Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Ikhlas


__ADS_3

Setiap orang mampu menyembunyikan kesedihan yang ia alami dengan baik. Seberapa banyak air mata yang keluar karena rasa kecewa yang mendalam, takan pernah bisa hilang dengan waktu yang singkat.


Hari ini adalah hari yang sulit untuk Nayla, karena harus menerima kenyataan bahwa sahabatnya sendiri telah berbuat kejam pada dirinya sendiri. Tak pernah terpikir sebelumnya bahwa Asti akan berbuat nekat pada dirinya karena perasaan iri yang ia pendam untuk Nayla.


Laporan atas tindakan jahat Asti sudah dibuat di kantor polisi dan sedang dilakukan pengumpulan data serta penyelidikan mengenai kasus yang terjadi. Hamdi dan Zidan tak habis fikir dengan Asti yang tertawa senang dengan keadaan dirinya yang kini sedang ditahan didalam sel penjara. Lain hal nya dengan Nayla dan Amar yang merasa sedih serta kecewa dengan Asti yang seolah tak merasa bersalah atas tindakan jahat yang telah ia perbuat.


"Wanita itu pantas menjadi pela**ur. Kalian seharusnya membiarkan aku menjualnya atau membun*nuhnya. Dia sudah merebut segalanya dariku. Semua hidupku berantakan karena dia! pak polisi tolong bawakan wanita so suci itu kemari! biar aku lenyapkan!" teriak Asti dengan keras.


Amar dan Nayla segera meminta izin pada pihak berwajib untuk bertemu dengan Asti yang saat ini ssdang ditahan.


"Kau sudah gila As! seharusnya kau tak perlu melakukan hal itu pada Nayla. Aku sangat kecewa dengan tindakan yang kau lakukan!" jawab Amar mendekat ke arah Asti yang sedang berada dibalik jeruji besi.


"Sayang kenapa kau selalu membelanya ? aku cinta sama kamu Mar! aku cinta! kau seharusnya membelaku bukan dia!"


"As kumohon jangan seperti ini. Aku menganggapmu sebagai keluargaku. Mengapa kau tega melakukan hal itu padaku? aku hanya ingin hubungan pertemanan kita membaik bukannya malah memburuk" ucap Nayla dengan suara bergetar.


"Perset*an dengan hubunganku dan kau. Hanya ada rasa benci dihatiku untukmu Nay! kau sudah merebut Amar dariku. Aku tak sudi memiliki teman ataupun keluarga sepertimu. Cuih!"


Nayla menatap sendu kearah Asti. Nayla tak pernah menyangka bahwa Asti memdam rasa sakitnya sendirian. Nayla yakin bahwa kondisi mental Asti sedang tidak baik baik saja. Riwayat depresi yang Asti miliki dulu, pasti saat ini telah membuat mentalnya kembali tak stabil.


Nayla pergi berlalu meninggalkan Amar dan Asti berdua. Ia lebih memilih menemui Zidan dan Hamdi untuk membicarakan mengenai laporan yang ia ajukan atas tindakan jahat Asti.


"Kenapa kau bisa seperti ini As? kenapa? bukannya kau selalu mendukung apapun yang aku lakukan? tapi kenapa kau tak mendukung ku saat aku menyukai Nayla? "


Tawa keras terdengar dari mulut Asti.


"Aku harus apa Mar? senang? bahagia? aku tak bisa seperti itu! kau hanya miliku Mar! milikku! walaupun Nayla adalah sahabat baikku dulu, aku tetap tak bisa merelakan dirimu untuknya! Kau satu satunya orang yang mampu membuatku bangkit dari keterpurukan. Kau yang selalu ada disaat aku rindu ibu dan kau juga yang bisa membuatku mulai menerima keadaan menyedihkan yang selama ini aku alami. Karena kehadiran Nayla diantara kita, kau mulai acuh padaku bahkan hanya sekedar menyapa pun kau enggan melakukannya Mar. Sudah cukup pujian serta hati guru guru yang ia dapatkan selama ini. Aku takan pernah rela bahwa kau akan bersanding dengannya!"

__ADS_1


"Aku memang mencintai Nayla As! dan kau tahu itu. Tapi dia sudah menolak cinta dan lamaranku untuknya tadi pagi. Kau seharusnya jangan seperti ini. Kau harus bisa menerima keadaan sekitar yang terkadang tak berpihak padamu. Rubahlah cara pikirmu dan mulai terima keadaan yang kau dapatkan. Sesakit apapun, sesulit apapun, kau pasti akan mendapatkan situasi yang baik nantinya. Jika kau terus menanamkan rasa iri serta dengki dihatimu, maka semua yang ada dalam hidupmu satu persatu akan hilang. Termasuk sekarang, aku putuskan untuk menjauh darimu dan kau lupakan saja pertemanan yang selama ini kita jalani. Assalamualaikum As"


Amar mulai berjalan menjauh dari Asti yang terus saja berteriak memanggil namanya.


Perhatian yang selama ini Amar lakukan pada Asti sudah membuatnya salah paham dan menamai semua perasaan simpatinya menjadi cinta. Beda dengan Asti, Amar justru melakukan itu karena ia tahu bahwa dulu Asti sangat membutuhkan dukungan serta tempat nyaman untuk mencurahkan segala kehancuran yang Asti alami setelah kepergian ibunya.


*****


Zidan dan Hamdi merasa geram dengan Asti yang telah melakukan hal buruk pada Nayla.


Langkah kaki Nayla mulai terdengar mendekat kearah Zidan dan Hamdi.


"Nay kau baik baik saja? kenapa kau terlihat murung seperti itu? apa ada yang sakit?" tanya Zidan panik.


"Aku hanya sedih melihat keadaan Asti mas. Sebesar iru rasa bencinya untukku, sehingga pertemanan kita selama ini harus pupus dan tak bisa diperbaiki"


"Kau masih memiliki banyak teman Nay. Kau tak perlu sedih kehilangan wanita gila itu"


Zidan menghela nafas panjang. Sahabat yang Nayla maksud mungkin seperti Hamdi, tapi tidak seperti Asti. Bagi Zidan, Asti tak pantas mendapat gelar sahabat oleh siapapun. Sahabat mana yang tega mencelakakan orang yang selalu ingin bersamanya.


****


Malam kian larut. Zidan, Nayla, Amar dan Hamdi kini pergi untuk pulang. Amar yang sedari tadi ikut bersama Zidan hanya bisa menatap semua cinta dimata Nayla untuk Zidan.


Hingga saat ia sudah sampai didepan rumahnya. Amar sengaja meminta Zidan untuk ikut turun terlebih dahulu bersamanya.


"Sekarang aku sadar pak"

__ADS_1


"Maksudmu?"


"Kau memang pantas mendapatkan cinta Nayla. Kau bahkan rela berkorban nyawa demi menyelamatkan Nayla daripada aku yang seorang pengecut. Beruntung sekali Nayla bisa mendapatkan pria baik sepertimu. Ku harap kau bisa menjaga Nayla dengan baik dan sepenuh hati. Aku ikhlaskan Nayla untuk Pak Zidan."


Zidan tersenyum kearah Amar. Bagi Zidan, cinta adalah sesuatu yang istimewa untuk dijaga dan lindungi keberadaannya.


"Nayla bagiku sangat berarti Mar. Aku rela berbuat apapun demi dia walaupun nyawaku taruhannya. Bagi sebagian orang mungkin menganggap aku bodoh atau apapun. Tapi jika memang benar orang yang berbicara seperti itu jatih cinta pada orang tepat, dia akan merasakan apa yang aku rasakan saat ini"


Amar kagum mendengar perkataan yang Zidan ucapkan.


"Ya sudah, ini sudah malam. Kau antarkan Nayla pak. Jaga dia dan jangan pernah buat dia menangis. Jika Nayla nanti menangis atau terluka karena mu, maka siap siap aku akan datang dan mengambil Nayla darimu untuk selama lamanya"


"Aku akan menjaga Nayla dengan caraku sendiri Mar. Kau akan lihat seberapa bahagia Nayla hidup bersamaku nanti. Semoga kau cepat mendapatkan orang yang mencintaimu juga seperti Nayla. Aku pamit, wassalamualaikum"


"Iya Amiin. Waalaikumsalam"


Nayla menatap Amar dari dalam mobil. Pria didepannya memanglah bukan orang yang ia cintai. Tapi ketulusan serta pengorbanannya hari ini, juga membuat Nayla tersentuh dan juga merasa bersalah. Namun apa daya, hatinya sudah terikat untuk Zidan. Apapun yang Amar lakukan untuknya selama ini, akan selalu Nayla ingat sampai kapanpun.


Zidan dan Nayla kini hanya berdua didalam mobil merah miliknya. Hatinya berdebar setiap kali memandang wanita cantik disampingnya.


"Nay bagaimana jawabanmu untukku?" tanya Zidan seakan akan tak tahu.


"Jawaban apa mas?"


"Kamu lupa atau malu Nay. Itu loh jawaban lamaranku tempo hari"


Pipi Nayla langsung bersemu merah mendengar perkataan dari Zidan.

__ADS_1


"Aku mau mas"


Zidan yang tampak senang langsung mendekatkan tangannya menggapai tangan Nayla. Namun Nayla yang sadar akan aksi yang akan dilakukan Zidan reflek menjauhkan tangannya dari Zidan.


__ADS_2