesana agar bisa membusuk bersma ketiga pria pem*uas nafsunya itu. Disana sudah ada Hamdi dan polisi yang menunggu wewe gombel ini"
Asti menatap tajam kerah Zidan. Sampai sampai Zidan bersembunyi dibelakang tubuh Nayla.
Asti digiring menuju pintu gerbang pabrik oleh Amar yang terus saja diam membisu memikirkan semua perkataan yang Asti bicarakan tadi padanya. Perasaan cinta serta kasih sayang yang Asti ungkapkan padanya justru membuat pikirannya kacau dan berkelana memikirkan semua perhatian yang selalu ia berikan pada Asti disalah artikan.
Ziidan, Nayla, Hamdi dan Amar akhirnya pergi menuju kantor polisi untuk memberikan keterangannya. Dengan segenap hati Nayla mencoba memaafkan Asti namun tidak akan mencabut tuntutan atas tindakan jahatnya.
__ADS_1