
"Paket!"
Terdengar suara abang paket dari luar, Santi mengambil paketnya dan langsung mencoba style yang pertama.
Perpaduan hijab yang simpel tapi sangat elegan, di tambah dengan topi menambah gayanya seperti fresh kembali.
Niatnya sekarang ia hanya jalan-jalan mengajak El bermain bersama baby sitternya juga.
Ditempat bermain ia bertemu sinta anaknya pak jaya yang sempat bertemu dengannya, tapi saat ditinggal ke toilet sebentar anak itu sudah tidak bersama El lagi.
"Mba lihat anak yang tadi tidak?" Tanya Santi ke pengasuh anaknya.
"Itu buk. Di ajak mamahnya ke sebelah sana!" pengasuh itu menunjuk ke arah depan.
Santi melihat dengan sekilas dan kembali bermain dengan anaknya.
Saat mereka makan siang terlihat anak perempuan pak jaya yang sedang bersama perempuan itu juga tampaknya ingin makan siang disini.
Santi menoleh sebentar dan langsung kembali memalingkan wajahnya.
Apakah aku tidak salah lihat ucapnya dalam hati dan kembali menoleh dengan hati-hati, benar saja itu adalah perempuan yang waktu itu ingin melenyapkan Santi.
Tak pikir panjang Santi segera mengambil posisi dan memakai masker nya kembali.
"Ibu kenapa pakai masker? Kan kita mau makan!" tanya mba Ayu sang baby sitter.
"Tidak, saya tidak nafsu makan, kalian saja ya yang makan. Sini El biar aku yang suapin dan kamu makan sendiri," ucap Santi berbisik.
Mba Ayu sedikit aneh tapi dia selalu masa bodo terhadap urusan orang lain.
Terdengar anak itu memanggil mamah kepada perempuan itu.
"Hah.. mamah.. maksudnya dia itu anaknya. Berarti pak jaya juga suaminya, tapi kenapa perempuan itu malah sepertinya dendam pada mertuaku ya?"
Ucapnya dalam hati sambil memperhatikan gerak gerik perempuan itu.
Tiba dirumah pikiran Santi makin ruwet, ia benar-benar tidak bisa mengerti kenapa perempuan itu ingin membunuhnya.
Dan iseng-iseng Santi mendekati papa mertua dan mengajaknya mengobrol. Hingga keluarlah pertanyaan inti dari Santi.
Santi menanyakan masa lalu papanya sambil basa-basi dan sedikit bertanya, dan papa pun enjoy saja menceritakan semuanya.
Semua kejadian yanng pahit dan manis papa mertua ceritakan. Dan papa mertua juga menceritakan tentang Nayla juga, disini Santi mulai fokus mendengarkannya.
__ADS_1
Dan ternyata benar saja perempuan yang bernama nayla itu menganggap Santi itu adalah dila anak papa Surya.
"Oh jadi waktu itu Nayla melihatku juga papa dan ia mengira aku ini Dila anaknya papa." Ucapnya dalam hati.
Pantas saja sama sekali Santi kebingungan dengan masalah ini. Kini semuanya telah terjawab.
"Pah. Masuk yu sudah mau gelap" ajak Santi karena informasinya sudah ia dapatkan.
"Iya yuk, sebentar lagi El juga pulang kan ya, kok papa mendadak kangen begini padahal hampir setiap hari El di bawa mba Ayu," ucap papa.
Santi sibuk merangkai kata bagaimana ia menjelaskan ini semua pada nayla.
Santi tidak mau ada kesalahpahaman lagi di keluarganya.
"Aku besok ikut kamu ngantor boleh tidak?" Ucap Santi.
"Ya ngga lah, aku kan kerja bukan kantor aku sendiri. Ya ga enak lah sama yang lain." Jawab Agus sambil memainkan game kesukaannya.
"Ya sudah kalau begitu nanti siang kita makan bareng yuk,"
"Iya sayang, kamu datang ke kantor apa aku yang jemput kamu kerumah?"
"Tidak sayang tidak perlu biar kita janjian di cafe biasa saja yang dekat kantor kamu" ucap Santi
"Iya. Sekalian ada yang mau aku bicarakan. Penting!" Ucap Santi lagi meyakinkan suaminya agar mementingkan pertemuan besok.
"Iya sayaaang." jawab Agus sedikit mengelus kepala Santi dan berpindah ke kamar Zihan.
Santi cemberut dan mulai bad mood tapi ya mau bagaimana lagi namanya juga di madu ya inilah yang harus di hadapinya setiap hari.
"Menyebalkan!"
Ucap Santi sambil bangkit dari sofa dan berpindah ke sofa ruang tv dan menonton acara kesukaannya sambil menunggu el.
"Ibu, ini El nya sudah tidur," ucap mba ayu menggendong putra kesayangannya.
"Ya sudah mba langsung di tidurkan di tempat tidurnya."
"Saya permisi ya buk."
"Iya. Terimakasih mba." Ucap Santi tersenyum.
"Sayang maafin bunda ya, bunda tidak bisa jagain el setiap hari." Ucap bunda mengusap kepalanya.
__ADS_1
Di cafe.
Agus langsung tancap gas menuju cafe tempat janjian bersama istrinya.
Di sana terlihat Santi sedang duduk berdua bersama seorang laki-laki yang sepertinya sudah dekat sekali dengan Santi. Santi sangat santai dan ceria ketika berbincang dengan laki-laki itu.
Agus merasa minder karena semenjak ia menikah lagi ia tidak fokus pada istri pertamanya, sangat jarang sekali Agus melihat Santi tertawa lepas.
Kini bersama laki-laki itu Santi begitu bahagia dan dekat, Agus hanya bisa melihatnya dan takut kalau dia akan mengganggu suasana mereka.
Agus pun kembali ke kantornya dengan hati yang sedih dan menyesal. Ia benar-benar merasa gagal menjadi suami.
Agus salah sangka pada laki-laki itu, dikiranya Santi telah memilih laki-laki itu dan akan mengenalkannya padanya, maka dari itu Agus memilih tidak menemui mereka karena Agus juga belum siap kalau harus kehilangan istrinya.
"Ini bagaimana sih kok mas Agus belum sampai juga?" Ucap Santi sambil melihat jam di tangannya yang sudah hampir lewat jam makan siang.
"Telpon saja, mungkin dia lupa atau ada pekerjaan mendadak. Mungkin?" Ucap laki-laki itu kepada Santi dengan wajah yang terlihat sangat percaya diri.
Laki-laki itu adalah edgar. Edgar dulu sempat menyatakan cinta pada Santi dan belum sempat Santi menjawab edgar sudah harus pindah ke luar negri untuk melanjutkan kuliahnya. Santipun kala itu enggan untuk menjalin hubungan jarak jauh.
Dan kini mereka di pertemukan setelah beberapa tahun lamanya, pertemuan ini tidak sengaja.
"Tidak di angkat, aku pulang saja lah!"
"Makan aja dulu, sekalian aku juga mau makan." Ajak edgar.
Setelah mereka menyantap menu makan siangnya kini mereka saling tuker nomor handphone.
"Mas tadi siang kemana sih, kok panggilan aku juga kamu tidak mengangkatnya. Ada apa?" tanya Santi setelah melihat Agus santai dengan gadgetnya.
"Ya kamu pikir aja sendiri!" Dengan nada tinggi dan langsing pergi meninggalkan Santi.
"Mas kenapa?"
"Aduh San kamu itu sudah tidak di anggap sebagai istrinya lagi!" ucap Zihan yang selalu membuat suasana semakin mengeruh.
"Sirik aja lo, ga bisa ya berantem kemudian mesra lagi." ledek Santi.
"Sialan dasar emak-emak tukang ribut." balas Zihan.
Zihan memang selalu memancing keributan, ada saja omongannya yang bikin jengkel di hati Santi.
"Seru tau berantemnya sebentar kangen-kangenannya lama. jadi tidak hambar!" Ledek Santi lagi.
__ADS_1
Dan Santi pun langsung pergi ke kamarnya, karena percuma adu mulut sama madu tak akan ada ujungnya.