Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Extrapart 2


__ADS_3

👉 Aulia dan Bayu


"Habis bertemu siapa?" tanya Yoga sambil membuka jas bajunya.


"Siapa Mas?" tanya Aulia sambil merapihkan jas Yoga.


"Mas memang tidak lihat, tapi teman Mas tadi lihat, makanya dia bicara pada Mas, tidak baik terlalu sering bertemu dengan laki-laki lain," ucap Yoga sambil melonggarkan dasinya.


"Tadi Mas Bayu ... meminta tolong pada Lia, untuk meminjamkan uang, karena dia terlilit hutang, dan sudah tiga bulan menunggak," ucap Aulia menjelaskan dengan sedikit gugup.


"Kamu kasih?" tanya Yoga menatap istrinya.


Aulia hanya menjawabnya dengan anggukan.


"Lia tahu kan, Mas hanya pegawai biasa, bukan pemilik perusahaan, meski Mas punya jabatan tinggi, tapi tidak menutup kemungkinan jika ada hal-hal yang tidak di inginkan terjadi, PHK misalnya," ucap Yoga.


"Lia, tidak berikan semua tabungan kita kok Mas, Lia hanya berikan, tabungan pribadi Lia."


"Lia menabung untuk apa? Pasti ada hal yang Lia inginkan, kan? entah itu untuk anak-anak ataupun untuk diri Lia sendiri, Mas senang Lia bisa menyisihkan uang belanja, tapi ... apa tidak sayang, uang yang sudah Lia kumpulkan bertahun-tahun, harus di ambil oleh mantan suami Lia."


"Lia, hanya bantu Mas."


"Baik, itu terserah Lia, yang perlu Lia tahu, sekarang kita harus membiayai dua anak, Lia tahukan sekolah Billy tidak murah, Mas tidak masalah, Mas sudah anggap, Billy seperti anak sendiri, Mas hanya mau, setidaknya berhematlah untuk anak-anak, Mas mau mandi dulu," ucap Yoga berlalu dari pandangan Aulia.


Setelah itu Aulia, memblokir nomor Bayu, lima bulan sudah mereka tidak saling berkomunikasi. Bahkan Lia tidak tahu, bagaimana keadaan Bayu saat ini. Ditempat lain, Bayu sedang memandangi butik Nisa dari kejauhan, kini dirinya benar-benar sudah terlilit hutang, pinjam sana-sini hanya untuk menutup cicilannya ke bank.


Namun cicilan itu tak juga kunjung usai, sedangkan penghasilan dari supermarket miliknya, semakin hari semakin menurun. Dari tiga belas karyawan, kini hanya tersisa dua karyawan saja, dan mungkin besok Bayu harus memberhentikannya. Semenjak supermarket yang baru dibuka, pendapatan Bayu semakin anjlok, minimnya stok barang di toko Bayu, membuat semua pelanggannya pergi ke supermarket yang baru.


Kini hidupnya hancur, bahkan pihak bank sudah menelepon, jika bulan ini Bayu tidak sanggup membayar tunggakan, maka semua aset bahkan gedung supermarket miliknya, akan disita. Bayu terduduk dipinggir jalan, menekuk wajahnya dan menekuk kakinya.

__ADS_1


"Mas Bayu," sapa seseorang yang amat dikenalnya.


"Nisa," ucap Bayu sambil mengangkat kepalanya, melihat wajah Nisa.


Nisa, kemudian membawa Bayu masuk kedalam butiknya, memberikan secangkir kopi kesukaannya. Setelah Nisa, bertanya "Kenapa?" Bayu pun mulai menceritakan kehidupannya setelah bercerai dengannya. Bayu menangis, meminta maaf berulang-ulang kali, karena sudah terlalu sering menyakiti perasaannya.


Nisa dengan kebaikannya, masih mau memaafkan kesalahan Bayu, dan berharap, semoga masalahnya cepat selesai.


"Nisa hanya bisa memberi segini," ucap Nisa sambil menyodorkan selembar cek bertulisan angka lima puluh juta rupiah.


"Tidak perlu Nis, maaf darimu saja, sudah membuat Mas lega," ucap Bayu sambil kembali memberikan selembar kertas itu.


"Mas simpan cek ini baik-baik, dan juga gunakan sebaik-baiknya, mungkin hutang Mas tidak akan tertutup dengan jumlah segini, tapi setidaknya Mas bisa gunakan untuk kepentingan lain," jelas Nisa.


"Tidak perlu Nis, Mas masih punya sawah, warisan dari orangtua Mas, semoga itu cukup untuk mengganti uang teman-teman Mas yang sudah dipinjam."


"Mas harus pamit, Mas mau cari orang yang mau beli sawah, sebenarnya sawah itu untuk anak-anak, tapi maaf kalau Mas harus berubah niat."


"Tidak apa-apa Mas, Insa Allah mereka akan mengerti."


Bayu pun mulai menawarkan sawah pemberian orangtuanya, karena dirinya harus segera mengganti uang teman-temannya, bahkan uang Ratih, yang sudah dia pinjam dengan nilai yang cukup besar. Setelah satu bulan menawarkan, akhirnya ada seorang pengusaha yang memang kebetulan membutuhkan sawah itu, untuk membuat perumahan. Karena lokasi yang strategis, setidaknya Bayu bersyukur, sawah nya laku terjual dengan harga tinggi.


Semua hutang pada teman-temannya dan juga termasuk pada Ratih, telah lunas terbayar, bahkan uang nya tersisa lebih, bisa untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Bayu, mencoba menelepon Aulia untuk membayar hutangnya, namun tak juga bisa dihubungi. Hingga akhirnya Bayu, meminta tolong pada Billy, dan menceritakan maksud dan niatnya untuk bertemu Aulia.


Melihat Aulia tengah asik menyiram tanamannya, Billy pun perlahan menemui Aulia, dan mulai obrolan dengan basa-basi.


"Mah Billy boleh bertanya sesuatu?" tanya Billy.


"Boleh, tanya apa?" tanya Aulia penasaran.

__ADS_1


"Apa benar, Papa punya hutang sama Mama?"


"Tidak punya, Kamu kata siapa?"


"Mama tidak perlu bohong, Papa sendiri yang bilang, Papa bilang ingin menggantinya, Papa sudah ada uangnya, Mah ... sebenarnya ada apa sama Papa?"


"Tidak ada apa-apa sayang, bilang sama Papamu, uangnya tidak usah diganti."


"Baik Mah."


Billy merasa ada yang disembunyikan oleh Mama nya, sudah lama, semenjak Billy masuk kuliah, Billy belum bertrmu lagi dengan Bayu, bahkan sampai saat ini. Billy, mencoba menyampaikan pesan Aulia lewat telepon, namun Bayu tetap ingin membayarnya, dan membujuk Billy, agar mau memberikan teleponnya pada Aulia.


Aulia pun, mau berbicara dengan Bayu, Aulia sudah mengikhlaskan, namun Bayu tetap memaksa ingin menggantinya, dan bertemu dengan Aulia. Awalnya Aulia menolak, karena tidak ingin suaminya salah paham, namun Bayu merengek memohon, hingga Aulia pun mau menurutinya dan mereka bertemu di caffe lain, bukan ditempat biasa mereka bertemu.


"Kalau Mas mau bayar, kan Mas bisa transfer, tidak perlu harus bertemu," ucap Aulia ketus.


"Mas minta maaf, selalu menyusahkan Lia, Mas juga minta maaf, karena Mas, sudah membebankan Billy, sama Kamu."


"Billy, anak Aku, itu tidak menjadi sebuah beban, itu sudah kewajibanku, untuk merawat dan membiayai Billy, bahkan itu sudah pilihanku Mas."


"Kalau saja Billy, ikut Mas, dan tidak bertemu denganmu, mungkin Billy akan hidup susah bersamaku."


"Sudahlah Mas, yang terpenting sekarang, Billy bersamaku, kalau tidak ada lagi yang dibicarakan, Lia pamit."


Ponsel Aulia terus berdering, Lia pun segera merogoh ponsel yang dia simpan didalam tas. Aulia menatap layar ponsel itu sejenak, dan tertulis nama Syifa disana, dia segera menekan tombol hijau itu, dan menjawab panggilannya.


"Mah, Papa kecelakaan," ucap Syifa di ujung telepon dengan suara disertai isak tangis.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2