
Bian menatap langit tahanan yang hanya memiliki cahaya redup dari lampu kecil didalam ruangan. Tatapannya hanya menelaah lampu kecil di atas kepalanya yang lama kelamaan membuatnya berhalusinasi tentang masa lalunya bersama Nayla.
Tak dapat dipungkiri bahwa dia sekarang memang merasakan penyesalan karena telah menyia nyiakan wanita seperti Nayla. Karena pilihan ayahnya serta naf*su bir**hinya pada Clara, membuat dirinya lupa atas semua keistimewaan yang Nayla miliki selama ini.
"Dirimu pasti masih sama seperti dulu Nay. Ku yakin kau masih mencintaiku sepenuh hati. Kau pasti menikahi kakakku yang merupakan pria tak laku itu karena merasa kasihan saja. Ku yakin kau tak mau menikahi Zidan dan tak mungkin mencintainya. Aku yakin Nay kau pasti kembali kepelukanku" gumam Bian dengan senyum menyeringai.
Koneksi yang ia miliki diluaran sana masih sangat kuat karena ayahnya yang saat ini selalu menjenguknya secara diam diam agar tak diketahui ibu serta Siska. Demi hubungannya dengan Bian, ayah rela melakukan apapun agar sang anak mampu memaafkan semua kesalahannya yang telah lalu walaupun Bian hanya memanfaatkan perlakuan ayahnya saja.
Dengan setengah hati, Bian memaafkan ayah kandungnya tersebut karena ingin menerima fasilitas serta kenikmatan yang ia rasakan walaupun berada didalam sel tahanan. Tak dapat dipungkiri bahwa dengan kuatnya uang yang ayahnya miliki dari hasil pabriknya sekarang mampu membiayai Bian dengan semua kemewahan meski berada didalam sel tahanan.
Seperti yang kita tahu, sebagian sel tahanan mampu memberikan fasilitas mewah pada beberapa tahanan dengan bantuan oknum oknum yang memang sangat handal memanifulasi keadaan. Ini juga hal yang dilakukan Bian dan ayahnya saat ini.
Dengan orang suruhan yang selalu datang ke sel tahanan, orang tersebut dapat memberikan berbagai macam informasi pada Bian mengenai keluarganya saat ini. Termasuk pernikahan Nayla yang akan berlangsung serta acara lamarannya yang baru saja terjadi.
Dipegangnya dengan erat jeruji besi dihadapannya. Dengan emosi yang selama ini ia tahan, Bian mencoba meluapkannya dengan menyakiti dirinya sendiri agar merasa lebih baik.
"Nayla milikku dan akan tetap menjadi milikku" gumam Bian pelan.
********
Hari hari berlalu dengan cepat, hingga tanpa disadari bahwa hari ini adalah hari terakhir Zidan menyandang statusnya sebagai pria lajang.
"Semoga besok acaranya lancar" ucap Zidan yang tengah mengobrol dengan Siska dan Ibu Widya.
"Amiin. Ibu harap pernikahanmu sakinah, mawaddah, warahmah"
"Amiin"
__ADS_1
Siska mengusap perutnya dan menatap kakaknya yang tersenyum kearahnya.
"Sis, mas minta kamu jagain ibu saat nanti mas pergi bersama Nayla. Mas ingin kamu menjadi anak yang baik dan penyayang"
"Iya mas, aku pasti akan jagain ibu dengan baik"
Zidan, Siska dan Ibu Widya larut dalam canda tawa obrolan bersama. Tak ada kecanggungan diantara mereka sekarang. Hubungan mereka yang kian hari kian membaik membuat Zidan semakin bersyukur dengan kehidupannya yang sekarang.
Undangan pernikahan yang hanya tersisa satu, saat ini ada didalam gengamannya, membuat Zidan tersenyum membayangkan kebersamaannya esok bersama Nayla dipelaminan. Dalam hati kecilnya, ia berdoa agar semua proses pernikahannya bisa berjalan dengan lancar tanpa halangan dan gangguan sedikitpun.
Hamdi yang saat ini tengah sibuk mengawasi dekorasi didalam gedung serta merapihkan serluruh kain yang berceceran bekas dekorasi. Jika bukan untuk Zidan yang merupakan sahabat serta kakak dari wanita yang ia cintai, mungkin saat ini Hamdi lebih memilih menghabiskan waktunya bersantai diapartementnya yang nyaman.
Ponsel ditangannya berdering. Terkihat nama Zidan tertera disana.
"Assalamualaikum sahabtku yang baik hati" ucap Zidan dengan senangnya.
"Maaf jika aku menganggumu dan membuatmu repot Ham. Aku hanya ingin tahu apakah dekorasi gedungnya telah selesai?"
"Sudah dari tadi. Terus apa lagi yang akan kau tanyakan padaku? jamuan? kursi pelaminan? atau calon istrimu yang jelas jelas aku tak tahu sedang apa dia?" jawab Hamdi ketus.
"Hahaha, kau pasti sangat lelah saat ini sehingga kau begitu ketus padaku. Kau harus tau Ham, aku hanya ingin menyuruhmu untuk segera beristirahat karena besok kau harus berada disampingku menjadi saksi ikatan suci antara aku dan Nayla nanti. Terimaksih karena sudah membantuku sejauh ini. Dan maafkan aku karena selalu membuatmu kerepotan Ham"
Hamdi tersenyum mendengarkan kata kata manis yang keluar dari mulut sahabatnya itu. Walau bagimanapun, dibalik sikap Zidan yang menyebalkan, terdapat hati yang lembut didalamnya.
"Iya sama sama Dan. Sekarang aku akan pulang kerumahmu dan menginap disana. Aku ingin memastikan bahwa kau tak kabur dihari pernikahanmu nanti"
"Alasan! ku tahu kau ingin kerumahku hanya ingin bertemu dengan Siska. Ya sudah kau datanglah kesini dan temani aku dimalam terakhirku sebagai lajang"
__ADS_1
"Lajang lapuk!" sambungan terputus seiringan dengan tawa Hamdi yang terdengar dengan sangat keras.
******
Bintang terlihat begitu indah bertaburan diatas langit yang begitu damai dengan bulan yang terbentuk bulat sempurna. Senyum Nayla terus saja mengembang kala memegang kebaya putih dipangkuannya.
Ibu Aisyah yang sadar dengan kebahagiaan Nayla malam ini, segera mengelus pundak putrinya dan mulai mencium keningnya.
"Alhamdulillah sebentar lagi kamu menikah nak"
"Alhamdulillah bu. Nay tak pernah menyangka bahwa Mas Zidan adalah pria yang dikirimkan Allah sebagai pelengkap dihidup Nayla. Semoga ini menjadi pernikahan terakhir bagi Nayla. Amiin"
"Amiin"
Nayla tertidur dipangkuan ibunya yang selama ini selalu mendukung dan merawatnya sejak ia bayi. Sentuhan Ibu Aisyah yang menenangkan, membuat Nayla tak merasakan kesepian serta mengingat ngingat akan keberadaan orang tua kandungnya yang selama ini entah dimana.
"Terimakasih karena telah membesarkan Nay dan anak anak dipanti asuhan dengan kasih sayang yang tulus bu"
"Ibu mencintai dan menyayangi kalian tanpa syarat apapun. Hanya dengan keikhlasan serta ketulusan ibu bisa merawat kalian dengan sepenuh hati yang ibu miliki. Maafkan ibu karena tak bisa menjadi ibu yang terbaik untukmu dan anak anak panti lainnya. Hanya ini yang bisa ibu berikan untuk kalian"
Air mata Ibu Aisyah menetes tepat dipipi putih putrinya yang tertidur dipangkuannya saat ini.
Rasa bahagia kini menyelimuti hatinya kala melihat anak anak yang selama ini ia rawat dengan sepenuh hati telah tumbuh menjadi anak anak dewasa.
Malam ini adalah malam terakhir untuk Nayla menyandang status janda yang disematkan Bian pada dirinya. Esok adalah hari bahagian untuk Nayla dan Zidan yang akan saking mengikat janji sehidup semati dalam keadaan suka maupun duka yang akan mereka jalani.
Tawa dan tangis akan mereka bagi bersama dalam maglihai rumah tangga yang diharapkan akan menjadi pernikahan yang sakinah, mawaddah, warahmah. Walaupun akan ada orang yang selalu beriniat jahat pada rumah tangga yang akan mereka jalani dan berusaha membuat keduanya terpisah bahkan saling membenci satu sama lain.
__ADS_1
"Tunggu aku Mas" gumam wanita yang saat ini tengah menatap licik ke kediaman Atmaja didepannya.